HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 47 TOILET


__ADS_3

Bima menatap intens Zantisya dari atas hingga bawah. Betapa cantiknya kini mantan istrinya itu. Apalagi kini tubuh mungilnya terlihat lebih berisi. Dan pipinya yang lebih terlihat tembem menggemaskan.


Tangannya terulur ingin sekali membelai wajah mantan istrinya itu. Namun Zantisya terus menodongkan pisaunya dan terus melindungi diri dari Bima.


Zantisya sejujurnya takut, apa lagi kini tatapan Bima seolah minat terhadapnya. "Mas Arjun tolong aku" batin Zantisya yang sejak tadi ingin berteriak memanggil suaminya.


"Minggir" Bentak Zantisya.


"Aku akan minggir Tisya, tapi ada syaratnya?" Bima tersenyum sinis saat Zantisya menatapnya seolah bertanya apa syarat yang harus ia penuhi.


"Lakukan apa yang pernah kamu lakukan dibelakang ku saat kalian berada di pantai"


"Maksudmu?"


"Ciuman"


Begitu terkejutnya Zantisya atas permintaan gila yang dimau Bima darinya. Membuat Zantisya menatap penuh benci.


"Mudah bukan?" tanya Bima berharap.


"Akan lebih baik aku mati dari pada harus anda sentuh" Zantisya tersenyum mengejek.


"Apa sulitnya Zantisya Kemala?" Bima menjeda ucapannya. "Dulu kamu mau disentuh orang yang bukan suami mu lalu kenapa tidak dengan ku, Apa bedanya?"


"Jelas berbeda Tuan Bima, bahkan sangat tebal perbedaannya. Hingga anda tidak pantas di bandingkan dengan suami saya yang sangat baik dalam segala hal"


.


.


.


Ruang pesta semakin lama semakin ramai tamu undangan. Arjuno dan Rudi terus berbincang sambil menunggu pasangan mereka masing-masing.


"Alhamdulillah akhirnya ketemu juga" ucap Nuri yang langsung gabung duduk bersama dengan Arjuno dan Rudi.


Arjuno celingukan mencari istrinya. "Istriku mana Nuri?"


"Kok tanya sama saya sih pak?"


"Loh kalian nggak ketemu di toilet?" Arjuno mulai panik.


Nuri menggelengkan kepalanya. "Tadi saya Cuma ke toilet sebentar pak jadi nggak ketemu Zan"


Arjuno langsung berdiri karena panik. Entah kenapa tiba-tiba perasaannya jadi nggak enak sendiri.


"Kemana bos" tanya Rudi mencekal tangan Arjuno.


"Aku cari Kemala dulu"


Rudi dan Nuri yang melihat wajah panik Arjuno langsung mengikuti langkah bos mereka itu.


.

__ADS_1


.


.


"Dasar perempuan murahan" pekik Evita kala ia memasuki toilet dan melihat Bima terus mencoba menyentuh Zantisya. Tapi sejak tadi juga Zantisya melindungi dirinya dengan pisau yang ia todongkan.


Bima spontan mundur setelah mendengar pekikan Istrinya. Dan meski banyak kebencian di wajah evita saat melihat Zantisya, tapi sepertinya Zantisya sangat bersyukur atas kedatangan istri Bima itu.


"Masih mau nyoba godain suami aku hah?" pekik Evita menarik Zantisya keluar toilet dan didorongnya tubuh Zantisya hingga tersungkur ke lantai.


"Awww..." pekik Zantisya kesakitan.


"Dek...'" Arjuno langsung lari saat melihat istrinya tersungkur. Lelaki itu langsung membantu Zantisya berdiri. "Mana yang sakit sayang?" Tanya Arjuno khawatir.


Adegan itu disaksikan oleh Bima dan Evita. Jika Bima merasa cemburu, berbeda lagi dengan Evita yang sudah lama tidak mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari Bima. Rasa iri tiba-tiba hadir di hati Evita.


"Lelaki mana lagi yang bernasib sial karena terperangkap godaan mu Zantisya"


Arjuno langsung berbalik melihat Evita. Siapa juga yang terima mendengar istrinya dihina seperti itu.


"Tolong jaga ucapan anda" saat itu juga mata Arjuno mendapati Bima yang menampilkan wujudnya di belakang Evita. "Kamu" geram Arjuno menatap nyalang Bima.


Bima tersenyum mengejek, berusaha menyulut emosi yang nampak jelas di wajah Arjuno.


"Terimakasih, telah meminjamkan istrimu" Bima berharap ucapannya mampu memporak-porandakan hati Arjuno.


Arjuno langsung melihat Zantisya yang ada dibelakangnya. Menatap istrinya yang nampak jelas bergetar tubuhnya dengan tangan yang menggenggam erat pisau yang ia berikan pada istrinya itu.


Arjuno tersenyum menatap Zantisya, tangannya mengusap wajah Zantisya menyalurkan ketenangan untuk istrinya. "Nuri..."


Nuri yang paham pun langsung menarik Zantisya berdiri kearahnya bersama Rudi, Nuri memeluk Zantisya agar istri bosnya itu tenang.


Arjuno kembali melihat kearah Evita dan Bima. Pasangan yang sangat membuatnya muak.


"Mari kita luruskan nyonya Bima Sanjaya" ucapan Arjuno sangat pelan namun entah kenapa terdengar dingin dan mengejek.


"Perempuan itu menggoda suami ku" ucap Evita tak pakai pikiran.


Arjuno mengangguk dan tersenyum sinis menatap keduanya. "Istri ku menggoda suami mu nyonya?" Arjuno tersenyum mengeringkan menurut Evita.


"Buka mata lebar-lebar dan bacalah tulisan itu" tunjuk Arjuno pada tulisan toilet khusus perempuan.


Spontan Evita langsung melihat Bima. Tapi Bima seolah Acuh dengan ekspresi kecurigaan istrinya itu.


"Tolong bercermin dulu sebelum menghina dan menuduh orang nyonya" Arjuno tersenyum seolah merendahkan pasangan didepannya itu. "Kalau begitu kami permisi"


Arjuno langsung membawa istrinya pulang meninggalkan acara pesta yang masih sangat meriah itu.


Sesampainya dirumah mereka langsung menuju kamar mereka dan bergantian menggunakan kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Sini" ucap Arjuno sambil menepuk pahanya. Sejak tadi ia menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.


Zantisya langsung menurut dan duduk dipangkuan suaminya. "Mas percaya kan sama aku. Seujung kulit ku pun gak disentuh dia mas. Mas percayakan?"

__ADS_1


Arjuno membelai wajah Zantisya. "Kenapa kamu kelihatan takut dek?"


"Aku takut mas salah paham" lirih Zantisya menatap kedua mata Arjuno.


"Kita sudah sepakat untuk saling terbuka dek" ucap Arjuno sambil menarik tali bathrobe yang membelit tubuh istrinya.


"Maka aku akan lebih percaya dengan ucapan istriku sendiri" tambah Arjuno sambil melepas penutup tubuh istrinya secara perlahan namun pasti.


Zantisya sepertinya selalu terhipnotis dengan pesona suaminya hingga tidak menyadari apa yang dilakukan Arjuno padanya. Tangannya sudah aktif bekerja memancing menggugah hasrat istrinya.


"Mas..." akhirnya suara berat yang merdu Zantisya keluar juga saat tangan dan mulut Arjuno bermain di mana-mana.


Arjuno tersenyum menatap mata istrinya yang berkabut. Merebahkan tubuh istrinya yang sudah tak tertutup benang. Tangan Arjuno mengambil setangkai bunga tulip yang memang setiap hari Zantisya pajang didalam kamar mereka.


Zantisya memejamkan matanya kala kelopak bunga tulip membelai wajahnya. Mulai dari kening, turun ke hidung, lalu bibir yang menjadi puncak hipnotis untuk Arjuno.


Arjuno menggerakkan kelopak bunga tulip membelai dagu dan dengan perlahan menuju leher. Mata Arjuno terus menatap intens tubuh Zantisya, sedangkan sang pemilik terus memejamkan mata menikmati bagaimana lembutnya ia diperlakukan oleh suaminya kini.


Kelopak bunga kembali bergerak menyusuri bagian dada, pelan tapi pasti Arjuno terus menyusurkan kelopak bunga hingga ke perut dan pada akhirnya belaian kelopak bunga berakhir pada area puncak inti.


Zantisya langsung membuka kedua matanya kala Arjuno meniup wajahnya, aroma manis langsung tercium Zantisya.


"Sudah siap?" Tanya Arjuno menatap istrinya. Dan jangan lupa tangan Arjuno yang masih memainkan bunga tulip di telinga Zantisya.


"Kenapa mas harus tanya kalau aku selalu siap kapan pun mas mau" ucap Zantisya sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Arjuno.


"Mau pake gaya apa malam ini sayang? bukankah koleksi bacaan mu sudah banyak?" masih sempatnya Arjuno menggoda istrinya dengan pertanyaan dan alis yang naik turun tanda kejahilannya.


Zantisya langsung mencubit lengan suaminya pelan sangking gemesnya. "Jangan godain aku dong mas. Ini mau jadi apa nggak?"


"Loh nantangin?"


"Iyalah"


"Jangan menyesal kalau malam ini nggak bisa tidur ya?"


Duh kelamaan ngeladenin tawar menawar Arjuno akhirnya Zantisya yan memutuskan untuk bertindak.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Arjuno dan Zantisya




Bima dan Evita



__ADS_1


__ADS_2