HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 57 SEMAKIN HANCUR


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu, dan selama itu pula tugas yang biasanya dilakukan Resti beralih ke karyawan lain yang Bima tunjuk secara asal.


Selama itu juga, banyak klien yang kecewa. Apa lagi kinerja sekertaris baru Bima itu sangat mengecewakan. Banyak klien yang langsung mundur bekerja sama dengan Sanjaya Group.


Belum lagi rasa kecewa karena Bima sudah berulang kali membatalkan pertemuan mereka yang sudah terjadwal. Menyita waktu yang berakhir sia-sia hanya karena alas Bima yang tidak masuk akal.


"Aaa…" teriak Bima sambil memporak-porandakan meja kerjanya. Membuat apapun yang ada disana berserakan dilantai.


Baru beberapa menit lalu Bima meeting dengan petinggi Sanjaya Group. Meeting setiap tutup buku akhir bulan yang selalu dilaksanakan. Agar mengetahui statistic kemajuan perusahaan.


Tapi sudah beberapa bulan ini statistic setiap bulannya turun. Dan bulan ini anjlok drastis karena pengembangan produk yang seharusnya dilakukan sejak dua bulan yang lalu terbengkalai karena Bima belum menandatangani berkas yang sudah Resti berikan saat itu.


Belum lagi kesalahan manajemen perusahaan membuat pengeluaran tidak terkendali terjadi setiap bulannya. Itu semua atas kesalahan Bima sendiri karena terus menggelontorkan dana secara cuma-cuma untuk mengambil alih perusahaan yang bekerja sama dengan Arko Group berbalik arah bekerja sama dengan perusahaanya.


"Apa-apaan ini Bima?" tanya Laras setelah memasuki ruang kerja anaknya yang nampak sangat berantakan.


"Mama… ada apa ma?" Bima mulai gugup karena tiba-tiba saja Laras sudah berada di ruangannya.


"Kamu yang ada apa? Kantor berantakan, kamu pun berantakan belum lagi perusahaan ikut berantakan karena ulah kamu Bim" Amarah Laras langsung memuncak saat tujuannya datang ke kantor untuk apa.


"Kalau cara kamu seperti ini mau jadi apa perusahaan Sanjaya ini Bima" suara lantang Laras menggema di ruangan sangking emosinya.


"Ini semua gara-gara Arjuno ma"


Mendengar nama Arjuno membuat Laras melangkah mendekati Bima. "Ada apa dengan suami Tisya?"


"Bima pasti akan merebut apa yang dulu harusnya menjadi milik Bima. Zantisya milik Bima ma"


Plak…


Laras menampar pipi anaknya itu sekuat tenaga. Perempuan paruh baya itu tidak habis pikir dengan kelakuan anaknya kini.


"Jangan merebut apa yang tidak berhak kamu rebut Bima Sanjaya. Kamu kehilangan dia karena kamu sendiri dan jangan salahkan orang lain. Pikirkan baik-baik jika kamulah yang diposisi Zantisya. Pasti kamu akan melakukan apa yang kini dia lakukan" tutur Laras dengan suara dingin menusuk hati Bima.


"Lihatlah, sekarang Evita sudah berubah. Kalian sudah punya anak. Perbaiki hubungan kalian yang dulu kalian perjuangkan demi untuk mendapat restu dari mama. Kembali jadi Bima yang membanggakan, berfikirlah realistis dan jangan hancurkan perusahaan ini karena tingkah konyol mu"


.


.


.


Semenjak dipecat Bima, Resti memilih segera membeli rumah minimalis di kotanya. Gajinya selama menjadi sekertaris Bima memang sudah mampu membengkakkan benda pipih kebanggaannya. Dan selama itu pula Resti masih memilih bersantai ria untuk tidak cepat mencari pekerjaan karena ingin rehat dulu.


Bekerja dengan Bima memang sangat menyita waktunya bahkan waktu libur. Tapi Resti tetap enjoi karena selalu mendapatkan bonus dari usahanya.


"Siapa sih pagi-pagi udah main ngetuk pintu" gerutu Resti. Lalu turun dari ranjang dan langsung menuju pintu utama.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Iya sebentar" teriak Resti. Tanggannya langsung membuka kunci dan mengarahkan hendel pintu kebawah, membuka pintu. Dan saat itu juga Resti cukup terkejut dengan siapa yang ia lihat dihadapannya kini.


"Pak Bima. Ada apa bapak kesini?" tanya resti terkejut. Dan lagi dari mana Bima tahu alamat rumahnya.


"Kamu belum dapet kerja kan Res? Ayo ikut saya" ajak Bima menurunkan harga dirinya yang biasanya ia sombongkan.


"Kemana pak?"


"Ya kekantor lah Res, kemana lagi?"


Resti mengerutkan kening keheranan. "Bapak nyuruh saja kerja lagi?"


"Iya. Lagian dimana coba perusahaan yang mau gaji kamu tinggi kalau bukan saya"


Resti yang tersinggung langsung mengsendekapkan kedua tangan didepan dada, menatap sinis Bima.


"Bapak menghina saya?"


"Itu kenyataan Res, kenapa kamu jadi marah sama saya"


"Kamu menghina saya Res? Semua yang kamu punya ini dari perusahaan saya lo Res"


"Tapi saya disana bekerja dan digaji pak. Jadi ini semua hasil jerih bayah saya sendiri"


"Kamu sudah berani ngelawan saya ya Res" Bima mulai geram sendiri sekarang.


"Jujur pak saya menyesal mencari informasi bu Tisya dan suaminya kalau tahu akhirmya bapak melakukan hal konyol yang merugikan perusahaan bapak sendiri"


.


.


.


"Mas aku kebawah ya" Zantisya mulai penat. Akibat keisengannya ikut bekerja. Akhirnya sekarang merasa bosan sendiri. Jika tadi pagi ia berada di kantor pusat, dan sekarang mereka mendarat di salah satu restoran milik suaminya.


Sepertinya film tentang pelakor yang semalam ia tonton bersama suaminya membuat ia jadi negative tinking sendiri.


Cerita film yang mengisahkan bos dan sekertarisnya yang asik memadu kasih diruang kerja membuat Zantisya jadi kepikiran.


"Iya sayang"

__ADS_1


Zantisya langsung keluar dari ruangan suaminya. Menuruni setiap tangga yang ia hitung dalam hati. Merasa bodoh dengan diri sendiri. Berfikir buruk tentang suaminya yang ia yakini tidak akan melakukan hal yang membuatnya sakit hati.


"Bu Tisya"


Lamunan Zantisya langsung ambyar saat mendengar ada seseorang memanggilnya bu. Kan aneh, biasanya para karyawan memanggilnya mbak kok ini jadi bu.


Zantisya langsung menaikkan wajahnya yang sejak tadi menunduk mencari semut. "Mbak Resti"


Resti langsung melangkah mendekati Zantisya. Mereka langsung bersalaman dan cium pipi kanan dan kiri.


"Apa kabar mbak"


"Saya baik. Ibu Tisya sendiri apa kabar?"


"Alhamdulillah baik. Panggil Tisya saja mbak nggak usah pake ibu-ibuan segala" Resti tersenyum. "Ayo mbak kita duduk disana" ajak Zantisya sambil menunjuk kursi yang belum terdapat pengunjungnya.


"Kok mbak jam segini sudah santai mbak?" tanya Zantisya heran melihat pakaian yang dikenakan Resti saat ini.


"Ya kan nggak kerja lagi bu"


"Panggil Tisya mbak, aku bukan menantu mama Laras lagi. Santai saja ya"


"Ih udah kebiasaan jadi canggung saya"


"Nggak usah formal juga mbak, biar akrab" Resti mengangguk canggung. "Mbak tumben loh jam segini sudah nggak kerja, biasanya malam pun masih kerumah mama ngurusin pekerjaan"


"Sudah satu bulan ini say… ehm… aku nggak kerja lagi di perusahaan"


"Loh kenapa mbak?" tanya Zantisya keheranan.


"Aku dipecat" Resti tersenyum menatap Zantisya.


"Loh kok bisa memang ada masalah apa mbak?" jiwa ingin tahu Zantisya seketika menggelora.


"Pak Bima sedang emosi mungkin" Resti menaik turun kan kedua pundaknya. "Lagi pula aku sudah ingin keluar dari sana"


Zantisya hanya mengangguk tidak ingin bertanya lebih jauh. "Mbak mau makan apa?"


Mereka berdua pun memesan beberapa menu untuk teman ngobrolnya.


"Mumpung kita ketemu aku mau minta maaf Tisya..."


Bersambung...


Apa cuma aku yang ngeship Resti sama Bima 😂 soalnya Resti ini kaya nggak ada takut-takutnya sama Bima.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


Selamat malam dan selamat istirahat 🥰😊


__ADS_2