
Siapa yang bisa lari dari takdir? Setiap manusia mempunyai takdirnya masing-masing dengan nasibnya masing-masing. Begitu juga dengan kedua manusia yang selalu saja bertemu di waktu yang tak terduga. Tanpa mereka membuat janji, seolah takdir sengaja mempertemukan mereka di saat seperti ini.
Hujan. Percayakah kalian tentang hujan yang penuh dengan ke rahmatan. Ke rahmatan Tuhan untuk seluruh kehidupan di muka bumi ini. Tanpa mereka sadari juga bahwa hujan selalu mempertemukan mereka. Gadis yang telah menjadi istri orang itu selalu ceria saat ia bersama dengan lelaki yang telah menduda.
"Ini rumah mas?" tanya Zantisya saat mereka telah keluar mobil. Setelah Arjuno memasukkan mobilnya ke garasi.
Arjuno mengangguk. "Ayo masuk" ajaknya setelah membuka pintu penghubung antara garasi dengan rumah. Zantisya terus mengikuti Arjuno dari belakang.
"Mas Uno sudah pulang?" tanya perempuan paruh baya.
"Iya bi, oh iya ini kenalkan ini kemala" ucap Arjuno sambil menggeser tempatnya berdiri memperlihatkan gadis yang ada di belakangnya.
"Utami, panggil bi Tami saja mbak" bi Tami mengulurkan tangan.
Zantisya lalu mencium punggung tangan tangan bi Tami. "Zantisya, bi Tami panggil Tisya saja"
"Loh tadi katanya Kemala mbak namanya?"
Zantisya tersenyum. "Zantisya Kemala bi nama panjangnya, tapi bibi tami panggil Tisya saja yang familiar"
Bi tami mengangguk. Lalu terdapat gadis kecil baru keluar dari kamar mandi. "Mbah" panggilnya pada bi tami.
"Sini kenalan sama mbak Tisya" perintah bi Tami pada cucunya.
"Amel" ucapnya sambil mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Zantisya.
"Tisya" ucapnya sambil mengusap pucuk kepala Amel.
"Oh iya bi, ini ada ayam bakar dan beberapa osengan tolong di siapkan ya nanti kita makan bareng"
"Iya mas" bi Tami mengambil kantong plastik yang ada di tangan Arjuno.
"Aku ke atas sebentar" ucap Arjuno memberi tahu Zantisya. Tentu saja gadis itu langsung mengangguk.
Zantisya mengikuti bi Tami dan Amel ke dapur. "Mbak Tisya tinggal dimana?"
"Tisya tinggal di daerah segaran bi"
__ADS_1
"Asli jawa?" Zantisya hanya menganggukkan kepala.
"Amel ini cucu bi Tami?" tanya Zantisya bingung mau tanya apa.
"Iya mbak, ibunya kerja di luar negeri semenjak bapaknya meninggal karena kecelakaan satu tahun lalu" cerita bi Tami dan Zantisya hanya mengangguk.
"Maaf mbak Tisya calon mas Uno ya?"
"Calon? Maksud bi Tami apa?"
"Ya calon istri, soalnya selama saya kerja disini baru kali ini mas Uno bawa pulang perempuan"
"Bukan bi, kami juga baru kenal dan beberapa kali bertemu"
"Loh maaf lo mbak, bi Tami lancang tanya kejauhan" bi Tami jadi merasa tak enak hati sambil terus menata makanan di atas meja.
"Dek Kemala" panggil Arjuno yang baru menghampiri mereka.
"Iya mas"
Arjuno mendekat. "Ini ada pakaian lengkap, adek bersihkan diri dulu baru kita makan bareng-bareng" Arjuno memberikan pakaian kurung, pakaian dalam lengkap, dan juga ada alat solat. "Ini pakaian baru semua kok dan juga sudah di cuci makanya labelnya sudah nggak ada". Arjuno memang sering kali membeli pakaian perempuan berharap ia mendapatkan calon istri yang ia inginkan nantinya.
Arjuno dengan cepat memutus semua dan menarik tangannya dari pakaian yang berpindah tangan. Bi Tami sendiri hanya dapat melihat keduanya dari ekor matanya. Ia sedih tersenyum melihat keduanya yang salah tingkah.
"Aku ke kamar ku dulu. Bi atar Kemala ke kamar tamu ya"
"Iya mas"
Setelah hampir satu jam barulah Arjuno turun dari lantai dua dan langsung menghampiri Zantisya yang sedang mengajari amel mengerjakan PR dari sekolahnya.
"Udah selesai belum mel" tanya Arjuno setelah mendudukkan diri di depan Amel dan Zantisya yang duduk di lantai beralaskan karpet bulu dan di depan mereka ada beberapa buku pelajaran Amel. Biasanya yang selalu membantu Amel mengerjakan PR adalah Arjuno.
"Ini kurang satu soal lagi om" jawab Amel menatap wajah teduh lelaki di depannya. Lelaki yang hanya menggunakan kaos oblong warna coklat dan sarung.
Arjuno menunggu keduanya sampai selesai dengan memainkan ponselnya. Sesekali ia melihat dua gadis di depannya. Benarkah dua? Karena ia lebih banyak menatap wajah ayu yang baru beberapa kali bertemu dengannya dan dengan cara tak terduga.
"Yei selesai" Amel girang setelah menyelesaikan seluruh PRnya. "Terimakasih ya mbak Tisya"
__ADS_1
"Sama-sama sayang" ucap Zantisya sambil membantu Amel memasukkan alat tulisnya ke dalam tas.
"Mari kita makan" ajak Arjuno. Mereka bertiga berjalan bersama menuju meja makan. Bi tami tersenyum melihat kebersamaan itu. Seperti gambaran keluarga yang bahagia.
"Semoga suatu saat nanti mas Uno mendapatkan pasangan hidup yang bisa membuatnya tersenyum seperti saat ini, semu bahagianya terlihat berbeda sejak ia pulang bersama Zantisya" batin BI Tami.
Mereka berempat makan di meja yang sama. Sudah menjadi kebiasaan bi Tami dan Amel selalu makan di meja yang di gunakan majikannya itu. Satu tahun yang lalu saat bi Tami baru bekerja di rumah Arjuno ia merasa tidak pantas makan bersama majikannya itu, namun lama kelamaan karena selalu di paksa akhirnya bi Tami dan Amel jadi terbiasa.
.
.
.
Hujan masih nampak deras di luar sana, setelah makan mereka berempat bercengkrama di ruang keluarga. Hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Amel sudah tertidur di pangkuan bi Tami. Sejak tadi mereka menunggu hujan reda, Arjuno bermaksud mengantar bi Tami dan Zantisya pulang kerumahnya. Namun semakin malam cuaca nampak semakin buruk dan hujan terus jatuh dengan derasnya. Bi Tami sendiri memang selalu pulang ke rumahnya jika pekerjaannya selesai. Dan sesekali ia akan menginap dirumah Arjuno. Bi Tami sendiri hanya tinggal berdua dengan Amel.
"Hujannya semakin deras dek" ucap Arjuno setelah mengintip hujan dari balik jendela. "Bi Tami tidur disini saja temani Kemala ya bi, bibi juga nggak mungkin pulang juga kan"
"Maksud mas Arjun, aku nginep disini?" tanya Zantisya ragu.
Arjuno mengangguk. "Tapi kalau kamu nggak mau, aku bisa antar kamu pulang. Kita kendarai mobil pelan-pelan saja" usul Arjuno. Ia juga melihat raut wajah Zantisya yang ragu.
Zantisya nampak berfikir sejenak dan tak lama ia mengangguk. "Tisya nginep disini saja mas". Itu keputusan lebih baik menurutnya daripada harus mengambil resiko dengan cuaca saat ini. Toh suaminya tidak akan dan tidak mungkin mencarinya atau sekedar bertanya tidur di mana ia saat Bima meninggalkannya di tengah jalan dan pergi bersama kekasihnya. Biarlah dosa ia yang menanggungnya karena sebagai seorang istri dia tidur di rumah lelaki yang baru ia kenal.
Arjuno menggendong Amel untuk di pindahkan ke kamar yang biasa bi Tami dan Amel tempati.
"Bi, tidur sama Tisya ya. kita tidur bertiga"
Bi tami menatap ke arah Arjuno. Dan Arjuno yang awalnya sudah berada di depan pintu kamar bi Tami ia langsung membalikkan badan.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya π kasih like dan komennya π