HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 79 RUJAK TENGAH MALAM


__ADS_3

Malam semakin larut. Jam saja sudah menunjukkan pukul 00.15 WIB. Sudah sejak tadi Arjuno tetap terjaga. Dan sejak itu pula ia hanya bisa menatap wajah cantik Zantisya yang terlelap.


Entah sudah berapa kali Arjuno berganti posisi agar bisa cepat lelap menyusul sang istri yang terbuai mimpi.


Namun tetap saja kedua matanya masih betah terjaga. Enggan diajak mengarungi indahnya impian.


Sudah ditahan-tahan untuk tidak membangunkan Zantisya tapi sepertinya Arjuno gagal.


Karena kini tangannya sudah usil membelai pa*ha Zantisya. Memberikan sentuhan-sentuhan pada titik kekalahan Zantisya.


Sampai gaunnya berhasil naik, Arjuno masuk kedalam selimut untuk melahap si kembar yang semakin hari semakin nampak menantang. Seolah melambainya untuk datang menghampiri.


Euh...


Sepertinya Zantisya sudah mulai terjaga karena kini suara merduanya sudah terdengar ditelinga Arjuno. Lelaki itu mengulas senyum dan melahapnya lebih dalam lagi.


"Mas..." lenguh Zantisya dengan suara khas bangun tidur.


Kini nyawanya sudah seratus persen kembali. Zantisya sudah terjaga dengan tatapan sayunya karena jelas masih mengantuk.


"Aku ganggu ya dek?" tanya Arjuno dengan rasa tidak bersalahnya.


"Sudah tahu iya pake tanya mas ini. Kenapa mas belum tidur?" tanya Zantisya dengan nafasnya yang menyiksa dada.


Bagaimana mungkin tidak menyiksa jika tangan ahli Arjuno terus bermain dipusat kebahagiaan. Membuat Zantisya semakin bergerak tidak karuan.


"Aku belum ngantuk dek" Tangannya semakin bergerak cepat.


"Mas aku nggak kuat" Zantisya mencoba menarik tangan Arjuno Agar berhenti.


Namun bukannya beranjak malah semakin cepat membuat keringat Zantisya bercucuran seperti panas didalam tubuhnya menguap begitu saja.


"Maaasss..." pekik Zantisya.


Kini tubuhnya bergetar dan terasa lemas dengan nafas memburu setelah melepaskan apa yang tertahan.


"Mas mau?" Tanya Zantisya dengan nafas terengah-engah.


"Enggak!" Jawab Arjuno tersenyum.


"Terus ngapain belum tidur dan sekarang nyiksa aku kaya gini?" Kesal juga Zantisya jadinya kan.


"Aku mau yang lain dek."


"Mas mau apa?" Zantisya langsung bangun untuk duduk. Tangan Arjuni spontan langsung beranjak.


"Buat rujak yuk dek" ajak Arjuno semangat.


Zantisya melihat jam yang ada didalam kamar mereka.


"Jam segini mas?" tanya Zantisya tidak percaya.

__ADS_1


Arjuno langsung mengangguk cepat. Sepertinya lelaki ini ngidam akut tak kenal waktu.


"Aku pengen banget dek."


Akhirnya mereka berdua pun menuju dapur. Zantisya langsung mengambil beberapa buah yang cocok untuk dirujak setelahnya suaminyalah yang membersihkan dan memotong buah. Sedangkan Zantisya langsung membuat sambal rujaknya.


Mereka berdua langsung duduk di ruang makan untuk menikmati rujak ditengah malam ini. Disaat orang lain terlelap, mereka malah menikmati yang pedas-pedas.


"Enak nggak mas sambalnya?" Tanya Zantisya saat melihat Arjuno melahap suapan pertama rujak.


"Mantep dek" puji Arjuno sambil memberikan dua jempol pada sang istri.


Zantisya pun langsung ikut menikmati rujak. Kalau dikira Arjuno akan melahap banyak-banyak rujak malam ini. Jelas salah. Karena nyatanya yang habis banyak itu Zantisya bukanlah Arjuno yang tengah ngidam. Sungguh aneh memang.


Setelah rujak habis, mereka pun langsung menuju kamar mereka. Masuk kekamar mandi membersihkan diri dan melakukan solat malam bersama.


"Peluk mas" ucap Zantisya setelah mendekap tubuh Arjuno.


Arjuno langsung memeluk erat Zantisya. Barulah keduannya mulai terlelap.


.


.


.


Semenjak Zantisya hamil, Arjuno semakin posesif saja agar istrinya tidak melakukan apapun saat ia bekerja.


Semenjak itu juga Arjuno memperkerjakan satu pegawai lagi untuk membantu bi Tami mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.


"Bi Siti, Bi Tami dimana?" tanya Zantisya menghampiri bi Tami yang sedang nyetrika baju.


"Bi Tami ke tukang sayur mbak. Tadi waktu kepasar lupa nggak beli bawang merah."


Zantisya mengangguk. "Bawa hape nggak ya bi Tami bi?"


"Sebentar bibi coba telpon bi Tami mbak."


Bi Siti langsung mengambil ponselnya dan langsung mencoba menelpon bi Tami. Namun suara ponsel bi tami langsung terdengar. Bi Siti langsung mematikan sambungan teleponnya.


"Mbak Tisya pengen apa?" tanya bi Siti. Kalau istri Arjuno itu ngidam ya harus ia belikan apapun keinginannya.


"Nggak pengen apa-apa bi, cuma pengen tanya aja" ucap Zantisya yang langsung berlalu dengan wajah polosnya.


Bi Siti seketika menepuk jidatnya karena merasa heran dengan sikap Zantisya. Ia sudah mengira kalau-kalau Zantisya pengen makan apa. Eh nggak taunya hanya tanya saja. Akhirnya bi Siti meneruskan pekerjaannya.


Zantisya hanya mondar-mandir saja. Dari taman depan kebelakang. Pak Edi sampai heran sendiri dengan tingkah majikannya itu. Pak Edi memilih mengabaikan rasa herannya untuk terus mengerjakan tugasnya sendiri. semenjak hamil bahkan kini pak Edi sendiri yang menyirami tanaman Zantisya.


Mungkin itu alasan Zantisya kebingungan sendiri karena tidak ada hal yang bisa ia lakukan.


"Pak..." panggil Zantisya pada pak Edi.

__ADS_1


"Iya mbak."


"Memangnya dulu waktu istri bapak hamil. Bapak juga nggak bolehin istri bapak melakukan hal apapun?" tanya Zantisya yang sepertinya tengah curhat.


Pak Edi tersenyum mendengarkan pertanyaan Zantisya. "Saya dulu juga begitu mbak. Tidak memperbolehkan istri saya melakukan pekerjaan berat saat hamil anak pertama kami. Tapi karena keadaan, istri saya tetap membantu saya mencari nafkah."


Jawaban pak Edi membuat Zantisya terenyuh. Seharusnya ia bersyukur karena ia tidak perlu bersusah payah bekerja mencari uang.


"Maafkan pertanyaan saya ya pak" ucap Zantisya tidak enak hati.


"Nggak apa-apa mbak. Semua suami pasti akan melakukan apapun seperti yang dilakukan mas Uno jika berkecukupan mbak. Tidak ada Suami yang ingin melihat istrinya bersusah payah membantu mencukupi perekonomian keluarga."


Zantisya mengangguk. "Pak nanti kalau pulang jangan lupa dibawa kuehnya ya." ucap Zantisya mengingatkan.


Zantisya kemarin memang membuat kue kering bersama bi Tami dan bi Siti, lebih tepatnya para bibi yang membuat, karena Zantisya tidak dibolehkan ikut melakukan.


Semua para pegawai dirumahnya sudah membawa kue buatan mereka kemarin dan hanya pak Edi yang kelupaan membawa pulang kuehnya.


"Iya mbak."


Zantisya langsung berlalu. Ia menuju dapur melihat bi Tami yang sudah mulai meracik bumbu.


"Bi, tolong buatin telor gulung kaya bibi buat kemarin ya bi." Pinta Zantisya.


"Iya mbak."


Zantisya langsung menuju kamarnya. Melihat pantulan tubuhnya pada cermin melihat bentuk perutnya yang sudah mulai membuncit.


"Jadi nggak sabar, bagaimana kalau perut ku membesar nanti" Zantisya membayangkan dirinya sendiri.


"Pasti imut banget" ucapnya dengan girang sambil membelai perutnya.


.


.


.


Arjuno tersenyum melihat layar ponselnya. Melihat apa yang dilakakun Zantisya di depan cermin. Ia langsung melihat jam yang melingkar ditangan kanannya.


"Masih lama jam pulang" gumam Arjuno.


Ia langsung beranjak dari kursinya dan segera keluar dari ruangannya. Arjuno melangkah pelan menuju ruang sekretarisnya, Resti.


"Res..." panggil Arjuno yang langsung membuka pintu.


"Astaghfirullah... maaf-maaf."


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐Ÿฅฐ kasih like dan komennya ๐Ÿ’‹ tab favorit juga ya โค๏ธ

__ADS_1


__ADS_2