
Arjuno menggapai ponsel Zantisya diatas meja didekat ranjang yang tak berbentuk lagi, akibat ulah keduanya tadi. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya kesamping. Membawa Zantisya masuk dalam dekapannya.
Jarinya langsung bergerak menghidupkan layar ponsel dalam genggamannya. Membuka CCTV kamar utama yang sudah tersambung dengan ponsel Zantisya. Tentunya untuk melihat Al.
"Mereka masih nyenyak dek." Ucap Arjuno memberi tahu. Ia langsung meletakkan kembali ponsel istrinya diatas meja.
Zantisya hanya menggumam saja. Ia masih ingin bermanja-manja pada suaminya. Waktu maling-malingan seperti ini tidak setiap saat terjadi. Maka dari itu ia harus memanfaatkan semaksimal mungkin.
.
.
.
Sejak tadi bi Siti mencari keberadaan Yanti. Bukan karena bi Siti memerlukan bantuannya. Itu karena bi Siti tidak melihat keberadaan Yanti di dalam kamarnya.
Padahal sepengetahuan bi Siti, kalau jam segini Al waktunya tidur. Zantisya juga sudah pasti istirahat. Apalagi hari ini Arjuno tidak pergi ke kantor.
"Yanti ngapain kamu disitu?" Tanya bi Siti saat melihat Yanti menuruni tangga.
Jelas bi Siti terkejut melihat Yanti yang sudah pasti dari lantai Atas. Apalagi tadi bi Siti juga melihat Arjuno yang sudah keatas setelah keluar dari ruang kerjanya.
"Eh bi. A... aku hanya ingin lihat Adik Al." Jawab Yanti gelagapan.
Bi Siti langsung menarik tangan Yanti. Membawa gadis itu menuju kamarnya.
"Bibi kan sudah kasih tahu kamu Yan. Kalau mas Uno ada di rumah jangan sembarangan keatas kalau bukan karena mbak Tisya atau mas Uno sendiri yang meminta tolong. Lagi pula jam segini itu waktunya Al istirahat." Bi Siti memperingati lagi. Ia tidak ingin privasi majikan mereka terganggu karena ulah Yanti yang semberono.
"Maaf bi." Ucap Yanti pelan.
"Kamu harus jaga sikap Yanti. Jangan mencari masalah, apalagi samai mengganggu rumah tangga mas Uno dan mbak Tisya. Mereka sudah banyak membantu keluarga kita. Jangan sampek bibi menyesal sudah membawa kamu masuk ke rumah ini. Membantu kamu mencarikan pekerjaan."
Yanti menatap bi Siti tak terbaca. Entah apa isi kepala Yanti saat ini. "Iya bi."
Wajar kalau bi Siti memarahi Yanti. Karena ia sudah beberapa kali melihat gelagat Yanti yang seolah sedang mencari perhatian Arjuno. sampai membuat Arjuno sendiri risih didalam rumahnya sendiri.
Bi Siti juga seperti tidak menyangka jika Yanti akan bersikap seperti itu. Megiangat bagaimana anak itu menyayangi keluarganya. Dan sangat ramah pada tetangga sekitar rumah mereka. Anak yang santun dan suka bercanda.
__ADS_1
Yanti langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang setelah bi Siti keluar dari kamarnya. Ia membayangkan lagi bagaimana tadi Arjuno saat membawa Zantisya berpindah kamar sambil bercecap mesra.
Tubuhnya semakin bergejolak saat mengiat lagi bagaimana suara peraduan kedua majikannya tadi. Membuat Yanti merasa merinding sendiri. karena membayangkan jika ia lah yang sedang berada dibawah kendali Arjuno.
Jika melakukan hal seperti itu bersama mantan kekasihnya adalah hal biasa. Lelaki yang berumur seusianya dengan pengalaman yang amatiran. Bagaimana jika ia melakukan dengan lelaki dewasa yang jelas berpengalaman. Pasti akan sangat menantang sekali. Membayangkan bagaimana tangannya menjelajahi tubuh gagah Arjuno. Sedangkan Arjuno yang terus mencu*mbui tubuhnya tanpa celah.
"Gimana ya Rasanya." Gumam Yanti dengan otak yang sudah menjalar kemana-mana. Tubuhnya terasa panas mengingat bagaimana suara Zantisya yang terus merintih tiada henti.
.
.
.
"Kamu cantik dek." Ucap Arjuno. tangannya membelai wajah Zantisya. Tatapan mereka masih berpadu, menyelami seberapa banyak rasa yang sudah tidak mungkin diketahui jumlahnya.
"Padahal kita sudah punya anak lo mas. Tapi gombalan mas tetep aja buat aku deg-degan. Masih sama seperti dulu. Bikin detak jantung aku nggak beraturan."
"Masa sih." Arjuno tersenyum. Tangannya meraba area dimana letak jantung. Ingin merasakan seberapa cepatnya detak jantung Zantisya saat ini.
Bukannya merasakan seberapa cepat detak jantung Zantisya. Tapi tangan Arjuno malah membelai salah satu pucuknya si kembar. Memang sulit di mengerti cara Arjuno memang.
"Sejak dulu aku selalu bertanya-tanya kenapa aku bisa jatuh cinta sama adek. Tapi aku tidak menemukan jawaban dan alasan walau satu kata pun. Tapi sekarang aku tahu jawabannya dek."
"Apa mas?" Tanya Zantisya penasaran.
"Karena adek memang ditakdirkan buat aku. Jadi istri aku."
Zantisya sepontan memukul dada Arjuno pelan. Ia sudah mengira-ngira akan mendengarkan jawaban penuh rayuan dan gombalan yang biasa di lakukan Arjuno.
"Aku pikir mas akan bilang karena aku cantik, seksi, baik, tidak sombong, ramah lingkungan, rajin menabung."
Arjuno tentu tertawa mendengarkan sederat kata yang di ungkapkan Zantisya. "Cinta nggak butuh alasan dek. Kita bersama seperti ini, karena memang kita sama-sama ingin bersama." Terang Arjuno sambil membelai wajah Zantisya.
"Tapi biasanyakan juga orang jatuh cinta karena orang itu cantik atau ganteng, menawan, baik dan masih banyak lagi mas."
"Itu lebih tepatnnya kriterian dek. Wajar orang jatuh cinta karena standar kriterianya."
__ADS_1
"Wah sekarang aku jadi tahu kenapa aku ditakdirkan jadi istri mas." Ucap Zantisya dengan wajah seriusnya.
"Kenapa?" Tanya Arjuno singkat. Namun jelas terlihat wajah lelaki Zantisya ini sangat antusias menunggu jawabannya.
"Karena mas akan memberikan semua yang aku mau." Zantisya langsung tertawa melihat ekspresi Arjuno yang terkejut.
"Adek ngerjain aku ya?" tanya Arjuno sambil menggelitki Zantisya.
Zantisya tertawa terbahak-bahak mencoba melepaskan diri dari serangan tangan Arjuno. "Ampun mas ahahaha..."
"Apapun akan aku lakuan. Asal adek senang, bahagia bersama aku. Nyaman dan tenang disisih aku."
"Al?"
"Al itu bonus yang kita dapatkan. Sebuah anugerah dek. Maka kita harus bertanggung jawab untuk menjaga anugrah yang sudah kita terima." Arjuno membelai pucuk kepala Zantisya. "Aku selalu berdoa agar kita selalu sehat, panjang umur. Memberikan cinta kasih kita pada Al secara utuh. Agar mereka tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang kita. Aku tidak ingin mereka merasakan apa yang pernah kita rasakan."
Arjuno dan Zantisya sama-sama saling mengusap air mata yang menggenang tiba-tiba dari pelupuk mata mereka.
"Kok kita jadi sedih-sedihan gini sih dek."
Zantisya langsung bertindak. Mencecap lembut bi*bir Arjuno. lelaki yang selalu menanam rindu setia detiknya. Memberikan kehidupan yang membuatnya bingung cara mengungkapkan rasa terimakasihnya. Ia hanya bisa memberikan dirinya dan perasaanya secara utuh. Dan tidak akan mencintai siapapun selain lelaki yang ada dibawah kendalinya kini.
"Aku cinta mas. Sangat." Ucap Zantisya setelah melepaskan bi*bir Arjuno. "Bahkan hanya kata itu yang bisa mewakili perasaan ku ke mas. Mas adalah lelaki yang menyangi aku dengan penuh rasa cinta. Dulu aku pikir aku tidak akan menemukan lelaki yang akan menjaga aku setelah bapak tiada. Terimakasih ya mas."
Arjuno langsung menarik tengkuk Zantisya. berperang saliva itulah tujuannya saat ini. Menjelajahi tubuh yang kini bergerak mengendalikannya.
"Kita harus pindah sekarang dek." Ucap Arjuno setelah mereka saling melepaskan.
"Nanggung mas ih." Pekik Zantisya saat Arjuno menurunkan tubuhnya dari atas Arjuno. padahalkan tadi mereka sudah mulai bersatu lagi.
"Kita main sekalian mandi. Keburu Al bangun." Ucap Arjuno mengingatkan. Ia langsung menggunakan celananya. Lalu membungkus tubuh Zantisya dengan selimut. Dan membawanya pindah ke Kamar utama.
Bersambung...
Tolong jangan ada yang komen lanjut-lanjut lagi ya🙄 bikin aku bingung memaknai kata lanjut🤕 bahaya kalau aku mulai nakal lagi😒 sekarang aku sudah mulai solehah lagi🧕
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1