HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 88 BELAH DURIAN


__ADS_3

Zantisya kembali melepas gaun yang akan ia kenakan. Ia memilih duduk di tepi ranjang dan membiarkan gaunnya tergeletak disampingnya.


Tangan Zantisya mengusap perutnya karena mendapatkan serangan dari kedua anaknya yang semakin aktif saja.


Usia kehamilan yang sudah memasuki 8 bulan. Membuat Zantisya terlihat semakin menggemaskan. tubuh yang tidak tinggi-tinggi amat dan badan yang semakin lebih berisi saja.


"Kok belum pakai baju sayang?" tanya Arjuno. Lelaki yang nampak segar karena baru keluar dari kamar mandi ini langsung mendekati Zantisya yang menekuk Wajahnya.


"Dressnya kegedean mas" keluh Zantisya sambil menatap Arjuno.


"Perasaan kemarin kita beli dressnya itu pas waktu adek coba."


"Mas nggak percaya, kalau dressnya kegedean?"


"Bukan begitu dek. Tapi kan kemarin adek coba dressnya dan itu sangat pas nggak kelihatan press body nggak juga kelihatan kebesaran" Arjuno mencoba memberikan pengertian.


"Aku nggak usah ikut saja lah mas."


Arjuno menghela nafas panjang. Memahami istrinya yang semakin hari semakin ada saja tingkah anehnya.


"Coba adek pakai sekali lagi dek. Aku mau tahu apa terlihat kebesaran."


"Mas nggak percaya ya sama ucapan ku."


"Bukan nggak percaya sayang. Tapi hari ini kita harus mengiring Rudi. Dia orang terdekat aku juga. Dia juga atasan kamu loh dek dulu." Arjuno mencoba mengingat kan.


Mendengar penuturan Arjuno barusan membuat Zantisya langsung menggunakan gaunnya kembali. Arjuno langsung membantu menaikkan resleting gaun yang berada di bagian belakang.


Arjuno langsung membalik tubuh Zantisya saat gaun melekat sempurna pada tubuh Zantisya buang semakin berisi.


"Perfect" ucap Arjuno sambil memberikan dua jempol untuk Zantisya.


"Bener mas?" tanya Zantisya dengan wajah sumringah.


Arjuno juga bingung kenapa bisa Zantisya bisa merubah moodnya secepat ini.


"Kapan aku pernah bohong sama adek?" tanya Arjuno sambil mencolek dagu Zantisya.


"Ya sudah. Mas cepat ganti sana."


Kini Arjuno sudah mengemudikan mobilnya bersama dengan rombongan yang lain.


Mengiring Rudi menuju ke kediaman orang tua Nuri, dimana acara akad nikah dan resepsi diselenggarakan.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam. Semua iringan mobil sudah sampai pada lokasi tujuan.


semua mobil langsung terparkir rapih mengikuti kang parkir yang sudah mendapatkan tugas bagiannya.

__ADS_1


Arjuno dan Zantisya langsung keluar mobil. Mengikuti seluruh rangkaian penyambutan kedatangan mempelai lelaki dan seluruh keluarga serta pengiring yang datang untuk disambut lalu dipersilahkan masuk ke tempat acara akad nikah yang akan di selenggarakan.


Setelah ucapan 'SAH' menggema berpadu menjadi satu. Dan hingga seluruh rangkaian acara terlaksana dengan lancar. Kini Arjuno dan Firman sudah ikut mengantri di Perancisan untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan tuan rumah.


Arjuno sendiri merasa Dejavu dengan keadaan saat ini. Ia jadi was-was takut kalau kejadian yang lalu terulang lagi.


Sedangkan Zantisya dan Resti nampak santai menunggu pasangan mereka masing-masing.


"Bu, boleh pegang perutnya nggak?" tanya Resti sopan. Ia sejak tadi memperhatikan Zantisya yang terus mengusap perutnya.


"Boleh mbak. Sini."


Resti langsung pindah tempat duduk di dekat Zantisya. "Maaf ya Bu" ucap Resti yang langsung mengusap perut Zantisya yang sudah jelas besarnya.


"Gerak Bu" ucap Resti antusias.


Si kembar semakin aktif bergerak. membuat Resti betah sekali mengusap perutnya Zantisya beberapa kali.


"Jadi pengen cepat punya anak juga" ucap Resti.


"Mbak Resti baru juga nikah. Sabar dulu mbak dan nikmati dulu masa pacaran sah" ucap Zantisya sambil mengusap lengan Resti.


Tak lama kemudian Arjuno dan Firman sudah kembali duduk dimana kursi yang mereka tempati tadi.


"Baca doa dek" ucap Arjuno sambil menyodorkan sendok yang sudah berisi nasi dan rendang.


Arjuno heran. Jelas saja. Ia sudah mengambil makanan dengan lebih banyak dagingnya karena memang akhir-akhir ini Zantisya selalu mau makan jika itu ada dagingnya. Tapi kini, ibu hamilnya menolak begitu saja.


"Kenapa dek?"


"Ini kok rendangnya kaya basi sih" ucap Resti pelan.


Beruntung yang mendengar ucapan Resti hanya Firman, Arjuno, dan Zantisya saja.


Firman langsung mencoba rendangnya. "Enak kok sayang. Nggak basi."


Zantisya juga langsung ikut merasakan Rendang. Menerima suapan Arjuno yang sempat ia tolak tadi.


"Enak kok mbak. Nggak basi" ucap Zantisya. "Lagi mas."


Mau heran tapi istrinya. Itulah yang dipikirkan Arjuno saat ini. Namun dengan telaten ia menyuapi Zantisya. Suka-suka ibu hamil sajalah yang terpenting apa yang di pikirkan Arjuno sejak tadi tidak akan terjadi lagi.


Setelah mengambil beberapa potret bersama mempelai pengantin. Arjuno langsung berpamitan pulang. Ia harus memikirkan istrinya yang lebih cepat lelah karena usia kehamilan yang semakin tua.


Sejak tadi Zantisya menatap keluar jendela. Entah apa yang ia lihat saat ini. Entah apa yang lebih menarik diluar sana dari pada menatap suaminya.


Arjuno tetap fokus mengemudikan mobilnya. Sesekali ia juga melirik Zantisya yang masih saja fokus melihat keluar sana.

__ADS_1


"Mas, aku mau belah durian" ucap Zantisya tiba-tiba saat mobil berhenti karena lampu merah.


"Apa dek?" Tanya Arjuno takut salah dengar.


"Aku ingin belah durian mas" Zantisya mulai merengek. mengeluarkan jurus andalan untuk meluluhkan Arjuno.


"Kita masih dijalan dek. Nanti ya kalau sudah dirumah."


Sepertinya Arjuno salah tanggap dengan permintaan ibu hamil saat ini.


"Aku maunya sekarang mas." Zantisya masih mencoba merayu agar permintaannya dituruti sang suami.


"Mana mungkin kita melakukan disini dek."


"Mas mikir apa sih" ucap Zantisya yang mulai paham jika sejak tadi suaminya salah paham.


Dan kini Arjuno merasa heran dan juga malu akibat pikiran yang bergentayangan lain dari permintaan Zantisya tadi.


Apa lagi saat ini Zantisya tengah asik membelah buah durian mengikuti cara yang di ajarkan penjual durian.


Hingga sampai lebih dari sepuluh buah durian Zantisya buka saja tanpa ia nikmati buahnya yang beraroma itu.


Ternyata Zantisya mengidam belah buah durian saja. Maka dari itu sejak tadi ia menatap keluar jendela karena melihat rentetan penjual buah durian.


Beberapa buah durian Arjuno berikan pada beberapa pembeli disana. Dan yang lainnya di masukkan ke bagasi mobil untuk ia bagikan pada orang-orang yang ada dirumah.


Setelah membayar semua buah durian yang sudah di belah-belah. Arjuno dan Zantisya kembali masuk kedalam mobil untuk meneruskan perjalanan pulang ke rumah.


Sesampainya dirumah, Arjuno membagikan buah durian. Dan menyimpan beberapa untuk pekerja lainnya yang belum datang.


Zantisya langsung mengikuti langkah Arjuno memasuki kamar mereka.


"Mas nggak suka buah durian?" Tanya Zantisya setelah menutup pintu. Ia heran karena Arjuno tidak menyisakan buah untuk Arjuno sendiri.


"Suka" jawab Arjuno sambil melepas pakaian untuk berganti baju yang lebih nyaman saat dirumah.


"Kok mas nggak nyisain buat mas sendiri buahnya?" Tanya Zantisya. Setelah melepas jilbabnya, Zantisya langsung duduk di depan meja rias untuk menghapus make up tipis yang ia gunakan.


Arjuno langsung menghampiri Zantisya dan memeluknya. Dan jangan lupa tindakan Arjuno yang mengabsen leher Zantisya.


"Mas..."


Arjuno menatap Zantisya dari pantulan kaca didepan mereka. "Aku sukanya belah durian sama adek" ucap Arjuno. Kemudian ia mengedipkan satu matanya menggoda Zantisya.


Bersambung...


Astaghfirullah mas Arjun sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran mu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2