
Malam ini Bima pulang dengan keadaan yang sangat berantakan. Meskipun tidak sepenuhnya mabuk karena pengaruh alcohol, namun bau minuman keras itu sangat menyengat dari tubuhnya. Bima melangkah gontai menaiki anak tangga. Dengan sangat hati-hati ia melangkahkan kakinya sambil berpegangan pagar tangga.
Bima langsung membuka pintu dan segera menutup pintu kala ia sudah memasuki kamarnya. Melihat Zantisya yang sudah terlihat nyenyak dalam tidurnya. Karena memang saat itu sudah larut malam. Bima melangkah mendekati Zantisya lalu duduk jongkok tepat di hadapan Zantisya.
Bima menatap wajah ayu istrinya yang terbuai mimpi. Ia membelai seluruh wajah Zantisya. Bima yang akhir-akhir ini tidak mendapatkan kepuasan raga dari Evita, karena Evita merasa tidak nyaman untuk bercinta. Akhirnya sekelebet pikiran Bima ingin memiliki Zantisya pun memenuhi kepalanya.
"Cantik” gumam Bima. Ia langsung menindih tubuh Zantisya dan langsung menciumnya secara kasar dan menuntut.
Zantisya tentu saja terusik dengan beban berat diatas tubuhnya. Dan betapa kagetnya Zantisya saat seketika nyawanya menyatu dengan raga dan menyadarkan dirinya bahwa ia sedang mendapatkan perlakuan yang tidak-tidak dari suaminya.
"Hemmm… hemmm…" Zantisya ingin menjerit namun tidak bisa karena Bima melahap Bibirnya dengan menuntut. Zantisya terus memukul Bima dan bergerak semampunya untuk menjauhkan dirinya dari Bima.
Bima yang merasakan perlawanan dari Zantisya, langsung bangun dan mengangkat tubuh mungil istrinya menuju ranjangnya.
"Kak, istighfar kak. Ini salah, kita nggak boleh melakukan hal ini" ucap Zantisya dengan sura bergetar.
Bima menarik jilbab instan yang digunakan Zantisya. Ia juga melepaskan ikatan rambut Zantisya sehingga rambut panjang dan sedikit bergelombang itu terurai indah.
Bruk
Bima melempar Zantisya dengan sangat kasar.
"Awww…" pekik Zantisya kesakitan. Zantisya melihat Bima sedang melepaskan kemejanya dengan sangat cepat, dan dengan cepat pula Zantisya turun dari ranjang, Berlari menuju pintu.
Bima yang tahu Zantisya akan melarikan diri, dengan cepat ia menangkap tubuh mungil istrinya membawanya ke atas ranjang dan langsung mengungkung istrinya.
"Kak, ini salah. Perjanjian kita nggak kaya gini" Bima yang mendengar penolakan dari istrinya terus menerus pun langsung menangkup bibir Zantisya dengan sangat kasar. Jelas Zantisya tidak akan pernah membalas permainan lelaki yang selalu menyakiti batinnya itu. Zantisya terus memberontak tiada henti seolah tenaganya tak akan pernah habis.
__ADS_1
Bima menggigit bibir Zantisya hingga terluka dan berdarah membuat wanita mungil itu kesakitan sehingga mulutnya terbuka memberi akses untuk Bima.
"Jangan menolak ku, karena kamu sah dan halal untukku" sarkas Bima mengingatkan status Zantisya.
"Kakak mengingatkan aku soal status tapi kakak sendiri tidak pernah berlaku baik pada ku. Demi Allah aku nggak akan ikhlas dengan semua ini" alas Zantisya sinis.
Bima menarik baju yang digunakan Zantisya hingga robek dan memperlihatkan kulit halus dan putih bersih. Zantisya terus memberontak dan melawan perlakuan bima yang tengah mengabsen seluruh tubuhnya.
Bima menampar pipi Zantisya kiri dan kanan dengan sangat keras membuat pipinya memerah dan kedua sudut bibirnya berdarah. "Aku tidak suka perempuan pembangkang"
Zantisya menahan seluruh rasa sakitnya dan demi menyelamatkan dirinya sendiri. "Kalau kakak tidak menyukai perempuan sepertiku maka jangan sentuh aku sedikit pun karena aku sangat membencinya" meski suaranya bergetar takut tapi Zantisya harus bisa bertahan kokoh.
"Aku akan menjadi janda kak, maka biarkan aku tetap memiliki kehormatan ku sebagai hal yang sangat berharga saat orang lain memandang miring terhadapku karena kakak ceraikan" ucap Zantisya lembut saat melihat Bima mulai sadar dan merenggangkan tubuhnya yang menindih Zantisya.
Bima bangkit dan langsung turun dari ranjang. Zantisya yang mengira sudah terlepas dari Bima pun Langsung bangkit turun dari ranjang dan mengambil selimut untuk menutupi tubuh atasnya yang hampir telanjang.
"Kakak" teriak Zantisya.
Bima menarik tubuh Zantisya lalu dengan sangat kasarnya menghempaskan tubuh itu ke dinding. Jelas perlakuan kasar itu meremukkan seluruh tubuh Zantisya. Kepala Zantisya mulai pusing karena benturan yang ia dapatkan.
Bima langsung melucuti pakaian atas Zantisya dan dengan kasarnya mengabsen seluruh tubuh itu menggunakan mulut dan tangannya sudah liar kemana-mana.
Zantisya memberontak, Ia tidak ingin kehilangan akal untuk melawan. Saat Bima mengecupi lehernya dengan sangat kasar Zantisya menggigit pundak Bima hingga berdarah.
"Awww…" pekik Bima yang langsung menampar pipi Zantisya lalu Mendorong Zantisya hingga tubuhnya terhuyung dan kepalanya membentur meja dengan sangat keras sehingga darah mengalir dari sana.
Bima yang kesal menarik kaki Zantisya dengan kasar hingga kepalanya membentur lantai. Bima yang masih ingin memiliki Zantisya langsung menindih tubuh yang sudah mulai lemah itu. Bima menjamah istrinya dengan sangat kasar.
__ADS_1
"Jangan kak" lirih Zantisya.
Zantisya sepenuhnya sadar jika ini wajar, ini sah karena memang ia halal untuk Bima. Namun perlakuan Bima yang sama sekali tidak menghargainya membuat Zantisya membatasi diri untuk tidak akan jatuh ke pelukan lelaki seperti Bima Sanjaya. Apalagi saat ini Bima menginginkannya dengan paksa. Bukankah itu sama saja ia akan diperkosa. Zantisya juga masih yakin kalau saat ini Bima masih dalam pengaruh alcohol.
Bima yang sudah ingin melakukan penyatuan masih sempat memikirkan tempat yang nyaman. Bima mengangkat tubuh lemah Zantisya menuju Ranjang.
"Ya Allah tolong bantu aku" batin Zantisya. Sedangkan tangan Zantisya sudah menggenggam gunting yang terjangkau dari tangannya saat Bima mengangkat tubuh mungilnya.
Bruk
Bima membanting tubuh Zantisya lagi dan tidak memperhatikan apa yang ada di tangan perempuan itu. Bima langsung mencumbui tubuhnya. Sedangkan di kedua sudut mata Zantisya sudah mengalir mata. Ia memejamkan matanya.
"Maafkan aku kak" lirih Zantisya yang terdengar Bima. Namun Bima abai akan ucapan Zantisya. "Aku tanggung dosa ku namun aku mohon Tuhan jangan jadikan aku pembunuh" batin Zantisya.
"Awww…" Pekik Bima saat merasakan benda tajam menancap di punggungnya. Zantisya langsung Bangun saat Bima turun dari ranjang.
Dengan sangat cepat Zantisya mengambil salah satu baju kurung dan jilbab yang bisa ia gunakan dengan sangat mudah. Jangan lupakan perut palsu yang harus ia gunakan yang tadi sempat di lepas Bima. Sepertinya Zantisya sudah terbiasa dengan sandiwaranya sehingga tidak melewatkan hal itu disaat genting seperti ini.
Kamu mau bunuh aku hah" bentak Bima saat sudah berhasil mencabut gunting yang menancap di punggungnya. Darah segar terus mengalir dan punggung Bima.
"Maafkan aku kak" lirih Zantisya lemah. Wajahnya sudah babak belur karena perlakuan Bima tadi dan bibirnya membengkak dan terasa perih. Belum lagi seluruh tubuhnya yang terasa remuk.
Zantisya mengambil kain dan langsung menutupi luka tusukannya. "Ayo kak kita ke rumah sakit" ajak Zantisya lemah.
Bima yang merasa membutuhkan pengobatan ekstra langsung menurut saja ajakan Zantisya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰