
Sekitar pukul 20.00 WIB, Bima dan Zantisya sudah memasuki halaman rumah mereka. Tadi sore Arjuno mengantarnya pulang ke rumah Zantisya. Dan sejak setelah magrib ia mendapat telepon dari Bima untuk menemui di persimpangan jalan tak jauh dari rumah Evita.
Sejak tadi Zantisya melihat wajah Bima terlihat sedang marah namun ia urung bertanya dan membiarkan Bima fokus mengemudikan mobilnya. Awalnya ia mengira ia akan bermalam dirumahnya sedangkan Bima akan bermalam di apartemennya bersama Evita.
Setelah menemui Laras sejenak, Bima lebih dulu memasuki kamar. Berselang tiga puluh menit Zantisya baru memasuki kamarnya. Ia sungguh lelah hari ini dan ingin segera istirahat.
Saat ia baru saja menutup pintu karena telah memasuki kamarnya bersama Bima. Tiba-tiba Bima mendorong tubuh Zantisya dengan sangat kasar sehingga punggungnya terhempas ke dinding dengan sangat keras.
"Awww…" pekik Zantisya merasakan sakit di tubuh bagian belakangnya.
"Kemana saja kamu hari ini?" untuk pertama kalinya Bima menanyai Zantisya setelah ia dengan sengaja meninggalkan Zantisya di sembarang tempat sesuka hatinya. Kini Zantisya bingung dengan suaminya yang tengah tersulut emosi.
"Bukannya kakak tadi meninggalkan ku di restoran"
Mengingat kata restoran keluar dari mulut istrinya itu, membuat Bima ingat saat Zantisya tertawa lepas. "Dengan siapa kamu tertawa tawa disana hah?" tanya Bima penuh amarah.
"Apa perlu aku jawab?" Zantisya tersenyum mengejek.
"Jawab" bentak Bima.
"Dengan mas Arjun"
"Heh… sudah pintar mencari lelaki di luar sana kamu. Apa dia juga yang bersama mu di tempat wisata tadi?” Bima benar-benar penuh amarah. Sadar atau tidak sebenarnya lelaki ini.
Zantisya tetap bersikap tenang walau ia terkejut, dari mana suaminya tahu kalau dia tadi sempat ke tempat wisata bersama Arjuno.
Bima sediri saat tengah di apartemen setelah memadu kasih dengan Evita ia mendapat kiriman video dari rekan kerjanya yang hadir saat acara pernikahannya. Di tempat wisata tadi orang itu melakukan rekam video untuk dokumentasi sebagai kenang-kenangan. Dan tak sengaja Zantisya terekam dalam videonya dengan sangat jelas bersama dengan laki-laki. Namun sayangnya lelaki yang bersama Zantisya hanya terlihat punggungnya saja.
Entah kenapa setelah menerima potongan video istrinya di sana dan nampak bahagia membuat amarah Bima memuncak tanpa ia sadar. Membuatnya langsung mengantar Evita pulang ke rumahnya. Membuat Evita kecewa karena gagal bermalam di apartemen bersama Bima.
"Kakak cemburu?"
Kaget dengan pertanyaan Zantisya yang tanpa di duga Bima. "Cemburu. Siapa kau sehingga pantas aku cemburui hah?"
__ADS_1
"Lalu kenapa kakak marah sama Tisya seperti ini? Kakak cemburu kan?" desak Zantisya, sengaja menggoyahkan hati Bima.
"Bermimpilah sesuka hati mu" desis Bima. "Yang pantas aku cemburui hanya Evita karena dia perempuan yang aku cintai. Evita berbeda dengan mu karena dia tidak pernah pergi dengan sembarang lelaki"
Zantisya tersenyum mendengar ucapan Bima. "Kakak harus ingat kontrak kita. Tidak boleh mencampuri urusan pribadi. Lalu apa yang kakak lakukan saat ini?"
Yang di katakana Zantisya jelas benar adanya. Siapa yang membuat kontrak itu dan kenapa sekarang Bima malah mencampuri urusan Zantisya. Ia melanggar lebih dulu perjanjian yang ia buat sendiri.
Bima nampak berfikir, ia menyadari sikapnya yang entah kenapa tiba-tiba amarah menyergap hatinya saat setelah melihat video istrinya. "Ini nggak bener" batin Bima. Dan dengan kasarnya ia menghempas tubuh mungil Zantisya ke sofa. Ia pun langsung keluar kamar untuk segera menenangkan diri di dalam ruang kerjanya.
.
.
.
Rutinitas pagi masih seperti biasanya dengan Zantisya memasak makanan kesukaan suaminya dan selalu melayani suaminya dengan sabar selama di depan Laras. Mereka memang pasangan kompak yang berhak mendapat penghargaan kategori pasangan sempurna dengan acting luar biasa.
Setelah Bima berangkat ke kantor Zantisya langsung menyusul Laras yang tengah duduk di ruang keluarga. nampaknya Laras tengah melihat acara yang digandrungi para emak-emak, judulnya saja bikin orang tercengang. Terutama Zantisya. bagaimana tidak acara yang kini di tonton Laras judulnya 'AZAB MENANTU YANG PURA-PURA HAMIL' jalan ceritanya saja bikin geli sendiri. Seorang perempuan rela membohongi suami dan mertuanya dengan pura-pura hamil demi mempertahankan statusnya menjadi menantu orang terkaya.
"Mama perhatikan kamu nggak pernah ngidam sayang?" tanya Laras di sela meraka menonton televisi.
"Alhamdulillah ma Tisya nggak kepengen apa-apa"
"Jangan di tahan kalau pengen apa pun ya. Mama nggak mau cucu mama nanti lahirnya ngencesan" tutur Laras membelai perut Zantisya.
"Iya ma"
"Biasanya juga ibu hamil doyan makan, sering juga mual muntah. Tapi sepertinya cucu mama ini tidak ingin merepotkan mamanya ya"
Zantisya tersenyum. "Lagian juga mana mungkin aku mual muntah dan ngidam. Aku kan hanya pura-pura hamil. Apa aku juga harus pura-pura ngidam juga biar mama semakin yakin dan tidak akan ragukan sandiwara kami" batin Zantisya sambil memikirkan sesuatu.
.
__ADS_1
.
.
Laras dan Zantisya melangkah memasuki mall terbesar di kota tersebut. Biasanya Laras akan mengajak Zantisya belanja keperluan pribadi dan beberapa keperluan dapur jika ada yang belum terbeli oleh asisten yang mengurus bagian dapur.
Laras meminta Zantisya untuk memilih perhiasan yang ia suka. Karena saat ini mereka sedang berada di toko berlian. Saat Laras sedang fokus memilih perhiasan yang ia ingin, mata Zantisya melihat Bima memasuki toko yang dimana ia dan Laras disana juga.
Baru juga sepasang kekasih itu memasuki toko berlian, mata Bima bertemu dengan mata Zantisya yang entah sejak kapan melihat ke arahnya. Begitu juga Evita yang menyadari keberadaan Zantisya disana.
"Sepertinya dia mulai menghamburkan uang mu sayang" bisik Evita. Sama sekali nggak berkaca diri.
"Dasar perempuan tidak tahu malu. Taunya hanya memeras harta keluarga ku" desis Bima.
Sepasang kekasih itu ingin sekali menghampiri Zantisya. namun langkah keduanya terhenti saat Laras memanggil Zantisya. Dan saat itu juga mereka pergi dari sana. Nyali keduanya seketika menciut ketika mendapati Laras. Seharusnya sebagai kekasih yang saling cinta, mereka harus terus berjuang sampai mendapatkan restu dari Laras, itulah yang di pikirkan Zantisya. Ia sungguh tidak suka terlibat dalam kisah mereka yang rumit.
"Mana yang menurut kamu bagus sayang?" tanya Laras.
Zantisya menatap tiga set perhiasan yang berjejer di depannya. "Tisya suka yang ini ma. Mama pasti cantik memakainya"
"Ini untuk mu sayang. Mbak saya ambil yang ini ya?"
"Baik bu"
"Ma… Zantisya nggak bisa pake itu. Itu terlalu mahal buat Tisya ma"
"Ini nggak sebanding dengan kamu menjadi anak mama dan sekarang kamu akan memberi cucu untuk mama. Penerus keluarga Sanjaya"
Ucapan Laras nampak sangat mencurahkan kebahagiannya. Membuat Zantisya semakin merasa bersalah.
"Maafkan aku ma" ucap Zantisya hanya dalam hatinya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰
Selamat pagi dan selamat liburan 🥰