HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 94 BERGANTIAN MENJAGA RUBY


__ADS_3

"Owek... owek..."


Spontan Zantisya langsung terjaga saat mendengar tangisan Ruby yang menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan kamar mereka.


Zantisya langsung duduk dan menggendong Ruby. Ia langsung mengeluarkan salah satu pusat produksi ASI dan langsung mendekatkan pucuknya pada mulut Ruby. Namun sayangnya bayi itu tidak mau dan tetap menangis.


"Kenapa dek?" Tanya Arjuno yang ikut terjaga. Ia melihat jam pada dinding kamar mereka. Pukul 00.30 WIB, masih dini hari.


"Nggak tahu mas." Jawab Zantisya sambil menyentuh pempes Ruby. Tidak terasa penuh karena satu jam yang lalu. Sebelum Arjuno dan Zantisya tidur, mereka telah mengganti pempes Ruby terlebih dulu.


Zantisya yang penasaran, langsung mengintip kedalam pempes takut kalau-kalau putrinya ini buang air besar. Dan benar adanya.


"Mas tolong siapkan air hangat mas. By eek."


Arjuno langsung beranjak menuju kamar mandi. Menekan tombol untuk mengganti suhu air hangat.


"Anak bunda eek ya." Ucap Zantisya sambil beranjak.


Sambil menggendong Ruby, Zantisya mengambil perlak. Dan langsung melebarkan perlak, membuat alas untuk bayi cantiknya.


"Nggak pake tissue basah saja dek biar cepat?"


"Pake air hangat saja mas."


Arjuno kembali lagi menuju kamar mandi. Pelan-pelan membawa baskom dan was lap yang sudah mereka siapkan di kamar mandi.


Zantisya langsung membersihkkan Ruby. Bayi itu seketika diam saat Zantisya mulai membersihkannya.


Sedangkan Arjuno langsung mengambil pempes bekas Ruby dan membawanya keluar kamar. Diluar sudah Arjuno siapkan tong sampah khusus pempes dan besok pagi tinggal buang ke tong sampah depan rumah.


Setelah selesai mengganti pempes dan memakaikan pakaian lagi. Zantisya langsung mengasi Ruby. Arjuno membawa kembali baskom dan waslap kedalam kamar mandi. Setelah itu ia membereskan perlak kembali.


"Matanya cerah ceria dek." Ucap Arjuno yang melihat Ruby terus meraup Asi sedangkan matanya membulat cerah melihat Zantisya.


"Iya mas." Ucap Zantisya sambil memainkan tangan Rubi yang menggenggam erat jarinya. "Mas tidur gih." Ucapnya sambil menatap Arjuno.


"Aku temenin adek sama Ruby."


"Mas nanti jam 9 kan ada meeting. Sebaiknya mas tidur nanti biar bisa gentian kalau mata aku sudah nggak kuat."


"Bangunin ya dek kalau sudah mengantuk."


"Iya mas."


Arjuno sudah langsung terlelap. Meski bayi itu belum paham apa yang diucapkan Zantisya. Tapi ibu baru itu tiada henti mengoceh pelan mengajak bayinya berbincang.


Tanpa terasa. 2 jam sudah berlalu. Namun kedua mata Ruby nampak masih segar bugar. Sedangkan Zantisya sudah tidak kuat menahan kantuk.

__ADS_1


Tidak ada pilihan lain selain membangunkan suaminya yang lelap untuk bergantian menjaga Ruby.


"Jam 4 nanti waktunya dia Asi mas." Ucap Zantisya memberi tahu.


"Iya dek."


Arjuno langsung turun dari ranjang. Mengambil air hangat dan Asi dari dalam freezer untuk direndam dalam air hangat.


Mereka sangat bersyukur, karena Zantisya yang selalu mengkonsumsi menu seimbang dan susu khusus ibu menyusui. Belum lagi mengkonsumsi boster ASI membuat cairan terbaik didunia itu melimpah ruah.


Tepat saat Adzan subuh. Ruby baru tertidur. Arjuno langsung keluar kamar setelah melaksanakan kewajibannya. Arjuno langsung mengikat kantong plastik yang berada di tong sampah. Membawa pempes bekas pakai anaknya untuk ia buang di tong sampah depan rumah.


"Selamat pagi mas." Sapa kedua security yang sedang berjaga. Salah satu dari mereka langsung membuka gerbang utama.


"Pagi pak."


Setelah membuang sampah. Arjuno ikut gabung bersama dua orang yang berjaga. Nongkrong sebentar untuk mengobrol. Tidak sampai lime belas menit Arjuno langsung beranjak dari sana. Memasuki rumah dan langsung menuju dapur.


"Morning." Sapa Arjuno sambil memeluk Zantisya dari belakang.


"Morning mas." Zantisya masih terus melanjutkan pekerjaannya. Mengoles roti tawar dengan selai coklat.


Arjuno meninggalkan kecupan pada pipi Zantisya dan langsung membuka kulkas. Mencari sesuatu yang bisa ia masak untuk sang istri.


"Definisi menyusahkan diri sendiri ini." Batin Arjuno.


Tapi jika diingat lagi dengan kelakuannya yang selalu melakukan adegan tipis-tipis seperti tadi. Seolah tidak tahu tempat dimana mereka berada. Itu membuat Arjuno berfikir dua kali lipat. Nggak enak dong nyentuh istri kalau cuma dikamar.


"Ruby adek pindahkan ke dalam tempat tidurnya kan?" tanya Arjuno saat terlintas kamar dalam otaknya.


"Iya dong mas. Kelambunya juga aku tutup. Pintu kamar aku buka biar kalau By nangis aku dengar." Arjuno mengangguk. Meskipun bayinya sangat kecil kemungkinan akan jatuh dari atas ranjang jumbo mereka. Tapi tetap saja Zantisya harus waspada.


"Ini mas rotinya." Ucap Zantisya sambil menunjuk roti dua lapis yang sudah ia olesi selai dengan dua rasa.


Arjuno mengeluarkan udang dari freezer lalu meletakkan kedalam wadah yang sudah berisi air.


Arjuno langsung mendekati Zantisa yang duduk menikmati roti dalam pegangannya.


Dengan gerakan cepat Arjuno membalik kursi. Membuat Zantisya langsung menghadap kearahnya.


"Mas." Bagaimana pun pastinya Zantisya terkejut dengan tindakan Arjuno saat ini.


"Aku mau nyicipi rotinya dek." Ucap Arjuno yang langsung menyergap bibir Zantisya.


Mau heran tapi ini Arjuno. Suami zantisya sendiri. Meski tangannya masih memegang roti yang belum habis. Zantisya langsung mengalungkan kedua tangannya pada leher Arjuno. Memejamkan mata memilih menikmati momen mereka.


Arjuno menuntun Zantisya untuk berdiri. Tangannya menggeser piring berisi roti. Setelah itu Arjuno mengangkat tubuh Zantisya agar duduk di meja makan. Mencari posisi yang pas agar mempermudah aktifitasnya.

__ADS_1


Arjuno dan Zantisya saling melepaskan tautan mereka. Mengambil nafas sebanyak-banyaknya sambil tetap saling memandang.


"Love you mas." Ucap Zantisya sambil mengusap wajah lelaki yang selalu menguasai perasaannya.


Arjuno mengecup bibir Zantisya. Dan beberapa detik berikutnya Arjuno ingin perperang saliva lagi. Masih baru akan bergerak. Namun...


Ceklek...


Suara pintu belakang terbuka. Itu artinya bi Tami sudah datang. Karena memang bi Tami yang memegang kunci pintu belakang.


Spontan Zantisya mendorong Arjuno. Ia langsung lompat dari atas meja dan langsung lari menuju kamarnya.


Keduanya merasa dejavu dengan kejadian ini. Membuat Arjuno terkekeh melihat sang istri lari dengan sangat cepat.


"Pagi Mas." Sapa bi Tami.


"Pagi om Uno." Sapa amel.


"Pagi. Amel nggak sekolah mel?" Tanya Arjuno.


"Kan libur om. Habis ujian." Arjuno mengangguk.


"Adiknya belum bangun ya om?"


"Belum mel. Nanti kalau sudah bangun pasti langsung diajak turun. Bi itu udang saya sudah terlanjur keluarkan." Ucap Arjuno sambil menunjuk wastafel.


Bi tami mengangguk. "Ini mau di masakin apa mas?"


"Kemala tadi ingin di sambal asam manis bi."


Arjuno langsung berlalu. Menaiki tangga menuju kamarnya. Ia harus cepat bersiap karena pagi ini harus menemui kliennya.


.


.


.


Dua minggu sudah berlalu. Itu Artinya Safir Al Ghani sudah satu bulan berada dirumah sakit. Mendapat perawatan ekstra demi kesehatan dan perkembangan yang maksimal.


Setelah menyelesaikan semua administrasi. Arjuno langsung membawa Safir yang berada dalam gendongan Zantisya untuk pulang kerumah mereka. Sedangkan Ruby memang sengaja mereka tinggal dirumah bersama bi Tami dan bi Siti.


Arjuno mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Ia dan juga Zantisya sanga-sangat bahagia karena akhirnya anak laki-laki mereka sudah diperbolehkan pulang. Karena terlalu bahagianya sampai tidak tahu cara mengungkapkannya kecuali rasa syukur.


"Sehat-sehat ya nak. Kita pulang dan berkumpul bersama dirumah." Ucap Zantisya dengan mendaratkan banyak kecupan di pucuk kepala anaknya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐Ÿฅฐ kasih like dan komennya ๐Ÿ’‹ tab favorit juga ya โค๏ธ


__ADS_2