HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 64 SADAR


__ADS_3

"Tolooonggg..." teriak Zantisya kuat-kuat sambil menahan tubuh Bima agar tidak menempel pada tubuhnya.


Wajah Bima terhenti saat Zantisya membuang muka dan kini Bima bisa melihat leher Zantisya. Jika dulu ia melihat leher yang begitu putih mulus, kini yang terlihat sudah tidak lagi sama. Meski nampak memudar, tapi masih nampak jelas jejak-jejak lelaki yang menjadi suami Zantisya.


Bima mengabaikan itu semua dan ingin segera melangsungkan aksi bejatnya. Ia ingin mencecap leher Zantisya, namun...


"Aku hamil kak" lirih Zantisya dengan air mata yang sudah tidak bisa ia bendung lagi. "Tolong lindungi aku dan calon anak kami ya Allah" batin Zantisya berdoa.


Bima langsung merenggangkan Kungkungan setelah mendengar Zantisya memanggilnya 'KAK', panggilan yang sudah lama sangat ingin bima dengar dari Zantisya. Panggilan yang sangat ia rindukan.


Belum lagi pengakuan Zantisya yang mengatakan kalau dirinya hamil membuat ingatannya kembali pada kenangan saat begitu bahagianya ia mengetahui kalau Evita hamil.


Bima menatap Zantisya yang menatapnya dengan penuh kesedihan. Bayangan Aurel kini memenuhi penglihatan dan ingatan Bima.


"Tolong jangan sentuh aku kak, aku hamil" lirih Zantisya sambil menangis saat tangan Bima ingin mengusap air matanya.


Bima langsung menerima testpack saat Zantisya mengulurkan hasil tes kehamilannya. saat itu juga Bima langsung beranjak dari atas tubuh Zantisya dan matanya tertuju pada hasil garis dua.


Kini rasa bersalah semakin menumpuk saat ingatannya kembali pada kenangan saat ia meminta Zantisya pura-pura hamil. Semua rasa sakit yang telah ia berikan pada perempuan yang kini telah hamil.


Dan kini juga Bima mengingat Aurel yang sudah beberapa bulan terakhir tidak mendapatkan kasih sayangnya lagi. Anak yang begitu ia banggakan saat itu sebagai penerusnya nanti.


Zantisya langsung beranjak dari atas ranjang saat melihat Bima diam mematung. Ia langsung memungut jilbabnya yang sudah di lempar Bima tadi. Zantisya langsung menggunakan kembali jilbabnya.


Menahan rasa sakit di sekujur tubuh dan rasa lemas tanpa tenaga. Zantisya mencoba menggunakan sisa tenaganya untuk segera keluar dari kamarnya.


Ceklek


Bima langsung membalik badan melihat Zantisya yang hendak keluar kamar. Zantisya berhenti dan menatap Bima yang menatapnya saat ingin menutup pintu meninggalkan Bima disana.


"Aku tidak akan melupakan kebaikan hati kakak hari ini untuk seumur hidup ku. Terimakasih kak" Zantisya langsung menutup pintu dan lari menuruni tangga dengan sangat cepat takut kalau-kalau Bima berubah pikiran, tidak membiarkannya dan nekat merenggut kehormatannya.


Zantisya lari sambil menekan perutnya yang sakit menuju rumah ketua RT disana. Bahkan perempuan itu sampai tidak sadar jika ia kini mengalami perdarahan.


"Assalamualaikum bu… pak…" Salam Zantisya sambil mengeraskan suaranya semampunya karena memang tenaganya sudah habis.


"Tisya…" sapa seorang ibu, tetangga rumahnya yang kebetulan nampak baru pulang dari olahraga.

__ADS_1


"Ibu tolong saya, tolong antar saya ke rumah sakit"


"Astagfirullah" pekik ibu-ibu bersamaan sambil menghampiri Zantisya yang sudah kehilangan kesadaran.


Bima diam mematung didalam kamar Arjuno dan Zantisya. Melihat ke sekeliling sudut ruang kamar.


Terdapat beberapa foto Zantisya dan Arjuno yang tersenyum nampak sangat bahagia. Kini ia menyadari hal-hal bodoh yang telah ia lakukan untuk menghancurkan Arjuno. Untuk merebut perempuan yang kini telah lari dari cengkeramannya beberapa menit yang lalu.


Bagaimana mungkin selama ini kepalanya dipenuhi hal bejat untuk melancarkan aksinya. Bima melihat pantulan dirinya dari kaca rias yang ada disana. Kini kesadaran sepenuhnya kembali, bagaimana mungkin ia yang memiliki seorang anak perempuan ingin merusak perempuan lain. Bagaimana jika karma itu terjadi pada anaknya karena kesalahannya sendiri.


"Maafkan papa nak"


Bima langsung cepat keluar dari rumah itu. Ia langsung mengendarai mobil dengan cepat saat jalan terlihat renggang. Pikiran Bima sudah di penuhi dengan Aurel.


Saat mobil Bima sudah memasuki halaman rumah megahnya yang sudah beberapa bulan terakhir tidak menginjakkan kaki disana. Bima langsung keluar dari mobil dan langsung cepat lari memasuki rumah itu karena mendengar suara Aurel menangis.


"Aurel" Gumam Bima saat melihat anaknya menangis dalam gendongan Evita yang nampak mencoba mendiamkan anaknya.


"Apapapapa… hua…" Aurel terus menangis sambil memangil Bima papa karena melihat kedatangannya.


"Sini nak sama papa" ucap Bima mengajak Aurel ikut ke gendongannya. Dan saat itu juga Aurel langsung menghambur ke gendongan Bima. Nampaknya anak yang akan berusia dua tahun itu sangat merindukan Bima. Karena dengan sekejap langsung diam saat Bima memeluknya erat.


"Maafkan papa nak" lirih Bima menciumi Aurel.


"Mau apa kamu kesini?" pekik Laras dengan suara lantang saat menghampiri Evita dan Aurel namun ia meliha Bima juga ada disana.


"Mama" gumam Bima.


"Pergi dari sini" usir Laras yang jelas sangat kecewa dengan Bima.


"Ma… tolong biarkan Bima disini ma. Aurel pasti kangen papanya" ucap Evita menghentikan Laras karena masih berniat mengusir Bima.


Laras memperhatikan Aurel yang diam di gendongan Bima. Anak kecil yang sejak tadi uring-uringan tidak ada yang bisa mendiamkannya. Laras langsung meninggalkan mereka begitu saja. Namun ada rasa hangat yang hadir di hati laras karena kini Bima kembali dan memeluk cucunya.


.


.

__ADS_1


.


Bi Tami sejak tadi mengitari rumah karena mencari Zantisya. Perkara Ban motornya bocor dan mendorong motor bersama pak totok dengan jarak yang sangat lumayan saat pulang dari pasar.


Bi Tami bahkan sampai dengan beraninya masuk kekamar Zantisya dan begitu terkejutnya melihat kamar yang berantakan.


"Pak Totok…" teriak bi Tami karena tiba-tiba perasaannya tidak enak.


"Iya Ut" pak Totok langsung cepat menghampiri bi Tami yang memanggilnya dengan suara yang terdengar khawatir.


"Mbak Tisya nggak ada di dalam rumah. Ayo muter kebelakang" ajak bi Tami.


"Aku baru saja muterin rumah nggak lihat mbak Tisya kok Ut"


"Ya Allah"


"Ono opo to Ut?" (ada apa Ut) tanya pak Totok melihat kekhawatiran bi Tami.


"Kamar mas Uno sama mbak Tisay berantakan pak"


Dan detik itu juga suara motor pak Edi baru memasuki area rumah ini.


"Edi kamu baru datang juga to?" tanya pak Totok menghampiri pak Edi yang memarkir motor.


"Iya pak, tadi ban motor tiba-tiba bocor. Mana di daerah sepi jadi harus dorong motor lumayan jauh"


"Lah kok sama" ucap pak Totok yang langsung menatap bi Tami membuat pak Edi kebingungan.


Dan kini bi Tami dan Pak Totok berada di rumah sakit setelah mengetahui dari warga sekitar kalau Zantisya di larikan kerumah sakit karena kehilangan kesadaran dan terjadi perdarahan. Sedangkan pak Edi melakukan tugasnya dan menjaga rumah Arjuno sampai sang pemilik datang.


Sejak tadi, bi Tami terus mencoba menelpon Arjuno namun sejak itu juga Arjuno tidak juga menerima panggilan teleponnya. Entah sudah berapa puluh kali bi Tami menghubungi Arjuno.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Selamat beraktifitas 💪

__ADS_1


__ADS_2