
"Hoek… hoek…" Arjuno langsung lari menuju kamar mandi. Sudah beberapa hari ini tidur malam Arjuno sudah tidak nyenyak lagi.
Karena setiap tengah malam tiba-tiba Arjuno terbangun. Merasakan perut yang mual. Membuat Arjuno ingin memuntahkan apapun yang ada didalam perutnya.
Zantisya langsung bangun menyusul Arjuno ke kamar mandi. Ia langsung memijit tengkuk Arjuno agar bisa memuntahkan apapun yang ingin keluar.
"Mau di kerokin lagi mas?" tawar Zantisya. Memang beberapa hari ini Zantisya jadi rajin mengerok punggung suaminya.
Meskipun nggak merah-merah banget tapi Zantisya tetap menuruti apa yang di minta Arjuno.
"Nggak usah dek" Arjuno membasuh mulutnya dengan air.
Arjuno langsung mengajak Zantisya kembali tidur. Lelaki itu juga merasa kasihan karena telah membuat istrinya kekurangan tidur.
Kalau kekurangan tidur karena olahraga yang enak-enak sih nggak masalah. Nah ini kurang tidur karena mengurusinya yang mual-mual nggak tau sebabnya.
"Kita periksa lagi ke dokter ya mas" tawar Zantisya.
Istri mana yang tidak khawatir melihat suaminya yang mual-mual di setiap tengah malam seperti ini.
"Obat mual yang kemarin saja belum habis dek"tolak Arjuno secara tidak langsung.
"Ya sudah, aku kebawah dulu buatin mas wedang jahe ya."
"Nggak usah dek. Hoek… hoek…" Arjuno lagi-lagi langsung lari menuju kamar mandi.
Kali ini Zantisya tidak menyusul suaminya ke kamar mandi. Zantisya langsung berganti pakaian tertutup dan langsung mengikat rambutnya yang terurai. Zantisya langsung keluar kamarnya setelah menggunakan jilbab.
Setelah menuruni tangga, Zantisya langsung saja menuju dapur untuk segera membuatkan wedang jahe. Agar rasa mual suaminya sedikit berkurang.
"Astaghfirullah mas" Zantisya terkejut karena tiba-tiba mendapatkan pelukan Arjuno dari belakang.
"Kenapa ninggalin aku dek"
"Mas. Aku ini di dapur loh. Nggak kemana-mana."
"Tapi kan aku nggak mau ditinggalin sendiri dikamar."
Zantisya menarik nafas pelan-pelan karena heran dengan sikap manja suaminya yang semakin menjadi.
"Aku buatin ini, biar mas nggak mual terus" ucap Zantisya mematikan kompor. "Lepas dulu mas, aku mau ambil gelas."
Arjuno semakin mempererat pelukannya. "Nggak mau."
Akhirnya Zantisya membiarkan Arjuno terus mendekapnya. Ia langsung mengambil gelas dan penyaring agar Arjuno segera meminumnya.
"Dek nggak mau ngomong apa gitu sama aku?" tanya Arjuno heran.
Kini mereka sudah duduk di kursi ruang makan sambil menunggu wedang jahe sedikit lebih dingin.
"Ngomong apa mas?" heran Zantisya.
"Ya apa gitulah. Masak adek nggak ingat atau mau bilang sesuatu buat aku."
"Nggak ada tuh mas" Zantisya langsung menyentuh gelas. Rasanya sudah tidak sepanas tadi. "Diminum sekarang mas, sudah hangat. Aku masih ngantuk ini."
.
.
.
Hari ini Arjuno bekerja dengan wajah yang terlihat suram. Jika ia mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari semua karyawannya. Tapi tidak dengan Zantisya. Istri yang ia harapkan ingat dengan hari ini bahkan Zantisya lupa.
__ADS_1
Resti sendiri menatap heran bosnya yang sejak tadi seperti ogah-ogahan. Meski di acara doa bersama saat acara makan-makan dan membagi sedikit bonus pada seluruh karyawan.
Arjuno hanya senyum sekenanya. Dipikir Resti, mungkin karena Zantisya tidak ikut serta di acara hari ini.
Setelah magrib, mobil Arjuno sudah masuk ke halaman rumahnya. Dan seperti biasanya, Zantisya menyambutnya diambang pintu.
Meski kecewa karena Zantisya melupakan hari kelahirannya. Tapi seketika hati Arjuno luruh begitu saja saat melihat senyum manis Zantisya saat menyambutnya pulang.
Arjuno langsung melangkah lebar dan langsung memeluk istrinya erat-erat.
"Mas sekangen itu ya sama aku" gumam Zantisya nggak jelas. Karena wajahnya sudah masuk dalam dekapannya.
"Hemmm…" Arjuno semakin mempererat pelukannya.
"Kamu sebenarnya lupa apa hanya pura-pura lupa sayang" batin Arjuno dengan seringai menyebalkan yang tidak diketahui Zantisya.
"Mas mandi dulu. Aku tadi sudah masak spesial buat mas" ucap Zantisya setelah merenggangkan pelukannya.
Mereka pun langsung menuju kamar. Arjuno langsung menuju kamar mandi sedangkan Zantisya langsung menyiapkan baju untuk sang suami.
Sekitar sepuluh menit Arjuno membersihkan diri. Lelaki itu langsung keluar dari kamar mandi. Melihat ke seluruh kamar tidak ada wujud istri tercintanya.
Arjuno langsung mengenakan pakaian yang disediakan Zantisya. Ia langsung segera turun.
Sesampainya diruang makan. Arjuno masih saja tidak menemukan Zantisya. Heran juga akhirnya, karena tadi Zantisya mengatakan sudah masak untuknya tapi lihatlah. Bahkan meja makan tidak terdapat satu pun menu makanan.
Arjuno langsung mengambil kertas putih yang berada di depan kursi makannya diatas meja. Arjuno langsung menuju taman belakang seperti petunjuk yang ia dapatkan dari selembar kertas putih.
Dan betapa terharunya Arjuno setelah membuka pintu belakang saat sampai disana.
Matanya di manjakan dengan hiasan banyaknya bunga tulip merah dan lilin yang menyinari malam tanpa rembulan. Suasana romantis langsung terasa karena Zantisya memang sengaja tidak menghidupkan lampu utama.
Zantisya bahkan terlihat sangat cantik dengan piyama yang sama persis seperti yang digunakan Arjuno.
Zantisya langsung mendekati Arjuno. "Selamat hari lahir sayang. Maaf aku hanya bisa mengajak mas makan malam saja."
"Mana mungkin aku melupakan hari kelahiran orang yang sangat berharga dalam hidup aku mas."
"Nakal ya" Arjuno menarik pipi Zantisya yang semakin terasa berisi. "Terimakasih sayang."
"Kita makan sekarang ya mas. Aku laper banget nunggu mas dari tadi."
"Lain kali kalau lapar makan dulu sayang. Nggak perlu nunggu aku” ucap Arjuno. Sambil mengajak Zantisya duduk disana.
Mereka berdua pun langsung menikmati semua yang sudah susah payah di masak Zantisya dan bi Tami tadi sore.
Arjuno sampai terheran-heran melihat Zantisya yang semakin hari semakin banyak porsi makannya.
"Pelan-pelan sayang makannya" ucap Arjuno. Setelah selesai makan mereka pun langsung minum .
"Aku nggak punya kado apapun untuk aku berikan ke mas" ucap Zantisya sambil memberikan sebuah amplop berbentuk lambang hati.
"Apa ini?" tanya Arjuno sambil membuka amplop dan mendapatkan sebuah kertas didalamnya. "Surat?" tanya Arjuno menatap Zantisya.
Perempuan berbulu mata lentik itu langsung mengangguk. Arjuno langsung membuka kertas dan membacanya.
...Aku tidak memiliki apapun yang berharga selain diriku sendiri...
...Dan cinta yang aku punya untukmu, suamiku....
...Setiap hari aku selalu mencintai mu dan setiap saat aku ingin bersamamu...
...Hatiku benar-benar kau kuasai tanpa celah...
__ADS_1
...Kepalaku terus dipenuhi namamu tanpa boleh memikirkan hal lain...
...Aku percaya bahwa cinta membuat kita bahagia...
...Karna cinta adalah surga yang memberikan kesenangan dalam hubungan halal...
...membuat kita saling memiliki dan melengkapi...
...dengarlah......
...Aku hanya akan terus mencintai mu sepanjang usia ku...
...Meski memalukan tapi setiap hari aku ingin mengatakan cinta untuk mu....
...Maka......
...Terimakasih suamiku karena telah lahir ke dunia ini...
...Memilihku dan menjadikan ku teman hidup mu...
...Menjadikan aku ratu di istanamu...
...Memberikan aku kehangatan dalam setiap dekapanmu...
...Memberikan kenyamanan saat kau berada di samping ku...
...Melindungi ku apapun yang terjadi...
...Aku sungguh menjadi wanita beruntung di dunia ini...
...Kamu adalah dunia ku...
...Kehidupan yang membuat ku hidup...
...Jadi…...
...Tua lah bersama ku karna aku tidak bisa tanpa mu...
Arjuno langsung menatap Zantisya yang saat ini telah menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
Arjuno mencoba menarik tangan Zantisya yang semakin mempertahankan tangannya.
"Sayang."
"Aku malu mas."
"Lihat aku." Perintah Arjuno. Dan saat itu Zantisya langsung menjauhkan tangannya dan menatap Arjuno.
"Mas nangis?" tanya Zantisya menatap Arjuno. Kedua tangannya mengusap kedua netra Arjuno yang sudah berembun.
Arjuno memeluk Zantisya erat. "Terimakasih sayang karena telah mencintai aku sedalam itu."
"Aku yang harus terimakasih sama mas. Hidup aku nggak akan seberuntung sekarang kalau bukan mas yang..."
Arjuno menghentikan ucapan Zantisya dengan memagut bibir Zantisya. "Kita adalah takdir sayang" ucap Arjuno sambil mengusap bibir Zantisya.
Zantisya tersenyum menatap Arjuno. "Aku masih punya kejutan buat mas" ucap Zantisya sambil membelai rahang Arjuno. "Tunggu ya…" Zantisya langsung beranjak meninggalkan Arjuno.
Bersambung...
Kejutan apa ini ya kira-kira yang akan diberikan Zantisya untuk suami tercinta 🤭
Mampir di novel terbaru ku ya 😊
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️