HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 87 SI KEMBAR SUDAH DILAMAR


__ADS_3

"Om traktir Zen dong." Pinta Zen setelah usai menyuapi Zantisya hingga es krimnya tandas.


"Zen, nggak boleh seperti itu nak." Ucap Nissa yang mulai kesal dengan tingkah laku anaknya.


Maksud hati Nissa kalau ingin sesuatu disini, tinggal pesan saja lagi. Karena memang sebelum kedatangan Zantisya tadi, Nissa, Zen dan suami Nissa sudah makan siang dan setelahnya mereka memesan camilan menunggu suami Nissa selesai dengan kliennya.


"Nggak apa-apa bu. Ayo cepat pilih apapun yang kamu mau."


"Apapun ya om." Todong Zen mencari kepastian Arjuno.


"Apapun. Semua menu yang ada disini kamu pesan pun nggak masalah."


"Serius nih om?"


Arjuno mengangguk. "Yang penting kamu habiskan sendiri." Ucap Arjuno tersenyum tengil pada Zen.


Zen tentu saja terkejut. Mana mungkin tubuhnya bisa menampung semua makanan.


"Nggak perlu semua juga om. Yang penting traktir Zen apapun pilihan Zen ya."


"Ok!" Arjuno setuju.


Zen langsung memanggil salah satu pelayan dan langsung memesan Es krim spesial dan beberapa camilan. Membuat Nissa ingin menjitak kepala anaknya karena semua yang dipilih anaknya adalah menu yang paling mahal.


Nissa kan jadi berfikir takut kalau-kalau Arjuno dan Zantisya mengira ia tidak mau membelikan anaknya apa yang diinginkan.


Dan entah kenapa. Apa yang dimakan Zen saat ini, itu pun yang dimakan Zantisya. Membuat Arjuno dan Nissa keheranan melihat kelakuan Ibu hamil dan bocah tengil saat ini.


Dan yang membuat Nissa keheranan, Zen yang biasanya paling tidak mudah dekat dengan orang baru. Kini Zen benar-benar mengeluarkan sikap aslinya sejak mereka bertemu di alun-alun.


"Sayang." Panggil laki-laki dewasa yang menghampiri meja mereka.


"Ayy. Sudah selesai?" tanya Nissa.


Lelaki yang sudah nampak dewasa dan karismati itu langsung ikut bergabung. Sejak tadi ia pun tidak fokus dengan pekerjaannya karena terus melirik kearah anak dan istrinya yang nampak seru.


"Pak Yusuf kan?" Tanya Arjuno.


Arjuno langsung mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan berkenalan. "Saya Arjuno Andrewiyoko." Ucap Arjuno setelah Yusuf menjabat tangannya.


"Yusuf Dzuhairi Sucipto." Ucap Yusuf memperkenalkan diri.


"Saya benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan bapak." Ucap Arjuno antusias.


"Saya juga tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan pemilk Arko restoran secara langsung seperti sekarang."


Arjuno benar-benar merasa tersanjung karena seorang pimpinan DS Group mengenalinya.


"Jadi om yang punya restoran ini?" tanya Zen sambil menikmati camilannya bersama Zantisya yang nampak lahap.

__ADS_1


Arjuno sepontan melihat bocah tengil yang kini menatapnya santai bersama dengan Zantisya yang memilih duduk didekat Zen.


Melihat raut wajah tengil Zen. Arjuno seketika tidak menyangka kalau ternyata Zen si bocah tengil yang pernah menjadi rivalnya keliling alun-alun itu adalah anak dari pimpinan DS Group.


"Betul sekali." Ucap Arjuno sambil memberikan Jempolnya khusus untuk Zen.


"Kalau begitu traktir kita hari ini ya om."


"ZEEENNN..." pekik Nissa dan Yusuf bersamaan.


Yusuf dan Nissa benar-benar tidak mengerti kenapa Zen bisa seenaknya asal nyeplos pada orang yang baru dua kali merek jumpai ini.


"Maafkan kekurangajaran anak kami ya pak." Ucap Nissa tidak enak hati.


"Nggak apa-apa bu. Saya malah senang bisa bertemu dengan Zen lagi, karena kini istri saya makan lebih banyak lagi." Tutur Arjuno sambil mengusap punggung Zantisya.


"Om jangan lupa ya adek perempuannya buat Zen." Ucap Zen tiba-tiba.


"Hah!" Arjuno bingung kenapa Zen tiba-tiba bilang seperti itu.


"Kata tante adeknya kembar sepasang. Jadi nanti kalau sudah keluar adek perempuannya buat Zen om."


Mendengar pernyataan Zen barusan. Membuat Arjuno langsung menatap Zantisya yang sudah menatapnya.


"Zen sepertinya ingin sekali anak kita mas." Ucap Zantisya santai sambil tersenyum melihat ekspresi Arjuno saat ini.


Yusuf sendiri kini rasanya ingin menepuk anaknya yang berucap seenaknya. Tapi bukan Yusuf namanya kalau tidak menambah bumbu agar masakan semakin sedap.


Zen yang dasarnya anak pintar dan berfikir bisa lebih dewasa sejak kecil itu langsung mengimbangi ucapan ayahnya.


"Bener om. Zen kan laki-laki gentleman. Jadi Zen lamar adek perempuannya sejak sekarang. Tante Tisya juga sudah setuju. Pokoknya adek perempuannya buat Zen ya om. Om nggak akan nyesel punya tambahan anak ganteng seperti Zen."


Ucapan Zen barusan membuat semua orang yang sudah dewasa hanya bisa tepuk jidat saja. Menertawakan ucapan Zen yang sudah sok dewasa padahal umur saja baru 10 tahunan.


Setelah berbincang hampir satu jam. Arjuno mengajak Zantisya pulag lebih dulu. Selain tidak ingin mengganggu quality time keluarga pimpinan DS Group itu. Ia juga memikirkan kalau Zantisya juga harus segera istirahat.


Seharian mengikutinya bekerja. Kekantor lalu ke restoran pasti menguras tenaga Zantisya. Belum lagi perjanan yang harus mereka tempuh.


"Capek ya?" tanya Arjuno yang baru menghampiri Zantisya ke atas ranjang.


"Lumayan mas." Jawab Zantisya sambil memijiti kakinya.


"Sini aku pijitin dek." Tawar Arjuno sambil menyentuh kaki Zantisya.


"Pijitin punggung ku mas." Pinta Zantisya yang langsung mengganti posisi duduknya membelakangi Arjuno.


Dengan senang hati Arjuno langsung memijiti Zantisya. Karna semenjak kehamilannya memasuki usia 7 bulan Zantisya jadi sering pegel-pegel sendiri.


"Tidur miring sayang, biar aku pijiti jadi sayang bisa tidur juga."

__ADS_1


Zantisya yang memang sudah mengantuk akhirnya menurut juga. Arjuno langsung memijit punggung Zatisya lagi.


"Peluk mas." Lirih Zantisya dengan suaranya yang sudah serak.


"Aku pikir tidak perlu dipeluk sudah bisa nyenyak." Batin Arjuno. Ia langsung ikut tidur dan memeluk Zantisya dari belakang.


Arjuno langsung beranjak saat mendengarkan nafas teratur Zantisya. Ia pindah posisi ke depan. Mengusap dan menciumi perut Zantisya.


Si kembar yang masih didalam perut itu selalu bergerak aktif saat Arjuno membelai perut Zantisya sambil membacakan doa untuk kedua anaknya terutama untuk Zantisya. Istrinya.


Setelah selesai membaca doa. Arjuno mengecupi perut Zantisya lagi entah berapa kali. "Anak-anak ayah yang pintar, kita istirahat dulu yuk. Tuh bunda sudah mimpi." Ucap Arjuno sambil mengusap perut Zantisya lagi. dan kini ia juga ikut tertidur.


.


.


.


Setelah solat subuh. Zantisya mengajak Arjuno jalan-jalan dihalaman rumah mereka.


Selain untuk menghirup udara segar pagi yang masih gelap. Tapi udara dingin benar-benar memberikan kesegaran untuk keduanya.


Zantisya kini juga selalu mengikuti kelas senam ibu hamil. Semua saran dokter yang terbaik untuknya terutama untuk kedua anaknya akan ia lakukan.


Seperti semua harapan ibu-ibu pada umumnya. Zantisya juga ingin sekali bisa melahirkan secara normal untuk kedua buah hatinya.


Namun jika memang tidak bisa karena suatu hal. Zantisya tidak masalah. karena baginya kedua anaknya lahir dengan selamat dan sehat tanpa kurang suatu apapun.


"Dingin ya dek?" Tanya Arjuno sambil merangkul pundak Zantisya.


"Dingin campur segar mas."


Mendengar ucapan Zantisya barusan. Arjuno langsung memeluk Zantisya dari belakang sehingga langkah mereka terhenti.


"Kalau seperti ini mana bisa aku jalan mas." Kesal juga Zantisya jadinya.


"Kalau begitu kita jalan ditempat saja dek." Usul Arjuno.


"Eh mas. Kita ke alun-alun yuk."


Setelah melakukan perdebatan Karena Zantisya mengajak Arjuno ke alun-alun berjalan kaki. Akhirnya Arjuno mengikuti maunya Zantisya. Mengalah lebih baik dari pada harus menerima jikalau ia akan di diamkan Zantisya.


Sejujurnya Arjuno tidak setuju karena tidak ingin kalau nantinya Zantisya kelelahan akibat dari berjalan kaki.


Dan kini Arjuno tahu kenapa tiba-tiba Zantisya mengajaknya ke alun-alun.


Karena saat ini ia sedang merangkul Zantisya sambil mengantri membeli bubur ketan hitam.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐Ÿฅฐ kasih like dan komennya ๐Ÿ’‹ tab favorit juga ya โค๏ธ


__ADS_2