HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 89 ZIARAH


__ADS_3

Hari ini Arjuno membawa Zantisya untuk pergi ke rumah sakit. Karena hari ini adalah jadwal mereka memeriksa kehamilan Zantisya.


Untuk kali ini Arjuno dan Zantisya menggunakan jalur kilat karena Kebetulan hari ini Jadwal dokter Ani melayani pasien VIP.


Kehamilan yang semakin tua. Membuat Zantisya lebih cepat lelah. Terkadang nafas pun terasa semakin sangat berat karena menyesakkan dada.


Tapi rasa itu dengan mudah Zantisya abaikan. Karena Yang ada didalam pikiran Zantisya adalah bayangan saat ia bisa menggendong si kembar yang lahir dengan selamat dan sehat.


Zantisya selalu mengkhayal banyak hal bagaimana ia dan Arjuno akan hidup menjadi orang tua. Dan mengurus bersama merawat dan membesarkan anak kembar mereka.


"Kepala janin sudah masuk panggul. Keduanya sudah mapan." Terang dokter Ani.


"Alhamdulillah." Ucap syukur Arjuno dan Zantisya.


"Biasanya kehamilan kembar akan lebih cepat lahir dari perkiraan lahir ya pak, bu. Karena bapak dan ibu sudah berencana ingin ibu melahirkan secara normal. Jadi semua keperluan ibu dan si kembar agar dipersiapkan. Untuk mempermudah jika sewaktu-waktu tanda kelahiran sudah ada."


"Baik dokter." Ucap Zantisya paham.


"Tapi dok. Apa tidak apa-apa jika istri saya terkadang merasa sesak?" Tanya Arjuno.


Tentu saja Arjuno khawatir. Karena ia selalu melihat Zantisya terasa berat saat bernafas.


"Ibu Tisya tidak mempunyai riwayat asma. Jadi itu wajar pak, karena kehamilan semakin membesar. Namun jika sesak yang di alami ibu sangat menggangu. Bahkan sampai tidak bisa melakukan aktivitas ibu hingga bisa menyebabkan kehilangan kesadaran. Akan lebih baik kita melakukan jadwal kelahiran secepatnya. Yaitu melakukan tindakan operasi."


Arjuno dan Zantisya mengangguk paham mendengarkan penjelasan yang diberikan dokter Ani.


"Insya Allah semua akan berjalan lancar. Ibu Tisya sudah mengikuti semua saran yang saya berikan maka kita tinggal menunggu hasilnya nanti saat kelahiran si kembar."


Zantisya memang mengikuti semua saran yang diberikan dokter Ani. Rutin ikut kelas senam ibu hamil. istirahat cukup. Mengkonsumsi makanan sehat.


Meski terkadang makan makanan diluar sana, namun itu sudah jarang di lakukan Zantisya. Kalau bukan karena ingin sekali alias ngidam.


Setelah makan Zantisya lebih dulu duduk di depan ruang televisi. Sedangkan Arjuno yang membereskan semua bekas makan mereka.


"Kakinya jangan di tekuk dek." Ucap Arjuno yang baru menyusul sang istri ke ruang televisi. "Selonjorin sini." ucap Arjuno sambil menepuk pahanya setelah mendaratkan tubuhnya di sofa.


Arjuno langsung memijat kaki Zantisya yang sudah ada dipangkuan Arjuno.


"Apa kita minta bi Tami atau bi Siti nginap dirumah ya mas?" Tanya Zantisya


"Kenapa?"


"Aku nggak tega kalau mas harus ngelakuin kerjaan ku juga."


"Pekerjaan rumah bisa kita lakukan bersama sayang. Jujur saja aku Nggak nyaman kalau dirumah ada orang saat aku ada dirumah begini."


"Tapi tetap saja itu pekerjaan ku mas."


Arjuno langsung beranjak dan langsung mengangkat tubuh berisi Zantisya.

__ADS_1


"Mas..."


"Pekerjaan adek itu tamu bulanan, hamil, melahirkan, dan menyusui" ucap Arjuno sambil melangkah pelan menuju kamar mereka.


"Aku tahu mas."


"Agar bisa hamil, maka layani aku dengan baik" ucap Arjuno sambil mengedipkan matanya mulai menggoda.


"Jangan lupa ya mas kalau aku lagi hamil" pekik Zantisya mengingatkan.


"Aku tahu" ucap Arjuno.


"Turunin mas. Aku berat loh."


Arjuno langsung merebahkan tubuh Zantisya di atas kasur mereka.


"Jika memang adek sangat memerlukan ART. Aku nggak apa-apa jika salah satu atau bergantian antara bi Tami dan bi Siti menginap dirumah kita dek" tutur Arjuno sambil mengusap pucuk kepala Zantisya.


"Aku ingin tapi juga nggak ingin mas."


"Kok gitu?" tanya Arjuno keheranan.


"Karna nanti aku nggak bisa manja-manja dimana-mana" ucap Zantisya kemudian tersenyum malu-malu.


Arjuno langsung menarik hidung Zantisya pelan. "Nakal ya" ucap Arjuno yang langsung berdiri.


"Loh mau kemana mas?"


"Mau siapin perlengkapan adek dan si kembar."


Semua keperluan Zantisya dan si kembar sudah Arjuno letakkan di dalam mobil. Kemana pun ia pergi maka semua barang itu akan terbawa.


Toh semenjak kehamilan Zantisya yang akan menuju 9 bulan Arjuno lebih banyak mengurus semua pekerjaannya di rumah.


Membuat Resti sering ke rumah karena harus mengantar berkas. Begitu pun dengan Firman, Rudi, dan juga Nuri.


Arjuno benar-benar tidak ingin ketinggalan momen dimana proses dan perjuangan Zantisya melahirkan buah cinta mereka.


Kata orang cinta seorang suami akan bertambah besar saat ia melihat sendiri bagaimana sang istri melahirkan anak mereka.


Arjuno benar-benar ingin menjadi lelaki yang sangat mencintai istrinya. Menjadi saksi bagaimana Zantisya berjuang untuk si kembar.


"Mas. Sudah jam 9 katanya ada meeting hari ini." ucap Zantisya mengingatkan.


Zantisya melangkah pelan menuju kolam renang dimana sang suami sedang bersandar santai sambil meminum jus semangka.


"Nggak jadi dek."


"Kenapa?" pelan-pelan Zantisya memasukkan kedua kakinya kedalam air dan langsung menggerakkan kedua kakinya bermain air.

__ADS_1


"Nuri bisa menghandle semuanya." ucap Arjuno langsung memeluk pinggang zantisya. Mengecup perut Zantisya beberapa kali.


"Aduh" Pekik Arjuno tiba-tiba.


"Kenapa mas." Zantisya jadi ikut panik.


"Anak-anak nendang wajah ayah Bun." Rengek Arjuno sok manja. Membuat Zantisya tertawa melihat ekspresi sang suami kini.


Karena Arjuno tidak bekerja hari ini. Jadi Zantisya mengajak Ziarah kubur.


Arjuno mengemudikan mobil dengan pelan dan hati-hati. Sejujurnya Arjuno tidak ingin Zantisya ikut karena mereka pasti akan menempuh perjalanan yang cukup jauh.


Namun percuma melarang apa yang menjadi kemauan ibu hamil milik Arjuno ini.


Setelah ziarah di makam kedua orang tua Arjuno. Mereka langsung meluncur menuju makam orang tua Zantisya.


Zantisya dan Arjuno mengirim doa di makam bapak Zantisya terlebih dahulu. Setelahnya baru mereka menuju makam ibu Zantisya.


"Kita ke makam mbak Vina sekalian mas." ucap Zantisya tiba-tiba.


Arjuno yang sejak tadi ingin mengutarakan ajakannya. Namun urung ia ucapkan, karena tidak ingin Zantisya salah paham. Kini Arjuno justru terkejut mendengar ajakan Zantisya.


"Adek serius?"


Mereka langsung melangkah menuju makam Vina dan Adit setelah Zantisya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Ada mbak Rani sama anak-anak juga mas." Ucap Zantisya sambil terus melangkah mendekati makam.


"Eh Tisya, Uno. Kalian disini juga?" Tanya Rani setelah mengusap wajahnya.


"Iya mbak. Kami baru ziarah ke orang tua kami dan langsung ingin mampir kesini juga."


Rani mengangguk. "Radit, Rania. Salam dulu sama aunty dan om." Perintah Rani pada kedua anaknya.


Radit dan Rania langsung salaman bergantian pada Arjuno dan Zantisya.


"Anak-anak pinter" ucap Zantisya mengusap pucuk kepala Radit dan Rania bergantian.


"Mbak, kami kirim doa dulu ya. Setelah ini kita nyari tempat untuk ngobrol. Sudah lama kita nggak ketemu."


"Iya. Aku tunggu di mobil ya."


Dan saat ini mereka semua berada di sebuah cafe. Setelah bertukar kabar dan berbincang sebentar. Bukannya Zantisya banyak mengobrol dengan Rani. Tapi kini Arjuno dan Rani justru menjadi penonton Zantisya dan kedua anak Rani yang asik lomba menghabiskan es krim.


"Kalian sungguh beruntung karena mendapatkan pasangan yang tepat" ucap Rani menatap Arjuno sejenak.


"Aku pun merasa begitu" ucap Arjuno. "Semoga kamu segera bertemu dengan orang yang tepat. Terutama harus menyayangi mereka." ucap Arjuno. Ia tersenyum melihat Zantisya yang duduk diantara Radit dan Rania.


"Aamiin."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐Ÿฅฐ kasih like dan komennya ๐Ÿ’‹ tab favorit juga ya โค๏ธ


__ADS_2