HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 30 MANTAN ISTRI


__ADS_3

"Bagaimana mungkin aku menyempurnakan hidup mas Arjun jika aku sendiri nggak sempurna mas"


"Maka ketidak sempurnaan itulah yang akan menyempurnakan dan melengkapi kita dek. Aku sudah memilih mu, maka aku akan memaksamu juga untuk melangkah bersama ku dan memilihku. Maaf jika aku terkesan egois memaksa apa mau ku"


"Aku ini seorang janda mas. Aku…"


"Aku juga seorang duda kalau adek lupa"


"Tapi aku…"


"Kita sudah tahu benar makna Janda dan duda dek, kita hanya perlu saling menerima. Maka dari itu aku meminta jawaban darimu"


.


.


.


Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, Bima rasanya enggan untuk pergi beranjak dari ruang kerjanya.


Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya. Sesekali memijit kepalanya yang sejak beberapa waktu terakhir ini terusik akan masa lalunya.


Kini Bima merasakan perbedaanya. Jika dulu saat ia menjadi suami Zantisya akan mendapatkan pelayanan yang baik walau ia selalu memperlakukan perempuan itu semaunya.


Sedangkan Evita yang ia harapkan ternyata sangat jauh dari perkiraannya. Jika dulu Zantisya selalu menyiapkan pakaian kerjanya, selalu mengantarnya jika akan pergi bekerja, menyambutnya saat pulang kerja, menikmati makanan yang diolah langsung oleh Zantisya, membuatkan kue, mengantarnya air hangat saat ia sedang banyak pekerjaan seperti ini.


Kini semuanya jauh dari ekspektasinya. Evita sungguh menjadi nyonya dan ratu Sanjaya yang hanya meminta dilayani.


Jangankan masak hanya membuatkan Air hangat atau mengambilkannya makanan saat di meja makan saja tidak pernah Evita lakukan.


Bima memejamkan matanya dan menghela nafasnya yang terasa lelah akan dirinya sendiri. bertengkar dengan Evita hampir setiap hari malah bukannya membuat perempuan yang menjadi istrinya itu berubah dan sadar akan kesalahannya sendiri.


"Zantisya Kemala" gumam Bima sambil menatap foto mantan istrinya yang telah ia ambil dari salah satu laci meja kerjanya.


Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga. Kalimat itulah yang tepat menggambarkan penyesalan Bima saat ini.


Setelah lama bergelut dengan perasaan sendiri akhirnya Bima memilih keluar dari ruang kerjanya dan segera menuju kamarnya.


Setelah memasuki kamar Bima langsung merebahkan dirinya di sofa. Sofa yang dulu menjadi tempat tidur gadis mungil yang telah ia sia-siakan.


Klek


Suara pintu terbuka. Sudah dapat dipastikan siapa yang baru memasuki kamar itu.


"Kenapa tidur di sofa sayang?" tanya Evita sambil melangkah kearah meja dan meletakkan tasnya disana.


"Jam segini kamu baru pulang?" Tanya Bima setelah melihat jam yang ada didinding kamarnya menunjukkan pukul 22.15 WIB.

__ADS_1


"Kasian yang temen arisan aku lagi sedih" ucap Evita langsung duduk disebelah Bima setelah Bima merubah posisinya.


"Dia sedih banget karena suaminya diem-diem nikah lagi" terang Evita. "Makannya aku pulang telat karena nemenin dia"


"Kamu kasian sama temen kamu sampai pulang selarut ini tapi kamu nggak pernah kasian sama aku sama Aurel" Bentak Bima nggak nanggung-nanggung sambil berdiri dengan emosi yang masih ia tahan.


"Kenapa kamu jadi emosi gini sih yang, kan aku Cuma mau jadi temen yang baik buat dia"


"Kamu berusaha menjadi teman baik buat temen kamu tapi kamu nggak berusaha menjadi baik sebagai ibu atau pun istri"


Evita tahu betul arah kemauan Bima. Tapi dia masih dengan egoisnya untuk melakukan hal yang menjadi kesukaannya.


Evita langsung menghambur kedalam pelukan suaminya membelai punggung suaminya mesra dengan sentuhan sensualnya. Evita tahu betul kelemahan Bima.


Bima memejamkan matanya saat Evita mulai memberikan sentuhan yang sangat ia rindukan. Karena sudah hampir dua minggu mereka tidak melakukan ritual kemesraan suami istri.


Evita langsung menyergap suaminya saat ia melihat wajah bima tengah menikmati segalanya.


Evita pikir semua masalah akan selesai jika ia bawa keatas ranjang.


Karena memang itulah cara yang biasanya ia lakukan untuk meluruhkan emosi Bima terhadapnya. Namun kali ini ia salah. Bima benar-benar menyiksanya semalaman. Melakukan penyatuan dengan sangat kasar.


Meremas seluruh tubuhnya dengan sangat erat hingga terasa sangat nyeri di seluruh tubuh. Entah berapa kali, entah berapa lama, seolah hasrat Bima tidak ada habisnya hingga waktu subuh Bima baru melepaskan Tubuh Evita dengan pukulan keras dibok*ongnya dan teriakan yang tidak akan pernah Evita lupakan.


.


.


.


Bahkan saat setelah kejadian malam itu, Evita rasanya enggan untuk berjalan karena rasa sakit dan nyeri di bagian intinya.


"Tumben kamu nggak keluar?" sinis Bima setelah ia baru memasuki kamar. Setelah penat seharian bergelut dengan banyaknya pekerjaan. Namun ada rasa senang juga di hati Bima karena Evita ada dirumah saat ia pulang.


"Aku lagi malas" jawab Evita Nggak kalah sinisnya.


Bima acuh dan memilih segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tak sampai 30 menit Bima keluar hanya menggunakan Bokser dan bertelanjang dada. Sedangkan tangannya memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


Bima melangkah mendekat kearah ranjang. Ia langsung naik ke atas ranjang mendekati Evita namun Evita menggeser posisinya membuat Bima keheranan.


"Kenapa?"


"Kamu yang kenapa?"


"Aku cuma mau mendekati istriku apa aku salah?"

__ADS_1


"Untuk apa Bim?" Mode emosi karena pertanyaan Evita dengan tanpa memanggil Bima sayang lagi. "Kamu mau nyakitin aku lagi?"


Bima mengingat kejadian malam itu. Ia juga heran kenapa ia sampai berlaku kasar seperti itu disaat pikirannya dipenuhi nama Zantisya.


Gadis itu terus mengusik hatinya dalam beberapa waktu terakhir ini.


"Aku tahu, aku sah dan halal bagimu, tapi kamu mengatai aku wanita pembangkang, menyebutku perempuan gila harta. Ok aku nggak masalah dengan ucapan mu itu Bima Sanjaya. Tapi aku benar-benar sakit hati saat terakhir kamu menyebut nama mantan istri kamu dengan sangat lantang" Evita mulai mengusap Air matanya yang sudah tidak bisa lagi ia tahan.


Bima terkejut dengan penuturan Evita. Benarkah dia melakukan hal itu. Tapi setelah ia ingat-ingat lagi memang malam itu pikirannya sedang lari ke kenangan tragedy dimana ia ingin memiliki Zantisya seutuhnya.


"Evi… aku nggak seng…"


"Kamu berhubungan lagi sama dia Bim?" jelas Bima langsung menggelengkan kepalanya.


Setelah perceraian, mereka sama sekali tidak pernah bertemu lalu bagaimana mungkin bisa berhubungan.


Bima ingin memeluk Evita agar istrinya itu tenang. Namun tangan Bima langsung ditepis Evita.


"Jangan sentuh aku jika bukan aku yang ada di pikiran mu Bima"


Bima langsung memilih keluar dari kamarnya untuk menenangkan pikirannya. Namun tanpa sadar kakinya melangkah kearah taman dan langkahnya terhenti kala ia sudah berada di gazebo.


Bima duduk dan langsung melihat bunga yang nampak subur karena Laras terus dengan telatennya merawan bunga-bunga yang indah itu.


Bima memejamkan matanya menghirup udara yang terasa segar dan menikmati hembusan angin malam. Cukup lama Bima disana hingga tanpa sadar kalau waktu sudah semakin larut.


"Kamu masih disini nak?" Tanya Laras yang membuat Bima terkejut dan langsung membuka matanya.


"Mama…"


Laras duduk di samping Bima. Perempuan paruh baya itu menatap raut wajah anaknya yang nampak kusut.


"Apa masih banyak masalah kantor?" Bima diam namun kepalanya menggeleng. "Cerita sama mama"


Hening...


Entah berapa lama Bima dan Laras saling diam tanpa ada obrolan diantara ibu dan anak itu.


Bima menghela nafas yang terdengar sangat frustasi. "Bima nyesel ma…"


Hanya itu yang diucapkan Bima pada Laras dan akhirnya anaknya itu beranjak memasuki rumah megah itu.


Bersambung...


Bonus update nih karena hari ini HUJAN, Beri Aku Cinta sudah lulus kontrak, Alhamdulillah 🙏 terimakasih buat semua yang sudah setia mengikuti kisah ini 🥰


Ikuti terus ya karya receh aku yang kebanyakan halu 😂

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ❤️


Selamat malam dan selamat istirahat 🥰


__ADS_2