
"Aku masih menunggu jawaban mu dari ucapan ku malam itu dek" ucap Arjuno tiba-tiba memecah kediaman diantara keduanya.
"Aku… aku minta maaf mas, aku nggak bisa" lirih Zantisya menunduk.
"Kenapa dek? Kita sama-sama sendiri kan?"
"Mas Arjun pantas mendapatkan perempuan yang baik. Assalamualaikum" Zantisya langsung berdiri dan melangkah meninggalkan Arjuno.
Meski perasaan Zantisya sama, tapi Zantisya masih berharap Arjuno mendapatkan perempuan yang lebih baik darinya.
Arjuno langsung mengejar Zantisya, merasa tidak puas dengan alasan yang diberikan Zantisya padanya. Arjuno mencekal lengan Zantisya dan membalik tubuh gadis itu agar berbalik kearahnya.
"Perempuan baik seperti apa lagi yang harus aku dapatkan dek. Kalau nyatanya aku sudah menemukannya"
"Mas, tolong jangan paksa aku" ucap Zantisya sambil melepaskan diri dari cekalan Arjuno.
"Maaf" Arjuno mundur dua langkah agar mereka berjarak. "Jika memang belum siap untuk menikah lagi setidaknya kasih aku kesempatan dek" pinta Arjuno tulus.
Zantisya menggelengkan kepalanya. "Aku minta maaf mas" ucap Zantisya lalu ia pergi secepat mungkin.
Mendengar kata pernikahan membuatnya terbayang perlakuan Bima padanya.
.
.
.
Keesokan harinya Arjuno langsung memanggil Rudi, manajernya. Sepertinya duda pengusaha itu akan mengomeli orang kepercayaannya itu.
"Kenapa pak Rudi menerima pegawai perempuan di bagian cuci piring pak. Itu pekerjaannya banyak dan berat" ucap Arjuno setelah Rudi duduk dihadapannya, tanpa basa basi langsung ke topik permasalahannya.
"Maaf pak. Dulu saat pertama kali saat Zan kesini saya sudah menjelaskan bahwa bagian itu hanya di peruntukkan laki-laki namun dia memaksa karena membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup" jelas Rudi.
"Ya Tuhan" batin Arjuno menghilangkan sebuah kejengkelan didalam hatinya. "Kenapa nggak dipindah kebagian lain pak, dan pak Rudi bisa mencari pegawai baru"
"Sebenarnya setelah dua bulan Zan bekerja, saya sudah menawarinya pindah di bagian kasir karena meski sebatas lulusan SMA Zan itu anak yang cerdas pak. Tapi dia tetap menolak meski beberapa kali saya menawarinya dengan alasan yang sama"
"Alasan?" Arjuno mengernyitkan dahinya. "Alasan apa pak?"
"Zan lebih nyaman di bagian cuci piring karena tidak banyak berinteraksi dengan orang banyak. Sepertinya dia punya phobia pak, karena pernah sekali waktu Nuri meminta tolong mengantar pesanan ke meja pengunjung, Zan nggak sengaja menjatuhkan nampannya, saat itu resto lagi ramai pak jadi semua orang menatap kearahnya dan saat itu juga dia terlihat diam menunduk dengan tubuhnya gemetar pak dan wajahnya langsung memucat pak" jelas Rudi.
"Maaf ya pak saya nggak ada niat ghibahin orang sama bapak tapi saya pikir bapak perlu tahu ini karena menurut semua orang (karyawan) bapak tertarik sama Zan" Bisik Rudi.
"Sialan" Akhirnya Arjuno memulai mode pertemanan mereka. "Kalian Ghibahin aku" pekik Arjuno sambil melempar pulpen.
"Dengerin aku dulu sih woi" balas lelaki yang usianya lebih tua satu tahun dari Arjuno, sambil melempar balik pulpen.
"Iya Aku dengerin nih" Ucap Arjuno.
"Kamu beneran punya hubungan sama Zan?"
"Ck. Aku pikir tadi masih mau cerita ternyata tanya"
"Karna sepengetahuan aku dari anak-anak Zantisya itu sangat menjaga jarak sama pegawai laki-laki. Jadi kita semua kaget kalau ternyata bos kita tertarik dengan Zan. Apalagi yang kita tahu kalian baru ketemu sekarang" Arjuno nampak berpikir setelah mendengar ucapan Rudi.
__ADS_1
.
.
.
"Zan, kamu punya hubungan apa sama pak Arko?" tanya Nuri saat Zantisya baru datang karena dia masuk kerja shif dua.
"Hubungan apa maksudnya mbak?" tanya Zantisya bingung menatap Nuri dan teman lainnya.
"Pak Arko kemarin tanya alamat kost kita masak kamu kemarin nggak ketemu" jelas Nuri.
"Kemarin kan aku ketemunya bukan sama Pak Arko tapi Mas Arjun" Batin Zantisya bingung. "Tapi buat apa mbak pak Arko cari aku. Kan selama ini aku juga belum ketemu sama pak Arko"
"Emangnya kemarin waktu aku suruh antar makanan ke ruangan pak Arko, pak Arko nggak ada disana?"
Zantisya langsung mengingat kejadian kemarin. "Tunggu mbak Tunggu. Arko… maksud mbak Arko itu Arjuno Andrewiyoko?" tanya Zantisya ketika menyadari kepanjangan dari Arko dan saat itu juga langsung dianggukki oleh Nuri dan yang lain secara bersamaan.
"Astaghfirullah" Zantisya menepuk jidatnya.
"Kenapa Zan?"
"Mbak aku boleh izin kerja lagi nggak?"
"Loh kenapa?"
Belum Sempat Zantisya memberi Alasan, Arjuno dan Rudi turun.
"Ayo dek ikut aku" Ajak Arjuno santai sambil menggerakkan jari telunjuknya.
"Kemana mas?" dengan lupanya Zantisya memanggil Arjuno mas membuat mereka semua yang menyaksikan jadi semakin menduga-duga dengan pikiran sendiri.
"Tapi mas aku kan harus kerja"
Arjuno yang akan melangkah pergi langsung berbalik menatap Zantisya yang masih diam mematung ditempatnya.
"Jangan bilang kamu nggak tahu siapa pemilik restoran ini?" tanya Arjuno sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana jensnya.
"Eh sumpah cool banget pak Arko gayanya begitu" Bisik salah satu pegawai pada Nuri.
"Aku tahu kok kalau mas yang pun…" ucapan Zantisya terhenti kala menyadari ucapannya sendiri. Dia memanggil mas pada Arjuno dihadapan teman kerjanya dan manajernya sendiri.
Dengan wajah malu Zantisya menatap kearah Rudi dan yang lainnya. Dan dengan bersamaan mereka mengibaskan tangan mereka agar Zantisya pergi bersama Arjuno.
"Sweet banget nggak sih udah pake mas adek an" ucap Nuri setelah melihat Zantisya dan Arjuno pergi.
"Iya"
"Mana udah aku kamu uhhhh gemes. Sejak kapan ya mereka dekat?"
"Udah kerja yuk kerja" Ucap Rudi.
"Hayoookkk…" Ucap Nuri. Dengan tanpa sadar mereka berbisik bersama dengan manajer mereka.
.
__ADS_1
.
.
"Kita mau kemana mas?" tanya Zantisya setelah Arjuno menjalankan mobilnya.
"Ke suatu tempat"
"Mas kita nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku harus kerja mas"
Arjuno memilih diam tak menanggapi ucapan Zantisya. Ia terus fokus mengemudi. Karena merasa tak ditanggapi, akhirnya Zantisya pun mulai diam dan melihat jalanan dari jendela mobil.
"Mas sakit?" tanya Zantisya. Karena kini mobil yang mereka kendarai memasuki area rumah sakit.
"Enggak"
"Terus ngapain kita kesini?" tanya Zantisya heran. Sambil mengikuti Arjuno yang sudah lebih dulu keluar dari mobil.
"Aku pikir kamu harus ke psikolog dek" ucap Arjuno setelah Zantisya berada tak jauh darinya.
"Untuk apa? Mas pikir aku gila?" tanya Zantisya sambil menghentikan langkahnya.
Arjuno balik arah menatap Zantisya. "Orang ke psikolog bukan berarti gila dek. Ada kalanya seseorang itu tidak bisa mencurahkan segala masalahnya pada orang terdekat maka dia pergi ke psikolog dek"
"Aku baik-baik aja mas" ucap Zantisya lalu pergi meninggalkan Arjuno.
Arjuno segera mengejar Zantisya. "Dek aku hanya mau bantu kamu dek, mungkin dari kejadian dulu kamu punya gangguan kepanikan biar kamu bisa mencurahkan masalahmu agar kamu lega, biar nggak ada lagi yang terus menjadi beban pikiranmu"
"Aku baik-baik aja mas, aku bisa mengatur perasaan ku sendiri. aku baik-baik aja" ucap Zantisya lirih.
"Lalu kenapa sekarang kamu nangis dek?"
Zantisya mengusap air matanya. Membalas tatapan Arjuno yang lekat kearahnya. "Kenapa mas. Kenapa sejauh ini sikap mas sama aku?"
Arjuno maju satu langkah agar dia lebih dekat dengan Zantisya. Lalu sedikit membungkuk agar zantisya tidak perlu mendongakkan wajahnya untuk menatapnya.
"Kamu tahu dengan jelas jawaban dari pertanyaan mu dek, dan kamu juga tahu aku ingin kita nggak seperti ini"
Ucapan Arjuno membuat Zantisya menatap netra lelaki dihadapannya itu. Mata yang terus menyiratkan betapa ia sangat mencintai Zantisya.
"Jadilah pasangan hidup ku dek, aku ingin menjadi orang tempat mu bersandar. Agar kamu bisa mencurahkan apapun pada ku, kita akan berteman dalam sebuah hubungan yang membuat kita berhak untuk dekat" tutur Arjuno.
"Tapi mas…"
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 💋 kasih like dan komennya ya 🥰 tab favorit juga ❤️
Semangat pagi dan selamat beraktifitas 💪💪💪
Arjuno Andrewiyoko
Zantisya Kemala
__ADS_1
Hidup HALLLUUUU 💪💪💪 yang nggak cocok sama visualnya silahkan berimajinasi sendiri 👍👍👍