
Hanya dalam waktu dua minggu saja surat cerai resmi dari pengadilan agama sudah berada ditangan Zantisya. Ia pergi meninggalkan rumah Laras setelah kejadian di mall. Tanpa membawa barang apapun kecuali pakaian yang memang miliknya saat sebelum pernikahan.
Laras sudah mencoba memberi apa yang telah menjadi hak Zantisya, Namun semuanya Zantisya kembalikan beberapa saat lalu. Tapi karena Zantisya tidak memiliki selembar uang untuknya pergi meninggalkan tempat tinggalnya. Ia mengambil beberapa lembar uang setidaknya untuknya bertahan dalam satu atau dua bulan ke depan.
Setelah Laras menerima semua barang yang telah Zantisya kembalikan ia juga langsung menuju ke rumah gadis itu. Namun sayangnya, rumah Zantisya sudah kosong dan menurut penuturan tetangga Zantisya pergi sejak waktu subuh.
Zantisya sendiri memilih pergi kesebuah kota. Meskipun hanya di tempuh beberapa jam dari rumah tempatnya tinggal namun setidaknya untuk saat ini ia jauh dari tempat yang seharusnya bisa ia lupakan segala kenangan pahit dan manisnya.
Laras memilih pulang karena tidak menemukan seseorang yang ia cari. Saat Laras baru memasuki rumah dan akan langsung menuju kamarnya langkahnya langsung terhenti.
"Ma… Bima akan menikahi Evita saat setelah Evita melahirkan anak kami"
"Terserah kamu" jawab Laras Acuh.
"Bima harap mama bisa menerima Evita dan anak kami nantinya"
Laras membalikkan tubuhnya menata anak lelakinya itu. "Semoga mama panjang umur hingga bisa menerima kehadirannya"
Bima jelas kesal. Saat ini Evita tengah mengandung anaknya, cucu mamanya dan calon penerus keluarga Sanjaya. "Mama masih membela perempuan murahan itu?"
"Zantisya buka perempuan seperti tuduhan mu Bima"
"Halah, perempuan miskin yang mau di jodohkan dengan anak orang tunggal kaya raya sudah pasti dia perempuan murahan. Dimatanya pasti hanya uang yang terlihat. Pelet apa sih yang diberikan perempuan itu sehingga mama lebih menyayangi dia dari pada aku kini"
"Tuduhan mu salah Bima, Dia bukan orang yang mendekati mama agar bisa menikah dengan mu. Dia gadis yang mama tolong dengan sebuah persyaratan"
"Halah udahlah ma jangan tutupi…"
"Dengarkan mama bicara, Mama menemukannya menangis di rumah sakit karena membutuhkan uang untuk biaya pengobatan bapaknya. Mama menolongnya dan apa yang menjadi kesulitannya mama bantu asal dia mau menikah dengan anak mama yang cinta buta pada perempuan matre yang selalu menghamburkan uang anak mama Bima"
"Ma…" bentak Bima nggak terima mamanya mengatai Evita seperti itu. Berani sekali Bima.
"Pikirkan jika kamu menjadi Tisya mungkin kamu akan melalukan hal yang sama demi orang tuamu"
"Tapi sayangnya Bima tidak akan pernah menjadi seperti dia ma" Sombong Bima angkuh.
"Benar, kamu tidak akan pernah menjadi Tisya dan bernasib sama Hanya karena kamu anak mama dan suami mama. Jangan pernah lupakan bahwa kamu bukan siapa-siapa dan tidak akan menjadi apa-apa tanpa kami Bima" Laras menjeda ucapannya dan mengatur nafasnya yang tersulut emosi.
"Dengarkan ini Bima Sanjaya, perempuan baik-baik tidak akan pernah mau berhubungan dengan suami orang apalagi sampai berhubungan sejauh itu hingga hamil. Jika itu terjadi maka nilai lah sendiri siapa yang murahan sebenarnya" setelah mengatakan hal itu Laras langsung meninggalkan Bima.
__ADS_1
.
.
.
Setelah mendapatkan kamar kost yang cocok untuk ia tinggali. Zantisya langsung membersihkan sepetak ruangan yang didalamnya tersedia kasur singel, lemari pakaian kecil, meja serta kursi dan kamar mandi. Setelah membereskan pakaian Zantisya langsung membersihkan diri kemudian ia juga ingin segera istirahat.
Malam hari setelah waktu magrib, Zantisya keluar dari kamarnya berniat ingin membeli makan karena sejak tadi siang ia belum mengisi perutnya yang sudah meronta butuh asupan.
"Anak baru ya?" tanya seorang gadis yang terlihat baru pulang kerja.
"Iya mbak" Zantisya tersenyum ramah.
"Nuri" Gadis didepan Zantisya itu memperkenalkan diri.
"Zantisya" ucapnya sambil membalas jabatan tangan Nuri.
"Mau kemana?" Nuri memperhatikan penampilan Zantisya yang berpakaian kurung serta membawa tas kecil.
"Mau keluar sebentar mbak"
Zantisya tersenyum ramah sambil mengangguk. "Iya"
"Makan sama aku aja yuk" ajak Nuri sambil mengangkat plastik dalam jinjingannya.
"Nggak usah mbak, biar saya beli sendiri" tolak Zantisya sopan.
"Nggak baik nolak rezeki" ucap Nuri sambil menarik tangan Zantisya.
Mereka duduk di ruang makan yang memang dikhususkan untuk anak kost. Nuri meletakkan bungkusan makanan di atas meja. "Aku ke kamar dulu sebentar kamu tunggu dulu ya" ucap Nuri santai seolah mereka sudah kenal lama.
Tak lama kemudian Nuri keluar dengan pakaian santai, lalu mengambil dua piring dan dua sendok dan beberapa mangkuk untuk menuang lauk dan sayuran.
Zantisya membantu menata makanan mereka. "Maaf ya mbak saya jadi ngerepotin mbak"
"Apaan sih, Nggak ngerepotin sama sekali kok. Ini itu makanan dari restoran tempat aku kerja. Jadi ini makanan gratis buat kita. Nggak usah terlalu formal sama aku. Oh iya umur kamu berapa Zan?"
"19 tahun mbak"
__ADS_1
"masih muda ya. Kalau aku sudah 24 tahun. Kamu Kuliah disini?" Tanya Nuri. Kost yang mereka tempati memang kost khusus perempuan yang banyak ditempati para mahasiswi dan juga karyawan.
Zantisya menggelengkan kepalanya. "Niatnya mau cari kerja"
"Mau cari kerja kaya gimana?"
"Apa aja mbak yang penting bisa dapat uang dan halal"
"Eh kita makan dulu habis ini baru kita lanjut ngobrol lagi"
Tak lama setelah makan Nuri mengajak Zantisya ngobrol didalam kamarnya. "Jadi kamu mau kerja apa aja Zan?" Tanya Nuri dan diangguki dengan kepala Zantisya. "Di restoran tempat aku kerja lagi butuh pekerja tapi bagian cuci piring. Kalau kamu mau besok pagi ikut sekalian berangkat dengan ku, cuma aku nggak yakin diterima karena pak Rudi biasanya cari pekerja laki-laki untuk bagian itu"
"Aku mau mbak" jawab Zantisya cepat.
"Kamu yakin. Ini bagian cuci piring lo" ucap Nuri ragu.
"Yakin mbak. Memangnya kenapa mbak?"
"Kamu kan cantik masih muda masak kerjanya cuci piring"
"Aku nggak apa-apa mbak, yang penting aku cepat dapat kerjaan"
Keesokan paginya Zantisya mengikuti Nuri menuju tempat kerjanya, Arko Restoran. Setelah bertemu dengan manager Arko Restoran di hari itu juga Zantisya mulai bekerja. Ia sungguh sangat bersyukur karena jalannya mencari pekerjaan sangat dipermudah.
Padahal Zantisya sudah membayangkan akan bersusah payah mencari kerja dengan statusnya yang hanya lulus SMA dan tidak memiliki pengalaman kerja.
Awalnya Manager restauran itu ragu jika Zantisya mau bekerja di bagian cuci piring. Namun karena Zantisya yakin bisa bekerja dengan baik akhirnya ia diterima.
Dan Sangat bersyukur lagi karena ia juga tidak perlu banyak mengeluarkan biaya untuk makan. Karena bekerja disana pun memperbolehkan makan kapan pun saat lapar dan selalu membawa makanan ketika pulang kerja.
Entah orang sekaya dan sebaik apa pemilik Arko Restoran itu. Itulah yang di pikir Zantisya. Belum lagi para karyawan disini sangat baik dan saling menghormati. Tidak ada yang memandang rendah bagian pekerjaan Zantisya.
Sudah beberapa bulan zantisya bekerja di restoran itu. Malam itu Zantisya yang sudah ingin keluar dari restoran tiba-tiba matanya melihat Arjuno yang sedang berjalan, akan memasuki restoran tempatnya bekerja. Zantisya melihat Arjuno berjalan sambil mengobrol dengan perempuan cantik yang ada di sampingnya itu. Begitu Nampak akrab dan serasi menurut Zantisya. Ia langsung sembunyi agar tidak saling bertemu dengar Arjuno.
"Alhamdulillah, Semoga mas bahagia. Aku akan terus doakan mas" Batin Zantisya. Tapi entah mengapa nafasnya terasa menyesakkan.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋
__ADS_1