HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 20 SUARA ANEH DI RUANG KERJA


__ADS_3

Setelah memasuki kamar, Bima langsung menuju balkon kamarnya dimana Zantisya berada. Bima langsung mencengkram lengan Zantisya yang tengah berdiri di pinggir pagar lalu menarik tubuh kecil itu dengan sangat kasar.


Zantisya yang terkejut mendapat perlakuan Bima, ia sedikit tertarik saat mengikuti langkah Bima memasuki kamar. Bima langsung mendorong tubuh Zantisya kuat hingga pinggangnya terhempas ujung meja kayu dengan sangat kuat.


"Awww…" pekik Zantisya kesakitan. Air mata yang sejak tadi mengalir kini semakin deras karena bukan hatinya yang terasa nyeri tapi tubuhnya sekarang ikut merasakan sakit.


Bima yang melihat Zantisya menangis langsung melangkah mendekat. Bima langsung mencengkram pipi Zantisya dengan salah satu tangannya dengan sangat kuat. "Hanya seperti ini kamu sudah nangis. Mana kekuatan mu untuk mengeruk harta keluarga ku" Desis Bima dengan amarahnya.


Zantisya tahu kesalahannya saat ini tapi bukannya menjelaskan ia malah semakin nangis menjadi mengingat wajah kecewa Arjuno sebelum akhirnya ia keluar dari mobil lelaki itu.


Bima terkejut melihat Zantisya menangis. Ini pertama kalinya Bima menatap wanita menangis seintens ini. Bulu mata lentik yang lebat nampak basah dan bibir mungil merona nampak mengumpul karena cengkeramannya. Untuk sesaat Bima terpesona akan paras Zantisya. Ia ingin melahapnya begitu saja namun saat bayangan Evita muncul, Bima langsung menghempaskan wajah Zantisya dengan sangat kasar.


"Sepertinya otakku bener-bener sudah mulai rusak" batin Bima. Ia langsung melangkah lebar menuju kamar mandi untuk mengguyur seluruh tubuhnya. Bisa-bisanya ia berfikir untuk meraup bibir Zantisya.


.


.


.


Keesokan harinya, Laras mengajak Zantisya pergi kekantor Bima. Selama menikah Bima tidak pernah mengajak Zantisya melihat bagaimana bangunan megah berdiri kokoh Sebagai pusat perkantoran Sanjaya Group.


Setelah Sampai dilantai 30 Laras dan Zantisya langsung keluar lif, mereka melangkah beriringan. Langkah mereka berhenti di depan ruangan sekertaris Bima.


"Res, Bima ada di ruangannya kan?" tanya Laras mengejutkan Resti yang sedang makan namun tangan satunya masih memegang lembaran kertas.


"Eh ibu…" Resti dengan cepat menelan makanan yang tengah ia kunyah dengan dorongan air minum yang langsung ia tenggak. "Pak Bima tadi sudah keluar bu" jawab Resti. Setahu sekertaris muda itu Bima memang sudah keluar kantor saat sebelum ia menuju toilet.


"Tisya kamu masuk duluan ke ruangan Bima" perintah Laras. "Mama mau ngobrol sebentar sama Resti" Zantisay langsung melangkah menuju Ruangan yang ditunjuk Laras. Dengan sangat pelan ia membuka pintu ruang kerja suaminya lalu menutupnya kembali.


Zantisya melangkah menuju sofa yang ada di sana, matanya mengabsen ke setiap sudut ruangan yang ada. Ruangan berwarna beige yang mendominasi sangat jelas terlihat mewah. Zantisya meletakkan bekal makanan untuk suaminya itu di atas meja. Ia langsung duduk di salah satu sofa menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


Samar-samar Zantisya mendengar suara aneh dari suatu ruangan yang semakin lama semakin jelas dan semakin keras.


"Pelan sa…yang. Ah… Bima Ah… Cepat" jelas itu suara perempuan.


Zantisya langsung membuka kedua kelopak matanya. Ia langsung berdiri mencari sumber suara perempuan yang menyebut nama Bima. Tepat di depan sebuah pintu yang tertutup tidak rapat zantisya berdiri mematung mendengar suara yang sangat jelas.


"Lebih cepat sayang eh…" jelas suara perempuan yang sedikit berteriak.


Entah kenapa Zantisya penasaran Dengan apa yang mereka lakukan. Dengan sangat hati-hati ia sedikit melebarkan pintu dan saat itu juga Zantisya melihat dua orang yang dengan tanpa sehelai benang berada di atas ranjang.

__ADS_1


Zantisya langsung membalik badannya. Mana mungkin ia akan berlama-lama menyaksikan adegan ples ples suaminya dengan wanita lain yang ia tahu itu kekasihnya. Dan yang tengah hamil anak Bima. Saat Zantisya akan melangkahkan kakinya di saat itu juga Laras membuka ruangan kerja anaknya.


"Tisya" panggil Laras.


Dengan sangat spontan Zantisya menutup pintu yang di dalamnya ada sepasang yang tengah bercinta dengan sangat keras.


Brak


"Astaghfirullah" Laras sampai nyebut karena terkejut.


Bukan hanya Laras, Zantisya pun terkejut dengan aksinya. Zantisya berharap mereka tidak mengeluarkan suara aneh itu hingga terdengar oleh Laras.


"Ada apa sayang?" tanya Laras mendekati anak menantunya.


"Kak Bima Nggak ada ma. Tisya Nyari kedalam juga kak Bima nggak ada"


Laras terkekeh geli melihat raut wajah Zantisya. "Jadi kamu membanting pintu karena kesal suami mu nggak ada?" Zantisya hanya mengangguk. "Kan tadi Resti udah bilang kalau Bima nggak ada sayang" jelas Laras mengingat kan. "Ya sudah kita tunggu suami mu sampai kembali ya" usul Laras.


"Tapi ma"


"Sudah nggak usah tapi-tapian ayo duduk" paksa Laras.


Sedangkan di dalam ruangan kamar, sepasang kekasih yang tengah bercinta namun semuanya bubar karena terkejut mendengar suara pintu dengan keras, membuat suasana panas menjadi hancur. Belum lagi saat mereka mendengar percakapan Laras dan Zantisya.


"Jangan cemberut gitu sayang" ucap Bima.


"Kemarin Lagi enak-enaknya kamu pulang gara-gara Zantisya. Dan sekarang Zantisya lagi ditambah mama kamu" kesal Evita.


"Aku juga kesal sayang tapi mau gimana lagi, beruntung mama nggak memergoki kita berkat Tisya"


"Jadi sekarang kamu belain istri kamu itu" bentak Evita dengan mata mendelik.


"Bukan gitu sayang"


"Ah tau lah, aku pulang" dengan cepat Evita keluar ruangan kekasihnya, sedangkan Bima mengejar langkah cepat kekasihnya yang tengah ngambek.


"Sayang jangan Ngambek dong" pinta Bima mengikuti Evita menuju lift.


Resti yang melihat Bosnya dan kekasihnya hanya bisa melongo. "Jadi dari tadi pak bos sama bu Evita di dalam Kantor? Tapi kok kayanya aman-aman aja" batin Resti mengingat Laras dan istri sah bosnya nampak biasa aja dan nggak terjadi kegaduhan.


.

__ADS_1


.


.


Mobil mewah Bima sudah mentereng di parkiran Arko Restoran. Malam ini, sesuai permintaan Laras. Ia membawa Istri dan Ibunya makan malam diluar.


Awalnya Laras tidak ingin ikut, karena tidak ingin mengganggu keduanya. Namun Zantisya memaksa ikut dengan alasan ia ingin makan bertiga di luar. Pura-pura hamil akhirnya bisa jadi alasan.


Bug


"Eh maaf… maaf" ucap Zantisya yang tak sengaja menabrak orang di lorong toilet.


"Tisya" panggil Rani.


"Mbak Rani" ucap Zantisya saat melihat siapa yang ia tabrak setelah keluar menjauh dari toilet.


Rani melihat penampilan Zantisya dari atas sampai bawah. Dan alangkah terkejutnya ia melihat perut zantisya yang membuncit. "Ka…kamu hamil?" tanya Rani lirih.


Belum sempat Zantisya menjawab Laras datang menghampiri keduanya. "Tisya kok masih disini?" Laras menatap keduanya. "Kalian saling kenal?" tanya Laras lalu tersenyum ramah kearah Rani.


"Ken…" ucapan Rani langsung di potong Zantisya.


"Enggak ma. Tadi Tisya nggak sengaja nabrak mbaknya. Maaf ya mbak" ucap Zantisya menatap Rani. Ia sengaja berbohong karna Ia tahu Laras akan mengajukan banyak pertanyaan nantinya.


"Iya, nggak apa-apa" jawab Rani masih bingung kenapa Zantisya pura-pura tidak mengenalinya.


"Ayo ma" ajak Zantisya.


.


.


.


Sejak tadi Rani terus memainkan ponselnya untuk menghubungi Arjuno, membatalkan pertemuan mereka. Namun sejak tadi juga nomor Arjuno tidak dapat di hubungi. Mata Rani masih sesekali menatap lekat betapa hangatnya hubungan Zantisya dengan suaminya. Rani hanya mendesah kesal karena tidak tega jika nantinya Arjuno tahu kebenaran ini.


Mata Rani melihat tubuh lelaki yang ia cintai berada di pintu masuk, celingukan mencari keberadaannya. Rani berdiri ingin langsung menghampiri Arjuno. Mengajaknya keluar agar Arjuno tidak melihat pemandangan yang akan membuat hati Arjuno patah.


Namun Langkah Rani terhenti…


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋


__ADS_2