HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 34 THE POWER OF MODUS


__ADS_3

Zantisya terus menatap wajah suaminya yang kembali terlelap setelah solat subuh tadi. Semalam Arjuno tidak bisa tidur karena memikirkan istrinya. Entah perlakuan apa yang Zantisya terima dulu dari seorang milioner Bima Sanjaya.


Arjuno jadi mengira Zantisya disiksa dan dipaksa hingga waktu itu ia bertemu dengan Zantisya dengan wajah yang penuh lebam.


Zantisya menarik nafas dalam-dalam. Rasa bersalahnya semakin besar saja kini. Zantisya mengangkat tangannya lalu membelai wajah suaminya yang nampak terbuai mimpi.


"Maafin aku mas" gumamnya. Tangan Zantisya masih terus membelai pipi Arjuno membuat lelaki tampan itu terjaga.


"Nggak tidur lagi dek?" tanya Arjuno saat membuka mata. "Hai… kenapa nangis sayang?" tanya Arjuno sambil mengusap air mata Zantisya.


"Mas, aku bener-bener minta maaf soal semalam. Aku udah…"


"Udah sayang, aku nggak apa-apa. Udah ya nggak usah dibahas lagi. Yang penting sekarang adek udah sama aku"


"Mas sabar dan diam lah tunggu aku. Aku pasti terus mencoba lebih berani ke mas agar aku bisa mengalahkan ketakutan ku sendiri"


Arjuno menggelengkan kepala. "Aku pasti sabar nunggu kamu siap dek. Tapi maaf aku nggak mau diam" ucapan Arjuno membuat Zantisya menatap suaminya dan saat itu juga Arjuno mengedipkan salah satu matanya.


"Saat kamu mendekat maka aku akan semakin mendekat" ucap Arjuno menarik tubuh istrinya agar lebih dekat ke arahnya.


"Saat kamu menyentuh ku maka aku juga akan menyentuh mu" ucap Arjuno sambil meletakkan tangan Zantisya pada pipinya begitu juga Arjuno yang langsung membelai wajah Zantisya.


"Dan saat kamu mencium ku" Arjuno mendekatkan wajahnya pada wajah Zantisya membuat perempuan berbulu mata lentik itu menatap suaminya dengan berkedip-kedip.


"Maka aku juga akan mencium mu. Jadi waspada dan bersiaplah dek" ucap Arjuno yang langsung mencecap lembut nan romantis, memagut bi*bir istrinya. The power of modus Arjuno mampu melemahkan Zantisya.


Zantisya langsung membuka matanya dan mencoba mengatur nafasnya karena sejak tadi rasanya berhenti menyesakkan dada membuat jantungnya bekerja sangat cepat.


"Terimakasih mas" ucap Zantisya memeluk erat suaminya.


.


.


.


Laras nampak melamun di gazebo setelah menyirami bunga yang nampak indah bermekaran. Rasa rindu dan rasa bersalah semakin menumpuk setiap harinya.


Memikirkan gadis itu bernasib bagaimana saat ini. Pergi tanpa membawa apa yang telah ia berikan pada Zantisya.


"Dimana kamu sayang" gumam Laras.

__ADS_1


Sayup-sayup telinga Laras mendengar suara tangisan Aurel. Biar balita itu lahir dari Rahim Evita, istri Bima yang ia tentang dulu. Namun Laras sangat menyayangi Aurel karena bagaimana pun ada darah keluarga Sanjaya mengalir dalam tubuh Gadis kecil itu.


Laras langsung menghampiri sumber suara Aurel. Ternyata kini Evita yang tengah menggendongnya.


"Aurel kenapa?"


"Nggak mau iku bu Ati ma" keluh Evita yang sudah nampak cantik dan seksi dengan bajunya yang sudah pasti mahal.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Laras yang mulai kesal melihat penampilan Evita kini.


"Aku mau ke acara syukuran temen ku ma"


"Kan bisa kamu ajak Aurel nya Evita. Dari pada nangis kaya gini" geram juga Laras jadinya.


"Ribet lo ma"


"Ya kamu ajak sekalian bu Ati biar bisa bantu kamu jaga Aurel" Laras mencoba sabar menghadapi sikap Evita yang nggak pernah berubah sama sekali.


"Tetep aja ma pasti ribet. Ini aja maunya sama aku apa lagi nanti disana. Aku pasti nggak bisa ngobrol sama temen-temen aku"


Entah dosa apa Laras sehingga harus menelan pil pahit mendapatkan menantu yang nggak pernah berdiam diri dirumah menjaga anak dan mengurus suaminya.


"Terimakasih ma" Evita tanpa rasa bersalah langsung pergi meninggalkan Aurel yang menangis semakin menjadi.


"Sekalian saja pergi dan jangan pulang menginjakkan kaki dirumah ini lagi" geram Laras lantang namun sudah tak bisa di dengar Evita, karena suaranya beradu dengan suara tangis cucunya.


Bima yang sejak tadi masih terlelap karena memang hari ini adalah hari libur akhirnya turun karena mendengar suara tangisan Aurel. Bagaimana tidak terdengar kalau pintu kamarnya tidak ditutup rapat oleh Evita.


"Kenapa ma?" tanya Bima dan mengambil alih Aurel dari gendongan Laras. "Cup… cup… cup…"


"Tuh istri kamu, udah tahu anak nangis nggak mau ditinggal masih aja kekeh pergi" omel Laras meluapkan kekesalannya.


"Ya udahlah ma, toh acaranya hanya sebentar. Evi bilang dia akan usahakan pulang lebih cepat kok" tutur Bima membela sang istri. **** hatinya lelah menghadapi Evita namun rasa cinta itu masih ada.


"Udah dicarikan istri baik-baik malah di sia-siakan, nah ini hasilnya kalau nggak nurut mama" sinis Laras langsung meninggalkan Bima saat Aurel sudah tak menangis lagi.


Bima diam melihat Laras melangkah menuju kamarnya. Lelaki itu menarik nafas dalam, mengatur perasaannya yang mulai bercabang. Bagaimana mungkin sudah hampir satu tahun ia tak bertemu dengan Zantisya dan kini malah ia merindukan wanita itu.


"Ini bu Aurel nya" Bima memberikan Aurel ke bu Ati.


Bima melangkah menuju kolam renang. Ia hanya duduk ditepi kolam sambil merendam kedua kakinya. Menghirup udara segar menikmati semilir angin dengan mata tertutup.

__ADS_1


"Zantisya Kemala" gumam Bima. Ingatan lelaki itu seolah tengah melihat senyum lepas saat Zantisya sedang mengurus bunga di dekat gazebo.


"Kenapa kini aku terus memikirkan mu, bayangan mu terus hadir dalam ingatan ku Tisya" batin Bima sambil menatap bunga yang bermekaran disana.


Bima langsung mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Tak butuh waktu lama lelaki itu langsung menelpon sekretarisnya.


"Selamat pagi pak" sapa Resti setelah mengangkat telpon. Suaranya bahkan terdengar baru bangun tidur.


"Kamu baru bangun Res?"


"Iya pak. Bapak kenapa nelpon saya?" perasaan Resti tiba-tiba jadi nggak enak.


"Ya suka-suka saya Res, Masalah buat kamu?"


"Ya masalah dong pak ini kan hari libur" Resti yang sudah tau tabiat Bima suka nggak sungkan kalau ngomong sama bosnya itu.


"Cepet kamu cari informasi dimana keberadaan Zantisya" perintah Bima membuat Resti tak percaya.


"Apa pak?"


"Kamu jangan pura-pura budeg ya Res"


"Bu Zantisya. Zantisya Kemala maksud bapak?" Tanya resti meyakinkan pendengarannya.


"Iya"


"Tapi kenapa bapak cari mantan istri bapak?"


"Cari aja Res nggak usah banyak tanya" mulai kesal juga Bima sekarang.


"Ini libur lo pak bisa besok kan kerjanya, saya masih kangen sama bantal dan guling saya pak" negosiasi Resti karena merasa lelah dengan pekerjaannya yang nggak ada habisnya.


"Lebih cepat kamu dapat informasinya akan lebih banyak bonusnya Res" jurus andalan Bima kalau minta tolong ke Resti ya gini, masalah selesai kalau ada uang.


"Siap pak laksanakan" ucap Resti yang langsung beranjak dari tempat tidurnya.


Resti langsung menuju kamar mandi. "Kerja Res kerja, demi cuan cuan cuaaannn...." ucap Resti girang membayangkan seberapa banyak bonus yang akan ia terima dari bosnya nanti.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya 🥰

__ADS_1


__ADS_2