
Setelah Evita melahirkan buah hatinya bersama Bima, satu bulan kemudian acara pernikahan dilaksanakan secara besar-besaran.
Sebuah pernikahan impian Evita diwujudkan oleh Bima, laki-laki yang sangat mencintainya itu. Bahkan sampai menghabiskan miliaran demi sebuah kebahagiaan Evita.
Bima bahkan tak mendengarkan nasihat yang diberikan Laras. Meskipun Laras tidak merestui anak semata wayangnya itu menikah dengan Evita, namun pada akhirnya ia memberikan Izin demi bayi yang memiliki darah keluarga Sanjaya.
Sore itu Bima duduk termenung disebuah gazebo yang ada di taman rumahnya. Bima menatap bunga yang tumbuh subur di dekat gazebo itu. Bunga yang setiap harinya Laras sirami setiap pagi dan sore. Bunga yang dulu ditanam mantan istrinya.
.
Kini usia pernikahan Bima dengan Evita sudah hampir satu tahun. Sejak awal melahirkan anak mereka di Asuh sepenuhnya oleh baby sitter. Anak yang di beri nama Aurelia Sanjaya itu bahkan tidak menerima haknya sebagai bayi, karena Evita sama sekali tidak mau memberikan Asi pada bayi yang masih merah kala itu. Alasannya takut gunung kembar nan menantang itu kendur dan lain sebagainya.
Bukan seperti ini maunya Bima. Ia ingin Evita selalu ada untuknya dan anaknya. Bima ingin Evita selalu dirumah dan mengantarnya hingga ke depan rumah saat akan berangkat kerja dan menyambutnya kala seharian penat dengan kantornya.
Sudah sejak enam bulan terakhir Evita selalu pergi saat Bima sudah berangkat kerja dan pulang saat jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Pertengkaran keduanya selalu saja meramaikan rumah megah itu, karena dengan mudahnya Evita menghamburkan uang hanya untuk membeli barang-barang mewah.
Laras yang awalnya mencoba menerima istri pilihan hati anaknya itu. Kini Laras pun mulai abai dengan apa yang akan dilakukan menantunya itu. Ia juga tidak pernah ikut campur dengan gaya hidup menantunya itu. Pasrah sudah dengan nasib Sanjaya Group kalau Evita terus seperti itu.
Bima duduk jongkok di depan salah satu bunga yang nampak lebat bunganya. Ia menyentuh bunga indah itu dengan mengingat satu nama. Orang yang telah ia sakiti dan ia permalukan didepan umum.
"Jangan petik bunganya" ucap Laras memperingati.
Bima berdiri dan menatap Laras. "Ma…"
"Ini semua bunga kesayangan mama jadi hanya mama yang boleh memetik bunga ini"
Bima memilih duduk kembali di gazebo sambil menatap Laras yang dengan telaten merawat dan menyirami bunga-bunga yang dulu Zantisya tanam dan rawat dengan suka cita.
"Seandainya…" gumam Bima menatap bunga yang nampak segar setelah Laras sirami.
.
.
.
__ADS_1
Kini Zantisya dan Arjuno nampak duduk diatas hamparan pasir dipinggiran pantai, mereka hanya saling diam dan menikmati hembusan angin. Menenangkan pikiran dan hati yang sempat bimbang dan ingin pergi.
Namun dengan bujuk rayu Arjuno, Akhirnya duda itu berhasil membawa gadis itu kembali di tempat kenangan yang kemungkinan besar tidak akan mereka lupakan.
"Apa yang sebenarnya kamu takutkan dek?" Tanya Arjuno lembut.
"Jangan pendam masalahmu sendiri, keluarkan agar hatimu lega. Aku akan jadi pendengar untuk mu dek. Aku akan jadi temanmu, Sahabatmu"
Zantisya diam. Sedangkan Arjuno melihat perempuan disampingnya yang terus diam dan sesekali nampak mengusap air mata yang jatuh membasahi pipinya. Nampak Zantisya menghela nafas kasar.
"Aku takut mas…" lirihnya sambil menatap Arjuno hanya beberapa detik.
"Aku hanya pekerja cuci piring bagaimana mungkin aku menikah dengan orang yang sebenarnya adalah Bos ku…" Zantisya menghela nafasnya lagi. namun Arjuno memilih diam tak menanggapi lebih dulu karena ia yakin bukan itu alasan Zantisya sebenarnya.
"Aku bukan perempuan matre mas, Aku bukan perempuan gila harga, Aku bukan perempuan yang memanfaatkan kekayaan orang lain. Aku juga nggak mau selalu dibuang sembarang tempat aku takut mas, aku takut ditempat asing" Ucap Zantisya dengan nafas yang tersengal karena merasa sesak di dadanya.
Ini pertama kalinya Zantisya menceritakan apa yang menjadi bebannya, ketakutannya. Semua Ucapan Bima yang begitu membekas di hatinya.
Dan kini Arjuno tahu, ada ketakutan yang Zantisya pendam dari masa lalunya.
"Sebisa mungkin lupakan apa yang pernah terjadi dek, jika nggak bisa lupa setidaknya abaikan lambat laun semua akan berlalu. Jangan terus dipikirkan karna itu hanya penilaian orang yang tidak mengenalmu dengan baik, tidak menghargai mu padahal kamu adalah berlian yang jelas berharganya"
"Yang bisa mengobati diri mu ya hanya diri dek Kemala sendiri. Lawan ketakutan dan kecemasan itu, katakan pada diri kamu sendiri bahwa kamu kuat kamu bisa dek" tambah Arjuno.
Zantisya mulai tenang dan memikirkan hidupnya satu tahun terakhir ini. Ia bertemu Nuri yang dengan baik hatinya menawari pekerjaan dan di sanalah ia bertemu dengan rekan yang menghormati sama lainnya dan tidak ada yang memandang rendah kearahnya walau dia hanya bagian cuci piring. Rudi yang menjadi atasannya pun dengan bijak menawarinya pekerjaan pindah bagian.
"Katakan semua apa yang memberatkan perasaan mu yang membebani hati mu karena setelah itu aku akan membawa mu melangkah bersama ku lebih jauh " Zantisya menunduk nampak memikirkan sesuatu.Ia masih ingin menceritakan lagi namun urung biarlah dia sendiri yang akan mengatasinya.
"Mas…"
"Ya…"
"Mas…"
"Hadir…"
__ADS_1
"Perjodohan. Bagaimana menurut mas?" Tanya Zantisya ragu.
"Nggak ada yang salah dengan perjodohan dek. Jika memang diantara keduanya saling menerima dan komitmen dengan kesepakatan bersama" jawab Arjuno sesuai apa yang pernah ia rasakan kala menikahi Vina dulu.
"Apa mas Akan berhubungan dengan perempuan yang mas cintai jika seandainya mas dijodohkan?"
"Seperti kata ku tadi dek, tapi jika aku mempunyai orang yang aku cintai kenapa aku harus menerima perjodohan, lebih baik berjuang sebisaku dari pada nantinya aku akan menyakiti hati perempuan lain"
Zantisya yang sejak tadi membalas tatapan Arjuno pun tersenyum setelah mendengarkan jawaban lelaki yang duduk disampingnya itu.
"Apa masih ada yang mau kamu ceritakan lagi dek?" Zantisya menggelengkan kepalanya.
"Kalau semuanya sudah maka sekarang giliran aku mengajakmu melangkah dek" Zantisya tahu benar makna dari ucapan Arjuno.
Seolah terhipnotis suasana senja yang semakin gelap, keduanya hanyut dalam berbalas pandang. Menyelami seluruh perasaan hati masing-masing.
Hati Zantisya sejujurnya belum mau ikut melangkah jauh. Ia masih terbayang dengan sosok suami seperti Bima Sanjaya. Ia harus berfikir ulang untuk menikah, toh nggak usah buru-buru karena dia pun masih muda.
Tapi entah kenapa tubuhnya terhipnotis saat menatap lelaki yang sejak awal telah mengisi hatinya. Zantisya langsung memejamkan mata kala Arjuno mendekatkan wajahnya kearahnya hingga berjarak beberapa senti saja.
Nafas lelaki itu menerpa wajahnya, terasa hangat dan wangi mint semerbak memenuhi penciumannya. Zantisya langsung membuka matanya setelah sekian lama memejamkan mata dan tak terjadi seperti dugaannya.
Zantisya langsung membulatkan matanya karena wajah Arjuno masih tetap diposisi tadi. Arjuno tersenyum menatap perempuan yang ia mau.
"Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama meski sejujurnya aku menginginkannya dek" ucap Arjuno lalu Zantisya memundurkan kepalanya agar sedikit lebih berjarak.
"Aku ingin melakukan semuanya dengan cara yang benar maka dari itu menikahlah dengan ku…" Arjuno menjeda ucapannya sejenak.
"Aku mau adek sempurnakan hidupku"
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit ❤️
...Setiap hari pasti update ya yang nggak pasti itu double update apa lagi sampai crazy up aku angkat tangan ✋✋✋ stok bab ku masih sedikit 😂...
__ADS_1
...Selamat siang semua🥰🥰🥰...