
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Sudah empat jam lamanya Arjuno menemani Zantisya didalam ruangan persalinan. Tangannya terus memijit punggung Zantisya dan terus mengusap perut istrinya bergantian.
Kalau saja prosesnya bisa dipercepat. Arjuno ingin sekali mempercepat proses kelahiran dua buah hati mereka. Mendengarkan rintihan kesakitan Zantisya membuat hati Arjuno benar-benar ngilu sendiri. Kalau boleh meminta, Arjuno ingin ia saja yang merasakan sakit istrinya saat ini.
"Sudah pembukaan 8 centimeter." Ucap dokter Ani setelah melakukan pemeriksaan dalam. "Semangat ya bu, kurang 2 centimeter lagi."
Zantisya mengangguk paham. Ingin menjawab tapi rasanya kelu karena sesekali ia menahan rintihannya. Melihat wajah Arjuno yang khawatir sendiri, membuat Zantisya juga merasa tidak tega pada suaminya.
"Nanti kalau sudah merasa ingin seperti buang air besar. Itu artinya si kembar sudah ngajak keluar. Jadi jangan mengejan sebelum waktunya ya bu." Dokter Ani memperingati lagi.
"Iya dokter."
Dokter Ani langsung keluar dari ruang persalinan. Menuju ruangnya sambil menunggu Zantisya pembukaan lengkap.
"Mas belum solat subuh kan?" Pertanyaan Zantisya langsung diangguki Arjuno. "Mas solat dulu gih. Doakan mereka lahir selamat dan sehat tanpa kekurangan suatu apapun." Ucap Zantisya pelan sambil mengusap perutnya.
Arjuno menggelengkan kepalanya. "Aku akan mendoakan adek dan anak-anak agar selamat dan sehat menjalani prosesnya." Arjuno mengusap pucuk kepala Zantisya. "Maafkan aku dek. Karena nggak bisa ikut merasakan bagaimana sakitnya."
Zantisya langsung mengusap air mata Arjuno yang mengalir begitu saja. "Kata dokter Ani kan ini normal mas. Dengan mas selalu ada buat aku itu sudah sangat cukup. Bahkan lebih dari cukup. Sampai aku sendiri tidak tahu bagaimana aku bisa membalas semuanya. Dan mungkin hal inilah yang bisa aku berikan ke mas."
Arjuno mencium pucuk kepala Zantisya. "Aku solat dulu dek." Zantisya langsung mengangguk.
Arjuno langsung keluar dari ruang persalinan dengan berat hati. Bagaimana pun ia tidak tega meninggalkan Zantisya. Apa lagi keduanya hanya saling memiliki. Tanpa punya keluarga yang bisa menggantikan menjaga Zantisya. Namun ia juga harus melakukan kewajibannya kepada sang pencipta.
"Maaf bu. Saya mau solat dulu. Bisa tolong gantikan saya menjaga istri saya bu." Ucap Arjuno pada beberapa petugas kesehatan yang berjaga disana.
"Baik pak. Silahkan." Ucap salah satu dari mereka.
"Tolong jangan ditinggalkan sendirian ya bu. Kami tidak memiliki keluarga lagi." Ucap Arjuno yang masih mengkhawatirkan istrinya.
Salah satu tenaga medis langsung beranjak. "Saya akan temani ibu Zantisya sampai bapak kembali."
"Terimakasih."
Arjuno langsung melangkah cepat menuju musholla rumah sakit. Ia tidak ingin sampai terlalu lama meninggalkan Zantisya. Apalagi jika sampai kehilangan momen kelahiran buah hati mereka.
Setelah selesai melaksanakan solat subuh dan banyak doa untuk keselamatan istri dan anak-anaknya. Arjuno langsung bergegas kembali ke ruangan persalinan.
"Terimakasih bu sudah menemani istri saya."
"Sama-sama pak."
Arjuno langsung duduk didekat Zantisya setelah tenaga kesehatan tadi beranjak keluar. "Maaf aku lama ya dek."
__ADS_1
"Nggak lama kok mas. Aku ingin pipis mas. Sudah nggak tahan nahan ini."
"Aku ambilkan pispot dulu dek."
"Aku mau pipis di kamar mandi mas."
Meski tidak setuju tapi Arjuno menuruti maunya Zantisya. Apa lagi alasan lain yang diberikan Zantisya juga karena capek terlalu lama berada diatas brankar.
Pelan-pelan Arjuno langsung memapah Zantisya menuju kamar mandi. Zantisya langsung mengeluarkan semua yang ia tahan sejak dua jam yang lalu. Arjuno langsung membantu Zantisya membersihkan bagian bawahnya setelah Zantisya usai.
Byur... (Anggap suaranya begitu)
"Apa ini mas." Pekik Zantisya saat ia dan Arjuno hendak melangkah keluar dari kamar mandi.
"Air apa ini?" Tanya Arjuno ikut panik.
Tapi dengan tanpa sadarnya Arjuno spontan mengangkat tubuh Zantisya dan langsung merebahkan istrinya di atas brankar.
Arjuno langsung keluar untuk memberi tahu apa yang terjadi pada Zantisya barusan. Wajah dan suaranya bahkan sampai panik karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
Tidak lama kemudian dokter Ani masuk bersama dengan dua petugas lainnya. Mereka semua dengan cepat memakai alat pelindung diri.
"Tidak perlu khawatir pak. Wajar kalau air ketuban pecah karena akan melahirkan." Ucap dokter Ani. Melihat bagaimana raut wajah khawatir Arjuno.
"Kita bismillah dek." Bisik Arjuno.
"Ibu kalau terasa ingin mengejan lakukan seperti ini ya." Dokter Ani memperagakan agar Zantisya paham. "bok*ong jangan diangkat saat mengejan ya bu agar tidak terjadi robekan jalan lahir." Instruksi dokter Ani lagi. "Ibu hanya perlu membantu bayi agar cepat keluar kepalanya. Setelah itu ibu tidak perlu mengejan lagi."
Zantisya mengangguk paham.
Tangannya terus menggenggam erat tangan Arjuno. Setelah merasa nyaman dengan posisinya. Zantisya langsung mengatur nafas saat merasakan kontraksi hebat. Ia langsung menempelkan dagunya pada dada sesuai yang dokter Ani contohkan tadi. Matanya fokus melihat perutnya.
"Heeekkk..." Zantisya mulai mengejan. Sekuat tenaga ia keluarkan berharap kedua anaknya lahir dengan selamat.
"Benar bu. Ayo tambah lagi kekuatannya." Ucap dokter Ani.
Sampai tiga kali Zantisya mengejan akhirnya satu anaknya sudah lahir. Malaikat kecil itu langsung menangis dengan keras setelah tubuhnya keluar sempurna. Dokter Ani langsung mengklem tali pusat lalu memotongnya.
"Alhamdulillah perempuan bu, pak." Ucap dokter Ani memberi tahu.
Dokter Ani langsung memberikan bayi perempuan itu pada salah satu tenaga medis untuk mendapatkan penanganan selanjutnya.
"Kita tinggal menunggu bayi selanjutnya turun ya bu. Tolong dikasih makanan dan minum ya pak istrinya. Biar tenaganya terkumpul lagi." Ucap dokter Ani yang langsung beranjak menuju bayi perempuan yang tengah dibersihkan.
__ADS_1
"Mau makan nasi apa roti dek?" tawar Arjuno.
"Roti saja mas."
Arjuno dengan telaten menyuapi Zantisya roti. Zantisya juga lebih bersemangat melahap apa yang bisa ia lahap sekarang. ia benar-benar tidak ingin kekurangan tenaga saat melahirkan anak mereka yang masih berada didalam sana.
"Silahkan di Adzani pak anaknya."
"Baik bu." Arjuno langsung beranjak menuju kamar mandi dan langsung mengsucikan diri untuk mengadzani malaikat kecilnya.
Arjuno langsung mengadzani bayi yang sudah berasa didalam gendongannya. Ia langsung mencium pelan bayi mungil setelah selesai. Air matanya sudah tidak dapat dibendung karena rasa bahagia yang ia dapatkan saat ini.
Zantisya sungguh sangat bahagia melihat pancaran bahagia di wajah Arjuno yang tidak dapat dielak lagi.
Tak lama kemudian Zantisya merasakan kontraksi hebat lagi. Rasanya sama seperti saat akan melahirkan malaikat kecil yang ada di gendongan Arjuno.
Arjuno langsung meletakkan bayi perempuannya kedalam box bayi. Ia langsung mendekati Zantisya dan langsung menggenggam erat tangan istrinya.
"Semangat ya sayang." Bisik Arjuno.
Dokter Ani dan yang lainnya langsung bersiap. Zantisya juga langsung mengejan saat kontraksi hebat. Sedikit lebih lama proses kelahiran anak kedua mereka.
"Dorong terus bu." Instruksi dokter Ani karena kepala bayi sudah hampir keluar.
"Heeekkk..." dengan sekuat tenaga Zantisya mengejan berharap anaknya segera keluar.
Dokter Ani dengan cepat melakukan pemotongan tali pusat setelah bayi lahir yang tidak terdengar suara tangisnya.
"Lanjutkan tindakan pada ibu Tisya." Ucap dokter Ani.
Dokter Ani langsung cepat membawa bayi yang tidak menangis itu menuju tempat yang lebih aman. Melakukan tindakan resusitasi agar bayi yang baru lahir ini segera menangis.
Zantisya semakin erat menggenggam tangan Arjuno. Begitu juga sebaliknya. Mata mereka terus menatap kearah tindakan yang sedang dilakukan dokter Ani.
"Kenapa dia nggak nangis mas..." tanya Zantisya dengan suara yang bergetar.
Arjuno tidak tahu harus menjawab apa. Karena ia juga sedang menentramkan detak jantungnya yang seketika bergemuruh.
"Tolong selamatkan anak kami ya Allah." Batin Arjuno berdoa.
Bersambung...
Kok rasanya novel ini bakal lebih dari 100 babπ benar-benar diluar ekspektasi ku. Padahal sejak awal aku nggak berniat buat bab lebih dari 100 karena takut muter-muter π
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ