
"Ada ribut-ribut apa sih bi di depan tadi?" tanya Zantisya kepo saat memasuki ruang dapur. Sejak tadi ia tengah menata pakaian ke dalam lemari yang telah disetrika bi Tami.
"Itu lo mbak tetangga sebelah istrinya ngamuk-ngamuk" jawab bi Tami mode ghibah.
"Loh lah kenapa?" tanya Zantisya ketularan.
"Suaminya ketahuan bawa selingkuhannya tidur dirumah mbak"
"Kok bisa to bi? Memangnya istrinya kemana?" hem… mulai naik level keingintahuan Zantisya kini.
"Istrinya kan habis tugas ke luar kota mbak" Zantisya manggut-manggut mendengar ucapan bi Tami.
"Beruntung mbak Tisya nggak di bolehin kerja sama mas Uno jadi bisa ngurus suami"
"Maksudnya bi?"
"Selain coba-coba mencari hal baru, kebanyakan pasangan selingkuh itu nggak puas sama pasangannya mbak. Yang awalnya cuma coba-coba eh jadi ketagihan"
Zantisya nampak diam memikirkan ucapan bi Tami.
"Tapi sebaik apapun pasangan memberi nafkah batin ke pasangannya kalau niatnya selingkuh mah ya selingkuh aja kan ya mbak, makanya harus kuat iman"
Setelah mendengarkan penuturan bi Tami Zantisya langsung menuju kamarnya. Sepagi ini ucapan bi Tami membuatnya larut dalam lamunan saat matahari mulai terbit. Angin pagi menerpa wajahnya saat ia duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya.
Sudah dua bulan pernikahannya dengan Arjuno. Semenjak kejadian malam itu Arjuno tidak pernah mengajak Zantisya lagi.
Ucapan bi Tami kini sungguh menganggu kepalanya. Zantisya menggelengkan kepalanya dengan kuat-kuat menghindari pikiran negatif terhadap suaminya.
Apalagi sudah hampir satu minggu ini Arjuno selalu berangkat lebih pagi dan pulang larut malam. Katanya sih karena sedang mengurus masalah yang terjadi di beberapa cabang restorannya.
Namun meski begitu perlakuan suaminya itu tidak pernah berubah. Setiap bangun tisur Arjuno langsung menciumnya, sebelum berangkat kerja Arjuno selalu memeluknya dan begitu juga saat pulang. Selalu manja minta di peluk saat akan tidur.
Zantisya langsung tersenyum memikirkan semua sikap manis Arjuno padanya. "Kenapa Aku masih takut saja" gumam Zantisya.
.
.
.
"Rud, ini gimana bisa sih material harganya naik semua. Bukannya dari minggu lalu kita sudah menyepakati kontrak kerja samanya. Harga juga sudah deal loh sejak awal"
"Aku udah komplain masalah ini dari empat hari yang lalu, tapi dari pihak sana tetap memilih putus kontrak"
Arjuno menautkan kedua alisnya bingung. "kita ini sudah langganan loh kok bisa jadi gini, perasaan selama ini kerja sama kita baik-baik aja?" kesal Arjuno membanting kertas yang ia pegang di atas meja.
"Setelah aku cari tahu ternyata Sanjaya Group baru-baru ini melakukan kontrak kerja disana. Padahal Sanjaya group sejak dulu bekerja sama dengan perusahaan A. kenapa sekarang mereka bekerja sama dengan perusahaan B yang sudah jelas masih berkembang"
__ADS_1
Mendengar kata Sanjaya Group, Arjuno langsung tersenyum sinis. "Apa ada yang lain lagi?"
Rudi mengangguk. "Dan baru kemarin perusahaan C dan D ikut memutuskan kontrak kerja kita mereka siap membayar denda dengan cuma-cuma karena bekerja sama dengan…"
"Sanjaya Group" potong Arjuno dengan kecurigaannya.
Rudi mengangguk. "Benar Uno. Entah ini sengaja atau nggak tapi yang pasti aku curiga kalau Sanjaya melakukan ini dengan sengaja"
"Kita negosiasi harga materialnya dengan perusahaan E Rud"
"Tapi nanti anggaran kita membengkak Uno"
"Itu lebih baik dari pada bangunan itu terbengkalai. Sudah setengah jalan, kita ngeluarin dana nggak sedikit. Ayo…"
"Uno…"
Arjuno langsung berhenti melangkah menghadap Rudi. "Kenapa?"
"Kamu pulang aja Uno, Biar aku yang ngurus sama Firman"
"Sama aku aja biar cepet selesai urusannya" tolak Arjuno.
"Wajah kamu pucet banget dari kemarin"
.
.
.
Zantisya langsung membuka pintu setelah mendengar suara mobil suaminya. Senyumnya langsung menghiasi wajah ayunya karena suaminya pulang lebih awal.
"Loh mas kok panas sih badannya" ucap Zantisya saat Arjuno memeluk Zantisya setelah pintu terbuka.
Zantisya langsung mengajak suaminya naik ke atas agar bisa segera istirahat. Zantisya melepas kemeja suaminya kala Arjuno sudah terbaring diatas ranjang.
"Mas…" Zantisya terkejut kala Arjuno menariknya dan langsung memeluknya erat setelah ia berhasil melepas kemeja suaminya.
"Lepas jilbab mu dulu dek" pinta Arjuno lirih.
"Mas, aku ambilin obat sama air anget dulu ya biar mas bisa aku kompres"
"Aku mau peluk dulu dek" ucap Arjuno sambil melepas jilbab sang istri. Arjuno langsung menyusupkan wajahnya ke leher Zantisya. Membuat detak jantung istrinya itu bekerja semakin cepat hingga gemuruh suara jantungnya terdengar di telinga arjuno.
"Lagi. Apa kamu masih saja takut saat aku peluk dek" batin Arjuno.
.
__ADS_1
.
.
Zantisya masih tetap terjaga menatap suaminya yang nampak pulas. Suhu tubuhnya sudah kembali normal karna tadi setelah makan bubur langsung meminum obat penurun panas lagi. seperti tidak kenal bosan, Zantisya terus mengamati struktur wajah suaminya.
"Maafin aku mas" gumam Zantisya sambil membelai pipi suaminya yang tidur dengan posisi miring menghadapnya.
Sejujurnya rasa bersalahnya tengah memenuhi hati Zantisya karena belum mempunyai keberanian besar untuk menyerahkan diri seutuhnya pada suaminya.
Tubuhnya masih saja bergetar saat Arjuno memeluknya posesif setiap kali berdua didalam kamar mereka. Tapi sejujurnya hati Zantisya sudah ingin, ingin melawan semuanya agar ia menjadi istri yang sempurna untuk Arjuno.
Zantisya mendekatkan wajahnya ke wajah arjuno. Nafas hangat suaminya seolah menyapu wajahnya seketika rasa menenangkan itu terasa semakin nyata.
Padahal dalam setiap waktu Zantisya selalu merasa aman dan nyaman semenjak menikah dengan suaminya. Ia merasa di hargai dan dicintai dengan sangat sempurna.
Zantisya langsung memejamkan matanya dan bibirnya ia tempelkan pada bibir suaminya. "Ah ini kurang" batin Zantisya, lalu mulai mencecap milik suaminya yang dipikirnya masih terlelap.
"Kenapa begitu menyenangkan" batin Zantisya sambil terus mencecap seperti yang biasa Arjuno lakukan saat pintar mencari kesempatan. Dan…
Entah kenapa tautan yang Zantisya lakukan rasanya sama seperti saat Arjuno dalam sadar melakukannya.
Dengan berani Zantisya membuka mata dan seketika itu matanya bertatapan dengan mata Arjuno. Kini Zantisya juga dapat merasakan belaian tangan Arjuno.
Zantisya menutup matanya kembali karena masih ingin menikmati segalanya. Entah kenapa segalanya semakin terasa ingin lebih jauh ia lakukan. Menaikkan level permainan, dengan spontan tangan Zantisya menyusup ke dalam kaos yang di pakai Arjuno. Wah rasanya semakin membuatnya ingin merasakan lebih dari ini karena telah membelai punggung suaminya.
Antara yakin dan tidak yakin, Arjuno langsung menimpa tubuh istrinya. Dipikirnya ia akan mendapatkan rezeki nomplok malam ini. Karena sudah mendapat jaringan 5G dari istrinya ya langsung bertindak saja.
Anggap saja ini semua apresiasinya setelah mengurusi masalah pekerjaannya dan sekaligus keberkahan karena sakit.
"Mas…" Zantisya memegang erat tangan Arjuno yang sudah nakal.
"Maaf" ucap Arjuno berpikir kalau istrinya memang belum mau melakukannya. Arjuno ingin bangkit dari atas tubuh Zantisya tapi Zantisya langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Arjuno.
"Jangan marah"
"Aku nggak apa-apa kok dek" Arjuno membelai wajah Zantisya.
"Bukan gitu mas, masalahnya aku tadi lupa kalau sedang datang bulan" lirih Zantisya nggak enak hati pada suaminya.
Seketika itu Arjuno tepuk jidat mendengar ucapan istrinya.
Bersambung...
Jumat berkah 😊 hari ini berniat Update 3x ya jadi kita lanjut nanti malam🥰
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya 😊 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1