
"Mumpung kita ketemu aku mau minta maaf Tisya"
"Kenapa tiba-tiba minta maaf mbak?" jelas saja kan Zantisya heran. Baru juga mereka bertemu, memangnya Resti salah apa sama dia.
"Karena perintah pak Bima, Aku mencari informasi kedekatan kamu dengan suami kamu. Kalau tau pak Bima akan mencoba menghancurkan usaha suami mu dan mengganggu kamu, aku nggak akan menuruti semua perintah pak Bima" Resti menggenggam tangan Zantisya. "Maafin aku ya"
"Orang itu menghancurkan usaha mas Arjun?"
Resti mengangguk dan menceritakan semua. Sampai tak terasa sudah satu jam lebih mereka berbincang.
Arjuno melihat jam yang ada di ruang kerjanya, pukul 17.10 WIB artinya sudah satu jam lebih istrinya belum kembali keruangnnya. Arjuno langsung mematikan komputernya dan langsung menjinjing tasnya dan tas istrinya.
Arjuno langsung menuruni anak tangga setelah mengatakan bahwa ia akan pulang sekarang pada penanggung jawab restorannya.
Arjuno menelisik ruangan yang nampak ramai. Tak butuh waktu lama Arjuno melihat jilbab yang dikenakan istrinya tadi.
Arjuno langsung melangkah menuju Zantisya yang nampak sedang berbincang dengan seseorang disana.
"Dek"
"Eh mas" Zantisya menatap suaminya dengan tersenyum, terlihat suaminya sudah menyelempangkan tasnya pada tubuhnya itu dan menjinjing tas kerja Arjuno sendiri. entah kenapa setiap Zantisya melihat Arjuno menggendong tasnya, begitu terlihat imut menurutnya.
"Mau pulang sekarang mas?"
Arjuno mengangguk. "Sudah sore dek"
"Oh iya mas kenalin ini mbak Resti"
Arjuno hanya mengangguk melihat Resti. "Arjuno"
"Resti" dibalas anggukan pula oleh Resti.
"Oh iya mas, di kantor ada lowongan kerja nggak?"
"Tisya" lirih Resti nggak enak hati.
Arjuno ikut duduk disebelah Zantisya. "Ada"
"Ini mbak Resti sudah satu bulan nggak kerja"
"Terakhir kerja dimana Resti?" tanya Arjuno menatap Resti.
"Sanjaya Group pak" jawab Resti sekenanya.
Arjuno mengangguk. "Kena PHK atau bagaimana?"
"Saya dipecat pak"
"Memangnya kamu bekerja di bidang apa disana?"
"Sekertaris pak"
Arjuno mengambil tempat khusus kartu namanya. Dan langsung menyodorkan didepan Resti. "Saya sedang membutuhkan sekertaris, karena sekertaris saya mau resign. Jika berminat, besok langsung temui saja bagian HRD"
Resti tidak menyangka akan mendapatkan tawaran kerja setelah Arjuno tahu bahwa dia mantan sekertaris Bima. "Terimakasih pak"
"Sama-sama. Sayang kita pulang sekarang"
Zantisya mengangguk. "Mbak kita pulang dulu ya"
"Iya. Hati-hati tisya" Resti tersenyum melihat Zantisya dan Arjuno yang terlihat menggandeng istrinya itu.
Jelas terlihat betapa Zantisya kini sangat bahagia karena bersama orang yang sangat mencintainya.
__ADS_1
"Nasib mu tetap menjadi istri seorang bos. Jika dulu kamu di sia-siakan, tapi sekarang lihatlah sebegitu bucinnya suami mu Tisya"gumam Resti.
.
.
.
"Mau mandi bareng mas?" tawar Zantisya setelah mereka memasuki kamar.
"Adek godain aku ya?" tanya Arjuno setelah meletakkan tasnya dan istrinya.
"Ihhh… Siapa yang godain mas coba? Kan aku cuma nawarin mau mandi bareng nggak memang salah?" ucap Zantisya sambil melepas jilbab dan yang lainnya.
"Ya jelas salah dong sayang, katanya nggak boleh setiap hari"
"Mas itu mesum terus pikirannya. Memangnya setiap mandi bareng harus selalu begituan?" kan jadi gemes sendiri Zantisya sama Arjuno yang memang hobby banget begituan.
Arjuno mulai membuka kancing kemejanya satu persatu. "Mubazir dong sayang ada umpan cuma di lihat di usap-usap nanggung kan, ya sudah sekalian saja"
Brak
Zantisya menutup pintu kamar mandi cepat-cepat setelah lari di kejar suaminya dengan tawa nyaring keduanya yang memenuhi kamar.
"Mas udah janji lo"
"Ayo lah sayang" pinta Arjuno sambil mengetuk pintu.
"Janji deh cuma mandi" pintanya memelas.
"Janji ya mas hanya mandi"
"Janji dek"
.
.
.
"Masak apa sayang" tanya Arjuno sambil memeluk istrinya dari belakang. Tadi setelah solat magrib Zantisya langsung turun lebih dulu.
"Ini Tumis kacang Panjang. Bi Tami tadi sudah masak rendang. Apa mas mau lauk yang lain?"
"Nggak usah, yang ada saja dek" Arjuno melepaskan pelukannya. "Dek makannya sepiring berdua ya, aku tunggu di depan tv"
Setelah selesai makan mereka bersanti di depan tv menonton liputan berita. Arjuno tiduran berbantal paha Zantisya. Sedangkan Zantisya terus mengusap rambut lelaki yang selalu membuat ingin terus bermanja-manja.
"Mas"
"Hem…"
"Perasaan mas nggak pernah cerita apapun ke aku"
"Cerita apa sayang?"
"Ya apa saja, masalah pekerjaan mungkin" pancing Zantisya.
"Bukannya adek juga sering ikut ke kantor, sering ikut ke restoran terus apa yang mau aku ceritakan istriku"
Benar yang dikatakan Arjuno. Tapi tetap saja Zantisya penasaran dengan pembicaraannya bersa,a Resti tadi.
"Tapi mungkin ada masalah yang nggak aku tahu mas waktu aku nggak ngikutin mas"
__ADS_1
Arjuno mengangkat sebentar kepalanya dan menyibak gaun tidur istrinya mulai usil. Tangannya meraba pelan dari paha, perut dan terakhir bertenggar pada salah satu si kembar.
"Mas nggak butuh aku buat ngobrol ya?"
Tangannya mulai memelintir-melintir bergantian kiri dan kanan membuat Zantisya kehilangan fokus.
"Dek, masalah kantor hanya ada di kantor kalau aku sudahh masuk rumah itu artinya aku nggak mau memikirkan urusan kantor lagi. Aku cuma mau ketika di rumah hanya ada aku dan kamu" ucap Arjuno lalu mencium perut Zantisya.
Kalau dipikir-pikir benar juga ucapan Arjuno. Selama mereka menikah, Arjuno tidak pernah mengurus pekerjaan saat sudah berada dirumah. Lelaki itu selalu mengikuti kemana Zantisya pergi.
"Mas"
"Yes baby"
"Orang itu berusaha hancurin usaha mas gara-gara aku ya mas"
"Resti yang cerita?" Walau Arjuno tak melihat namun Zantisya mengangguk.
"Itu bukan gara-gara kamu sayang. Di dunia bisnis kita harus siap dengan pesaing. Jadi wajar jika pihak Sanjaya Group menambah kolega bisnisnya sayang. Aku rasa itu hal yang nggak penting yang harus kamu fikirkan dek. Aku Cuma mau kamu fokus samu aku saja"
"Mas tahu nggak?"
"Enggak, kan adek belum ngomong"
"Mas sadar nggak sih kalau semua orang ngomongin mas bucin"
Arjuno langsung menghentikan aktifitas tangannya dan menatap istrinya bingung. "Buncis?"
"Ih bukan buncis mas tapi bucin. Nggak tau ya bahasa gaul anak muda jaman sekarang"
"Memang apa artinya bucin dek?" tanya Arjuno dengan wajah penasarannya.
"Budak cinta hahaha…" Zantisya tertawa setelah menjawab pertanyaan suaminya itu.
"Emang aku kelihatan kaya gitu ya dek?"
"Nah emang jelas banget mas bucinnya makannya dimana pun berada pasti orang bilangin mas bucinnya aku" tutur Zantisya membanggakan diri.
"Kok seneng banget kayanya" Arjuno mencolek dagu Zantisya.
"Istri mana pun pasti seneng kalau punya suami kaya mas. Ihhh beruntungnya aku jadi istri mas"
"Kalau sudah tau untung bagi-bagi dong sayang" ucap Arjuno yang mengubah posisinya menjadi duduk.
"Maksudnya mas?"
Arjuno langsung menarik Zantisya hingga menimpa tubuhnya. Tangannya langsung menaikkan gaun tidur istrinya membelai punggung Zantisya. Dasar.
"Mas inget ya kesepakatan yang di buat mas sendiri" kesal kan Zantisya juga akhirnya.
Arjuno sendiri yang ngajakin begituan dua atau tiga hari sekali tapi setiap hari mancing Zantisya terus-terusan setiap berkesempatan.
Arjuno mengubah posisi lagi agar posisi keduanya tertidur sejajar diatas sofa. "Aku nggak ngajakin begituan kok dek"
"Terus?"
Tangan Arjuno yang memang super duper nakal pindah kedepan dan menggenggam erat si kembar. "Kamu sengaja nggak ngamanin ini ya dek?" tuduh Arjuno perkara Zantisya tidak memakai br*a membuat ia ingin usil terus menerus.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya 🥰 follow akun author juga ya sayang 😘
Selamat pagi dan selamat beraktifitas 💪💪💪
__ADS_1