HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 80 GARA-GARA KAREDOK


__ADS_3

Semenjak kepergok Arjuno, kini hubungan Resti dan Firman semakin dekat saja.


Jika saat awal Resti telah menjadi sekertaris Arjuno, membuat Firman jarang datang kekantor dan lebih fokus mengurus restoran yang berada dibawah tanggung jawabnya.


Kini Firman lebih sering kekantor demi menemui sang pujaan hati. Yang telah resmi merajut kisah lama yang belum usai.


"Adek yakin mau ikut?" tanya Arjuno sambil mengancingkan baju batiknya.


"Mas nggak mau ya aku ikutin?" Tuduh Zantisya kesal.


Memang semenjak kehamilannya menuju usia empat bulan. Zantisya lebih sensitive. Meski jarang sekali mengidam, meminta hal aneh-aneh tapi jangan salah kalau porsi makannya sangat-sangat banyak.


"Ya mau dong sayang."


"Udahlah aku nggak usah ikut aja. Mas pasti malu bawa aku yang makin gendut kaya gini" ucap Zantisya sambil mencoba melepaskan gaun dress batik yang senada dengan milik Arjuno.


Arjuno langsung menghampiri Zantisya yang sudah melepas lagi dress yang dikenakannya. Dengan cepat Arjuno menggendong Zantisya dan merebahkan tubuh mereka berdua diatas ranjang.


"Kalau begitu kita nggak perlu pergi" ucap Arjuno sambil mengunci pergerakan istrinya.


"Mau apa mas nggak jadi pergi?"


"Sepertinya lebih enak dirumah sambil memupuk dua bocah ini biar cepat besar dan semakin sehat" ucap Arjuno sambil membelai perut Zantisya yang jelas sudah nampak membuncit.


"Mas ini, mau ngiring pengantin loh mas."


"Jangan pernah berfikir aneh-aneh. Adek tahu betul kemanapun aku pergi. Akan lebih menyenangkan kalau ada adek di samping ku."


"Mas nggak malu. Badan ku mulai gemukkan."


"Adek gemuk juga karena ada hasil keringat ku disini” jelas Arjuno sambil membelai perut Zantisya lagi.


Arjuno mendekatkan wajahnya pada telinga zantisya. "I love you" Bisik Arjuno.


Mereka saling menatap satu sama lainnya. Ada mangsa yang sudah siap untuk dilahap. Maka mubazir jika dibiarkan begitu saja. Arjuno langsung mencecap bibir Zantisya, tangannya menyusup kepunggung Zantisya untuk melepaskan pengait yang mengamankan si kembar.


Arjuno langsung bermain dengan benda kembar setelah melepaskan pagutannya. Membuat Zantisya semakin terbuai dan merintihkan suaranya memanggil Arjuno.


Pelan tapi pasti, Arjuno mengabsen seluruh tubuh Zantisya tanpa celah. Tanpa rasa bosan walau sudah sering mereka lakukan.


"Mas..." panggil Zantisya saat mengiangat acara yang seharusnya mereka datangi.


"Kenapa sayang?"


"Kita harus mengiring pak Firman."


Arjuno tersenyum menatap Zantisya. Ia pun langsung beranjak dari atas tubuh Zantisya. "Ayo kita siap-siap."


.


.

__ADS_1


.


Mobil sudah mengiringi Firman menuju kerumah mempelai perempuan, Resti. Acara dilangsungkan di kediaman orang tua Resti di kampung halaman Resti. Dimana gadis itu dilahirkan. Kurang lebih empat jam perjalanan akhirnya iring-iringan sampai dimana acara akan di selenggarakan.


Sesampainya disana, prosesi acara dilangsungkan sesuai dengan susunan acara yang telah dibuat. Hingga sampai pada puncak acar dimana seluruh orang disana mengucap kata sah serentak, secara bersamaan.


Setelah susunan acara selesai seluruh tamu langsung dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang disediakan.


Karena Arjuno tidak ingin istrinya ikut berjejer mengambil makanan. Akhirnya Arjuno sendiri yang mengantri mengambil makanan untuk mereka berdua nikmati.


Dipiringnya yang Arjuno bawa, terdapat nasi, rendang, karedok, kering kentang, dan sop campur jadi satu. Arjuno dengan telaten menyuapi Zantisya. Seperti dunia milik mereka berdua sedangkan yang lain hanya numpang lewat karena sangking romantisnya mengalahkan mempelai pengantin.


"Mas yang ini enak."


"Iya dek. Karedoknya memang enak."


"Aku mau lagi mas."


"Hah!" Arjuno tercengang.


"Aku mau lagi mas." Pinta Zantisya manja.


Bagaimana mungkin Arjuno tidak tercengang. Masak iya, ia harus mengambil karedok lagi di meja perancisan. Kan malu.


Iya kalau mereka kepesta pernikahan yang diadakan digedung seperti biasanya, mau ambil berapa kali pun nggak masalah. Tapi sekarang kan beda.


"Kalau mas nggak mau ambilkan, aku ambil sendiri saja mas." Ucap Zantisya yang langsung berdiri.


"Biar aku saja dek yang ambil."


"Bu maaf, saya mau minta karedoknya lagi."


Ibu itu langsung tersenyum menatap Arjuno. "Oleh cah ganteng, wes ndang jipok seng okeh. (boleh anak ganteng, cepat ambil yang banyak)" ucap sang ibu sambil membuka tempat yang berisi karedok.


Arjuno dengan cepat mengambil sebanyak mungkin karena merasa geli sendiri dengan si ibu yang terus menatapnya.


"Wes ndue gendakan urong le? (Sudah punya pacar belum nak?)" tanya si ibu kepo.


"Saya sudah punya istri bu."


"Ealah. Wes ndue bojo. Padahal aku due anak gadis ayu lo le. (oh. Sudah punya istri. Padahal aku punya anak gadis cantik lo nak)" ucap si ibu sambil mengacungkan dua jempolnya.


Arjuno hanya tersenyum saja. "Saya permisi bu. Terimakasih" Arjuno langsung berlalu begitu saja.


"Lama banget sih mas. Ngobrol apa sama ibu tadi?" tanya Zantisya menyelidiki.


Semakin hari semakin curigaan terus Zantisya kini. Mungkin efek hamil jadi perasaannya suka berubah-ubah.


"Nggak ngomongin hal penting sayang" ucap Arjuno malas menceritakan. Ia langsung menyodorkan sendok berisi karedok ke mulut Zantisya. "Aaa..."


"Kok nggak ada nasinya mas."

__ADS_1


"Adek mau nasi juga?" tanya Arjuno pelan.


Zantisya langsung mengangguk cepat membuat Arjuno menepuk jidatnya. "Kenapa nggak bilang sejak awal sayang."


"Sini biar aku ambil sendiri mas." Ucap Zantisya sambil mengambil piring di tangan Arjuno.


"Biar aku aja dek."


"Mas mau ketemu sama ibu-ibu tadi" tuduh Zantisya kesal.


"Astagfirullah..." Arjuno mengusap wajahnya.


Tidak habis pikir dengan Zantisya yang kini tengah cemburu.


Arjuno mengikuti Zantisya melangkah menuju kearah prancisan untuk mengambil nasi. Tanpa Zantisya ketahui kalau Arjuno membuntutinya.


"Ibu, saya boleh minta nasinya lagi."


"Monggo dek."


"Loh arek ganteng balek rene maneh? (Loh anak ganteng kembali kesini lagi?)" tanya si ibu tadi.


Zantisya spontan melihat kebelakang dimana Arjuno berdiri. "Mas ngapain ngikutin aku?"


Arjuno menggenggam erat pundak Zantisya karena sangking gemasnya. Memilih mengabaikan pertannyaan Zantisya dan menatap si ibu.


"Iya bu, saya tadi lupa nggak ambilin nasi sekalian untuk istri saya."


"Owalah tenanan wes due bojo to? (Owalah beneran sudah punya istri?)"


"Iya bu, ini lagi ngidam karedok." Ucap Arjuno sengaja memberitahu kehamilan sang istri.


"Permisi bu" ucap Zantisya. Ia langsung melangkah menuju tempatnya duduk tadi sedang Arjuno terus membuntuti istrinya.


"Mau aku suapi sayang." Tawar Arjuno.


"Nggak usah mas, aku bisa makan sendiri."


Sedangkan Nuri dan Rudi nampak tertawa melihat adegan keduanya sejak tadi. Bisa-bisanya drama bosnya menjadi hiburan gratis untuk keduanya.


"Kalian kapan nikah?" tanya Arjuno membuat keduanya berhenti cekikikan.


"Beraninya mereka menertawakan ku. Lihat nanti pembalasan ku." Batin Arjuno kesal menatap Rudi dan Nuri bergantian.


"Tunggu saatnya bos" jawab Rudi santai.


"Yang benar saja. Bisa-bisanya kalian kalah di tikung Resti sama Firman."


Jleb


Ucapan Arjuno tepat langsung menusuk keduanya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2