
Arjuno terus memeluk Zantisya erat-erat. Tangannya terus mengusap punggung istrinya menyalurkan kenyamanan untuknya.
Sejujurnya ini sangat berat bagi Arjuno, setiap malam harus menahan diri. Tapi ia harus sabar menunggu istrinya menyerahkan diri suka rela.
Otaknya sudah membayangkan jika saat itu tiba, ia akan mengerjai Zantisya habis-habisan. Entah berapa ronde hitungan Arjuno yang akan ia lakukan hal itu saat waktunya tiba.
Sesekali ia mencium pucuk kepala istrinya dengan seringai akal bulus yang sudah tertata rapi dengan baik dan benar.
"Mas"
"Hem..."
"Tadi waktu aku belanja, aku ketemu sama mama Laras"
Arjuno langsung membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam. Mendengar nama mantan mertua istrinya itu pun langsung menghentikan usapan tangannya. Ia menunduk menatap istrinya yang ternyata sudah mendongakkan wajahnya untuk melihatnya.
"Terus?"
"Hanya ngobrol sebentar. Tadinya kita mau cari tempat duduk buat ngobrol sambil nunggu mas selesai. Eh mas udah telfon ngajak aku pulang"
"Adek kecewa aku ajak pulang?"
Zantisya tersenyum melihat raut wajah suaminya yang terlihat suram. "Tentu saja nggak dong mas. Aku lebih nyaman kemana pun sama mas. Mama Laras juga minta no telfon ku, Aku nggak mau kalau nantinya mas salah paham sama aku jadi aku yang menyimpan lebih dulu nomornya mas" Arjuno manggut-manggut mendengarkan Zantisya. "Boleh nggak aku hubungi mama Laras mas?"
"Kalau aku nggak ngebolehin gimana?"
"Ya berarti aku nggak akan hubungin mama Laras lah mas"
"Kamu nggak marah dek?"
Zantisya menggelengkan kepalanya. "Buat aku, apapun yang mas ucapkan pasti itu yang terbaik buat kita"
"Kamu boleh menghubunginya dek, tapi kalau mau bertemu lagi harus sama aku ok"
Zantisya menatap suaminya sambil tersenyum manis. Betapa sangat beruntungnya ia mendapatkan lelaki seperti Arjuno. Mencintainya dengan sangat tulus dan begitu sangat menyayanginya. "Mau ciuman sebelum tidur?" tawar Zantisya.
Arjuno terkekeh mendengar tawaran sang istri. "Apa ini sebuah sogokan karena aku telah mengizinkan mu sayang?"
"Aku memang ingin sejak tadi mas" ucap Zantisya malu-malu namun ia lebih memilih memberanikan diri. Menyerahkan diri secara perlahan membuatnya terasa sangat nyaman.
"Kenapa kamu sekarang pintar menggoda ku sayang. Gimana kalau aku nggak kuat iman?"
"Mas harus memperkuat lagi, kan aku memang sedang bulanan"
__ADS_1
"Pasti sayang"
"Jadi mau nggak?" tanya Zantisya mulai nggak sabar.
"Mau dong. Hal kaya gini wajib hukumnya untuk di terima" ucap Arjuno mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang. "Sini" pinta Arjuno sambil menepuk perutnya meminta Zantisya duduk disana.
Walau malu-malu namun Zantisya dengan pasti mengikuti apa yang dimau suaminya.
.
.
Bima masuk keruang kerjanya dengan perasaan kesal dan marah. Sedangkan Resti yang sejak tadi mengikuti Bima hanya bisa diam sampai Bima mengajaknya bicara. Karena sudah sejak tadi pagi mereka meeting setiap akhir bulan dengan seluruh bagian divisi.
"Res… kok bisa sih anggaran kita membengkak bulan ini?"
Resti justru kesal dengan pertanyaan bosnya padahal sudah jelas dia sendiri yang membuat semuanya membengkak.
"Pak kemarin kita mengeluarkan dana penanaman saham dan kerja sama di banyak perusahaan untuk kesepakatan agar tidak menjalin kerja sama dengan Arko Group. Bahkan semua denda pembatalan kontrak mereka kita yang nanggung atas permintaan bapak sendiri" jelas Resti memperingati.
"Jadi kamu nyalahin saya Res" Bentak Bima.
Resti jelas terkejut. Memang dasarnya Bima, akibat terobsesi merusak usaha Arjuno secara perlahan untuk mendapatkan Zantisya kembali. Kini Ia sendiri yang kelimpungan menghadapi masalah yang sudah ia ciptakan. Belum lagi kartu transaksi yang digunakan Evita masuk kedalam pengeluaran perusahaan, yang sudah diketahui semua orang tagihan naik setiap bulannya.
"Maaf pak saya nggak nyalahin bapak tapi memang pengeluaran yang tak terduga itulah yang menjadi penyebab utama pak"
"Sepertinya kita harus mengambil model terbaik yang sedang viral saat ini pak. Karena sudah banyak model yang bekerja sama dengan kita ditarik ke competitor"
Bima menghela nafas dalam-dalam. Rasanya ingin membanting apa yang ada di depannya saat ini tapi dia harus menjaga wibawanya karena masih ada Resti.
"Atur semua dengan baik Res"
Resti langsung keluar dari ruangan Bima. Ia melangkah menuju ruang kerjanya.
"Pak Bima… pak Bima… dulu masih jadi istri, bu Zantisya di sia-siain. Giliran sekarang di kejar-kejar padahal sudah jadi istri orang" gerutu Resti kesal.
Rasanya menyesal ia mencari informasi Zantisya untuk bosnya itu jika akan tau akhirnya bosnya bertingkah diluar nalarnya.
.
.
.
__ADS_1
Evita langsung menuju kasir untuk membayar semua pesanannya. Sejak tadi siang ia sudah keluar rumah menuju kafe mewah terbaik yang ada di kotanya.
Sudah jam pulang jadi ia harus segera membayar seperti biasanya. Hal itu ia lakukan agar teman-temannya tahu bahwa betapa kaya rayanya suaminya, Bima sanjaya.
Semua kartu yang ada di dompetnya sudah ia keluarkan. Namun ia tidak bisa menggunakan satu pun benda pipih itu untuk transaksi. Ia juga sudah berusaha menelpon Bima namun malangnya Bima mengabaikan panggilan darinya.
"Beb ada yang bisa bayar tagihannya nggak, semua kartu ku nggak ada yang bisa dipakai transaksi" pinta Evita menahan rasa malu diwajahnya.
Sesampainya dirumah, Evita langsung masuk kedalam kamarnya dan mendapati Bima yang tengah memainkan ponselnya. "Sayang"
Bima langsung mematikan layar ponselnya dengan cepat. "Kenapa?"
"Sayang, Kenapa semua kartu nggak bisa aku pakai untuk transaksi" keluh Evita manja dan langsung duduk dipangkuan Bima. Tangannya mulai meraba-raba dada Bima sensual.
Dasarnya Bima yang sudah lama tidak mendapatkan skinship penting seperti ini akhirnya memilih menikmati sentuhan istrinya dan mencoba melupakan kekesalannya tadi. Di pikirnya setelah sejak tadi memikirkan Zantisya, ia bisa menyalurkan hasrat kala ia membayangkan lagi tubuh Zantisya yang sempat pernah ia nikmati itu.
Bima langsung menyerang Evita kala ingatan itu memenuhi kepalanya. Evita sendiri menerima dengan senang hati karna dipikirnya setelah ini Bima akan luluh lagi.
Dengan sangat agresifnya evita mengservice suaminya agar puas namun sayangnya perlakuan Bima lebih aktif bahkan terasa sangat kasar saat penyatuan itu berlangsung.
Evita sampai kewalahan mengimbangi Bima belum lagi jamahan kasar Bima lakukan pada seluruh tubuhnya. Membuat Evita mengingat kejadian yang sama persis Bima lakukan.
Plak…
Evita langsung menampar pipi Bima kuat-kuat penuh amarah dan sakit hati. Lagi, ia merasakan lagi suaminya menjamah tubuhnya dengan sangat brutal.
Mungkin Evita akan memaklumi sekasar apa suaminya berprilaku saat bercinta. Namun tidak untuk ini. Disaat puncak Bima meneriakkan nama Zantisya Kemala. Istri mana yang tidak sakit hati jika suaminya menjamahnya sedang di dalam pikiranya terdapat perempuan lain, apa lagi itu mantan istri suaminya.
Bima langsung mencabut miliknya dan langsung turun dari ranjang. Evita menahan seluruh tubuh yang terasa remuk ikut turun menghadap Bima.
"Apa-apaan ini Bima" Emosi Evita memuncak. "Kamu udah janji nggak akan mengulangi ini lagi tapi kamu ulangi lagi hah"
Bima tersenyum sinis mendengarkan pekikan istrinya yang sudah tersulut emosi. "Nanti ku transfer uangnya ke rekening mu" ucap Bima yang langsung ingin meninggalkan Evita masuk ke kamar mandi.
Evita menghadang langkah Bima dengan cepat. "Maksud kamu apa Bim? Kamu pikir aku ini apa?"
"Aku juga nggak tahu kamu ini apa. Mau ku bilang istri tapi nyatanya kamu nggak pernah mengurusku dengan baik selama ini, mamanya Aurel? Itu hanya status karna Aurel pernah tinggal di rahim mu Evita" ucap Bima santai.
Padahal didalam hatinya terasa sangat sakit karna pada akhirnya impian rumah tangganya tidak sesuai ekspektasinya. Andai saja…
Bersambung...
Sumpah aku masih mikir otak nakal mas Arjuno bakal ke realisasi nggak ya 😂😂😂
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰 tab favorit juga ya ❤️
Selamat malam dan selamat istirahat 🥰