HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 85 NAMA UNTUK SI KEMBAR


__ADS_3

Malam harinya Arjuno dan Zantisya masih terus betah berpelukan didalam kamar yang baru mereka tempati. Zantisya sendiri sejak tadi tidak mau ditinggalkan. Sepertinya keanehan ibu hamil satu ini ada saja.


Tadi saat Arjuno akan buang air kecil bahkan Zantisya mengikuti seperti anak kecil. Sangking gemasnya Arjuno sejak tadi ia berharap merasakan ingin buang air besar. Ingin tahu apakah istrinya ini akan tetap mengikutinya atau tidak.


"Mau kemana mas?" tanya Zantisya saat Arjuno merenggangkan pelukannya.


"Gantian peluk anak dek. Masak bundanya terus yang dipeluk."


Zantisya langsung melepaskan dekapannya. Sedang Arjuno langsung melorot kebawah. Bersembunyi dibalik selimut. Mensejajarkan wajahnya pada perut Zantisya yang buncit imut dan menggemaskan.


Arjuno menaikkan gaun tidur Zantisya. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang Zantisya. Dan terus menciumi perut didepannya. Arjuno terus membaca doa untuk kedua anaknya. Agar mereka sehat hingga mereka lahir ke dunia ini.


"Dek perutmu bergerak." Pekik Arjuno sangking kagetnya.


"Mas terasa?"


"Banget dek." Ucap Arjuno dengan suara antusiasnya.


Tangannya sudah mendarat di bagian mana ia tadi merasakan pergerakan anak kembarnya.


"Ya Allah. Gerak lagi dek." Ucap Arjuno yang kembali menciumi perut Zantisya karena merasakan pergerakan untuk kedua kalinya.


Zantisya tersenyum. Mendengarkan sebegitu bahagianya Arjuno merasakan pergerakan anak mereka. Tangan Zantisya langsung mengusap pucuk kepala Arjuno yang masih betah mencium perutnya terus menerus.


Kebahagiaan yang terdengar dari suara Arjuno membuat degup jantung Zantisya semakin cepat. Karena Arjuno yang sudah pasti tidak akan mendiamkan tangannya begitu saja.


"Mas aku ngantuk." Lirih Zantisya. Ia mencoba untuk menghentikan perlakuan Arjuno yang mudah sekali memancingnya.


Arjuno kembali naik. Mensejajarkan wajahnya pada wajah sang istri. Arjuno tersenyum sambil membelai wajah istrinya yang sangat lembut.


"Adek yakin ngantuk?" Tanya Arjuno dengan wajah yang super duper jahilnya.


"Kata dokter tadi mereka kuat lo dek rutin diajak olahraga." Arjuno mulai mengeluarkan jurus rayuan mautnya.


Tangannya saja sudah bersemayam senang bergerak pada gunung kembar. "Gemas banget, masih empat bulan lebih saja sudah sebesar ini. Gimana nanti kalau mereka sudah lahir dan akan terisi asi." Ucap Arjuno sambil memijat pelan menggoda Zantisya.


Zantisya menghela nafasnya. Tangannya sudah mencengkram lengan Arjuno. "Kalau mereka sudah lahir, sudah jelas itu menjadi milik si kembar mas. Mas harus pensiun."


"Mumpung belum lahir aku puas-puasin dulu ya." ucap Arjuno yang sudah berhasil melepaskan gaun Zantisya.


"Jadi mas harus siap pensiun selama dua tahun." Zantisya langsung tersenyum melihat ekspresi Arjuno yang tengah berfikir.


"Lama juga dek."


"Kan memang begitu."


"Kalau gitu, Saat mereka tidur ini milik aku." Ucap Arjuno sambil menggenggam gemas. Kemudian ia langsung mencecap bi*bir Zantisya.


Eh...


gumam Zantisya tertahan oleh cecapan Arjuno yang semakin dalam. Tangan Arjuno yang super usilnya hanya memainkan pucuknya saja sehingga menimbulkan rasa geli.


Arjuno melepas pagutannya. Ia langsung melepas kaos oblongnya dan juga sarung yang ia gunakan.


Berpindah keatas Zantisya dan mengunci pergerakan Zantisya. Arjuno langsung mencecap dagu Zantisya.


"Adek mau nggak?" Tanya Arjuno iseng. Padahal mereka berdua sudah jelas sama-sama terbuai.


"Aku mau kapan pun mas mau."


Arjuno langsung menghujani kecupan ke seluruh wajah Zantisya. Berperang lagi dengan pagutan yang memabukkan.


Arjuno berpindah mengabsen leher Zantisya tanpa celah. Turun mengeksplorasi kepiawaian dalam membuat jejak-jejak kemerahan pada da*da Zantisya.


"Mas..." Zantisya mencengkram rambut Arjuno bersamaan dengan rintihan yang keluar dari bibirnya.


Arjuno melahap si kembar bergantian karena kini semakin membuatnya gemas sendiri. Semakin nampak menantang karena ukuran yang semakin terlihat bertambah saja.


Eh...

__ADS_1


Seluruh tubuh Zantisya terasa panas. Menggeliat ingin melepaskan diri tapi juga ingin mendapatkan hal lebih.


"Pelan mas..." rintih Zantisya.


Bukannya menuruti apa yang di katakan Zantisya. Arjuno malah semakin kuat menyesap dan memberikan gigitan memabukkan disana.


"Mas" rintihnya lagi saat Arjuno mulai semakin turun memberikan kecupan-kecupanya.


Arjuno melepas penutup terakhir istrinya lalu menatap sang istri yang sudah nampak mengeluarkan buliran peluh yang melembabkan kulitnya.


"Mas..." pekik Zantisya yang belum siap menerima perlakuan Arjuno saat ini. Karena nafas Zantisya benar-benar belum teratur.


Tangan yang sudah pro aktif semakin bergerak lincah membuat sang istri kebingungan bergerak dan mencengkram seprai kuat-kuat berharap mendapatkan energi karena tubuh Zantisya yang ingin bergerak bebas.


Arjuno tersenyum menatap mata memohon Zantisya. Ia langsung mencecap lagi Zantisya agar suara rintihannya semakin ia tahan lagi dan semakin cepat lagi Arjuno menggerakkan tangan ahlinya.


"Mas Arjun" teriak Zantisya yang sudah berhasil melepaskan sesuatu yang tertahan dan mengakhiri cecapan Arjuno yang memabukkan.


Nafas ibu hamil satu ini masih terasa cepat dan tubuhnya terasa lemas serta buliran keringat yang sudah cukup deras. ingin rasanya ia tertidur pulas. Namun apalah daya.


"Mas ah..."


Arjuno sudah berhasil masuk ke permainan yang semestinya. Arjuno mengusap wajah Zantisya yang penuh keringat sambil terus bergerak pelan.


"Aku cinta kamu dek." Bisik Arjuno. ia langsung menegakkan wajahnya dan fokus berpacu sambil membelai setiap inci Zantisya.


Zantisya mencengkram pundak Arjuno untuk berpegangan agar tubuhnya terangkat.


"Aku juga cinta mas Arjun. Sangat." ucap Zantisya berbisik dan memberikan kecupan disana.


Arjuno langsung menyambar lagi bibir Zantisya setelah Zantisya mencecap dagunya. Perlakuan itu sangat menggemaskan untuk Arjuno.


Mungkin Arjuno adalah lelaki yang saat bahagia setelah mendapatkan apapun akan berakhir seperti ini.


Permainan yang membuat keduanya sama-sama terbakar api asmara hingga peluh membulir ditubuh keduanya yang jelas tanpa benang.


Hanya selimut yang menjadi penutup keduannya yang masih asik dengan kegiatan yang semakin membara. Memanjakan raga, saling berpadu dengan penuh cinta yang keduanya miliki.


Arjuno masih betah limbung diatas tubuh Zantisya. keduanya sama-sama mengatur nafas.


Arjuno langsung menjatuhkan tubuhnya kesamping setelah merasakan perutnya mendapatkan gerakan dari perut Zantisya.


Sepertinya si kembar terusik tidur lelapnya akibat peperangan kedua orang tuanya.


Kini Arjuno terus membelai punggung Zantisya yang sudah masuk dalam pelukannya. Sesekali ia mencium pucuk Zantisya dengan penuh sayang.


"Mas."


"Yes baby."


"Kita harus siapkan nama untuk kedua anak kita." Usul Zantisya yang menjadi bahan pikirannya sejak tadi.


"Benar juga. Adek sudah punya usul nama?" tanya Arjuno dengan mata yang tertutup tapi pikirannya sudah berfikir nama-nama.


"Bagaimana kalau kita kasih nama-nama bunga." Usul Zantisya. Dasar perempuan penyuka bunga jadi yang ada dipikirannya pasti bunga.


"Kalau nama bunga cocok untuk perempuan sayang. Terus yang laki-laki masak mau dikasih nama bunga juga?"


"Ya iya lah mas. Satu untuk semua. Jadi bunga semua mas." Tutur Zantisya ribet.


Arjuno nampak berfikir. Sepertinya lelaki ini belum setuju dengan usulan Zantisya. Tapi ia memahami usulan Zantisya yang memang sangat menyukai bunga.


"Mas nggak setuju ya?" tanya Zantisya saat Arjuno kembali membelai punggungnya.


"Ada usulan nama bunga apa yang ingin adek gunakan untuk nama anak kita?"


"Kalau perempuan bisa kita kasih nama Mawar, Melati, Lili, Anyelir, atau Bunga." Jawab Zantisya antusias.


Arjuno mengernyitkan keningnya. Memikirkan baik-baik nama yang baru saja disebutkan istrinya secara beruntun dan antusias.

__ADS_1


"Lalu untuk yang laki-laki kita kasih nama apa sayang?"


Zantisya mulai berfikir. Benar juga. Yang laki-laki mau dikasih nama apa?. "Asoka mas." Jawab Zantisya spontan.


"Aku pikirkan lagi nanti." Ucap Arjuno sambil mempererat pelukannya.


"Mas punya nama sendiri?" tanya Zantisya. Suaranya terdengar menggumam karena wajahnya menyusup dalam dekapan dada suaminya.


"Aku mau kasih mereka nama dari batu permata."


"Contohnya?"


"Yang laki-laki kita beri nama Safir. Tapi kalau yang perempuan bisa kita kasih nama Ruby, Mutiara, Intan, Berlian."


"Bagus juga mas." Ucap Zantisya antusias.


"Jadi mau yang mana sayang?"


"Aku bingung mas."


Arjuno menarik Zantisya agar posisinya lebih keatas dan wajah mereka sejajar. Ia langsung membelai wajah Zantisya dan meninggalkan kecupan di bibir Zantisya.


"Pikirkan besok dek. Kita harus cepat tidur. Ingatkan kata dokter kalau adek nggak boleh bergadang."


Tak perlu waktu lama. Arjuno dan Zantisya langsung terlelap begitu saja. Pelukan yang tadinya sangat erat lama-lama mengendur karena sudah terbuai alam mimpi.


Sepertinya kebahagiaan keduanya yang kini terus mereka rasakan. Dan sentuhan keduanya yang selalu merayu mampu membuat keduanya mudah lelap setelah saling memanjakan raga.


Arjuno langsung mengerjapkan mata. Mencoba mengumpulkan seluruh nyawanya untuk terjaga. Ia langsung menoleh, menatap Zantisya yang langsung tersenyum saat ia menolah.


Jelas saja tidur Arjuno terusik karena tangan ibu hamil satu ini sudah membelainya. Memberikan sentuhan yang mungkin saja akan tersulut jika bukan karena baru sadar dari alam mimpi.


"Kenapa sayang?" tanya Arjuno sambil membelai kepala Zantisya.


"Aku lapar mas." Rengek Zantisya memelas.


Setelah mendengar ucapan istrinya karena merasa lapar. Arjuno spontan bangun dan langsung melihat jam. Pukul 03.00 WIB.


"Adek mau makan sama apa?"


"Ingin banget mas masakin nasi goreng cumi-cumi."


Arjuno langsung turun dari atas ranjang. Dan langsung menggunakan Sarung dan kaos oblong. Ia langsung melangkah hendak keluar kamar.


"Aku ikut mas." Ucap Zantisya yang sudah siap menggunakan baju tidur panjang.


Mereka langsung menuju dapur. Arjuno langsung melihat magicom. Seketika Arjuno menghela nafas karena matanya tidak mendapati nasi.


Padahal sudah jelas kabel tidak terhubung pada saluran listrik. Untuk apa coba dia iseng membuka magicom.


"Nggak ada nasi sayang. Makan roti dulu ya." Tawar Arjuno. Ia tidak ingin Zantisya dan kedua anaknya kelaparan.


Zantisya cepat menggeleng. "Aku maunya nasi goreng mas."


Itu Artinya permintaan Zantisya tidak dapat dinegosiasi. Karena memang jarang-jarang istrinya itu ngidam.


Arjuno dengan cepat mengambil beras. Mencucinya dan langsung memasukkan kedalam magicom.


Ribet memang kalau tidak ada Asisten rumah tangga yang menginap. Tapi entah kenapa itu kenyamanan tersendiri untuk Arjuno dan Zantisya.


"Kita mandi dulu, solat. Nanti kalau nasinya sudah matang, aku buatkan adek nasi goreng." Ucap Arjuno setelah mengeluarkan cumi-cumi dan merendamnya.


"Gendong mas." Ucap Zantisya manja sambil merentangkan kedua tangannya.


Bersambung...


Maafkan jari ku yang kebablasan 🥲 aku sungguh tidak menginginkan ini tapi apalah daya. Aku tidak bisa mengendalikannya😂 ok aku harus cari air suci 👋


Btw si kembar bakal dikasih nama apa ya🤔🙄

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2