
"Hati-hati ya mas" ucap Zantisya setelah Arjuno melepaskan pelukannya. Arjuno langsung masuk mobil, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantornya.
Zantisya langsung menuju halaman depan berniat menyirami bunga hasil tanamannya. Pagi ini langit sangat nampak cerah, membuat siapa saja pasti akan semangat menjalani segala aktifitas.
Terdengar suara motor pak Edi baru memasuki halam rumah. Pak Edi dengan cepat memarkirkan kendaraannya dan langsung mengambil alat kebersihan yang biasanya ia gunakan untuk bertempur.
"Mbak Tisya maafkan saya mbak datang kesiangan" ucap pak Edi yang baru saja menghampiri Zantisya.
Memang pak Edi biasanya jam enam kurang lima belas menit biasanya sudah datang dan mulai membersihkan halaman.
"Nggak apa-apa pak"
"Kalau begitu saya bersih-bersih dulu mbak"
"Bapak sudah sarapan?"
"Belum mbak"
"Bapak sarapan dulu saja pak. Tisya tadi buat nasi goreng. Di dapur masih ada pak Totok sama bi Tami yang lagi sarapan juga"
"Nanti saja mbak, saya tak bersih-bersih dulu" tolak pak Edi sopan karena nggak enak hati.
Keluarganya sudah sering sekali mendapatkan bantuan dari Arjuno. Apalagi saat anaknya masuk ke rumah sakit. Arjuno membiayai perawan anak pak Edi yang kala itu demam tinggi dan terkena muntaber. Setelah itu Arjuno juga membantu pak Edi, bi Tami dan pak Totok mendaftar BPJS.
"Makan dulu pak, enak kalau makan ada temannya"
Akhirnya pak Edi tidak membantah lagi. Ia harus banyak bersyukur karena telah ditawari pekerjaan oleh Arjuno saat dulu ia dipecat dari kerjaannya karena sang majikan mengira ia mencuri. Arjuno bertemu pak Edi saat Arjuno pulang bekerja dan mampir di minimarket. Saat itu Arjuno melihat pak Edi sedang melamun duduk di pinggir jalan.
Setelah selesai menyirami bung-bunga di halaman depan dan belakang, Zantisya langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Tok
Tok
Tok
"Mbak…" panggil bi Tami.
__ADS_1
Zantisya yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mendekati pintu dan membukanya sedikit, menampakkan matanya yang hanya mengintip bi Tami yang ada di depan kamarnya.
"Ada apa bi?"
"Itu mbak di bawah ada tamu"
Zantisya jelas bingung siapa yang bertamu. Apa lagi kini suaminya tidak ada. Selama ini pun ia tidak pernah mendapatkan tamu. "Siapa bi?"
"Waduh siapa ya mbak tadi namanya, Elita, Erika apa siapa sih lupa mbak"
Wah semakin bingung juga Zantisya mendengar jawaban bi Tami. Apalagi Zantisya tidak memiliki teman yang namanya di sebutkan bi Tami barusan. "Berapa orang bi?"
"Hanya satu orang mbak, sudah bibi suruh masuk dan nunggu di ruang tamu"
"Ya sudah, tolong bibi buatkan minum sama sediakan makanan apa yang ada ya bi. Tisya ganti dulu"
Bi Tami langsung turun dan membuatkan dua gelas minuman dan beberapa camilan untuk disediakan diruang tamu.
Dua puluh menit berlalu baru Zantisya keluar kamar, mohon maaf kalau lama karna dia melalukan solat sunnah yang sudah setiap hari di laksanakan.
Zantisya langsung menuju ruang tamu dan betapa terkejutnya Zantisya saat melihat siapa yang sedang menunggunya kini.
"Mbak Evita" gumam Zantisya. Perlahan namun pasti, Zantisya melangkah semakin medekat kearah Evita.
"Silahkan duduk mbak" ucap Zantisya. Evita ikut duduk setelah Zantisya duduk. Sejujurnya Zantisya masih tidak percaya jika kini Evita berada di hadapannya, dirumahnya.
"Ada apa mbak?" tanya Zantisya pelan karena sejak tadi Evita hanya terus menunduk.
Mendengar suara yang sangat lembut dari Zantisya, dan menanyainya membuat hati Evita semakin nyeri karena menumpuknya rasa bersalah. Seketika air matanya mengalir dan menangis tersedu-sedu.
Jujur saja Zantisya bingung dengan Evita kini. Kenapa ia tiba-tiba menangis. Zantisya langsung beranjak untuk berpindah tempat duduk disamping Evita. Ia menepuk punggung evita pelan memberikan ketenangan.
"Ada apa mbak?" tanya Zantisya setelah Evita mulai tampak tenang.
"Maafkan aku Tisya"
Dan sekarang Zantisya semakin terkejut karena perempuan yang dulu selalu menghinanya, menatap sinis kearahnya, merendahkannya kini meminta maaf secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Aku tahu aku nggak pantas kamu maafkan tapi aku kini sadar semua perlakuan ku sama kamu selama ini sangat jahat Tisya" Evita menagis lagi dan Zantisya langsung mengambil tissue. Segera ia berikan pada Evita.
"Dulu aku dekati Bima karena dia sangat tampan, lelaki yang sangat royal sama aku. Dan saat dia mengenalkan ku ke kelarganya saat itu aku baru tahu seberapa kaya keluarganya. Karena sikap royal Bima aku jadi memanfaatkannya. Dia memenuhi kebutuhan ku dan keluarga ku. Aku tahu aku salah, tapi egoku terus aku besarkan dengan terus berfoya-foya menyenangkan diriku sendiri. itulah kenapa mama Laras nggak suka sama aku"
Zantisya memilih diam mendengarkan Evita berbicara sambil terus menepuk pelan punggung perempuan disampingnya itu.
"Demi untuk mengikat Bima. Bahkan aku sampai rela menyerahkan diriku. Agar dia merasa puas oleh ku dan menyayangi aku dengan begitu Bima pasti akan menuruti semua mau ku. Aku sadar akulah perempuan murahan sebenarnya"
"Mbak…"
"Saat aku tahu Bima akan dijodohkan, Aku benar-benar marah karena takut ia akan berpaling dari ku. Maka dari itu aku selalu memprofokasinya untuk membenci mu. Apa lagi saat aku sadar ada rasa yang tidak disadari Bima untuk mu, dan saat itu aku terus memperkeruh keadaan agar Bima membecin mu karena aku terlalu takut kehilangan dia dan semuanya"
"Mbak sudah mbak…"
"Sekarang aku benar-benar kehilangan Bima karena kebodohan ku sendiri Tisya. Beberapa bulan ini aku terus mencoba agar lebih baik dimatanya, membuatnya jatuh cinta lagi pada ku agar perasaannya tetap sama untuk ku. Tapi semua sia-sia karena Bima terus mencintai mu" Evita mengusap air matanya.
"Aku sudah berubah, meski aku terlambat untuk berubah. Tapi kini aku mengurus Aurel sendiri, aku mencoba mengambil hati Bima kembali. Tapi apapun yang ku lakukan nyatanya Bima mengataiku karena aku meniru semua perlakuan mu untuknya Tisya. Dan yang lebih parahnya dia berfantasi diatas tubuh ku dengan mengingatmu"
"Astaghfirullah" Zantisya sungguh tidak menyangka atas tindakan Bima. Benar-benar gila lelaki itu.
"Sebagai istri aku jelas sakit hati Tisya" Evita mengusap air matanya lagi.
"Awalnya aku tidak ingin mengambil hati perlakuan Bima. Tapi semakin lama dia semakin menjadi. Aku benar-benar sakit hati dengan perlakuannya yang menggunakan tubuh ku untuk mengingat mu"
"Sudah mbak, tenangkan diri mbak" Zantisya sudah tidak ingin mendengarkan tindakan gilanya itu. Ia jadi bergidilk ngeri dengan pengakuan Evita kini.
"Tapi aku sadar, mungkin ini adalah balasan setimpal yang aku dapatkan karena telah menyakitimu dulu. Merebut lelaki yang sudah memiliki istri. Aku benar-benar minta maaf Tisya" Evita menggenggam tanga Zantisya dan menatap Zantisya dengan matanya yang sembab dan memerah. "Tolong maaf kan aku"
"Aku juga minta maaf mbak, karena sudah hadir diantara mbak dan kak Bima dulu" Zantisya langsung memeluk Evita dan perempuan yang terlihat semakin kurus itu. Evita langsung membalas pelukan Zantisya.
Bersambung...
Kita tinggal nunggu Bima agar segera sadar dan kembali ke jalan yang benar 😀😱
Btw kerasa sepi banget ini bab nggak ada aktivitas Arjuno si tukang modus 😂
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️ follow akun author juga ya ❤️
__ADS_1
Selamat bermimpi indah 🥰