
Masih dengan seperti kebiasaan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Jam menunjukkan pukul 03.00 WIB, Arjuno langsung turun dari ranjang dan segera memakai celananya yang berserakan.
Ia langsung lari menuju kamar mandi untuk memuntahkan sesuatu karena rasa mual yang selalu datang saat masih lelap.
Zantisya yang merasakan pergerakan suaminya langsung memaiki gaun tidurnya dan menyusul Arjuno ke kamar mandi. Zantisya langsung memijat tengkuk Arjuno.
"Kenapa nyusul aku kesini sayang" ucap Arjuno setelah membersihkan mulutnya.
"Aku pasti kebangun kalau mas beranjak dari samping aku."
"Maaf ya sudah bikin waktu istirahat mu terganggu dek."
"Aku nggak ke ganggu lok mas. Aku malah senang kalau kita kebangun kaya gini. Kita jadi bisa solat malam bareng-bareng."
"Ya sudah ayo kita mandi dulu dek" ajakan Arjuno. Tentu langsung di angguki Zantisya.
.
.
.
"Assalamualaikum, selamat pagi pak" sapa Resti setelah menerima telepon dari Arjuno.
"Waalaikum salam, Res tolong handle meeting hari ini ya. saya nggak ke kantor."
"Baik pak."
"Sama nanti kamu gantikan saya melihat lokasi pembangunan kantor baru sama Firman ya."
"Loh kok jadi saya sih pak" Resti mulai dengan mode berani melawan. Jelas terdengar tidak terima dengan perintah Arjuno.
"Ya kalau bukan kamu siapa lagi Res?"
"Terus kalau bapak nggak ke kantor saya juga pergi. Siapa yang disini pak?" tanya Resti yang jelas menolak secara langsung.
"Sudah Res. Kamu lakukan saja apa yang saya suruh. Assalamualaikum" Tanpa menunggu jawaban Resti, Arjuno langsung mematikan teleponnya.
"Mbak Resti kenapa mas?" tanya Zantisya. Ia merasa aneh kenapa suaminya tersenyum setelah menelpon Resti.
"Itu loh dek, Firman sama Resti ternyata dulu mereka tetangga dekat. Dan pernah menjalin hubungan. Pantas saja Firman selama ini nggak pernah terlihat dekat sengan perempuan manapun. Ternyata dia belum move on dek."
"Ooohhh..." Zantisya hanya mengangguk paham.
"Makanya jangan curigaan sama suami sendiri" tebak Arjuno sambil menarik pipi Zantisya.
"Eh, siapa yang curiga coba mas?" malu sebenarnya Zantisya kalau ternyata Arjuno tahu kecurigaan sesaatnya tadi.
"Aku tahu dari raut wajah mu yang berubah meskipun adek tutupi dengan senyum. Aku tahu dari nada suara mu saat kamu sedang curiga."
"Ih fansboy nya aku ya" ledek Zantisya. Sejujurnya ia malu dan juga tidak menyangka jika semudah itu Arjuno bisa mengetahui isi kepalanya.
"Lebih dari itu."
__ADS_1
.
.
.
Saat ini Arjuno dan Zantisya menunggu giliran nomor antriannya masuk keruang pemeriksaan. Hari ini Arjuno sangat antusias untuk memeriksakan kehamilan istrinya.
"Dek aku ketoilet dulu ya" ucap Arjuno setelah melihat nomor antrian Zantisya.
"Iya mas."
"Suaminya yang tadi mbak?" tanya seorang ibu yang duduk disamping Zantisya.
"Iya bu." Zantisya melihat perut ibu yang menanyainya. Sudah dipastikan kehamilannya sudah memasuki delapan atau Sembilan minggu. Karena nampak besar.
"Mau periksa kehamilan atau program?"
"Alhamdulillah bu. Mau periksa hamil. Sudah berapa bulan bu?"
"Tujuh bulan mbak" ucap sang ibu yang mampu mengejutkan Zantisya yang seperti tidak percaya. "Pasti dikira delapan atau Sembilan bulan ya mbak?" tebaknya.
"Iya bu."
"Ini kembar tiga mbak" info sang ibu dengan raut wajah bahagia.
"Masya Allah. Boleh saya pegang perutnya bu. Biar ketularan kembarnya." Ucap Zantisya.
"Boleh mbak."
"Anak pertama ya mbak?"
"Iya bu."
"Eh itu nomor antrian saya. Kalau begitu saya masuk dulu ya mbak."
"Iya silahkan bu."
Zantisya terus tersenyum menatap perutnya. Tak hentinya tangannya mengusap perutnya yang masih rata. Zantisya jadi membayangkan kalau ia juga bisa hamil kembar seperti ibu barusan. Akan sangat menyenangkan jika rumah yang ia tinggali diramaikandengan tangis bayi secara bersamaan.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Arjuno yang baru saja datang.
"Mas aku mau anak kembar."
"Sayang. Kalau maunya kembar kita harusnya program sejak awal" Zantisya langsung mengangguk saat mendengar ucapan Arjuno. "Jadi jangan berharap lebih. Tapi kalau boleh sih aku juga maunya kembar."
Dua puluh menit kemudian, kini giliran Zantisya dan Arjuno yang masuk ke ruangan dokter.
"Tisya" dokter Ani tidak menyangka jika pasiennya saat ini adalah Zantisya, mantan istri Bima.
"Dokter Ani."
Zantisya dan dokter ani langsung bersalaman dan saling cium pipi kanan dan kirinya. Kini Arjuno jadi tahu kenapa Zantisya tidak mau periksa ke dokter kandungan jalur kilat. Setelah melihat kedekatan Zantisya dan dokter Ani.
__ADS_1
Dokter Ani langsung menjalankan tugasnya. Menanyainya semua hal yang terpenting yang perlu ia ketahui diawal kehamilan Zantisya kini.
Arjuno terus mengikuti Zantisya saat dilakukan pemeriksaan. Seorang perawat membantu Zantisya untuk tidur diatas brankar untuk dilakukan USG.
"Twins" ucap doker Ani sambil menggerakkan alat di perut Zantisya yang sudah dibaluri jel.
"Apa dok?" tanya Arjuno dan Zantisya bersamaan.
Sepertinya pasangan ini tidak mempercayai ucapan dokter Ani yang mereka dengar barusan.
"Twins. Zantisya hamil kembar" jelas doker Ani.
"Alhamdulillah" ucap syukur Arjuno dan Zantisya secara bersamaan.
Arjuno langsung sigap membantu Zantisya turun dari atas brankar. Mereka duduk kembali didepan dokter Ani.
"Usia kemamilannya sudah sepuluh minggu, sehat dan kuat ya. Karena ini kehamilan kedua dengan riwayat keguguran saat kehamilan pertama. Jadi untuk awal kehamilan ini jangan melakukan pekerjaan berat ya Tisya."
"Baik dokter."
"Harus makan gizi seimbang ya. karena duanya yang memerlukan nutrisi. Jangan takut gemuk."
Zantisya tertawa pelan. "Dokter sindir Tisya ya."
Dokter Ani tersenyum. Ia sungguh tidak menyangka jika akan bertemu lemabali dengan Zantisya.
Sejujurnya saat awal tatap muka tadi, dokter Ani pangling dengan Zantisya karena pipinya yang nampak berisi dan semakin nampak cantik.
"Ada yang perlu ditanyakan Tisya?" tanya dokter Ani.
"Tidak dokter."
"Saya boleh tanya sesuatu dok?" tanya Arjuno.
Zantisya jelas spontan menatap Arjuno. Ia mulai was-was dengan pertanyaan yang akan di ajukan Arjuno saat ini.
"Silahkan pak."
"Berapa kali yang boleh dilakukan suami istri untuk berhubungan dalam satu minggu dok?" tanya Arjuno serius.
Zantisya langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan menahan malu. Sedang dokter Ani tersenyum melihat keduanya secara bergantian.
Tentu dokter Ani paham dengan pertanyaan pasangan suami istri yang baru akan memiliki seorang anak.
Arjuno keluar dari ruangan dokter Ani dengan wajah berseri senang. Sedangkan Zantisya masih menahan malu.
Zantisya sungguh tidah menyangka jika pertanyaan Arjuno secara gamblang ia utarakan semuanya. Dari mulai berapa kali dalam semingu, gaya yang aman, boleh atau tidaknya dikeluarkan di dalam dan lain sebagainya.
Mereka langsung menuju apotik untuk menebus obat yang diresepkan untuk Zantisya. Dan juga obat untuk Arjuno sendiri agar rasa mual muntahnya berkurang.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya π₯°
__ADS_1
Selamat siang ππΉ