
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB Zantisya dan Laras baru saja memasuki rumah. Beberapa pegawai Nampak mengambil barang belanjaan mereka dari bagasi mobil.
"Ini buat kamu sayang" ucap Laras. Memberikan beberapa paper bag.
Zantisya menerima dengan mengerutkan keningnya bingung. "Ini apa ma?"
"Ini baju buat kamu"
"Ya Allah ma, kenapa repot belikan Tisya"
"Nggak repot dong membelikan sesuatu untuk anak mama yang cantik ini"
"Terimakasih ya ma" Laras mengangguk dan tersenyum.
Saat Zantisya akan menaiki anak tangga. Bima nampak baru pulang.
"Dari mana kamu?" tanya Laras kesal.
"Nongkrong ma…" jawab Bima bohong.
"Kurangi nongkrong-nongkrong nggak jelas mu Bim, udah punya istri harusnya kalian pengantin baru itu quality time atau pergi bulan madu sana" marah Laras.
"Iya ma… iya…" begitulah Bima.
"Ya sudah kalian cepat sana istirahat"
Bima menatap zantisya dengan tatapan benci. Bima memilih cepat berjalan agar mendahului istri kontraknya itu. Saat Zantisya masuk kamar, Bima sedang duduk di tepi ranjang sambil bermain dengan ponselnya. Ia nampak sesekali tersenyum.
Zantisya meletakkan paper bag di atas sofa. Lalu ia memilih untuk duduk terlebih dahulu.
"Udah mulai beraksi ya kamu" sinis Bima.
Zantisya yang sejak tadi memejamkan mata pun langsung menatap lelaki yang telah menjadi suaminya kini. "Maksud kakak apa?" tanyanya bingung. Siapa juga yang nggak bingung, nggak ada angin nggak ada hujan Bima berkata sinis padanya.
"Pasti senangkan bisa hidup mewah dirumah ku. Dan sekarang kamu mulai melancarkan aksi memeras mama ku" ucap Bima sambil melihat paper bag yang berjejer yang entah apa isinya namun sudah terlihat jika itu barang dari brand mark mahal.
__ADS_1
"Kak, ini mama yang beliin. Aku nggak minta” bagaimana pun Zantisya harus membela diri.
"Halah orang susah kaya kamu yang gelap mata karena harta mana mungkin ngaku. Maling ngaku penjara penuh" ketus Bima.
"Aku buka maling ya kak"
"Itu perumpamaan dasar bego"
"Aku tau itu kak tapi kakak seolah ngehina aku ini maling"
"Betul. Maling dulu kalau nyolong sembunyi biar nggak ketahuan kalau maling sekarang terang-terangan nikahi anak tunggal kaya raya" sindir Bima. "Dasar orang miskin, bosen ya hidup susah jadi cari jalan pintas" cecar Bima belum puas. "Orang tua kamu pasti berhasil dong didik kamu" hinanya.
"Kakak boleh hina aku, boleh caci maki aku tapi jangan pernah hina orang tua aku" meski marah namun suara Zantisya masih terdengar lembut, sama sekali tidak meninggikan suaranya.
Namun hati Bima memang sekeras batu, hanya karna Zantisya mau menikahinya ia sudah melabeli gadis itu dengan sebutan 'perempuan matre' Ia sama sekali tidak mengetahui soal perjanjian antara Laras dan juga istrinya, Zantisya.
Malam sudah semakin larut setelah menidurkan kedua buah hatinya, Rani merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang. Ia hanya bisa melihat langit-langit kamarnya. Ia Nampak menghela nafas berat, mengingat kembali perbincangannya dengan uno saat itu.
***
"Ada apa Uno?" tanya Rani dengan suara lembut.
"Kapan kamu akan mulai bekerja lagi?"
"Anak-anak masih kecil Uno apa lagi Rania" lirihnya.
"Naaf jika aku egois tapi aku juga harus segera mengurus perusahaan ku sendiri"
"Apa sebenci itu kamu sama aku?" tanya Rani menatap Uno. Nasibnya sendiri kenapa dengan bodohnya bisa jatuh hati pada lelaki ini, suami dari wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
"Aku nggak benci sama kamu Ran" ini untuk pertama kalinya Uno memanggil namanya. Membuat ia melambung bahagia dengan hal sederhana itu. "Aku harus berdamai dengan semuanya. Aku juga harus melanjutkan hidup ku"
"Kamu sudah bisa menerima semuanya?" tanya Rani dan Uno pun mengangguk. "Apa sekarang kamu bisa memikirkan lagi ucapan ku"
Uno paham dengan ucapan terakhir rani. Beberapa bulan lalu ia ketahuan selalu mengirim kue buatannya melalui Devi. Uno bingung kenapa Rani melakukan itu sembunyi-sembunyi, hingga memakai nama Devi yang jelas sudah berkeluarga. Uno takut hal seperti imi menjadi masalah untunya. Siapa juga yang mau di sebut sebagai lelaki perebut istri orang. Nggak keren banget.
__ADS_1
"Maaf..."
Hanya kata itu yang Rani dengar dari Uno. Itu artinya Uno menolak keras perasaan yang dia punya terang-terangan seperti beberapa bulan lalu.
"Aku cinta sama kamu Uno"
"Itu bukan cinta Ran, kamu hanya merasa tertolong karena aku membatu mu m" ucap Uno.
"Apa karna aku janda dan memiliki dua orang anak sehingga kamu tidak mau mencoba membuka hati kamu untuk aku"
"Aku juga duda kalau kamu lupa. Aku nggak melihat status seseorang Ran, kalau memang aku nantinya akan menikahi janda beranak lima sekalipun aku akan terima jika memang itu jodoh ku. Tapi aku benar-benar nggak bisa sama kamu ran”
Uno memang benar-benar nggak mau hidup dengan kenangan yang sudah lalu. Ia ingin kisah yang baru tanpa harus melibatkan kisah lama yang menyakitkan. Itu bukan berarti Uno membenci Rani. Siapa yang tidak tertarik dengan perempuan sekuat Rani. Namun untuk Uno bukan, Rani orangnya yang ingin ia ajak hidup bersama nanti.
"Aku malu sama diri aku sendiri Uno, aku serasa nggak punya harga diri di hadapan kamu”
.
.
.
Uno menyesap wedang jahe di balkon kamarnya. Rasa sepi selalu hinggap di kesehariannya. Uno menghela nafas berat. Ingatanya sekelebet terarah pada Rani saat terakhir mereka bertemu. Ia merasa orang jahat hingga menyakiti hati seorang ibu yang memiliki dua orang anak itu.
Bagaimana pun perasaan tidak bisa dipaksakan. Untuk saat ini ia memang tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan Rani selain hal pekerjaan. Untuk saat ini juga ia tidak mau masuk kedalam hidup Rani lebih dalam lagi. namun jika suatu saat ini ia memang berjodoh dengan rani ia tidak mungkin bisa menolak takdir.
Uno Nampak menyesap lagi wedang jahenya. Tiba-tiba ingatanya tertuju pada gadis muda yang ia temui, lebih tepatnya tak sengaja bertemu di swalayan itu. Gadis berhijab dengan senyum yang manis.
"Zantisya Kemala" gumam Uno. Ia mencoba mengingat lagi setiap percakapannya dengan Zantisya. "Apa selama itu dia tinggal bersama bapaknya dan sekarang ikut dengan ibu kandungnya karena bapaknya sudah meninggal" gumam Uno lagi.
Ia lalu meneguk habis wedang jahenya. "Eeh… untuk apa aku tiba-tiba memikirkan kemala" gumamnya sambil menggeleng kepalanya tak habis pikir dengan pikirannya sendiri. ia langsung masuk dan menutup pintu balkon. ia masuk kedalam kamar mandi untuk menggosok gigi mencuci tangan dan kaki lalu ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Nampaknya pria dewasa yang kini berusia dua puluh Sembilan tahun itu sudah mulai bosan menduda.
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa kasih like dan komennya ya 🥰