
Esok harinya Arjuno dan Zantisya langsung menuju ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan.
Arjuno mengendarai mobil dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin istrinya terkena guncangan jalan yang tidak rata.
Bahkan lelaki ini sampai menempeli mobil bagian belakangnya dengan tulisan 'Istri saya sedang hamil, silahkan jalan lebih dulu dan selalu hati-hati.'
Bahkan tadi Arjuno dan Zantisya sempat berdebat hanya karena tulisan yang akan ditempel Arjuno pada bagian belakang.
Mobil sudah memasuki parkiran rumah sakit. Arjuno langsung keluar dari mobil begitu juga Zantisya. Dengan cepat Arjuno menghampiri Zantisya dan merangkulnya. Agar mereka bisa jalan beriringan dengan pelan dan hati-hati.
"Mas, kalau kita jalannya kaya gini kapan sampainya?" Zantisya sepertinya mulai kesal dengan Arjuno.
Bukan kesal dengan perhatian dan kekhawatiran dari suaminya. Tapi memang kini mereka berdua jalan sudah mengalahkan siput sangking lambatnya.
"Apa terlalu lambat ya dek?" tanya Arjuno dengan tidak berdosanya.
"Banget mas. Ini rasanya aku malah capek kaya berdiri ditempat."
Arjuno melihat dimana mereka kini dan melihat mobilnya yang ia parkirkan tadi.
"Kok kita masih disini dek?" tanya Arjuno mulai konyol.
"Ya gimana kita nggak disini mas. Kalau kita jalan terlalu lambat."
"Ayo dek" Ajak Arjuno. Akhirnya mereka jalan normal seperti manusia pada umumnya.
Setelah mengambil nomor antrian. Arjuno dan Zantisya duduk dikursi tunggu menunggu giliran nomor urutnya masuk ke ruangan pemeriksaan.
Zantisya masih enggan diajak periksa jalur kilat agar tidak mengantri. Namun sayangnya Zantisya hanya mau periksa dengan dokter Ani. Dan disinilah mereka kini. Menunggu.
Setelah satu jam lebih menunggu akhirnya Arjuno bisa bernafas lega. Karena kini giliran mereka masuk keruang pemeriksaan.
Setelah bertegur sapa sejenak saling bertukar kabar dengan dokter Ani. Zantisya pun langsung diperiksa.
Mereka sangat-sangat senang seperti yang dirasakan mereka kini. Mendengarkan detak jantung anak mereka yang masih berada didalam sana.
"Ingin tahu jenis kelaminnya atau tidak pak?" tanya dokter Ani pada ARjuno.
Arjuno dan Zantisya saling memandang. Dan mereka berdua langsung mengangguk setuju ingin tahu jenis kelamin calon anak mereka nanti.
Dokter Ani langsung menggerakkan alat usg untuk melihat jelas jenis kelamin kedua bayi didalam sana.
"Selamat ya bapak, ibu. Calon anaknya laki-laki dan perempuan." Ucap dokter Ani sambil memperlihatkan dengan jelas jenis kelamin yang terlihat dilayar sana.
"Alhamdulillah..." ucap syukur Arjuno dan Zantisya bersamaan.
.
.
__ADS_1
.
Arjuno dan Zantisya sudah berada diperjalanan menuju pulang ke rumah. Sejak tadi Zantisya tidak hentinya berbicara banyak hal karena kelewat bahagianya.
Mereka akan mendapatkan anak laki-laki dan perempuan. Sepasang sekaligus.
Arjuno langsung menepika mobilnya saat ia melihat pedagang es cincau mangkal di pinggir jalan.
"Tunggu ya dek. Aku beli es dulu." Ucap Arjuno yang langsung keluar dari mobil.
Beberapa menit kemudian Arjuno masuk kembali kedalam mobil dan meletakkan kantong plastik di kursi belakang.
"Banyak amat mas belinya?"
"Sekalian buat yang dirumah dek." Jawab Arjuno yang langsing mengemudikan mobilnya kembali.
Setelah mobil masuk ke gerbang utama Arjuno langsung berhenti tepat tak jauh dari pos satpam.
"Pak sini." Panggil Zantisya pada scurity.
"Iya mbak?"
Zantisya langsung memberikan sebungkus es cincau.
"Ini pak diminum."
"Alhamdulillah. Terimakasih mbak, mas."
Arjuno langsung mengemudikan lagi mobilnya. Ia langsung memarkirkan mobil pada garasi mobil.
Zantisya dan Arjuno langsung keluar. Zantisya langsung menuju dapur sedangkan Arjuno menuju kamar meletakkan tas Zantisya dan obat dari rumah sakit tadi.
"Bi Siti dimana bi?" tanya Zantisya saat melihat bi Tami sedang mencuci peralatan masaknya.
"Lagi bersihin ruang atas mbak."
"Ini nanti esnya buat Bibi sama bi Siti ya bi. Aku tarok kulkas biar tetap dingin."
"Iya mbak. Terimakasih."
Zantisya langsung mengambil mangkok ukuran sedang dan juga mengambil sendok. Ia langsung membuka dua bungkus es cincau dan langsung menuang es kedalam mangkuk. Kemudian Zantisya menuju kamar mereka.
"Ini mas esnya." Ucap Zantisya setelah masuk kedalam kamar.
Arjuno langsung menyelesaikan mengganti baju dengan pakaian yang lebih santai didalam rumah.
Zantisya langsung membuka jilbabnya. Ia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci tangan, kaki dan juga wajahnya. Zantisya langsung keluar dari sana dan langsung menuju lemari mengambil daster untuk ia kenakan.
Arjuno langsung beranjak dari tepi ranjang dan langsung memeluk Zantisya dari belakang saat akan mengenakan dasternya.
__ADS_1
"Mas. Aku mau pakai baju dulu."
Arjuno mempererat pelukannya dan sesekali membelai perut buncit Zantisya. Ia mencium leher Zantisya bergantian ke sisi kiri dan kanan bergantian.
"Mas. Esnya nanti diminum semut kalau seperti ini." Keluh Zantisya mengingatkan. "Maaasss..." pekik Zantisya sambil memukul tangan Arjuno yang melingkar ditubuhnya.
Walau sudah terbiasa namun tetap saja Zantisya terkejut saat tiba-tiba Arjuno menghisap lehernya kuat-kuat.
Arjuno langsung membalik badan Zantisya. Merebut daster yang ada di genggaman tangan istrinya.
Kemudian Arjuno langsung membantu Zantisya menggunakan bajunya. Ia tersenyum menatap Zantisya yang menatapnya dengan pasrah.
"Ganteng ya."
"Asli mas pedenya kelewat akut." Ucap Zantisya yang langsung menuju sofa untuk menikmati es cincau.
"Pede dong, buktinya ada ibu hamil mandang cowok ganteng sampek nggak berkedip." Ucap Arjuno yang berjalan mengikuti Zantisya.
"Ih. Aku mandang mas bukan menilai seperti itu."
"Jadi ngaku nih kalau ibu hamilnya ini yang mandang cowok ganteng." Jahilnya ARjuno sambil menarik hidung Zantisya.
"Oh... apa jangan-jangan ada ibu hamil lain yang bikin mas terpana karena terus dipandang?" tanya Zantisya kesal menatap Arjuno.
Kalah sudah Arjuno melihat raut marah Zantisya yang menatapnya tajam. Niatnya bercanda sepertinya ia melupakan kalau istrinya pencemburu berat semenjak hamil.
"Dek esnya keburu nggak dingin loh." Ucap Arjuno sambil menunjuk mangkuk berisi es cincau.
"Jawab mas!" melebar sudah bercandaan Arjuno menjadi kecemburuan Zantisya.
"Enggak ada sayang. Ya Allah dek. Ibu hamil yang ku maksud adek bukan yang lain. Aku hanya bercanda." Jelas Arjuno dengan wajah panik. Berharap istrinya paham.
Melihat ekspresi Arjuno saat ini. Zantisya langsung tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu dengan kepanikan Arjuno tadi.
"Adek ngerjain aku?" todong Arjuno kesal.
"Lagian mas serius amat. Sumpah lucu banget mas. Disini ada kamera tersembunyi nggak. Biar mas bisa liat betapa imutnya mas tadi hahaha." Ucap Zantisya yang langsung tertawa lagi.
Arjuno yang kesal karena sudah dikerjai Zantisya. Ia langsung menarik tengkuk Zantisya dan langsung mencecap bibir yang belum mau berhenti menertawakannya.
Tanpa melepaskan tautan mereka, Arjuno merebahkan tubuh Zantisya dalam kunciannya. Ia langsung melepaskan Zantisya saat Zantisya memukul lengannya.
"Aku takut adek marah tadi." Lirih Arjuno menatap pandangan Zantisya yang semakin dalam.
Tangan Zantisya mengusap wajah Arjuno. "Niat ku tadi juga bercanda. Maaf sudah bikin mas mengira aku marah."
Tangan Zantisya langsung mendorong wajah Arjuno. Telapak tangannya menutupi bibir Arjuno yang ingin mencecapnya lagi. "Esnya keburu diminum semut mas."
Arjuno tertawa dan langsung beranjak dari Zantisya. Mereka menikmati es cincau dengan senang. Dan sudah dapat dipastikan siapa yang paling banyak menghabiskan es saat ini.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐ฅฐ kasih like dan komennya ๐ tab favorit juga ya โค๏ธ