HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 17 DOSA DALAMNYA PERASAAN


__ADS_3

Zantisya hanya duduk di atas luasnya hamparan pasir. Angin malam cukup menenangkan hati Zantisya, seolah membawa kisah rumah tangganya yang sudah pasti berujung perceraian. Meski tidak ada pencahayaan lampu namun terangnya sinar rembulan malam ini seolah menemaninya.


Entah apa yang ia pikirkan, di saat semua orang sudah larut dalam mimpi. Ia malah memilih keluar dari kamar yang ia tempati bersama Rani. Karena kamar sudah full, akhirnya Radit tidur dengan Arjuno dan Rani tidur dengan Zantisya dan Rania atas usul Rani sendiri.


Zantisya menatap bulan yang ada di atas sana. Ia memejamkan mata sambil mendongakkan wajahnya setelah puas menatap rembulan. Hanyut dalam pikirannya yang berkecamuk. Hingga indra penciumannya mendapati wangi khas yang sangat ia kenal. Semakin lama aroma wangi itu semakin semerbak dekat dengan penciumannya.


"Mimpi apa ini ya Allah" lirihnya dengan mata yang tetap tertutup.


"Dek"


"Kenapa sampai memanggil ku" lirihnya. Ia masih berfikir ia bermimpi padahal dengan sadar menyadari ia belum tidur. Mana mungkin Arjuno ada disini, dan memanggilnya. Itulah yang di pikirkan Zantisya saat ini.


"Dek kemala"


Hanya satu orang yang memanggilnya Kemala. Ini bukan mimpi, karena ia merasa ada hembusan nafas seseorang di wajahnya dan wangi vanilla menguar dari nada suaranya. Dengan cepat Zantisya membuka matanya dan betapa terkejutnya ia mendapati Arjuno menatapnya dengan sedekat ini.


"Boleh aku temani duduk?" Zantisya hanya menjawab dengan anggukan. "Kenapa keluar?" tanya Arjuno setelah duduk di samping Zantisya. Jarak mereka dekat hanya sekitar dua jengkal tangan Zantisya. Ini pertama untuk keduanya karena biasanya mereka duduk dengan jarak satu meter bahkan lebih.


"Belum ngantuk mas. Mas juga kenapa malah keluar, bukannya tidur"


"Jarang-jarang bisa liburan begini dek jadi aku harus menikmati suasana"


Zantisya mengangguk lalu keduanya hanya saling diam bingung harus membicarakan apa.


Hening…


Hening…

__ADS_1


Hening…


Suasananya yang tiba-tiba terasa aneh hadir membuat mereka larut dengan pikiran masing-masing.


"Dek" panggil Arjuno memecah ketegangan dihatinya.


"Iya" Zantisya masih tetap menatap lurus ke depan.


"Entah kenapa aku seneng saat kita bertemu. Dan pertemuan yang unik karena selalu saja tidak sengaja"


"Benar, aku juga" batin Zantisya.


"Sejak tadi aku berfikir, kenapa aku terus memikirkan mu. Entah mulai sejak kapan aku selalu ingin bertemu terus dengan mu dan sepertinya Tuhan berpihak pada ku untuk mempertemukan aku dengan mu. Seolah Tuhan menunjukkan bahwa kamu untuk ku"


Deg


Mendengar kata 'kamu untukku' yang keluar dari bibir Arjuno tertuju untuknya membuat detak jantung Zantisya bekerja dengan cepat. Ia sungguh tidak mampu jika Arjuno tak menghentikan ucapannya. Zantisya melihat ke arah Arjuno membuat tatapan mata mereka bertemu.


"Aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Perasaan yang tanpa sadar membuat ku jatuh cinta mu"


Mereka terus berpandangan. Netra keduanya saling bertautan seolah saling mengantarkan seluruh perasaan yang ada. Seluruh hati yang ingin di ungkapkan. Hingga entah siapa yang memulai, entah siapa dulu yang mendekat. Wajah mereka saling mendekat, nafas mereka saling menyapu wajah. Awalnya hanya ujung hidung mereka yang bersentuhan dengan tetap saling berpandangan namun akhirnya keduanya saling menutup mata dan bi*bir mereka menempel satu sama lainnya. Tak butuh waktu lama mereka saling berpagut dengan lembut penuh perasaan. Zantisya yang memang belum pernah melakukan skinship seperti ini pun mencoba mengimbangi permainan mereka.


Tangan Zantisya sudah berpindah mencengkram kedua lengan Arjuno. Sedangkan Arjuno semakin memperdalam tautan benda kenyal mereka. Arjuno sepenuhnya sadar jika ini salah. Namun ia sendiri lebih mengikuti apa yang ingin dia sampaikan dengan tindakannya kini. Guratan hitam yang mereka lakukan akan menjadi jawaban bagaimana dalamnya perasaan mereka. Mereka yang tidak pernah melakukan kontak fisik selama ini walau seujung jari kini mereka bersentuhan dengan sangat intim. Benar, tidak boleh dua lawan jenis tanpa sebuah hubungan berduaan ditempat sepi. Karena setelahnya kesalahan lah yang terjadi.


Hingga akhirnya mereka mengakhiri semuanya. Kening mereka menyatu nafas mereka masih memburu dan tersengal karena cecapan yang cukup lama.


"Menikahlah dengan ku"

__ADS_1


Bisikan Arjuno yang memintanya untuk menikah dengan Arjuno seketika membuat Zantisya sadar akan statusnya. Semakin sadar lagi dengan apa yang baru saja ia lakukan bersama Arjuno. Ia langsung bergeser memberi jarak untuk posisi duduknya dengan Arjuno . ia juga hanya bisa menundukkan wajahnya karena rasa malu. Malu tidak bisa menjaga marwahnya sebagai seorang perempuan. Malu karena tidak bisa menahan diri hingga terjun ke dosa yang mengantarkan perasaannya. Ia juga sedikit merasa bersalah dengan statusnya sebagai istri dari laki-laki bernama Bima. Jika Arjuno tahu bahwa dia sudah menjadi istri orang apakah ia akan membencinya atau menjauhinya.


"Zantisya Kemala, menikahlah dengan ku"


Hati perempuan mana yang tidak berbunga dan tersanjung bahagia ada lelaki yang melamar mu meminta menikah dengannya. Apa lagi itu orang yang sangat kamu inginkan yang kamu cintai. Tapi pantaskan ia mengatakan cinta mengingat statusnya. Salah siapa sekarang karena ia memiliki perasaan yang sama dengan lelaki yang masih lekat menatap dirinya. Arjuno adalah lelaki pertama yang melamarnya.


Arjuno terus menatap Zantisya yang terus menundukkan kepalanya. "Aku nggak punya persiapan apapun. Aku hanya mempertaruhkan hati dan raga ku memintamu menjadi pendamping ku…" Arjuno menjeda ucapannya sejenak. Menarik nafas yang sepertinya tercekat di dadanya. "Jarak usia kita pun jauh dek. Sepuluh tahun, mungkin kamu pantas mendapatkan yang lebih muda dari aku, tapi aku sungguh meminta mu untuk menjadi istri ku. Aku takut salah langkah jika kita sering bertemu dengan perasaan ku yang seperti ini. Dan aku janji akan terus berusaha menjadi orang yang tepat menjadi suami mu"


"Mas…" lirih Zantisya. Suaranya bahkan bergetar hingga nyaris tak terdengar. Air matanya luruh haru mendengar ucapan yang Arjuno lontarkan. Sanggupkah ia menyakiti lelaki ini.


"Aku bisa menunggu mu, menunggu jawaban mu" ucap Arjuno. Ia harus mengatakan hal itu karena ia merasa adanya keraguan dari Zantisya. Ingin juga ia menghapus air mata Zantisya namun ia tidak ingin melakukan kontak fisik lagi, menyadari apa yang tadi terjadi adalah kesalahannya.


Sejujurnya Zantisya ingin menjelaskan semua dan mengakui akan statusnya. Tapi entah kenapa, hanya sekedar untuk menyebut nama lelaki yang ada di hadapannya ini membuat mulutnya terkunci. Ia sungguh tidak sanggup menyakiti lelaki yang sudah mengusik hatinya dan kini lebih dalam lagi karena lelaki itu mencintainya, memintanya menjadi istrinya. Dan andai saja…


.


.


.


Sedangkan di dalam sebuah kamar. Ada seseorang yang menangis patah hati. Ia sudah benar-benar harus mundur sekarang. Karena sudah tidak ada celah baginya untuk masuk lebih dalam ke dalam hati dan hidup seorang duda bernama Arjuno Andrewiyoko.


Janda dengan dua anak itu merasa sudah kalah telak. Apa lagi jika ia mengingat statusnya, bagaimana mungkin ia akan bersaing dengan seorang gadis sedang dia seorang janda.


Kata-kata 'Janda semakin di depan' itu pun tidak berlaku untuk dirinya agar lebih percaya diri. Hingga akhirnya ia harus menahan tangisnya dan berpura sudah tertidur lelap setelah mendengarkan suara pintu terbuka, itu artinya Zantisya sudah kembali. Zantisya yang ia lihat bersama Arjuno sedang memadu kasih di malam yang sunyi, di bawah sinar rembulan. Hanya satu kata untuk mengungkapkan itu semua. Romantis.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰


Semangat pagi💪


__ADS_2