
Satu minggu sudah berlalu. Arjuno kembali dengan aktifitasnya dan Zantisya berada dirumah. Sejak kejadian itu, Arjuno kini memperkerjakan empat scurity untuk tiga waktu jam kerja.
Sepertinya kejadian itu membuat Arjuno semakin was-was. Apalagi kini ia dan Zantisya sepakat mencabut tuntutan yang sudah melakukan beberapa persidangan itu.
"Halo" ucap Arjuno saat telepon diruang kerjanya berdering.
"Pak, dibawah ada seseorang yang ingin bertemu dengan bapak" ucap Resti.
Satu bulan setelah pertemuannya dengan Arjuno dan Zantisya. AKhirnya Resti memilih bergabung di perusahaan Arjuno.
Dan benar saja, Resti yang memang cerdas dan kompeten dalam bekerja. Dengan mudah mengatur segala hal, saat Arjuno dan Zantisya sedang berlibur kemarin.
Arjuno mengerutkan keningnya heran. Karna tadi pagi Resti sendiri yang mengatakan kalau hari ini ia tidak memiliki jadwal temu dengan siapapun.
"Siapa Res? Bukannya tadi kamu bilang kalau hari ini saya tidak memiliki jadwal dengan klien?"
"Pak Bima Sanjaya pak" jawab Resti hati-hati.
"Mau apa dia kesini?" Suara Arjuno kini terdengar sangat tidak suka setelah mendengar nama Bima Sanjaya.
"Bertemu dengan pak Arjuno."
"Ya sudah biarkan dia masuk."
Resti berdiri didepan ruangannya. Menunggu Bima keluar lift, sampai di lantai ruang kerjanya dan Arjuno. Resti langsung melangkah mendekati mantan bosnya saat setelah melihat Bima keluar dari lift.
"Selamat siang pak" Sapa Resti sopan.
"Kamu kerja disini sekarang Res?" Tanya Bima terkejut melihat mantan sekretarisnya. Seseorang yang dulu sangat kompeten dalam melakukan banyak hal pekerjaan.
"Iya pak. Mari saya antar keruang pak Arjuno" ajak Resti mempersilahkan Bima menuju ruangan Arjuno.
Tok
Tok
Tok
"Masuk" perintah Arjuno yang masih fokus pada komputernya.
Resti langsung membuka pintu saat mendengar perintah Arjuno. "Maaf pak, pak Bima sudah datang" ucap Resti member tahu.
"Persilahkan masuk saja Res."
"Baik pak. Silahkan masuk pak."
Bima langsung masuk ke dalam ruang kerja Arjuno. Sedangkan Resti langsung menutup pintu dan langsung melangkah menuju ruang kerjanya.
"Semoga tidak ada pertempuran" gumam Resti yang langsung mendaratkan tubuhnya pada kursi kerjanya.
.
__ADS_1
.
.
Arjuno menatap Bima yang masih berdiri tak jauh dari pintu. Lelaki itu langsung melepas kata mata anti radiasinya dan langsung beranjak dari kursi kerjanya.
Sebisa mungkin Arjuno menenangkan diri karena harus melihat Bima lagi. Arjuno melangkah menuju lemari pendingin dan mengambil dua botol kopi minuman instan.
"Silahkan duduk" ucap Arjuno setelah meletakkan minuman diatas meja dan langsung duduk di sofa.
Bima melangkah menuju sofa dan duduk disana. Bima sudah memikirkan ini dari saat ia bebas dari jerat hukuman untuk menemui Arjuno. Orang yang telah ia coba hancurkan. Bukan hanya perusahaannya tapi juga istrinya.
Hening
"Aku masih banyak pekerjaan. Pulanglah jika tidak ada yang ingin kamu sampaikan" ucap Arjuno memecah keheningan.
Lelah juga menunggu seseorang berbicara. Apa lagi orang yang ditunggu ada di depan mata. Sungguh sangat membosankan.
"Aku datang kesini karena mau minta maaf pada mu" ucap Bima cepat saat arjuno ingin beranjak.
Arjuno kembali duduk. "Untuk apa? Bukan kah waktu itu kamu sudah minta maaf."
"Dari semua kesalahan ku yang tidak mungkin bisa termaafkan. Kenapa kalian dengan mudah menerima permintaan maafku dan membebaskan ku?"
"Aku bahkan tidak setuju saat istri ku meminta pada ku untuk membebaskan orang yang seharusnya mendekam dalam penjara" ucap Arjuno dengan suara dingin.
Mata Bima langsung meredup saat menatap Arjuno. Apalagi mendengar jika perempuan yang hendak ia hancurkan meminta sendiri pada suaminya agar ia di bebaskan.
"Kenapa? Kenapa bisa dia meminta aku bebas setelah apa yang aku lakukan?" tanya Bima.
"Itu sebagai ucapan terimakasihnya untuk mu karena telah melepaskannya."
Deg
Detak jantung Bima seketika bekerja dengan sangat cepat. Nafasnya seperti tercekat menyesakkan dadanya.
Sungguh tidak ia sangka Zantisya akan melakukan hal ini. Perempuan yang ia sakiti saat dulu menjadi istrinya. Dan ia ganggu kebahagiaannya saat ia bersama lelaki didepannya kini.
Hanya karena hal kecil yang ia lakukan. Bahkan imbalannya terlalu besar menurut Bima saat ini.
Berat sekali bagi Bima untuk mengucapkan sepatah kata. Mengingat semua kelakuannya saja itu sudah sangat sulit di maafkan.
"Tapi aku rasa tindakan istri ku benar. Dengan mudahnya dia memaafkan mu maka semua kesalahan mu dan semua dosa mu akan menyiksa mu sendiri bersama seluruh penyesalan mu. Itu pun kalau kau memiliki hati untuk menyesali segalanya."
Ucapan Arjuno membuat Bima semakin tertunduk malu. Seandainya saja waktu bisa diulang kembali, mungkin kini ia tidak akan tersiksa atas semua tindakannya itu.
"Aku memang tidak pantas dimaafkan. Tapi aku benar-benar meminta maaf padamu dan istri mu"Ucap Bima pelan.
"Hiduplah dengan baik dan jangan tunjukkan dirimu didepan ku atau pun istri ku. Jujur saja aku tidak nyaman dengan saat ini."
Siapapun pasti tidak bisa memaafkan seseorang dengan mudah. Apalagi dengan semua perbuatan Bima.
__ADS_1
"Sampai waktunya kita sama-sama berdamai dengan keadaan ini. Berpalinglah saat kamu tidak sengaja melihat ku atau pun istri ku" ucap Arjuno. Dadanya terasa sesak saat ia mengingat Zantisya.
"Untuk terakhir kalinya, aku benar-benar meminta maaf pada mu dan istrimu" ucap Bima. Ia langsung beranjak hendak keluar dari ruang kerja Arjuno.
Bima membalikkan tubuhnya melihat Arjuno lagi. "Dan terimakasih atas kebaikan hati kalian berdua. Aku jadi memiliki kesempatan untuk memperbaiki rumah tangga ku."
Setelah mengucapkan hal itu, Bima langsung keluar dari ruang kerja Arjuno. Lelaki itu melangkah menuju ruangan Resti.
Tok
Tok
Tok
Resti langsung melihat kearah pintu ruang kerjanya yang terbuat dari kaca. "Pak Bima" Gumam Resti. Ia langsung beranjak dan membuka pintu untuk Bima.
"Ada apa pak?" tanya Resti heran.
Bima menghela nafasnya yang terus saja menyesakkan dadanya. "Saya minta maaf sama kamu Res."
Dan begitu terkejutnya Resti mendengar permintaan maaf Bima untuknya. "Kenapa bapak minta maaf sama saya?"
"Karena saat kamu menjadi sekertaris saya, kamu sudah banyak sekali saya repotkan termasuk waktu libur mu yang tersita."
"Itu sudah menjadi pekerjaan saya pak."
"Dan termasuk ucapan saya yang jelas merendahkan kamu dan menghina kamu sesuka hati saya" ucap Bima tulus.
Sungguh Resti ingin bangun dari mimpi. Bima yang dulu ia kenal sangat angkuh dan sombong, kini mantan bosnya meminta maaf dengannya secara tulus.
"Saya juga minta maaf pak. Karena saat saya masih bekerja sama bapak saya dengan beraninya membantah perintah bapak" Resti tersenyum menatap Bima.
"Bapak harus bahagia pak dan memaafkan diri bapak sendiri. Cinta tidak harus memiliki. Tapi bapak masih punya cinta yang lain yang lebih berhak mendapatkan cinta bapak saat ini."
Bima tersenyum mendengar ucapan Resti. "Saya jadi menyesal Res karena telah memecat kamu."
"Bapak memang harus menyesal melepaskan sekertaris secerdas dan sekompeten saya pak" ucap Resti membanggakan diri.
Siapapun juga pasti akan bangga jika menjadi Resti. Apalagi saat banyak competitor tahu Resti di pecat, membuat banyak perusahaan mengajaknya bergabung.
Namun Resti memilih bergabung dengan perusahaan Arjuno. Walaupun perusahaan ini sedang berkembang, tapi kemajuannya yang pesat sudah bukan rahasia lagi.
Bersambung...
Mampir yuk di novel terbaru ku π₯°
Mampir juga yang belum gabung di novel NISSA
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ
Semangat pagi dan selamat beraktifitas πͺπͺπͺ