HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 38 BERTEMU LARAS


__ADS_3

"Mas ngapain sih ngajakin aku kesini" protes Zantisya berbisik. Emang patut diprotes suaminya kini, bisa-bisanya Arjuno mengajak Zantisya ke sebuah mall untuk bertemu dengan rekan bisnisnya. Sedangkan hanya dia yang perempuan sendiri.


"Bosen ya?"


"Bukan bosen mas, tapi aku nggak nyaman. Ehm… aku boleh keliling nggak?"


"Mau sendirian?" dengan cepat Zantisya tersenyum sambil mengangguk. "Jangan jauh-jauh ya" ucap Arjuno sambil membelai kepala istrinya.


Zantisya langsung pergi meninggalkan suaminya agar lebih fokus membahas pekerjaannya. Zantisya langsung memasuki tempat pakaian khusus perempuan dan memilih pakaian kurang bahan yang sudah ia pikirkan sejak kemarin.


"Mas Arjun suka nggak ya aku beli kaya gini" batin Zantisya saat sedang membayar semua belanjaannya.


"Semoga mas Arjun nggak marah sama aku udah ngeluarin uang sebanyak ini" gumam Zantisya sambil menenteng paper bag dan langsung keluar dari sana.


"Tisya…"


Zantisya langsung menoleh kala ada seseorang memanggil namanya. "Mama…"


Laras langsung menghambur ke pelukan Zantisya. Air matanya bahkan sudah tidak bisa ia bendung lagi. Rasa rindunya langsung luruh mengobati hatinya setelah menemukan seorang anak yang begitu ia sayangi.


"Kamu dimana selama ini nak?" Laras menyeka air matanya. "Mama kangen. Kamu baik-baik aja kan selama ini?"


Zantisya yang sejak tadi tak bisa menahan air matanya pun langsung mengusap air matanya yang sejak tadi membasahi pipinya. "Tisya baik ma… mama apa kabar?"


"Mama baik sayang" Laras menatap Zantisya dari atas kebawah.


Mantan istri anaknya itu kini terlihat cantik berseri, tubuhnya pun nampak lebih berisi dan pakaian kurung yang di gunakan Zantisya juga sudah terlihat mahal. Pantas saja Laras tadi nampak pangling. Antara yakin dan nggak yakin.


"Ayo kita cari tempat yang nyaman buat ngobrol sayang"


Zantisya mengangguk lalu berjalan bersama Laras. Belum sampai mereka menemukan tempat yang nyaman ponsel Zantisya berdering.


"Sebentar ma, Tisya angkat telpon dulu" Zantisya langsung tersenyum kala melihat siapa yang menelponnya. Senyuman yang begitu manis menambah nilai ples kecantikan Zantisya, menurut Laras.


"Halo mas…"



"Mas sudah selesai?"



"Iya. Aku kesana sekarang"


Zantisya langsung memasukkan ponsel berlogo buah apel keluaran terbaru kedalam tasnya.


"Mama maaf suami Tisya sudah selesai urusannya dan sekarang kami harus pulang" nggak enak hati sebenarnya. Tapi Zantisya harus lebih mengikuti ajakan suaminya.

__ADS_1


"Kamu sudah menikah nak?" tanya Laras.


Zantisya tersenyum. Senyuman yang penuh kebahagiaan seolah menunjukkan bahwa ia sangat-sangat bahagia. "Sudah ma"


Laras langsung mengambil ponselnya. "Mama boleh minta nomor kamu kan nak?" ucap Laras sambil mengulurkan ponsel yang tak kalah mahalnya.


Bukannya menerima ponsel Laras, Zantisya memilih mengambil ponselnya lagi dari dalam tasnya. "Biar Tisya yang simpan nomor mama ya"


Bukan tak mau berhubungan baik dengan Laras. Tapi Zantisya lebih memilih meminta izin dulu pada suaminya jika akan berhubungan dengan Laras, mantan mertuanya. Zantisya tidak ingin ada ke salah pahaman nantinya.


.


.


.


"Sayang" Arjuno langsung merangkul Zantisya kala istrinya sudah ada di hadapannya.


"Mas, maaf ya aku tadi belanja habisnya emp…"


"Iya. Beli apa aja yang kamu suka dek" Arjuno nggak mau tahu istrinya habis berapa toh selama ia memberikan uang ke istrinya terserah Zantisya mau buat apa.


Lagi pula siapa lagi yang harus ia senangkan dengan rezekinya saat ini kalau bukan Zantisya, wanita yang sangat ia cintai.


Arjuno mengambil tas Selempang dan paper bag dari tangan Zantisya. "Memangnya beli apa kamu dek?" tanya Arjuno yang ingin melihat isi didalamnya.


"STOP MAS" pekik Zantisya cepat sambil menghentikan tangan Arjuno. Jelas Arjuno kaget dengan Ucapan Zantisya. "Itu pakaian khusus punya aku"


"Alhamdulillah kamu sekarang bahagia nak. Sepertinya kamu mendapatkan lelaki yang tepat" Batin Laras tersenyum. Ia tadi memang sengaja mengikuti Zantisya. Melihat lelaki mana yang telah membahagiakan mantan istri anaknya itu.


.


.


.


Pukul 22.30 mobil Laras baru memasuki halaman rumahnya. Ia langsung keluar mobil dan langsung menuju pintu utama.


Baru saja membuka pintu suara pertengkaran anaknya dan menantunya sudah menggema di telinganya. Senyum yang tadi sangat nampak jelas di wajah Laras setelah bertemu dengan Zantisya kini sirnalah sudah.


"Kapan kamu berubah Evi" Bentak Bima.


"Sayang. Aku harus berubah gimana coba. Kamu pun tahu ini kegiatan ku dari dulu kan"


"Tapi sekaran kamu itu istri aku Evita. Kita sudah punya Aurel. Keluar dari sana dan fokus urus aku sama Aurel"


"Sayang, apa kata temen-temen ku kalau aku nggak ikut Arisan dan keluar dari geng"

__ADS_1


"Kamu lebih mikirin omongan temen kamu dari pada omongan ku Evi?" Mata Bima sampai melotot sangking emosinya. "Ok. Anggap aku memperbolehkan kamu tetap Arisan tapi tolong jangan buang-buang uang sesuka hati mu"


"Kapan aku buang uang kamu? Uang yang udah kamu kasih ke aku itu ya berarti hak aku dong"


"Capek aku sama kamu Vi" ucap Bima yang langsung meninggalkan Evita menuju ruang kerja.


Laras pun langsung memasuki kamarnya setelah anak dan mantunya sudah meninggalkan ruang keluarga.


.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 WIB. Tapi Bima lebih memilih duduk di gazebo. Lelaki itu memejamkan matanya menikmati semilir angin. Setiap kali ia duduk disana bayangan Zantisya langsung hadir begitu saja. Dan entah sejak kapan ia merasa nyaman kalau duduk di gazebo setiap kali penat apalagi saat setelah bertengkar dengan Evita.


"Zantisya" gumam Arjuno dengan jelas terdengar.


"Kenapa dengan Zantisya?" tanya Laras yang entah sejak kapan duduk di samping Bima.


Bima langsung membuka kedua matanya dan terkejut mendapati Laras ada disampingnya. "Mama…"


"Kenapa dengan Zantisya?" tanya Laras lagi. Bukannya menjawab dia lebih memilih diam.


Hening...


"Saat itu, mama menemukan gadis yang menangis tersedu-sedu hingga duduk di lantai rumah sakit. Mama sedih mendengar tangisannya padahal kita tidak saling mengenal. Dia membutuhkan uang saat itu untuk pengobatan bapaknya, sudah berusaha mencari pinjaman kesana kemari tapi tidak mendapatkan pinjaman juga. Mama berfikir dia adalah gadis baik yang begitu menyayangi bapaknya. Jadi mama membuat perjanjian dengannya" laras melihat Bima sejenak lalu menarik nafas dalam-dalam.


"Ibunya sudah meninggal sejak gadis itu masih kecil. Ia dibesarkan seorang diri oleh bapaknya. Bapaknya pernah menikah lagi namun ia ditinggalkan begitu saja dengan segudang hutang, karena sertifikat tanah di gadaikan. Gadis cantik itu yang tidak tega melihat bapaknya banting tulang sendirian, akhirnya diusianya yang sangat belia ikut mencari uang membantu kebutuhan dapur mereka” Laras menyeka Air matanya.


"Mungkin disitulah awal mula mama menyakiti gadis itu, membayar semua hutangnya dan membantu semua biaya rumah sakit serta perjanjian agar mau menikah dengan anak mama" Laras melihat Bima yang hanya menundukkan kepalanya.


"Keluarga kita bahkan selalu menyantuni anak yatim piatu Bima. Tapi baik mama atau pun kamu, kita menyakitinya seorang perempuan, seorang istri, seorang anak sebatang kara. Gadis yang bahkan sudah mencoba menjadi istri yang baik, menantu yang sangat mama sukai. Disaat mama tahu dia pun terpaksa karena janji yang kami buat sebagai kesepakatan, rasa bersalah ini semakin menumpuk"


"Ma… Bima nyesel ma. Kenapa baru sekarang Bima merasakan cinta pada Zantisya"


"Karena kini kamu merasakan perbedaanya Bima. Mana istri yang sesungguhnya baik dan tepat untukmu"


"Apa Bima bisa kembali lagi dan membawa Tisya ke rumah ini ma"


"Jangan lupa Bima jika kamu sudah memberikan talak tiga pada gadis itu" Sarkas Laras.


"Tapi dia sudah menikah itu Artinya…"


Laras menatap Bima tajam. "Jadi kamu sudah menemukan Zantisya lebih dulu dari pada mama?" Bima diam Karena melihat raut wajah Laras. "Jangan pernah merusak kebahagiaan gadis itu Bima, jika kamu melakukannya maka artinya kamu siap melihat mama mati di depan mata mu Bima Sanjaya" Laras langsung berdiri. "Dari pada kamu melakukan hal yang pasti merugikan orang lain lebih baik perbaiki apa yang ada jika kamu bisa. Toh itu memang pilihan mu sejak awal" setelahnya Laras pergi meninggalkan anaknya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Semangat pagi dan selamat beraktifitas 💪


__ADS_2