HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 43 MAMA LARAS


__ADS_3

Zantisya terus menepuk punggung suaminya yang sejak tadi terus memeluknya erat dan menyusupkan wajahnya di dada Zantisya.


"Mas..."


"Apa sayang"


"Aku tadi telpon mama Laras. Mama ngajak aku ketemuan" ucap Zantisya yang langsung membuat tangan Arjuno berhenti membelai punggung Zantisya. Memang sejak tadi tangan suaminya itu sudah menyusup saja.


"Kapan?"


"Mama nunggu aku yang ngajak mas"


Arjuno langsung mencecap sebentar bi*bir istrinya. Niatnya memang sebentar eh nggak taunya kelabasan karena tanpa di duga Zantisya mengendalikannya. Meski masih terasa kaku tapi Arjuno membiarkan apapun yang dimau Zantisya dan menikmati segalanya.


"Apa ini sogokan?" tanya Arjuno mencolek dagu Zantisya. Perempuan itu masih terus mencoba mengatur nafasnya sendiri.


Zantisya menggelengkan kepala. "Mas nggak suka?"


"Suka, hal semacam ini mana mungkin aku nggak suka dek"


"Aku baca buku kalau mau lebih pintar ya harus selalu memanfaatkan waktu saat suami sudah menyerang. Maaf ya mas aku pasti kaku banget”


Arjuno tersenyum mendengar penuturan terus terang Zantisya seperti ini. Itulah kenapa Arjuno sangat bersyukur memiliki Zantisya dan menjadikannya istri.


Arjuno bangun dan langsung duduk. "Sini dek" pinta Arjuno menepuk pahanya. Zantisya langsung menurut. Awalnya ia ingin duduk miring di pangkuan Arjuno. Namun ternyata Arjuno meminta Zantisya duduk dan melingkarkan kedua kaki Zantisya pada tubuhnya.


Arjuno membelai wajah Zantisya dan tersenyum."Dek"


"Iya"


"Ikuti Naluri mu saja jika melakukan hal-hal seperti itu. Apapun yang kamu mau terhadap tubuh ku itu adalah hak mu. Aku milik mu sayang"


"Tapi bisa saja kan mas nggak nyaman atau risih saat aku melakukan apa yang aku ingin" jujur Zantisya.


"Aku akan mengatakan dengan baik jika memang aku tidak ingin dek. Jadi begitu pun sebaliknya, aku akan melakukan apapun yang aku mau, adek harus siap dengan naluri suamimu ini. Namun jika memang adek benar-benar sedang nggak mau adek harus jujur dan mengutarakan. Jangan menuruti mau ku dengan terpaksa karna nantinya kita nggak dapat pahala kan mubazir"


"Bukankah salah jika tidak melayani maunya suami mas"


"Maka dari itu pasangan suami istri harus terbuka agar saling mengerti, apa lagi dalam hal ranjang. Kepuasan keduanya itu lebih penting dari pada sebelah pihak itu namanya egois, tidak memahami pasangannya"


Zantisya nampak mengangguk paham dan menatap lekat suaminya.


"Sekarang apa yang ingin adek lakukan padaku?" tanya Arjuno dengan senyum yang begitu menawan. "Bukankah kita harus mencoba apa saja ilmu yang kamu dapat dari semua artikel dan buku yang kamu baca sayang"


"Mas ih..." Zantisya memukul pelan lengan suaminya karena malu.


.


.


.


Mobil yang ditumpangi Laras melaju dengan kecepatan sedang menuju kafe mewah yang ada di kotanya.

__ADS_1


Senyumnya terus terukir sejak Zantisya mengajaknya bertemu. Laras langsung melangkah menuju meja yang sudah di pesan Zantisya untuk mereka bertemu.


Langkah Laras terhenti tak jauh dari meja yang ia tuju. Laras melihat Zantisya yang sedang berbincang dengan suaminya.


Sangat jelas terlihat betapa bahagianya mantan menantunya itu. Apa lagi saat Laras melihat Zantisya dan suaminya tertawa lepas sambil bercanda. Hal yang tidak pernah Laras lihat dulu saat Zantisya bersama Bima.


Usapan tangan suami Zantisya pada kepalanya bahkan sangat jelas terlihat bagaimana lelaki itu sangat menyayangi Zantisya.


Tatapan mata lelaki itu pun begitu sangat jelas betapa sangat jelas ia mencintai istrinya. Membuat jantung Laras semakin berdetak kencang, menumpuk kesalahan yang semakin besar yang Laras rasakan kini.


"Maaf mama datang terlambat" ucap Laras setelah mendekati pasangan yang sangat nampak romantis.


"Nggak kok ma, kami juga baru datang. Ya kan mas?" ucap Zantisya sambil menyentuh lengan Arjuno.


"Benar tante. Oh iya silahkan duduk tante" Laras pun langsung duduk dihadapan mereka.


"Saya Arjuno tante" Arjuno mengulurkan tangan untuk berkenalan.


"Laras" sambil menjabat tangan Arjuno. Perempuan paruh baya itu nampak berfikir saat mendengar nama Arjuno.


"Sayang, aku tinggal ya" pamit Arjuno sambil mengusap punggung Zantisya dan saat itu juga perempuan berjilbab itu langsung mengangguk.


Arjuno memang sengaja memberi ruang untuk Zantisya dan Laras. Biar bagaimana pun Arjuno ingin menjauhkan Zantisya dari masa lalunya namun ia tidak boleh egois dalam hal ini.


Meski memiliki maksud terselubung dalam membantu Zantisya dulu, tapi perempuan paruh baya itu lah yang memberikan luang agar Zantisya tidak terlilit hutang.


Setelah Arjuno meninggalkan Laras dan Zantisya, tak butuh waktu lama pesanan Zantisya datang.


"Tentu dong ma"


"Terimakasih Tisya masih mau panggil mama"


"Apa sudah tidak boleh?"


"Tentu boleh sayang. Bahkan mama senang Tisya masih menganggap mama ini mamanya Tisya" tentu Laras sangat terharu.


"Sampai kapan pun mama akan tetap menjadi mamanya Tisya"


Laras menghela nafas lega menatap senyuman yang tak pernah luntur dari wajah ayu perempuan yang pernah menjadi menantunya dulu.


"Kamu terlihat sangat bahagia sayang" ucap Laras.


"Tentu Tisya bahagia ma"


"Apakah dia Arjuno yang sebenarnya?" tebak Laras mengingat dimana malam mereka membicarakan gunung tertinggi kedua yang ada di Jawa Timur itu.


Zantisya paham maksud dari pertanyaan Laras. "Maafin Tisya ma"


"Mama yang seharusnya minta maaf nak" Laras menggenggam tangan Zantisya. "Mama tahu mama egois mama terlalu memaksakan kamu untuk menikah dengan Bima. Mama nggak tau sedalam apa Bima menyakiti mu nak mama…"


Zantisya yang memang tidak ingin membicarakan Bima, langsung memotong ucapan Laras. Mendengar namanya saja Zantisya tidak ingin, apalagi mengingat atau bahkan membahas luka lama yang sudah ia kubur dengan kebahagiaannya kini.


"Sudahlah ma, kita nggak perlu membahas masa yang sudah berlalu"

__ADS_1


Laras mengangguk, memahami raut wajah Zantisya yang langsung terlihat berubah kala ia menyebut nama anaknya.


"Arjuno adalah lelaki beruntung karena telah mendapatkan mu sayang" puji Laras sambil mengusap lengan Zantisya.


"Tisya lah yang beruntung ma, karena mas Arjun menerima Tisya apa adanya".


.


.


.


"Maaf pak putra menunggu saya terlalu lama" ucap Arjuno tak enak hati sambil saling berjabat tangan.


"Nggak masalah. Mari silahkan duduk" Arjuno pun langsung duduk.


"Katanya bapak mengajak rekan bisnis bapak?" Tanya Arjuno pada lelaki berumur 39 tahun itu. Karena memang Putra mengajaknya bertemu untuk memperkenalkannya dengan salah satu rekan bisnisnya.


"Pak Bima sedang ke toilet" Arjuno mengangguk.


Arjuno dan Putra pun berbincang membahas bisnis mereka dan akan melakukan kerja sama di bidang yang lain. Saat tengah asik berbincang Bima datang bergabung.


"Maaf saya terlalu lama di toilet" ucap Bima menatap Putra. Dan betapa terkejutnya Bima dan Arjuno saat mereka saling tatap.


"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Putra melihat raut wajah terkejut yang ada di wajah keduanya.


"Belum pak" jawab mereka bersamaan.


Meskipun Arjuno tahu Bima dari berbagai media, apalagi ia mantan suami istrinya. Tapi untuk kenal secara pribadi enggan Arjuno lakukan. Tapi sialnya kini mereka berhadapan.


"Kalau begitu kenalan dulu agar kita saling akrab nantinya"


"Bima Sanjaya" dengan wajah angkuh Bima mengulurkan tangannya.


"Arjuno Andrewiyoko" dengan senyum sinis Arjuno balas menjabar tangan Bima.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Semangat pagi dan selamat hari libur🌹


Permisi suami dan mantan suami mau kenalan dulu


Arjuno Andrewiyoko



Bima Sanjaya



Silahkan berhalu ria sendiri ya jika tidak cocok dengan visualnya🤭

__ADS_1


__ADS_2