HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 56 PASAR MALAM


__ADS_3

Sesampainya dikantor, Bima langsung menuju keruang kerjanya. Lelaki yang panas hatinya itu membanting pintu saat ia sudah memasuki ruangnya.


Pagi yang jelas nampak sangat cerah kini jadi sangat gelap tertutup asap kobaran api yang membara dari dalam diri Bima.


Apapun yang ada di hadapannya ingin sekali Bima hancurkan kalau tidak mendengar ketukan pintu yang merusak emosinya yang tengah berkobar.


"Masuk" teriak Bima.


Resti langsung membuka pintu dan langsung masuk mendekat kearah Bima. Sejujurnya Resti takut melihat wajah suram bosnya yang menyebalkan beberapa bulan terakhir.


"Pak, meeting harus segera dimulai pak"


"Batalkan semua jadwal meeting saya hari ini Res" Perintah Bima seenak jidat.


"Pak, kita sudah membatalkan meeting ini sampai tiga kali pak. Disana banyak klien penting yang sudah memberikan waktu untuk kita pak. Jadi…"


"Kamu sekarang berani ngatur saya Res?"


"Pak saya tidak berniat mengatur bapak. Tapi masalahnya…"


"Keluar dan kemasi barang kerjamu Res" perintah Bima emosi.


"Bapak mecat saya?"


"Kalau kamu sudah tahu kenapa tanya hah?" semakin emosi saja Bima.


Resti yang sudah jengkel dengan kelakuan Bima beberapa bulan terakhir ini langsung membanting berkas yang ada dalam dekapannya di atas meja kerja Bima.


"Nggak sopan kamu Res" sinis Bima.


"Pak, kalau bapak seperti ini mau jadi apa Sanjaya Group pak. Bapak sudah memakai uang perusahaan untuk hal-hal konyol diluar nalar pikiran saya"


"Jadi sekarang kamu sudah berani menasehati saya Res?" sungut Bima.


"Nggak ada salahnya mantan sekertaris menasehati bosnya yang tergila-gila sama istri orang. Saya permisi pak" Resti langsung keluar begitu saja meninggalkan Bima yang sedang mengumpatinya.


"Bisa-bisa gila aku. Menyesalnya dari kemarin nggak cepat resign eh malah sekarang aku di pecat dengan cara seperti ini" gumam Resti kesal sambil menata barang pribadinya.


.


.


.


"Mau nonton apa dek" tanya Arjuno saat Zantisya menghampirinya. Sudah selalu menjadi rutinitas mereka setiap setelah makan malam mereka menonton film terlebih dulu.


"Ke pasar malam yuk mas" ajak Zantisya sambil duduk di pangkuan suaminya.


"Dimana ada pasar malam dek?" tanya Arjuno sambil membelai rambut panjang istrinya.


"Di lapangan bola sebelum alun-alun itu lo mas. Sudah dari satu minggu yang lalu, denger-denger sih malam ini terakhir pasar malamnya" jelas Zantisya berharap.


"Jadi sudah dari kemarin nih pengin ke pasar malam?" Zantisya langsung mengangguk. "Kenapa nggak bilang sejak kemarin hem?"


"Mas pasti capek seharian di kantor sama cek restoran"

__ADS_1


"Kan adek belum tanya, aku capek apa enggak?" Zantisya hanya mematap Arjuno. "Ya udah ayok ganti baju" ajak Arjuno dan Zantisya pun langsung beranjak dari pangkuan.


Arjuno duduk jongkok. "Ayo dek aku gendong"


.


.


.


Karena jarak rumah dan pasar malam dekat, jadi Arjuno mengajak Zantisya mengendarai kendaraan roda dua. Dengan senang hati Zantisya menaiki motor. Karena memang sangat jarang Arjuno mengajaknya menaiki motor keliling kota disana.


Setelah memarkirkan motor, Arjuno membantu melepaskan pelindung kepala istrinya yang nampak kesusahan.


Arjuno langsung menggandeng tangan Zantisya, melangkah bersama melihat apa saja yang di jual di pasar malam.


"Mau beli apa dek?"


"Kita muter dulu ya mas" ajak Zantisya sambil melihat kesana kemari.


Sedangkan Arjuno samkin erat menggenggam tangan Zantisya takut istrinya menghilang.


"Mas beli itu ya" tunjuk Zantisya ke arah penjual cilok bakar. Zantisya langsung menarik Arjuno saat lelaki itu mengangguki permintaannya.


"Pak ciloknya sepuluh ribu ya?" pinta Zantisya.


"Iya mbak"


Tak perlu waktu lama karena cilok memang sudah dipanggang terlebih dulu oleh penjual.


"Aaa… mas" Arjuno langsung menerima suapan cilok dari Zantisya. "Enak gak?" tanya Zantisya, karena ia memang belum mencoba ciloknya.


"Mas harus coba makanan zaman aku SD dulu mas"


Sepertinya Zantisya lupa bukan hanya dirinya yang pernah sekolah SD dan hidup dengan susah payah mencari rezeki. Sehingga jajan cilok saja dulu sudah sangat mewah bagi keduanya dulu. Arjuno pun pernah mengalami perjuangan hidup yang tidak akan pernah ia lupakan kala sampai sudah dititik ini.


"Beli teh racik mas" ajak Zantisya sambil terus berjalan leboh dulu. Perkara cilok membuat genggaman tangan Arjuno jadi terlepas.


"Mbak teh raciknya ya, satu aja yang jasmine" pesan Zantisya.


Setelah membayar, Zantisya langsung mengarahkan es tehnya pada Arjuno. "Seger kan mas?" Arjuno hanya mengangguk dan merangkul istrinya itu.


Zantisya mengajak Arjuno berkeliling hanya untuk melihat-lihat saja. Sudah berkali-kali Arjuno meminta Zantisya untuk membeli apapun yang disuka. Namun perempuan itu sepertinya hanya ingin iseng melihat apapun disana.


"Mas, naik itu yuk" Zantisya menunjuk bianglala.


"Yakin mau naik itu dek?"


Zantisya cepat mengangguk. "Aku belum pernah naik itu"


"Ya ampun dek naik begituan belum pernah?" tanya Arjuno usil.


"Emangnya mas udah pernah?" tanya Zantisya penasaran.


"Belum lah. Ayo beli tiketnya" Ajak Arjuno yang terlihat lebih bersemangat.

__ADS_1


"Kok mas mencurigakan ya?" selidik Zantisya yang sudah hapal dengan senyuman Arjuno.


"Nggak baik dek berprasangka sama suami sendiri" ucap Arjuno sambil mendorong Zantisya agar lebih maju ngantrinya.


"Mau nggak dicurigai juga wajah mas udah mencurigakan" Arjuno hanya tersenyum mendengarkan ucapan Zantisya yang memang benar.


Kini mereka sudah menaiki bianglala. Entah sudah berapa kali bianglala berputar membuat Zantisya bahagia melihat hiruk pikuk malam ini dari atas.


"Mau ciuman?" tawar Arjuno.


Zantisya yang sejak tadi melihat keluar dari jendela langsung spontan menatap suaminya. "Tuh kan bener kecurigaan ku"


"Jarang-jarang lo dek mesra di tempat beginian, toh nggak kelihatan orang ini" Arjuno perlahan namun pasti merobohkan Zantisya yang ingin menolak.


"Mas bisa aja ya ngerayu aku"


"Jadi gimana?"


Zantisya langsung mengangguk dan tersenyum menatap suaminya. "Sepertinya seru mas"


Kini hal baru pun dirasakan keduanya, saling mencecap saat menaiki bianglala pasti akan menjadi kenangan mereka semakin indah. Sambil terus memperdalam cecapan, Zantisya sedikit maju dari posisi duduknya dan mencengkram baju Arjuno.


Arjuno membuka kedua matanya, melihat Zantisya yang memejamkan mata nampak sangat menikmati segalanya. "Semakin hari kenapa bisa kamu semakin cantik dek, selalu terlhat menggoda kalau aku terus menatap mu" Batin Arjuno sambil memperdalam lagi cecapannya.


.


.


.


Pukul 22.45 WIB, Bima baru memasuki kamarnya. Ia mendapati Evita yang nampak duduk bersandar di atas Ranjang sambiol memainkan ponselnya.


"Tumben baru pulang sayang?" tanya Evita yang langsung turun dari atas ranjang dan menghampiri Bima.


Bima diam tak menanggapi, tapa mata lelaki itu menelisik inci tubuh Evita yang kini memakai lingeri seksi dan transparan.


"Pakai baju yang benar Evi" perintah Bima mencoba menahan hasratnya yang tiba-tiba tersulut melihat tubuh molek didepan mata.


"Kenapa harus ganti, toh aku dikamar" ucap Evita sambil membantu Bima membuka kancing kemejanya.


Hasrat kelelakian Bima langsung memuncak begitu saja.


Lelaki itu langsung menarik Evita agar rapat pada tubuhnya dan langsung menyesap bibir yang sudah lama tidak ia cicipi.


Evita dengan senang hati menerima perlakuan Bima, membalas sesapan yang mendambakan tubuhnya. Tangannya bergerak sensual agar permainan semakin jauh. Tapi…


"Stop Evi" Bima mendorong spontan tubuh Evita.


"Kenapa sayang?" jujur Evita terkejut dengan kenikmatan yang berakhir begitu saja.


Memilih tidak menjawab pertanyaan Evita, Bima langsung berlalu memasuki kamar mandi. Lelaki itu langsung membasahi tubuhnya dibawah shower.


Mencoba menghilangkan emosi saat ia melihat Zantisya dan Arjuno saling mencecap dengan sangat mesra.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Selamat pagi dan selamat beraktifitas 💪💪💪


__ADS_2