HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 13 RASA YANG DI ABAIKAN


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu Zantisya selalu melakukan hal-hal manis seolah ingin menarik perhatian suaminya. Ia selalu memasak makanan yang disukai Bima, membuat kue kesukaan Bima. Selalu membuatkan air hangat saat Bima sedang lembur di ruang kerjanya dan terkadang dengan terang-terangan zantisya memijit pundak suaminya saat di ruang keluarga bersama Laras juga.


Laras sendiri semakin senang melihat keharmonisan rumah tangga anaknya. Ia sangat bersyukur semenjak kehamilan Zantisya keduanya semakin nampak romantis. Bukankah sepasang suami istri itu benar-benar sukses mengelabuhi Laras.


Malam sudah semakin larut namun Zantisya belum bisa tidur. Sejak tadi juga Bima belum memasuki kamar meraka. Zantisya jadi mengira jika Bima masih lembur di ruang kerjanya. Zantisya bangun dari pembaringan. Sepertinya tubuhnya sudah mulai kebal tidur di sofa.


Ia pun langsung turun menuju dapur untuk membuat coklat panas kesukaan Bima. Dengan sedikit kue kering yang tadi siang ia buat bersama asisten rumah tangga.


Tok…


Tok…


Tok…


Bima heran siapa yang mengetuk pintu ruang kerjanya selarut ini. Di lihatnya jam sudah menunjukkan pukul 00.35 dini hari. "Masuk"


Zantisya langsung membuka pintu setelah di persilahkan masuk. "Kak, lembur lagi?" tanya Zantisya setelah masuk dan menutup pintu lalu melangkah mendekat ke arah Bima.


"Mau apa kamu?" tanya Bima acuh, ia hanya melirik ke arah Zantisya sejenak lalu fokus ke beberapa berkas di depannya.


"Aku bawakan coklat panas dan kue salju kak. Selamat menikmati" ucap Zantisya.


Bima menatap gerak tubuh Zantisya saat meletakkan nampan di atas meja. Lalu tanpa melihat ke arahnya Zantisya hendak langsung keluar dari ruang kerja suaminya itu.


Grep


"Eh… ada apa kak?" Zantisya tentu terkejut karena Bima tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya kasar sehingga tubuhnya menabrak tubuh suaminya itu.


"Apa tujuan mu sebenarnya" desis Bima tepat di hadapan wajah Zantisya.


Zantisya beberapa kali mengedipkan matanya. Membuat Bima dalam sekejap terhipnotis oleh bulu lentik mata istrinya itu namun sepertinya rasa emosi di hatinya mengalahkan segalanya. "Tujuan apa maksud kakak?"


"Jangan pura-pura bodoh" geram Bima semakin erat mencengkram pergelangan tangan Zantisya.


Namun bukan Zantisya yang akan meringis kesakitan. Ia sebisa mungkin menahan semuanya, menurutnya ini tidak seberapa dari pada kelakuan Bima yang suka menurunkannya di tengah jalan seolah ia ini barang tiada guna. Membiarkannya seorang diri ditempat yang ia sendiri pun belum Pernah lewati. Hatinya bahkan terasa sakit oleh hinaan Bima padanya.


"Aku hanya buatkan kakak coklat panas dan kue salju untuk teman kerja kakak. Apa itu salah?"

__ADS_1


"Apa menurut mu dengan begitu aku akan takluk dan jatuh kepelukanmu. Jangan mimpi” sarkas Bima menghempas tangan Zantisya secara kasar.


"Sepertinya kakak yang salah menanggapi sikap ku. Kita hanya sandiwara itu sudah tertera di kontrak kak"


"Apa selarut ini aku meminta mu untuk sandiwara?"


"Kak, aku hanya membuatkan itu" jari Zantisya menunjuk ke arah meja. "Anggap saja aku ini pembatu, apa susahnya"


Bima masih menaruh curiga pada zantisya. “ingat baik-baik, aku hanya mencintai Evita. Calon ibu dari anak-anak ku dan kamu…” Bima menunjuk wajah Zantisya. "Jangan pernah mencoba merayu atau pun mendekati ku" desisnya. "Aku tahu niat mu, jika kamu ingin menguasai seluruh harta keluarga ku. Itulah tujuan perempuan miskin seperti mu"


Zantisya santai mendengarkan ucapan Bima yang penuh amarah. "Pertama kakak mencintai mbak Evita aku jelas tau, kakak sudah nggak perlu menjelaskannya lagi. lalu aku nggak pernah berniat merayu atau pun mendekati kakak, aku ingat kita hanya sandiwara. Dan terakhir jangan menilai seseorang dengan asal jika kakak belum tahu kebenarannya. Suatu saat jika kakak tahu semua dengan tangan terbuka maka saat itu juga kakak akan menyesali semuanya setelah kehilangan apa yang seharusnya kakak pertahankan" Zantisya tersenyum sedangkan Bima diam nampak mencerna ucapannya. "Selamat malam kak"


Zantisya keluar dari ruang kerja Bima. Bima sendiri masih terpaku dengan memikirkan kalimat terakhir yang di ucapkan Zantisya sehingga mengganggu pikirannya untuk sesaat. "Menyesal? Sudah sejak awal pernikahan gila ini aku menyesal. Dasar perempuan gila harta. Licik" desis Bima.


.


.


.


"Setelah ini kita jalan-jalan yuk?" ajak Bima pada Zantisya disaat mereka tengah menikmati sarapan.


Jelas saja Bima kesal dengan jawaban Zantisya. padahal dia tahu kalau Bima mengajaknya keluar itu artinya dia akan kencan dengan Evita. "Mumpung hari ini libur, kita ke pantai dan menginap di sana sayang"


'Sayang'


Jika perempuan lain akan merasa berbunga dan merasa tersanjung saat pasangan mereka memanggil mereka dengan sebutan 'Sayang'. Namun itu tidak berlaku untuk Zantisya, dia sudah harus siaga jika bima sudah memanggilnya dengan kata 'Sayang' berarti ucapannya tidak boleh di bantah. Ia wajib menuruti semua mau Bima.


"Iya kak, aku siap-siap dulu"


.


.


.


"Kamu bodoh apa bego sih? Kalau aku udah ngajak kamu keluar ya keluar" bentak Bima saat ia sudah melajukan mobil. Sepertinya ia akan kehilangan separuh nyawanya jika ia tidak memaki Zantisya untuk sehari saja.

__ADS_1


"Maaf kak, lagian aku juga malas keluar. Kakak tahu aku nggak punya tujuan"


"Tujuan? Apa pentingnya bagi mu hah? Seharusnya kamu bersuka cita kalau aku ngajakin kamu keluar itu artinya kamu bisa menikmati uang ku dengan suka cita. Kamu untung"


"Terimakasih kak" Zantisya sungguh malas menghadapi laki-laki di sampingnya ini.


Mobil bima terparkir apik di Arko restoran, ia langsung buru-buru keluar karena tak ingin membuat Evita menunggu terlalu lama. Zantisya pun ikut masuk. Ia melihat suaminya sedang duduk berhadapan dengan Evita nampak sangat mesra.


"Kenapa mereka nggak nikah aja sih, terus lepasin aku" gerutu Zantisya dan ia pun langsung mencari kursi kosong. Ia juga memesan minuman dan camilan di sana. Setelah pesanan terhidang di hadapannya ia langsung mencicipinya. Ia sekarang sudah nggak perdulu jika mengeluarkan uang cukup banyak karena memang rasanya sangat segar dan nikmat. "Maaf kak hari ini aku akan gunakan uang yang kakak transfer tadi, aku akan memanfaatkan dengan baik karena kakak selalu menelantarkan aku sesuka kakak.


.


.


.


"Kamu tadi ketemu siapa beb?" tanya Bima.


"Sama mbak sari, sepupu aku yang. Anaknya yang paling kecil cantik banget yang. Nggak sabar deh nunggu anak kita lahir" ucap Evita sambil mengusap perutnya yang belum nampak buncit itu.


"Aku juga udah nggak sabar pengen gendong anak kita nanti. Udah habis kan?" Evita mengangguk karena memang menu yang ia pesan sudah habis bersih. Jiwa ibu hamil makan banyak sepertinya kini bisa Evita rasakan. "Ayo kita ke apartemen" bisik Bima menggoda.


Evita langsung mengangguk. Setelah membayar di kasir mereka bergandengan mesra untuk segera keluar dari sana.


"Itu bukannya istri mu sayang" tunjuk Evita dengan dagunya. Suaranya seolah mengejek.


Bima mengikuti arah tatapan Evita. Ia heran melihat Zantisya sedang tertawa dengan lelaki di hadapannya yang hanya terlihat punggungnya saja. Tawa yang tidak pernah sekalipun Bima lihat. Tawa yang semakin memancarkan kecantikan Zantisya. Ada sedikit kekesalan di hati Bima namun sepertinya ia tak menyadari semuanya. "Siapa laki-laki itu?" batin Bima.


"Dasar perempuan murahan sudah punya suami masih berani dia tertawa seperti itu dengan lelaki lain" desis Bima dalam hati.


"Dasar perempuan murahan" desis Evita.


Sepertinya kaca besar yang ada di restoran itu tidak bisa menyadarkan bayangan pasangan yang mencibir perempuan yang selalu di buang seolah sampah di sembarang tempat oleh lelaki yang sah menjadi suaminya.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰 tab favorit ❤️ follow akun author nanti di follback kok 👍

__ADS_1


Semangat pagi dan selamat beraktifitas 💪💪💪


__ADS_2