HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 6 PERKENALAN


__ADS_3

Pagi ini Bima mengajak Zantisya pulang kerumahnya. Rumah yang ia tinggali bersama Laras, ibunya. Dan beberapa pekerja yang mengurus rumahnya. Mobil Bima memasuki pekarangan rumahnya. Zantisya di buat tercengang dengan halaman yang luas dan rumah yang mentereng kokok dengan megahnya.


Ia berdiri membatu melihat rumah mewah yang ada di hadapannya setelah ia keluar dari mobil.


"Norak" ejek Bima menyadarkan lamunan Zantisya.


Laras yang mendengar suara mobil anaknya pun langsung keluar menyambut anak dan menantunya.


"Kalian sudah datang?" tanya Laras menyambut.


Bima menghampiri Laras dan langsung mencium pipi perempuan terpenting dalam hidupnya. "Bima ke kamar duluan ma" Laras mengangguk.


Zantisya menaiki beberapa anak tangga menghampiri Laras. "Assalamualaikum tante" salam Zantisya lalu mencium punggung tangan mertuanya itu.


"Waalaikumsalam. Panggil mama sayang" pinta Laras.


"Ma… mama" lirih Zantisya.


Laras mengangguk. Ia mengajak anak menantunya itu memasuki rumah. "Sekarang rumah ini adalah rumah kamu juga sayang" Zantisya hanya tersenyum dan mengangguk. "Kalian sudah sarapan?"


"Belum ma" jawab Zantisya jujur.


"Dasar Bima" kesal Laras. "Maafkan anak mama ya, kamu ke atas panggil Bima ajak sarapan sekalian"


"Iya ma…" Zantisya berhenti melangkah. "Ma… kamar kak bima dimana?"


"Oh ya Tuhan… Tisya naik terus jalan lurus di pojok kanan itu kamar kalian" interuksi Laras.


Zantisya mengangguk. "Tisya ke atas ya ma”


.


.


.


Tok…


Tok…


Tok…


Zantisya mengetuk pintu setelah sampai di depan kamar Bima.


"Masuk" teriak Bima.


Setelah mendapat perintah Zantisya langsung membuka pintu dan melihat sosok suaminya yang tengah merebahkan diri di atas ranjang yang super besar itu.


"Ada apa?" bentak Bima.


Zantisya yang tidak pernah dibentak oleh bapaknya pun terkejut. "Mama suruh kakak sarapan"


"Ck. Duluan turun sana, aku nyusul" Zantisya mengangguk lalu pergi meninggalkan Bima.


Sepuluh menit berlalu akhirnya lelaki yang mereka tunggu datang juga memasuki ruang makan. "Mau kemana Bima? Kok rapi banget" tanya Laras.

__ADS_1


"Mumpung libur aku mau nongkrong sama temen ma" jawab Bima santai. Ia langsung duduk, di sampingnya sudah ada Zantisya.


Bima membalik piring. "Mama nggak makan?" tanya Bima karena di depan Laras tidak ada piring.


"Mama sudah makan" ucap Laras sambil menatap anak dan menantunya. "Serasi" batin Laras sambil tersenyum.


Zantisya berdiri mengambil piring yang ada di depan Bima lalu mengisi dua centong nasi goreng. "Lagi kak?"


"Cukup"


"Mau sama apa?"


"Ayam goreng, sama itu kering tempe" Zantisya mengambil apa yang di sebutkan Bima. Lalu meletakkan piring di depan Bima.


"Mau kerupuk kak?"


"Boleh"


Laras tersenyum bahagia melihat interaksi keduanya. Ia merasa tidak salah pilih menjadikan Zantisya menantunya, istri untuk anak semata wayangnya. Tanpa ia tahu bahwa ya di lakukan pasangan pengantin baru itu hanya lah sebuah poin sandiwara yang tertera dalam kontrak.


.


.


.


Sore harinya Laras mengajak Zantisya ke sebuah swalayan untuk membeli beberapa keperluan. Biasanya Laras pergi bersama asisten rumah tangganya tapi kini ia pergi bersama menantunya.


"Sayang, mama mau ke suatu tempat dulu ya?" ucap Laras sambil memberikan daftar belanjaan. "Nggak apa kan mama tinggal dulu"


Zantisya melangkah mundur saat ia ingin melihat barang yang ada di rak atas. Punggungnya tertabrak troli pengunjung lainnya.


"Aww…" pekik Zantisya kesakitan sambil mengusap pinggangnya yang terasa sakit.


"Maaf… maaf… saya nggak sengaja"


"Nggak apa-apa" ucap Zantisya menatap orang yang mengatakan maaf. "Mas" panggil Zantisya pada Uno dengan mata nampak berbinar. Senyumnya pun nampak langsung merekah.


"Kamu disini dek?" tanya Uno. Ia sendiri tak menyangka gadis yang ia fikirkan semalam kini berada di hadapannya.


"Iya mas" Zantisya hendak mengambil barang yang ada rak atas. Ia nampak menjinjit meninggikan tubuhnya namun masih nampak kesusahan.


Uno melangkah mendekat dan mengambil barang yang akan di ambil Zantisya. melihat tangan yang menggapai barang yang hendak ia ambil dan merasa tubuh seseorang sangat dekat dengannya, Zantisya lalu menormalkan kakinya lalu berbalik badan menatap dada Uno. Sungguh tinggi badan yang sangat minim. Zantisya merutuki diri sendiri.


Dengan jarak yang sedekat ini, ia dapat mencium wangi dari tubuh Uno. Wangi yang sangat cool dan menenangkan bagi Zantisya.


Uno melangkah mundur setelah mendapatkan barang yang ia ambil. "Ini"


Zantisya menerima barang yang di ulurkan Uno. "Terimakasih mas"


"Masih ada yang perlu di beli?"


"Sudah tidak ada. Mas masih ada yang mau di beli?"


Uno menggeleng. "Tidak ada"

__ADS_1


Seketika keduanya tetap berdiri menepi dengan troli masing-masing. Keheningan seketika melanda keduanya.


"Ehm… kalau gitu kita bayar saja dek belanjaan kita" usul Uno.


"Iya…"


Mereka pun mengantri di kasir. Keduanya tetap diam bingung ingin memulai percakapan.


"Oh iya mas, maaf saya belum bisa balikin jasnya" ucap Zantisya setelah keduanya selesai membayar.


"Nggak apa-apa, nggak perlu dikembalikan dek. Nama ku Arjuno Andrewiyoko" tiba-tiba saja Uno memperkenalkan diri secara spontan. "Kebanyakan yang manggil aku Uno" kini mereka sedang berdiri bersandar pada dinding di depan swalayan.


"Arjuno. Seperti nama gunung"


Uno mengangguk. "Kamu bener dek. Dulu aku lahir di sana. Rumah mbah ku nggak jauh dari gunung arjuno" ini pertama kalinya bagi uno menceritakan dirinya sendiri tanpa ia sadari. "Namu kamu siapa dek?"


"Zantisya Kemala, mas"


"Zantisya Kemala" ulang Uno.


"Mas bisa panggil saya Tisya"


"Jangan formal banget dek. Pake 'aku' aja biar akrab" Usul Uno dan Zantisya pun mengangguk. "Boleh ku panggil kemala?"


Zantisya tentu saja mengangguk dan tersenyum sangat manis. "Terserah mas saja"


Uno melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Udah mau magrib dek, kamu kesini sama siapa?"


"Sama mama ku mas" jawab Zantisya. entah kenapa ia tidak membubuhkan kata mertua saat menyebut kata mama. "Mas kesini sama siapa?" selidiknya. Siapa yang tahu kalau dia bersama istrinya.


"Aku sendiri"


"Mas sudah menikah belum?" tanya Zantisya penasaran.


Padahal gosip tentang kematian Vina dan Adit menjadi perbincangan banyak orang apa lagi mereka kecelakaan tak jauh dari area sekolahan Zantisya. "Apa dia tidak tahu" batin Uno.


"Sudah" jawab Uno. Ia melihat sorot mata Zantisya yang berubah entah apa itu artinya. "Tapi dia sudah meninggal saat kamu kasih payung mu ke aku"


"Maaf, Tisya menanyakan hal yang nggak seharusnya"


"Nggak apa dek. Oh iya aku duluan ya, maaf nggak bisa nemenin kamu nunggu mama kamu"


"Iya nggak apa-apa kak. Hati-hati ya kak”


"Ok" Uno mengacungkan ibu jarinya. "Semoga kita masih dikasih kesempatan ketemu tapi dek" Uno tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Zantisya.


Zantisya terus melihat punggung Uno sampai lelaki itu menghilang. "Kenapa jantung ku berdebar sejak tadi" batin Zantisya tangannya menyentuh dimana letak detak jantungnya.


Bersambung...


Maaf baru update 🙏🙏🙏


Yang mengikuti cerita ini mohon tinggalkan jejak ya 🥰 kasih like dan komennya 💋


good night all...

__ADS_1


__ADS_2