
Sudah tiga hari ini, Arjuno berangkat pagi dan pulang larut malam. Karena mengurusi masalah restorannya dan mencari bukti penyebab kebakaran yang sudah jelas disengaja. Restoran yang sudah delapan puluh lima persen jadi itu membuatnya rugi hingga em em.an.
Dan semanjak itu juga Arjuno meminta bi Tami dan Amel untuk menginap dua puluh empat jam dirumahnya sampai masalahnya benar-benar selesai.
Malam ini Arjuno pulang tepat pukul 01.00 WIB. Bahkan Zantisya sudah nampak lelap. Arjuno duduk jongkok di pinggir ranjang, mengusap wajah istrinya yang terasa sedikit hangat.
"Kenapa badan mu hangat sayang" gumam Arjuno lalu mencium pucuk kepala istrinya. "Maafin aku dek beberapa hari ini waktu kita jelas sangat berkurang."
Setelahnya Arjuno langsung menuju ke kamar mandi untu membersihkan diri. Tak butuh waktu lama ia sudah keluar dari sana dan langsung menuju ranjang untuk mengikuti jejak istrinya yang terbuai mimpi.
Tepat pukul 04.00 WIB Zantisya terbangun. Senyumnya langsung menghiasi wajahnya yang nampak pucat karena kini tubuhnya berada dalam pelukan suaminya. Zantisya langsung membelai wajah suaminya. Rasa rindu dengan hal-hal romantis keduanya begitu memenuhi perasaan Zantisya.
Zantisya berniat mencium Arjuno yang nampak lelap namun tiba-tiba perutnya terasa mual sehingga ia ingin sekali memuntahkan sesuatu.
"Hoek… hoek…" Zantisya langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan langsung memaksa melepaskan diri dari dekapan suaminya secepat mungkin.
Arjuno ikut bangun karena merasakan pergerakan istrinya yang sangat cepat. Ia langsung beranjak mengikuti istrinya yang terlihat lari dengan cepatnya menuju kamar mandi.
"Hoek… hoek…" hanya cairan pahit yang keluar dari Zantisya. Ia kemudian membasuh mulutnya dengan air. Sedang Arjuno terus memijit tengkuk istrinya.
"Sudah dek?" tanya Arjuno khawatir. Zantisya hanya mengangguk lemas.
Arjuno langsung menggendong Zantisya menuju ranjang. Lalu menghidupkan lampu utama kamar mereka.
"Badan kamu hangat dan pucat lo dek" ucap Arjuno menyentuh kening istrinya dan menatap wajah Zantisya yang jelas pucat.
"Dari kemarin sore aku mual muntah mas, terus bi Tami kerokin aku. Habis itu langsung mendingan. Tapi kenapa masih mual ya mas?"
"Kita kerumah sakit sekarang dek" ajak Arjuno.
"Nggak usah mas, nanti, aku minta tolong pak totok buat belikan obat penurun panas sama obat mual biar cepat sembuh."
"Tapi kamu pucet banget lo dek. Ayo sekarang aja kita kerumah sakit"
"Nggak usah mas, tuh udah adzan. Bentar lagi mas harus ngurusin masalah restoran kan?"
"Maafin aku dek, beberapa hari ini aku kurang perhatian sama kamu." Arjuno mencium punggung tangan Zantisya.
"Mas nggak salah. Namanya musibah siapa yang tahu."
.
__ADS_1
.
.
"Sudah mas berangkat aja" ucap Zantisya. Karena sudah sejak tadi bi Tami belum juga pulang dari pasar.
Sedangkan Arjuno mana mungkin meninggalkan istrinya sendiri dirumah. Perasaan Arjuno entah kenapa menjadi tidak enak sendiri karena selain bi Tami yang tumben lama banget ke pasarnya.
Pak Edi pun belum menampakkan diri. Padahal biasanya kalau berhalangan datang pak Edi akan memberi kabar pada Arjuno.
Zantisya mengangkat telfon dari sebuah aplikasi hijau memberitahukan kalau ia sudah ada didepan gerbang rumah.
"Siapa dek?"
"Kurir mas, tadi aku beli obat lewat aplikasi. Udah mas berangkat aja. sekalian kedepan aku mau ambil obat."
Akhirnya Arjuno pergi meninggalkan istrinya dirumah seorang diri. Ia berusaha membuang segala pikiran yang mengganggunya secara tiba-tiba.
Rasanya menyesal juga Arjuno tidak menggunakan security pribadi. Perkara gerbang rumahnya menyensor beberapa plat kendaraan agar bisa masuk secara otomatis. Jadi Arjuno tidak menggunakan scurity pribadi. Pikirannya toh ada keamanan yang bertugas di area perumahan.
Setelah menerima obat dan sebuah alat tes kehamilan. Zantisya langsung menuju kamar mandi. Tiba-tiba saja ia berfikir kalau kalau dirinya hamil karena setelah melihat aplikasi jadwal bulanannya, Zantisya sudah telat bulanan selama tiga minggu.
Zantisya langsung mengangkat testpacknya sesuai waktu yang tertulis di bungkus alat tes tersebut. Walau badannya terasa lemas dan kepalanya yang berat karena pusing, namun masih bisa ia abaikan karena hasil yang ia lihat.
Dengan langkah sempoyongan karna tubuhnya yang lemas, Zantisya keluar dari kamar mandi ia masih tersenyum melihat benda yang ada di dalam genggamannya.
"Mas Arjun pasti bahagia kalau tahu ini." Batin Zantisya.
Dug
Kepala Zantisya membentur sesuatu. Yang dirasa dada seseorang. Karena sejak tadi Zantisya jalan menunduk. Zantisya langsung mengangkat wajahnya karena terkejut melihat sepatu lelaki.
"Kamu" Zantisya langsung mundur saat melihat siapa yang ada di hadapannya. Tangannya langsung menggenggam erat alat tes kehamilannya.
"Kenapa kamu bisa ada di kamar ku?" tanya Zantisya dengan suara ketakutan. Bagaimana mungkin ia tidak takut dengan wajah menyeramkan yang terlihat dari pancaran matanya. Belum lagi tubuhnya yang memang masih terasa lemas karena sejak tadi mual muntah.
"Apa kabar mantan?" tanya Bima dengan seringai menatap Zantisya penuh minat.
Bima langsung menarik Dan menghempaskan tubuh Zantisya ke atas ranjang karena melihat pergerakan Zantisya yang sudah dipastikan mencari senjata untuk melindungi diri.
"Awww…" pekik Zantisya.
__ADS_1
Seketika ketakutan yang pernah ada kini terasa kembali. Perlakuan kasar Bima saat menginginkannya.
Zantisya langsung menendang Bima sekuat tenaga yang hendak mengungkungnya. Awalnya Zantisya berniat menendang perut lelaki itu namun tanpa disadari Zantisya yang ditendang ternyata aset kebanggaan lelaki.
"Awww…" pekik Bima kesakitan.
Lelaki itu tampang mengusap-usap senjatanya berulang kali karena rasanya super menyakitkan hingga menyiksa jantung dan hati. Eh.
Zantisya memanfaatkan waktu untuk keluar dari kamarnya untuk menyelamatkan diri. Secepat kilat Zantisya mengumpulkan tenaga untuk kabur.
Belum sempat tubuhnya keluar dari sana Bima sudah mencekalnya dan menghempaskan Zantisya ke dinding dengan sangat kuat.
"Awww…" pekik Zantisya.
Kini bukan hanya punggung yang terasa sakit karena terbentur dinding tapi juga perutnya yang tiba-tiba terasa nyeri menyakitkan.
Zantisya sudah tidak bisa menahan air matanya karena kesakitan.
"Dimana sikap angkuh mu Tisya? Dimana keberanian mu yang kau Sombong kan? tanya Bima mendekati permpuan yang kini terduduk menahan nyeri.
"Aku kehilangan semuanya karena kamu. Jadi sekarang aku melakukan ini semua untuk mengambil mu dari lelaki yang nampak sekali kau cintai" Bima menarik jilbab Zantisya.
Plak…
Dengan spontan Zantisya menampar Bima. Dia sungguh merasa dilecehkan karena dengan kurang ajarnya Bima melepas jilbabnya.
"Kembalikan jilbab ku" bentak Zantisya kuat.
"Kamu cantik Tisya"
Zantisya langsung menyempar tangan Bima yang hendak mengusap kepalanya.
"Tolong keluar sekarang juga dari rumah ku" Zantisya mendorong Bima yang duduk jingkok di hadapannya hingga terjengkang.
Bima terkekeh sambil mencekal lengan Zantisya. "Aku akan jadikan kamu milikku Zantisya Kemala, Dan mari kita lihat setelahnya apakah suami mu akan menerima mu" Bima langsung menarik Zantisya dan menghempaskan kembali tubuhnya yang lemas ke atas ranjang.
"Aku sudah membuat semua scenario ini, membuat suami mu sibuk dan membuat semua pegawai mu tidak akan bisa datang kesini dengan cepat.
"Tolooonggg…" teriak Zantisya kuat-kuat sambil menahan tubuh Bima agar tidak menempel padanya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
Selamat malam dan selamat istirahat ❤️🥰