
Setelah menerima obat, Arjuno langsung mengajak Zantisya untuk segera pulang. Baru saja ia akan keluar dari area rumah sakit. Zantisya dan Arjuno berpapasan dengan Evita dan Laras. Mereka pun langsung bersalaman dan saling bertegur sapa.
"Kalian habis periksa? Siapa yang sakit?" tanya Laras menatap Zantisya dan Arjuno bergantian.
"Kami sehat ma, Alhamdulillah" ucap Zantisya sambil membelai perutnya.
"Kamu hamil tisya?" Tanya Evita antusias. Zantisya langsung mengangguk dengan wajah yang sangat bahagia.
"Alhamdulillah." Ucap Evita dan Laras bersamaan. Tiga perempuan itu pun langsung saling berpelukan.
"Aku juga kesini mau periksa kehamilan ku" ucap Evita memberi tahu. Bahkan sangat jelas wajah Evita dengan raut kebahagiaannya kini.
"Mbak hamil juga? Selamat ya mbak." Evita langsung mengangguk. "Aurel nggak ikut mbak?"
"Ikut kok. Aurel balik lagi ke mobil sama papanya ambil boneka."
Zantisya mengangguk. Sejenak matanya mendapati Bima yang sedang menggendong Aurel melangkah kearah mereka.
Namun saat melihatnya, Bima langsung balik badan untuk menghindar. Sedangkan Arjuno sepertinya tidak melihat keberadaan Bima beberapa detik lalu karena sedang fokus dengan ponselnya.
"Kalau begitu kami permisi pulang lebih dulu mbak, mama."
.
.
.
Arjuno melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sangat hati-hati mengemudikan mobilnya demi keselamatan empat nyawa sekaligus.
Senyum Arjuno bahkan tidak luntur dari wajahnya yang rupawan. Sesekali Arjuno membelai perut Zantisya yang masih rata itu.
"Mas..."
"Yes honey."
"Suami mbak Evita. Kenapa sepertinya menghindari kita" ucap Zantisya heran.
Dipikiran Zantisya, karena sudah saling memaafkan bukankah tidak ada salahnya jika mereka bertegur sapa sejenak.
Tapi saat Zantisya melihat Bima tadi itu sudah sangat jelas jika Bima menghindarinya dan juga Arjuno.
"Nggak perlu dipikirkan sayang. Mungkin dia memang lebih nyaman dengan seperti itu."
Arjuno memang tidak pernah sekalipun menceritakan perihal kedatangan Bima ke kantornya saat itu.
Sejujurnya saat mendengar kalau Evita juga hamil itu membuat kelegaan di hati Arjuno. Artinya Bima memang berusaha memperbaiki keluarganya sendiri.
"Berpalinglah jika perasaan mu masih ada untuk istri ku Bima Sanjaya" Ucap Arjuno dalam hati. "Itu akan lebih baik untuk kita semua."
Arjuno kembali melajukan mobilnya setelah lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau. Ia sesekali melihat Zantisya yang sejak tadi terus menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arjuno sambil menarik hidung Zantisya.
"Mas. Anak kita nanti kembar sepasang atau nggak ya?" Tanya Zantisya masih betah menatap suaminya.
"Apapun nggak jadi masalah sayang. Yang terpenting bagiku, Adek dan anak-anak kita selalu sehat dan lahir selamat."
"Aku ingin anak lelaki, Biar dia seperti mas."
"Oh ternyata ingin lihat duplikat kegantengan ku ya dekโ tebak Arjuno mulai ekspresif.
"Ih sumpah mas ini kok bisa super Pede banget mas" kesal Zantisya. Walau sejujurnya benar, kalau ia ingin melihat duplikat Arjuno versi kecil.
"Aku malah lebih ingin Anak perempuan dek. Pasti nanti cantik banget seperti adek."
Ucapan Arjuno sukses membuat wajah Zantisya bersemu merah karena tersipu. Walau sering dipuji oleh Arjuno, namun sepertinya ucapan Arjuno selalu membuat Zantisya deg-degan sendiri.
"Adek nggak pengen apa-apa gitu?" tanya Arjuno heran karena jika diingat-ingat lagi, dari sebelum mereka mengetahui kehamilan Zantisya. Sepertinya Zantisya tidak memiliki tanda-tanda orang hamil. Biasa saja pokoknya.
"Enggak mas. Kenapa?"
Arjuno langsung menepikan mobilnya. "Ayo dek kita beli sop buah."
Tapi tanpa di sadari mereka, jika memang Arjuno lah yang merasakan mual muntah dan ngidam sendiri saat sebelum memeriksakan kehamilan Zantisya.
.
.
.
Memang semenjak Resti bekerja menjadi sekertaris Arjuno. Firman menjadi jarang sekali datang ke kantor.
Ia hanya akan kesana jika ada meeting penting atau hal-hal yang memerlukannya datang ke kantor.
Firman dan Resti pernah menjalin kedekatan saat mereka menjadi tetangga. Namun hubungan keduanya putus karena Firman mencari pekerjaan di luar kota.
Karena sudah lama tidak menjalin komunikasi. Resti yang mengira Firman sudah memutuskannya tanpa berucap.
Akhirnya Resti memilih menjalin hubungan dengan temen seangkatannya sewaktu kuliah dulu.
Sedangkan Firman sendiri sudah beberapa kalai menjalin hubungan dengan perempuan untuk menuju kearah yang lebih serius.
Namun sayangnya, perempuan yang sudah mulai masuk kedalam hidup Firman memilih berkhianat dan pergi meninggalkan Firman begitu saja.
Hal itu membuat Firman enggan untuk menjalin kedekatan dengan perempuan manapun. Walau ia seusia Arjuno, namun itu tidak menjadikan beban hidup Firman dalam kesendiriannya.
Ia lebih memilih fokus mengembangkan usaha yang didirikan Arjuno saat sebelum ibu Arjuno meninggal dunia.
"Ayo..." Ajak Firman saat setelah mobilnya masuk kearea pembangunan.
Resti mengikuti langkah Firman. Mereka langsung menemui mandor yang mengurus pembangunan untuk mengetahui sampai berapa persen pembangunan yang telah dilakukan.
__ADS_1
Hingga sore menjelang, Firman dan Resti baru menyelesaikan seluruh pekerjaan mereka disana. Firman langsung mengendarai mobilnya saat mereka sudah duduk di kursi mobil.
"Dimana rumah mu?" tanya Firman.
Resti langsung memberitahu tempatnya tinggal. Firman langsung melaju setelah mengatur penunjuk arah pada mobilnya.
Mereka tetap saling diam dalam kecanggungan. Sampai tanpa terasa akhirnya mobil Firman sudah memasuki area perumahan dan berhenti tepat didepan rumah Resti.
"Mas..." panggil Resti akhirnya.
Detak jantung Firman tentu saja tidak bisa beraturan saat mendengar Resti memanggilnya. Firman langsung menatap Resti. Membuat tatapan keduanya bertemu.
Jujur saja tanpa mereka ketahui satu sama lainnya. Jika perasaan keduanya masih sama-sama belum selesai. Masih tersimpan aman tanpa mereka ucapkan.
"Mampir sebentar ke rumah ya" pinta Resti dengan keberaniannya.
(Gercep amat Res, takut ditikung orang ya main ngajak bujang mampir ke rumah ๐)
.
.
.
Setelah solat magrib bersama, Arjuno langsung turun lebih dulu menuju dapur. Ia langsung membuka kulkas mengabsen apa saja isi didalamnya.
Arjuno langsung mengambil sayuran dan bumbu-bumbu yang sudah disediakan bi Tami. Dengan cekatan tangan Arjuno memasak yang ia inginkan.
"Masak apa mas?" tanya Zantisya sambil mengintip apa yang dimasak Arjuno.
"Tumis pokcoy dek" Arjuno langsung mematikan kompor dan memindahkan hasil masakannya kedalam wadah.
"Kayanya enak mas" ucap Zantisya yang langsung mengambil nasi dan membawanya kemeja makan.
"Bi Tami tadi masak apa dek?" tanya Arjuno sambil membuatkan susu khusus ibu hamil untuk Zantisya.
"Buat Ayam kecap mas" jawab Zantisya yang sudah duduk menunggu Arjuno.
Arjuno langsung meletakkan segelas susu didepan Zantisya. "Ayo kita makan dulu."
Jika awalnya yang ingin makan tumis pokcoy itu adalah Arjuno. Tapi kenyataannya yang makannya lebih banyak Adalah Zantisya. Seperti tanpa sadar jika kini porsi makannya sudah dua kali lipat dari biasanya.
"Enak ya." ucap Arjuno sambil menatap Zantisya.
Zantisya tidak menjawab namun ia memberikan salah satu ibu jari tangannya. Mengapresiasi masakan Arjuno yang sangat lezat baginya.
Bersambung...
Sepertinya server NT lagi gangguan aku udah update bab ini sama novel 2 RASA YANG TERSISA dari sore๐ niat hati ingin double update tapi aku gak tau ini jam berapa nanti lulus review nya ๐
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐ฅฐ kasih like dan komennya ๐ tab favorit juga ya โค๏ธ
__ADS_1