
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Mewarnai hari yang terus berlalu. Mengukir kisah yang nantinya bisa menjadi sebuah kenangan indah. Kenangan yang tidak bisa terulang lagi. Kenangan yang hanya bisa di kenang.
Zantisya begitu menikmati perannya menjadi seorang ibu. Merawat Al dengan banyak cinta yang ia miliki bersama sang suami.
Tapi sediam-diamnya Zantisya dulu. Sekalem dan selembut istri Arjuno itu. Kini perempuan cantik itu banyak perubahan. Apalagi semenjak Al memasuki usia tiga tahun kala itu. Bukan Al, lebih tepatnya Ruby yang selalu menguji kesabaran Zantisya.
Gadis kecil itu sangat lincah, banyak tingkahnya yang bisa bikin orang merasa kesal dan ingin tertawa secara bersamaan.
Berbeda halnya dengan Ruby. Adiknya, Safir memang pendiam. Diusia AL yang kini sudah lima tahun. Safir sudah memiliki hobi membaca buku. Benar-benar karakter Zantisya plek ketiplek.
Sangking senangnya membaca, Safir bahkan sudah memiliki banyak buku bacaan. Ia koleksi dan ditata rapi rak bukunya.
"Kak By dimana Fir?" Tanya Zantisya yang baru turun dari lantai Atas.
"Tadi ke dapur bun."
Mendengar jawaban Safir barusan, membuat Zantisya melangkah cepat menuju dapur. Perasaannya sudah tidak enak saja kalau anaknya sudah ke dapur tanpa sepengetahuannya.
"Astagfirullah Ruby." Pekik Zantisya saat melihat Ruby yang sedang bermain tepung. Bukan hanya tepung di dalam baskom yang di uyel-uyel gadis kecilnya itu. Bahkan wajah dan tubuh anak gadisnya itu terkena banyak tepung. Belum lagi tepung yang berserakan di lantai.
Mendengar pekikan Bundanya. Ruby malah tersenyum tanpa merasa bersalah. 'Bunda mau ikut By main? Safir nggak mau temani By main." Curhatnya.
Jelas saja Safir tidak mau. Anak lelaki Arjuno itu memang tidak suka mainan kotor dan sangat Rapih dalam banyak hal.
Sedangkan bi Tami dan bi Siti yang sedang istirahat karena seluruh pekerjaannya sudah selesai, dengan spontan langsung bangun menuju dapur karena mendengar suara Zantisya. Mereka berdua malah tersenyum melihat anak majikan mereka yang berlumuran tepung. Pemandangan yang sudah biasa bagi mereka.
Zantisya menarik nafas dalam-dalam. "Ruby, ini sudah sore nak. Ayo mandi dulu. Safir saja sudah mandi. Nanti kalau Ayah pulang By belum mandi, pasti ayah nggak mau peluk By."
Mendengar ucapan Zantisya barusan. Ruby langsung berdiri. "By mau mandi bun."
Zantisya mengangguk. "Tapi By harus bereskan semuanya dulu."
Dengan Ogah-ogahan, Ruby membereskan kekacauan yang telah ia buat di dapur. Zantisya memang mengajarkan anaknya untuk mandiri. Bertanggung jawab dengan apapun yang telah mereka lakukan. Baik Ruby maupun Safir selalu membereskan sendiri mainan yang sudah mereka acak-acak.
.
.
.
"Al jangan lari-larian." Teriak Zantisya saat Al lari kedepan karena mendengar suara mobil Arjuno.
Jika Safir langsung mendengarkan ucapan Zantisya. anak kecil nan tampan itu langsung berhenti berlari dan jalan biasa saja.
Berbeda hal dengan Ruby. Larangan sama dengan perintah. Di larang lari oleh Zantisya, gadis kecil itu malah semakin mempercepat langkah kecilnya itu.
"Ayah..." Teriak Ruby yang langsung masuk ke gendogan Arjuno.
"Assalamualaikum gadis kecil." Salam Arjuno yang sudah menggendong Ruby. Tangannya menarik pelan pipi cubby Ruby.
"Waalaikumsalam ayah." Ruby mencium pipi Arjuno.
"Ini kemana jilbabnya?" Tanya Arjuno saat baru sadar anaknya tidak memakai jilbab.
Ruby tersenyum malu. "By lupa pake Ayah."
Arjuno langsung duduk jongkok sambil merentangkan tanangan kanannya. Meminta Safir masuk kegendongannya juga.
__ADS_1
Dengan langkah kecilnya, Safir langsung menghambur ke pelukan Arjuno. Arjuno langsung berdiri menggendong kedua anaknya.
"Ayo peluk Ayah." Ucap Arjuno.
Kedua bocah itu langsung memeluk Arjuno. Wajah mereka menyusup ke leher ayahnya. Dan kesempatan seperti ini. Zantisya langsung mendekat agar Arjuno bisa mencium keningnya. Begitulah cara mereka setiap hari, saat menyambut kedatangan Arjuno.
.
.
.
Setelah makan malam. Mereka berkumpul diruang keluarga. Zantisya tidur dipangkuan Arjuno sambil melihat Al yang asik bermain dengan mainan mereka masing-masing.
"Ayah besokkan libur sekolah. Safir ingin ke kolam renang ayah. Teman-teman Safir bilang seru kalau berenang di kolam Renang wisata ayah. Banyak teman."
Jarang-jarang anak pendiam Arjuno dan Zantisya itu meminta sesuatu. Dan setiap kali meminta, past akan langsung Arjuno turuti.
"Boleh." Jawab Arjuno setuju.
"Asik..." Safir bersorak senang.
"By juga mau ikut ayah." Pekik Ruby antusias.
Seketika luntur senyum Arjuno karena senang melihat Safir meminta sesuatu. Arjuno menatap Ruby sambil berfikir keras.
Arjuno dengan sikap posesifnya mana mungkin rela membawa Ruby ke kolam renang. Membayangkan anak perempuannya memakai baju renang saja membuat Arjuno bergidik. Apalagi sampai ada orang lain melihat tubuh kecil putri cantiknya. Tentu Arjuno tidak rela. Tidak ada yang boleh menatap tubuh mungil anak perempuannya.
"Kita berenang di rumah saja besok."
"Mas..." Lirih Zantisya.
"Tidak boleh dek."
Zantisya paham dengan maksud suaminya. Tapi tetap saja ia tidak tega melihat kedua anaknya yang kini sudah kecewa. Setelah dibuat senang kini harus termenung.
"Aku kemarin sudah belikan baju renang serba panjang untuk By, mas. By juga nanti pakai jilbab, jadi tidak akan terlihat mata."
"Tapi tetap saja dek. Baju renang itu press body, aku nggak rela."
Dijaman sekarang, Arjuno yang memang memiliki seorang anak yang cantik dan tampan, apa lagi maraknya pelaku pedofil membuat Arjuno was-was terhadap kedua anaknya.
"Hanya sesekali mas."
Arjuno menatap kedua anaknya yang menunduk dengan bibir dimanyun-manyunin. Arjuno menghela nafasnya.
"Ok besok kita ke kolam renang."
Seketika sorek kedua anaknya langsung menggema meraikan ruangan keluarga.
.
.
.
Zantisya langsung keluar dari kamar Ruby seterlah gadis kecilnya itu tidur lelap. Bersamaan itu, Arjuno juga keluar dari kamar Safir.
__ADS_1
Setiap malam mereka secara bergantian menidurkan Al. sejak usia Al tiga tahun, kedua anaknya itu sudah bisa tidur di kamar mereka masing-masing.
Namun meski begitu, Arjuno dan Zantisya tidak pernah mengunci kamar mereka. Karena baik Ruby maupun Safir, terkadang tengam malam selalu pindah tidur ke kamar mereka. Kamar utama itu hanya mereka kunci saat pasangan suami istri itu sedang olahraga mencari keringat agar tubuh mereka sehat.
Mereka masuk kedalam kamar, baru juga melepas jilbab. Telinga Zantisya sudah mendengar pintu kamar mereka yang dikunci Arjuno.
Zantisya langsung berbalik melihat Arjuno yang melangkah mendekatinya. Senyum Arjuno yang menggoda masih saja membuat Zantisya salah tingkah meski usia pernikana mereka sudah cukup lama.
"Mas mau apa?" Tanya Zantisya pura-pura nggak paham.
Arjuno langsung membuka kaosnya dan melemparnya asal. "Habis puasa satu minggu, sekarang saatnya melepas dahaga dek."
"Mas haus. Aku ambilkan minum ya." Tawar Zantisya.
Arjuno menarik Zantisya agar merapat pada tubuhnya. "Air minumnya ada disini." Ucapnya yang langsung mencecap bi*bir Zantisya.
Arjuno langsung membawa Zantisya naik ke atas Ranjang setelah berhasil melepas seluruh penutup sang istri. Menindih perempuan yang kini dalam kuasanya.
Arjuno melepaskan bi*bir Zantisya. kini ia mengabsen leher Zantisya tanpa celah. Tanganya terus menjalar seluruh tubuh istrinya. Saling memberikan sentuhan yang mengundang hawa panas.
Setelah sentuhan yang mereka berikan dirasa cukup. Kini mereka masuk kepermain ini. Bergerak pelan memanjakan raga. Mengumpulkan seluruh peluk yang keluar setelah semakin lama keduanya sudah tidak terkendalikan lagi.
Membuat kebisingan malam diruang kamar mereka yang kini penuh dengan irama merdu keduanya.
Arjuno langsung memeluk Zantisya, menyusupkan wajahnya pada leher sang istri sambill mengatur nafas yang masih memburu. Sedangkan Zantisya terus mengusap punggung Arjuno yang sudah lembab dengan peluh yang keluar akibat hawa panas tubuh mereka.
Arjuno membawa Zantisya masuk kedalam pelukannya setelah tubuhnya jatuh kesamping. "I love you bundanya Al."
"I love you too ayah Al." Zantisya mencium pipi Arjuno sekilas.
"Dek."
"Iya."
"Al sudah usia lima tahun. Nggak terasa mereka sekarang sudah sekolah saja."
"Iya mas. Aku juga nggak nyangka mereka sudah besar. Padahal aku merasa baru kemarin melahirkan mereka. Tapi sekarang mereka sudah lari kesana-sini. Membuat ramai rumah ini."
"Nggak ingin rumah kita tambah ramai dek?" Tanya Arjuno. tangannya saja sudah mulai nakal lagi memancing rasa ingin istrinya agar kembali lagi.
"Maksud mas?" Zantisya langsung menatap Arjuno yang sudah tersenyum. Senyum yang patut di curigai.
"Al sudah cocok punya adik loh dek." Tutur Arjuno yang langsung tersenyum.
"Mas mau punya anak lagi?" Tanya Zantisya penasaran.
Arjuno mengangguk cepat. "Siapa tahu dapat kembar lagi dek. Kan lumayan langsung punya empat kita. Malah kalau bisa kita punya anak enam dek."
"Hah." Zantisya kini tercengan mendengar penuturan suaminya.
"Mau ya..."
Belum sempat Zantisya menjawab. Kini tubuhnya sudah di kuasai lelaki yang mulai bergerak membangunkan lagi rasa maunya. Mengulang lagi hal menyenangkan yang baru beberapa menit tadi telah usai.
...#TAMAT#...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya❤️
__ADS_1