HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 101 PULANG KARENA RINDU


__ADS_3

Arjuno langsung memeluk Zantisya saat mereka sudah masuk ke kamar sebelah. Dimana Al masih nampak tertidur nyenyak. Arjuno kini menyadari otaknya yang tiba-tiba blank perkara takut istrinya salah paham.


"Aku sampai lupa tadi dek kalau rumah ini ada CCTVnya. Yang aku pikirkan tadi takut adek salah paham." Ucap Arjuno lirih. Arjuno mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada disana. Membawa Zantisya duduk di pangkuannya.


"Aku yang bersyukur karena mas memasang CCTV dirumah ini." Zantisya merenggangkan pelukannya. Menatap Arjuno. "Aku nggak akan biarkan siapapun merebut mas dari aku dan Al. Mas kehidupan kami, Mas jantungnya rumah ini. Maafin aku ya mas."


"Loh kenapa adek yang minta maaf."


"Aku peka kalau mas risih dengan Yanti akhir-akhir ini. Tapi aku benar-benar nggak tega kalau aku berhentikan dia kerja dengan keadaan keluarganya yang seperti itu mas."


"Kamu terlalu baik dek."


"Aku banyak belajar dari mas." Zantisya langsung memeluk erat Arjuno. Ia sempat berfikir kalau rumah ini tidak ada CCTVnya. Dan ia percaya begitu saja dengan penuturan Yanti tadi. Sungguh tidak dapat ia bayangkan dengan apa yang terjadi dengan rumah tangganya.


"Tapi mas, kok tumben jam segini sudah pulang?" Tanya Zantisya heran. Ia langsung merenggangkan pelukannya.


"Sekarang hujan loh dek." Ucap Arjuno dengan senyum yang mencurigakan. Dan jangan lupakan kedipan salah satu mata Arjuno menggoda Zantisya.


"Memangnya kenapa dengan hujan?" Tanya Zantisya pura-pura nggak paham.


Malas menanggapi Zantisya yang sok nggak tahu. Akan lebih baik to the point untuk mempercepat keinginannya yang merindukan Zantisya.


Entah rindu seperti apa yang dimaksud Arjuno saat di kantor tadi. Karena nyatanya, kini ia sudah membekap bibir Zantisya. Seolah melupakan kejadian barusan atau mungkin menganggapnya tidak penting. Dan membiarkan itu berlalu seperti angin. Zantisya juga lebih memilih menikmati apa yang dimau Arjuno saat ini.


Arjuno melepaska sejenak aktivitas saliva mereka. Melepaskan jilbab yang digunakan Zantisya. setelah itu Arjuno langsung menjelajahi leher jenjang Zantisya. Sedangkan perempuan itu mengangkat wajahnya memberikan akses Arjuno. Agar mempermudah aktifitasnya.


Bergerak pelan tapi pasti. Tangan Arjuno mulai menurunkan resleting baju Zantisya yang ada di depan. Tangannya bergerak ahli menengeluarkan salah satu pusat Asi milik Al. Keduanya benar-benar terbuai dan sepertinya lupa kalau anak mereka juga ada disana.


Euhh...


Zantisya menggumam pelan akibat dari pergerakan tangan Arjuno. Suara Zantisya yang menjadi vitamin Arjuno, membuatnya ingin berselancar ria kemana-mana. Baru saja Arjuno membuak mulutnya, ingin melahap sesuatu yang terlihat penuh dengan tetesan cairan penuh kandungan nutrisi. Tiba-tiba...


"Hik... hik..." (dahlah anggap aja begitu suara bayi nangis usia 10 bulan)


Suara Al yang bangun secara bersamaan membuat Zantisya membuka kedua matanya. Sedangkan Arjuno langsung menjauhkan wajahnya dari depan da*da Zantisya. Mereka berdua saling bertatap karena hawa panas keduanya tiba-tiba ambyar. Dan detik berikutnya mereka berdua terkekeh geli sendiri.

__ADS_1


"Sepertinya kita lanjut nanti malam saja mas." Zantisya langsung turun dari pangkuan Suaminya. Diikuti Arjuno yang langsung berdiri.


Dengan keusilan yang tidak mampu ditandingi Zantisya, dengan iseng menyentil milik suaminya yang sudah nampak siap. "Sabar ya."


"Dek. jangan bikin makin tegang dong." Ucap Arjuno yang malah jadi tergoda.


Zantisya terkekeh dan langsung menghampiri kedua anaknya . Arjuno lebih dulu mengambil Ruby yang sudah duduk dan memainkan adiknya yang menangis.


Sedangkan Zantisya langsung memberikan Asi langsung pada safir. Agar anaknya itu tidak menangis lagi.


Setelah mengganti pempes Al. Arjuno dan Zantisya langsung membawa kedua anaknya turun. Menuju ruang keluarga dimana biasanya mereka menonton televise. Selain itu juga karena mainan Al semuanya tersimpan disana.


"Aku ambil makannya Al dulu mas." Ucap Zantisya setelah mendudukkan Ruby di karpet berbulu.


"Iya dek."


Zantisya langsung mengambil makan siang Al di dapur.


"Mau buat apa bi?" Tanya Zantisya. Ia melihat bi Tami yang sedang membersihkan berbagai macam buah.


"Itu kemarin bibi buatnya kaya ada yang kurang deh bi." Ucap Zantisya.


"Apa mbak? Biar bibi tambah kalau ada yang kurang."


"Kurang banyak." Jawab Zantisya santai yang langsung meninggalkan bi Tami dengan kekehanya sendiri.


"Orang seperti mbak Tisya dan mas Uno kok ya ada saja yang ingin berbuat tidak baik." Gumam bi Tami.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, bi Siti langsung menghampiri Zantisya dan Arjuno yang sedang bermain bersama Ruby dan Safir.


"Mamamama." Celoteh Ruby.


"Bunda." Ajar Zantisya.


"Amamamama."

__ADS_1


"Bunda."


"Dadadada."


"Uluh pintarnya anak bunda." Puji Zantisya. Ia meninggalkan banyak kecupan pada wajah gadis kecilnya itu.


Zantisya melihat Arjuno yang sedang mengajak bermain Safir. Dua lelaki itu nampak tenang dengan mainan yang berserakan.


"Mbak, mas." Panggil bi Siti.


"Eh bibi. Silahkan duduk bi." Bi Siti langsung ikut duduk didekat Zantisya. "Ada apa bi?" tanya Zantisya menatap bi Siti.


"Mbak Tisya, mas Uno. Bibi minta maaf atas kejadian tadi. Bibi merasa bersalah karena bibi yang telah membawa Yanti masuk kerumah ini."


Arjuno melihat bi Siti dan Zantisya sekilas. Ia tetap mendengarkan obrolan keduanya, namun Arjuno memilih terlihat lebih fokus menjaga Al.


"Bibi nggak salah. Tisya juga salah bi. Sudah tahu tapi masih saja membiarkan tetap disini dengan harapan Yanti bisa berubah."


"Bi Tami." Panggil Zantisya saat melihat bi Tami lewat.


"Iya mbak." Bi Tami langsung mendekat dimana semua orang berada.


"Kalau bi Tami dan bi Siti punya kenalan yang butuh pekerjaan membantu Tisya jaga Al. Bibi boleh ajak kesini."


"Bagaimana kalau kami saja yang membantu mbak jaga Al." Usul bi Tami. "Toh pekerjaan kami cepat selesainya. Bibi juga nggak tega kalau Al banyak di pegang orang mbak. Kalau sama kami Al juga sudah terbiasa sejak bayi."


Zantisya mengangguk. "Awalnya Tisya juga berfikir begitu bi. sebenarnya Tisya juga nggak butuh-butuh amat baby sitter. Apa lagi sekarang Ruby sama Safir jam tidur malamnya sudah teratur. jarang banget Tisya begadang. Hanya butuh bantuan saat siang begini, mereka sangat aktif jadi takutnya Tisya lengah karena nggak memperhatiakan salah satu dari Al."


"Kalau begitu biar kami saja mbak yang membantu jaga Al. Kami juga siap 24 jam disini. kami bisa tinggalkan pekerjaan dulu buat bantu mbak jaga Al."


Sebenarnya saat masih ada Yanti pun, Zantisya sudah terbiasa mengajak main Al sendiri tanpa bantuan Yanti. Tapi ia juga harus membutuhkan bantuan tenaga menjaga al. Apa lagi saat harus melakukan kewajiban pada sang pencipta. Atau saat tiba-tiba ingin buang air. Atau juga saat sedang makan mengisi energy yang sudah pasti di kuras Al.


Bersambung...


Detik-detik...???

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐Ÿฅฐ kasih like dan komennya ๐Ÿ’‹ tab favorit juga ya โค๏ธ


__ADS_2