
Kini usia kandungan sandiwara sudah berusia enam bulan. Begitu rapihnya Bima dan Zantisya menutupi semua sandiwara mereka. Bima yang memang berasal dari keluarga milioner pun pintar melancarkan aksinya dengan trik kepintarannya yang sudah bersiap akan kemungkinan yang terjadi.
Keluarga milioner itu sudah pasti menanam saham di sebuah rumah sakit mewah di kotanya. Sahamnya sendiri mencapai tujuh puluh lima persen. Dan dokter dari rumah sakit itu pula yang di percaya untuk memeriksa kesehatan keluarga Sanjaya dan para pekerjanya.
Seluruh dokter yang ada di sana khusunya dokter Spesialis obstetric dan ginekologi, sudah bima berikan wejangan berupa nominal yang mereka terima jika membantu dan merahasiakan rahasianya bersama Evita dan Zantisya. Maka jika yang mengantar Zantisya memeriksakan kandungannya yaitu Laras, Zantisya sudah tidak perlu bingung lagi untuk membuat sinopsis sebuah kebohongan karena yang akan melakukan adalah dokter yang memeriksanya. Mudah bukan.
Meski perut Zantisya nampak membuncit karena perut palsu tapi tetap saja Bima dengan tidak tahu dirinya menelantarkan Zantisya di tengah jalan sejak siang tadi. Langit sudah mulai nampak menggelap karena mendung, namun sore itu ia sudah sangat ingin ziarah ke makam ibu dan bapaknya. Zantisya bahkan sampai rela tidak mengunjungi makam kedua orang tuannya karena takut jika ia akan bertemu dengan Arjuno dengan tidak sengaja. Rencananya Zantisya akan menemui Arjuno Saat ia sudah resmi bercerai dengan Bima. Menunggu sampai Evita melahirkan buah cintanya itu hanya tinggal beberapa bulan lagi.
Zantisya pikir dengan begitu dia akan memberikan jawaban pada Arjuno tanpa harus ia menyakiti perasaan lelaki itu, orang yang mengganggu pikirannya sejak beberapa bulan ini. Tapi sepertinya rencana hanya tinggal rencana. Saat Zantisya tengah bermonolog seolah sedang mencurahkan isi hatinya di depan makam bapaknya sambil mengusap batu nisan yang tertulis nama bapaknya.
Wangi yang sangat Zantisya kenali tiba-tiba memenuhi indra penciumannya. Masuk ke dada hingga menembus paru-parunya membuat zantisya memejamkan mata merasakan sesak di dada karena nafasnya terasa berat. Wangi sang pemilik yang sangat ingin ia lihat. Tapi...
"Aku mohon ini bukan kamu mas" gumam Zantisya dalam hati. Namun wangi menenangkan itu semakin dekat semakin tercium semerbak.
"Dek Kemala" panggil Arjuno dengan sura lembut dan lirih. "Akhirnya kita bisa ketemu dek" suaranya terdengar penuh kelegaan.
"Mas Arjun ngapain disini Mas?"
"Aku hanya ingin mampir ziarah ke makam Vina" Arjuno menjeda ucapannya. "Beruntung aku mengikuti kata hati ku karena tadinya aku nggak mau kesini karena baru kemarin aku ziarah ke makam vina" jelas Arjuno.
Zantisya tetap duduk jongkok, ia tidak berani berdiri karena takut arjuno melihat perut palsunya yang sudah pasti membuat salah paham. Namun lagi-lagi nasib tidak berpihak pada Zantisya, keinginan tinggal harapan karena nyatanya semesta seolah tak mengizinkannya membohongi lelaki sebaik Arjuno.
Hujan jatuh tiba-tiba dengan deras. Membuat Zantisya dan Arjuno lari mencari tempat berteduh.
"Ayo dek masuk" perintah Arjuno setelah membukakan pintu mobil untuk Zantisya.
Tanpa pikir panjang Zantisya lari dan langsung masuk. Begitu Arjuno menutup pintu mobil ia langsung mengitari mobil untuk ikut masuk ke dalam mobil.
"Syukur aku tadi nggak jauh markir mobilnya dek" ucap Arjuno. Arjuno melihat sekilas zantisya yang tengah mengelap wajahnya dan pakaiannya yang lembab. Arjuno langsung mengambil tissue yang baru ia beli tadi lalu membukanya. "Ini dek pakai ti… su" ujung kalimat Arjuno terdengar terbata, saat melihat perut Zantisya yang membuncit.
Deg
__ADS_1
Debaran jantung Zantisya tidak beraturan. Ia jelas mendengar kata terakhir Arjuno. Zantisya sejujurnya tidak ingin menoleh, tapi kenapa kini dia melakukannya. Melihat mata lelaki yang duduk di balik kemudi, menatap terpaku pada perut Zantisya.
"Mas…" lirih Zantisya menyadarkan Arjuno.
"Kamu hamil?" tanyanya pelan.
"Mas aku bisa jelasin mas"
"Kamu hamil dek?" tanya Arjuno lagi yang kini di angguki oleh Zantisya. Sudah terlanjur terjun kedalam air dan berenang, akhirnya sekalian menyelam saja. Mungkin itu yang di pikirkan Zantisya kenapa ia mengangguk.
Arjuno sejenak berfikir, kapan terakhir dia dan Zantisya bertemu dan kini perut gadis dihadapannya sudah membuncit. "Sejak kapan kamu nikah?" suara Arjuno masih tetap lembut namun bagi Zantisya suara itu terdengar dingin menyakitkan. Bahkan Zantisya hanya bisa menundukkan wajahnya. "Jawab!"
"Satu minggu setelah pertemuan kita yang kedua mas" jawab Zantisya lirih hingga nyaris tak terdengar.
Mendengar jawaban perempuan yang Arjuno minta menjadi istrinya pun langsung memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi.
"Jadi beberapa bulan ini aku menunggu dengan harapan kosong?" Zantisya hanya diam. Dia hanya bisa menahan tangisnya dan air matanya. "Aku tulus, aku rindu tapi aku sadar kini dengan semuanya" ucapan Arjuno semakin terasa menyayat hati Zantisya.
"Mas…" Zantisya ingin menjelaskan namun suaranya saja sudah serak untuk ia keluarkan.
"Bima… Bima Sanjaya" jawab Zantisya.
"Sanjaya Group?" Zantisya mengangguk.
Arjuno langsung menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Zantisya sudah tidak sanggup untuk bertanya karena ia sempat melihat kilat amarah dari pancaran kedua manic teduh itu.
Zantisya sadar ini jalan pulang tapi bukan kerumahnya dimana dulu Arjuno mengantarnya pulang. Ini arahnya pulang, pulang ke rumah dimana Laras dan Bima tinggal.
"Keluar dek" ucap Arjuno. Meski terdengar intonasi seperti biasanya tapi kini Zantisya mendengar Suara lembut mengerikan hatinya.
"Mas, sebenarnya aku..."
__ADS_1
"Aku bukan tipikal orang yang merebut milik orang lain dek. Jika suatu saat kita bertemu dengan tidak sengaja, aku mohon abaikan aku seolah kamu tidak pernah mengenal ku" suaranya benar-benar terdengar lembut tapi langsung menusuk telak. Arjuno menarik nafas dalam. "Semoga kalian sehat selalu sampai dia melihat betapa indahnya dunia ini" Arjuno menjeda ucapannya dan menatap wajah Zantisya yang juga menatapnya.
Tangan Arjuno terulur menyentuh pucuk kepala Zantisya yang tertutup jilbab warna hitam. "Aku harap kamu hidup bahagia dek" ucap Arjuno. Terluka? tentu saja dan tanpa tau bukan hanya dirinya yang terluka tapi juga Zantisya.
Dan itulah ucapan Arjuno sebagai tanda perpisahan mereka.
.
.
.
Sedangkan Bima kini tengah melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Ia benar-benar marah dengan Zantisya karena telah membuatnya pulang lebih dulu sebelum ia menelpon dan mengajaknya pulang ke rumah.
Kepalanya juga semakin berdenyut karena aktivitas percintaannya belum usai bersama Evita. Masih setengah perjalanan suara ponselnya merusak suasana. Awalnya Bima ingin abai tapi karena merasa terganggu membuatnya mau tidak mau jadi mau, harus mengangkat telpon laras, mamanya.
Zantisya pulang dengan keadaan menangis. Entah apa yang membuat gadis miskin yang kini jadi istri milioner itu menangis. Amarah Bima semakin menjadi, ia langsung menaikkan level kecepatan agar cepat sampai ke rumah. Beruntungnya jalanan nampak longgar itu sangat mempermudah perjalanan Bima.
Sesampainya di halaman rumah, Bima langsung melangkah masuk. Langkahnya yang ingin cepat sampai kedalam kamar pun langsung terhenti saat seseorang memanggilnya.
"Bima"
"Iya ma" Bima mendekat kearah Laras yang tengah menonton televisi.
"Sesibuk apapun jangan biarkan istri kamu pulang seorang diri apa lagi sekarang dia lagi hamil anak kamu, cucu mama"
"Cih. Hamil? Anak mantu mama itu nggak hamil, yang hamil itu Evita ma, kekasih ku" pekik Bima hanya di dalam hatinya yang terdalam. Mana mungkin berani dia terus terang kalau akibatnya bisa di coret namanya dalam kartu keluarga.
Seandainya ia sanggup menerima konsekuensinya jika ia tetap menikahi Evita itu artinya nama Bima tercoret dari daftar warisan. Bima bukannya takut hidup miskin tapi ia takut tidak bisa membahagiakan Evita dengan uang dan kekuasaan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋
Selamat siang 😊