HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 90 TANDA-TANDA


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB. Arjuno sudah terlelap ke alam mimpi. Sedangkan Zantisya hanya terus menatap wajah suaminya yang nampak tenang dengan mimpinya sendiri.


Sebenarnya Zantisya sudah terlelap lebih dulu. Namun ia terbangun karena pergerakan kedua anaknya yang sangat lincah.


Belum lagi, sudah sejak tadi pagi perutnya terasa kencang-kencang. Membuat Zantisya banyak melakukan relaksasi agar perutnya tidak terasa kencang.


Rasa nyeri pada bagian punggungnya yang sudah ia rasakan sejak kehamilan memasuki 8 bulan. Kini rasanya semakin bertambah nyeri saja.


Entah berapa kali Zantisya mengganti posisi tidurnya agar lebih nyaman. Namun tetap saja tidak ada posisi yang pas untuknya. Sejak tadi juga tangan Zantisya tidak berhenti memijit pinggangnya yang terasa sakit.


"Kenapa sayang?" tanya Arjuno. Ia langsung terjaga karena merasakan gerakan Zantisya ke kiri dan ke kanan.


"Maaf ya mas. Pasti mas keganggu gara-gara aku."


"Sayang nggak bisa tidur?" Tanya Arjuno sambil memeluk Zantisya.


"Punggung aku sakit banget mas" keluh Zantisya.


"Miring ke kiri dek. Biar aku pijitin." Perintah Arjuno.


Zantisya langsung mengatur posisi sesuai perintah Arjuno. Lelaki yang sudah segar kembali matanya langsung bangun. Duduk dengan nyaman sambil memijit punggung Zantisya.


"Perut ku kok kram terus ya mas." Adu Zantisya. Merasa sudah tidak tahan karena perutnya yang terasa kencang-kencang lebih sering.


"Rileks sayang. Tarik nafas, hembuskan pelan-pelan." Ucap Arjuno yang dilakukan Zantisya.


Sepertinya pasangan suami istri ini sama-sama belum peka kalau apa yang dirasakan Zantisya saat ini adalah tanda-tanda persalinan.


"Mau kemana dek?" Tanya Arjuno saat Zantisya beranjak.


"Mau ke kamar mandi mas."


Zantisya langsung turun dari atas ranjang. Ia berjalan pelan-pelan sambil mengusap perutnya yang terasa kencang.


Arjuno langsung ikut beranjak. Menghampiri Zantisya dan langsung memapah perempuan yang nampak kesulitan menuju kamar mandi.


"Maaf ya mas. Aku ganggu tidur malam mas akhir-akhir ini." Ucap Zantisya saat mereka sudah memasuki kamar mandi.


"Ngomong apa sih dek. Aku senang bisa adek andalkan seperti ini." Ucap Arjuno sambil menaikkan baju daster yang dikenakan Zantisya.


Arjuno langsung menurunkan ****** ***** Zantisya. "Ini apa dek?" Tanya Arjuno terkejut.


"Mana mas?" Tanya Zantisya yang kesusahan melihat kebawah.

__ADS_1


Arjuno langsung melepas ****** ***** Zantisya dan langsung menunjukkan pada Zantisya. "Ini kok keluar begini dek?" tanya Arjuno lagi.


Zantisya dian terpaku memikirkan sesuatu. "Jangan-jangan aku mau melahirkan mas." Pekik Zantisya mengingat apa yang pernah dijelaskan dokter Ani pada mereka berdua. Jika keluar lendir bercampur darah itu tanda-tanda persalinan.


"Serius dek?" Pekik Arjuno terkejut.


Zantisya mengangguk. "Mas lupa ya."


"Ya sudah adek tadi mau ngapain kesini?"


"Mau pipis mas."


Zantisya langsung membuang sesuatu yang sejak tadi ingin ia keluarkan. Setelah itu, Arjuno langsung membantu Zantisya membersihkan bagian inti istrinya.


Pelan-pelan Arjuno memapah istrinya menuju ranjang. Arjuno langsung menuju lemari setelah Zantisya duduk ditepi ranjang. Dengan cepat ia mengambil ****** ***** Zantisya dan langsung membantu memakaikan ****** ***** lagi.


Setelah itu Arjuno langsung memakaikan jilbab instan dan langsung membawa Zantisya keluar dari kamar menuju mobil.


"Hati-hati ya mas." Ucap Zantisya saat Arjuno mengemudikan mobilnya. Tangan Zantisya terus mengelus perutnya yang semakin kencang.


Beruntung jalanan tengah malam nampak lengah. Membuat Arjuno bisa lebih mempercepat perjalanan mereka menuju rumah sakit.


"Sakit banget mas." Rintih Zantisya.


"Sabar ya dek. Sebentar lagi kita sampai rumah sakit." Ucap Arjuno sambil mengusap perut Zantisya sejenak.


"Dari dulu mau nyari supir pribadi nggak nyari-nyari ya begini akibatnya. Repot sendiri." Keluh Arjuno dalam hati.


Mobil Arjuno berhenti didepan UGD. Ia langsung keluar dari kursi kemudi dan langsung lari menghampiri istrinya. Pelan-pelan ia masuk dan langsung dibantu perawat menuju brankar.


"Pak tolong parkirkan mobil saya ya pak." Pinta Arjuno pada orang yang bertugas keamanan di depan UGD setelah mengambil tas berisi semua perlengkapan Zantisya dan calon anak mereka.


Karena terlalu khawatir dan tidak ingin membuat Zantisya menunggu lama. Ia sampai lupa bertanya pada orang yang ia mintai tolong, apakah bisa mengendarai mobil atau tidak.


"Kuncinya masih didalam. Terimakasih ya pak sebelumnya." Tambah Arjuno yang langsung berlalu. Bahkan ia asal percaya saja pada orang yang tidak ia kenali.


Tak perlu waktu lama Zantisya berada diruang UGD. Setelah dilakukan pemasangan infus. Zantisya langsung dipindahkan keruang persalinan.


Kebetulan dokter Ani dinas malam. Membuat Zantisya nyaman karena sejak awal ia ingin ditangani langsung oleh dokter Ani saat melahirkan.


Zantisya terus menggenggam tangan Arjuno dengan erat saat dokter Ani melakukan pemeriksaan dalam. Sesekali arjuno mengusap wajah Zantisya yang mengeluarkan keringat.


"Sudah pembukaan 5 centimeter bu, pak." Ucap dokter Ani member tahu. "Nanti setelah pembukaan lengkap atau 10 centimeter. Kami akan membantu proses kelahiran si kembar." Tambah dokter Ani.

__ADS_1


"Apa masih lama dok menunggu sampai pembukaan lengkap?" Tanya Arjuno. Wajahnya nampak jelas khawatir karena tidak tega melihat istrinya kesakitan.


"Karena ini proses kelahiran pertama jadi kita harus sabar ya pak. Tidak perlu khawatir insha Allah semua berjalan lancar. Kita sama-sama berdoa agar cepat pembuka lengkap."


Arjuno mengangguk paham dengan keterangan yang diberikan dokter Ani. "Tapi dok. Apa ini tidak apa-apa karena kehamilan istri saya belum genap 9 bulan?" Tanya Arjuno.


Sepertinya lelaki yang akan resmi menjadi seorang ayah ini melupakan keterangan dokter Ani waktu itu.


"Insha Allah aman pak. Kelahiran hamil kembar memang sering terjadi lebih cepat." Dokter Ani menatap Zantisya. Ia langsung melangkah mendekati Zantisya.


Tangan dokter Ani terulur mengusap pucuk kepala Zantisya. Rasanya dokter Ani masih tidak menyangka. Perempuan yang dulu harus menggunakan perut palsu kini sudah berada dihadapannya dan akan melahirkan anaknya bersama lelaki yang sangat mencintainya.


"Tisya pasti kuat ya nak."


Mendengar ucapan sederhana dokter Ani sungguh membuat Zantisya terharu. Merasakan seolah ada seorang ibu yang tengah menghawatirkan keadaannya.


"Terimakasih dokter. Tisya pasti kuat dan semangat."


Dokter Ani mengusap air mata Zantisya yang mengalir tanpa dapat dicegah. "Jangan mengejan ya nak. Karena pembukaan belum lengkap." Ucapan dokter Ani di angguki Zantisya. "Boleh makan dan minum biar tenaganya kuat saat melahirkan si kembar nantinya ya."


"Baik dokter."


"Tarik nafas lalu hembuskan pelan-pelan untuk sedikit mengurangi rasa nyerinya."


Setelah memberikan beberapa pesan dokter Ani langsung meninggalkan Arjuno dan Zantisya. Setiap 30 menit sekali ada petugas yang mengobservasi kemajuan kontraksi yang dialami Zantisya saat ini.


Arjuno terus memijit punggung Zantisya dan sesekali mengusap perut yang semakin sering kencangnya. Air matanya bahkan sampai beberapa kali menetes karena mendengar rintihan Zantisya yang kesakitan.


Antara tega dan tidak tega melihat perempuan yang sangat ia cintai kini tengah berjuang melahirkan anak mereka. Merasakan sakit seorang diri.


"Cepat lahir ya nak. Kasian bunda kalian." Bisik Arjuno sambil mencium perut Zantisya.


Bersambung...


Mohon doanya untuk kelahiran si kembar ya😊❤️


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Calon ayah dan bundanya si kembar



__ADS_1


__ADS_2