HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 81 CEMBURUNYA IBU HAMIL


__ADS_3

Arjuno dan Zantisya sampai rumah tepat saat adzan magrib. Arjuno memilih mengajak pulang lebih dulu mendahului rombongan karena tidak tega melihat Zantisya yang sepertinya butuh istirahat dengan nyaman.


Sedang Zantisya sendiri diam sejak tadi karena merasa cemburu dengan suaminya. Bisa-bisanya ibu hamil satu ini mencemburui suaminya yang mengobrol dengan seorang ibu yang usianya sudah pasti paruh baya.


Memang mood ibu hamil suka-suka sendiri mengubah mood yang tiba-tiba tidak menentu. Seperti yang dirasakan Zantisya saat ini.


Setelah usai sholat mereka, Zantisya lebih dulu turun untuk melihat apa yang dimasak bi Tami hari ini.


Zantisya langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi hangat begitu melihat menu apa yang tersaji diatas meja makan.


"Mas sini makan. Enak masakan bi Tami" ucap Zantisya saat melihat Arjuno datang menyusulnya keruang makan.


Arjuno tersenyum. Melangkah dengan semangat mendekati Zantisya. Merasa rasa cemburu dan marah Zantisya sudah luruh saat ini.


"Memangnya bi Tami masak apa sayang?" tanya Arjuno setelah mendaratkan tubuhnya pada kursi.


"Cumi balado mas." Jawab Zantisya sambil menyodorkan tangannya yang sudah menjumput makanan.


Arjuno dengan senang hati riang gembira menerima suapan dari tangan Zantisya langsung. "Enak dek."


"Nih sekalian tumis brokolinya enak juga mas" ucap Zantisya sambil memberikan suapan lagi kearah Arjuno.


"Iya enak."


Akhirnya mereka berdua makan dengan lahap. Kalau Zantisya jangan ditanya lagi lahapnya sampai heran sendiri kalau orang lain yang melihatnya. Pasti akan mengheran jika tidak tahu kelahapan Zantisya karena hamil. Kembar lagi.


Setelah usai makan malam Arjuno dan Zantisya duduk diruan keluarga melihat acara televise. Arjuno terus membelai perut Zantisya yang sudah semakin membuncit. Sedangkan tangan satunya mengusap pucuk kepala Zantisya yang berbantalkan pahanya.


"Mas..."


"Hem..."


"Ih... Awas sana. Tadi kan aku lagi marah sama mas, kenapa sekarang jadi belai-belai aku." Ucap Zanntisya yang langsung bangun dari pangkuan Arjuno.


"Astaghfirullah dek. Kok inget lagi" keluh Arjuno nggak habis pikir.


"Ingatlah mas. Pokoknya aku nggak suka ya kalau mas ngobrol sama perempuan lain." Peringatan Zantisya dengan menatap Arjuno kesal.


Ingin sekali Arjuno menjelaskan kalau saat ini Zantisya sedang cemburu tak berdasar. Lagi pula mana mungkin juga Arjuno main mata sama ibu penjaga prancisan yang usianya saja sudah pasti paruh baya.


Tapi Arjuno memilih menerima begitu saja kemarahan sang istri. Ia harus memaklumi cemburu buta Zantisya saat masa hamil seperti ini.


"Aku minta maaf sayang. Kalau sayang nggak suka aku ngobrol sama perempuan lain. Akan aku usahakan untuk menjauhi perempuan manapun."


"Janji!"


"Insha Allah sayang." Zantisya langsung memberikan dua jempol untuk Arjuno.


"Sekarang kasih aku senyuman" pinta Arjuno. Dan saat itu juga Zantisya tersenyum sangat manis.

__ADS_1


"Sini" perintah Arjuno sambil merentangkan kedua tangannya.


Dengan senang hati Zantisya menghambur kedekapan Arjuno. Memeluk suaminya dengan sangat erat. Arjuno pun memeluk Zantisya dengan erat dan sesekali mencium pucuk kepala Zantisya.


"Jangan marah lagi sama aku sayang." Bisik Arjuno.


"Aku nggak marah sama mas."


"Aku bingung kalau adek diamkan seperti tadi."


"Aku takut mas tinggalin aku."


Benar-benar drama ibu hamil kebanyakan nonton drama ku menangis. Membuat Zantisya over thinking pada suaminya sendiri.


Arjuno langsung merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah istrinya yang tenggelam di dadanya. Sungguh Arjuno ingn heran tapi harus mengerti keadaan.


"Adek tahu aku bagaimana. Apa mungkin setelah semua yang telah terjadi. Sampai kita akan memiliki seorang anak, ralat dua maksudnya. Aku akan mudah menghancurkan mimpi kita selama ini?"


"Apa aku terlalu cemburu mas?"


"Bukan cemburu lagi tapi cemburu buta level akut dek."


"Mas nggak suka aku cemburui?"


"Suka sayang. Tapi jangan sampai buat adek diamkan aku. Aku nggak mau kaya gitu." Dengan sabar Arjuno memberi pengertian ibu hamil yang sedang drama didepannya ini.


"Jadi mas marah sama aku?" tanya Zantisya dengan mata yang sudah mengembun siap menjatuhkan buliran air mata.


"Jadi beneran mas marah sama aku?" ulang Zantisya dengan pertanyaan yang sama.


"Mas jangan marah sama aku. Karna aku cuma punya mas di dunia ini." Tambahnya semakin mendramatisir.


Arjuno langsung mengusap kedua mata Zantisya. "Enggak sayang, aku nggak marah. Dengar baik-baik. Apapun yang terjadi, Aku akan terus setia dan cinta sama adek. Adek tahu aku juga hanya punya adek didunia ini." Ekspresi Arjuno bahkan sudah nampak serius dengan kata-kata romantisnya.


"Bohong banget sih mas." Ambiyar sudah ekspresi ketampanan Arjuno tadi.


"Kok bohong sih dek?" tanya Arjuno keheranan.


"Mas itu masih punya rumah, mobil, perusahaan, restoran, karyawan..."


Arjuno kini hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarkan apa saja yang diucapkan Zantisya.


Bisa-bisanya Zantisya menyamakan dirinya dengan barang yang bisa ia cari jika suatu saat ia kehilangan harta bendanya.


Arjuno yang sudah lelah mendengarkan ucapan Zantisya langsung maju. Mencecap mulut yang tidak ada habisnya berbicara menyebutkan harta benda.


Dengan perlahan Arjuno merebahkan Zantisya dan langsung menindihnya agar tidak bisa bergerak kemanapun.


Dengan kuat tangan Zantisya memukul punggung Arjuno karena ia merasa mereka terlalu lama saling bercecap mesra. Hingga membuatnya membutuhkan waktu untuk bernafas lega.

__ADS_1


"Kelamaan mas" keluh Zantisya dengan nafas yang tersengal.


"Janji jangan pernah samakan diri adek dengan apapun yang kita miliki saat ini." Ucap Arjuno serius.


"Maaf mas."


"Janji!" Todong Arjuno.


"Janji mas." Ucap Zantisya bersamaan dengan jari Arjuno yang mengusap bibirnya yang memerah bengkak.


Pandangan Arjuno langsung meredup. Matanya metapa intens perempuan yang ada dibawah kendalinya ini.


Perempuan yang semakin berisi saja bentuk tubuhnya. Tangan Arjuno langsung menaikkan gaun tidur Zantisya.


Tangannya membelai perut yang sudah membuncit. Jelas terlihat semakin menggemaskan perut Zantisya saat ini.


"Capek nggak dek?" tanya Arjuno dengan rasa minatnya.


"Capek lah mas. Perjalanan kita tadi lama banget lo mas." Jawab Zantisya yang tidak peka dengan tatapan Arjuno. Tumben.


Arjuno langsung beranjak.


"Loh mas mau kemana?" Tanya Zantisya. Jelas ia heran kenapa suaminya langsung berdiri dengan raut wajah yang berbeda.


"Mau ambil air dingin dulu sayang." Jawab Arjuno lembut. Berharap Air dingin cepat meluruhkan hasratnya yang sudah bangkit sejak tadi.


"Loh nggak jadi mas?" Tanya Zantisya heran.


"Nggak jadi apa dek?"


"Aku pikir tadi mas mau ngajakin begituan" ucap Zantisya terdengar kecewa.


"Bukannya adek capek."


"Mas tadikan tanya. Aku..."


"Jadi adek mau?" Tanya Arjuno cepat. Ia tidak ingin mendengarkan lagi penjelasan panjang kali lebar Zantisya yang akan keliling disitu-situ saja.


"Yang penting dikamar nggak disini mas. Sempit."


Arjuno langsung spontan menggendong Zantisya.


"Mas nggak jadi minum?" tanya Zantisya saat Arjuno mulai menaiki tangga.


"Sudah nggak haus."


"Kok bisa?"


"Hausnya bakal hilang kalau mupuk dua bocah ini nanti."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐Ÿฅฐ kasih like dan komennya ๐Ÿ’‹ tab favorit juga ya โค๏ธ


__ADS_2