
Deburan ombak terus berkejaran tiada henti. Angin laut pun terasa sangat menyegarkan sore ini. Menenangkan siapapun yang butuh ketentraman. Menyegarkan siapa pun yang ingin lepas dari rasa penat. Rasa jenuh dengan aktifitas sehari-hari.
Arjuno dan Zantisya sejak tadi terus berlarian kesana kemari mengejar anaknya. Jika Arjuno menjaga Ruby, gadis kecil yang sangat lincah dengan segala polahnya. Sedangkan Zantisya lebih memilih menjaga Safir. Anak lelakinya ini memang pintar namun kalau soal pecicilan masih jauh dari Ruby.
Bukan niat membandingkan, namun memang begitulah adanya. Perkembangan anaknya memang sangat unik. Jika Ruby persis seperti ayahnya, Arjuno. gadis kecil itu lebih agresif, lincah, dan pecicilan, dan bibit pede sudah tertanam sejak dini. Sukanya merusak apa yang menjadi mainan Safir.
Sedangkan Safir, karakternya seperti Zantisya. anak laki-laki mereka ini sangat sulit akrab dengan orang baru jika orang yang mendekatinya tidak ahli merayu. Safir kebanyakan tingkah hanya didepan orang-orang yang sudah ia kenal. Pendiam, namun cerdas.
Kalau Safir sudah berhasil memasang berbagai macam puzzle maka Ruby akan datang hanya untuk memporak porandakan apa yang menjadi mainan Safir. Akibatnya bocah yang tiga bulan lagi berusia 2 tahun itu menangis bersama.
Safir menangis karena mainannya di rusak Ruby sedang Ruby nangis karena dipukul Safir. Benar-benar terkuras energi Zantisya saat mengurus kedua anaknya ini yang super duper gemesin.
Zantisya dan Safir sudah duduk di hamparan pasir. Selain karena Zantisya yang sudah lelah mengejar Safir kesana kemari, Safir juga meminta minum karena haus. Sudah sejak satu bulan lalu Safir dan Ruby berhenti Asi dengan sendirinya.
"Tante."
Zantisya langsung menengok. Entah benar dia yang dipanggil atau bukan, namun Zantisya spontan menoleh ke sumber suara. "Zen."
Zen langsung lari mendekati Zantisya. "Assalamualaikum tante." Zan mencium punggung tangan Zantisya.
"Waalaikumsalam." Jawab Zantisya. "Safir salam sama mas Zen nak."
Safir yang sejak tadi sudah menatap Zen langsung mengulurkan tangannya. Zen langsung duduk jongkok didepan Safir. Zan langsung menjabat tangan Safir, lalu Safir langsung mencium punggung tangan Zen.
"Siapa namanya adek ganteng?" Tanya Zen.
"Safir." Ucap Safir jelas.
"Ini mas Zen." Ucap Zen sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Zen kesini dengan siapa?"
"Sama nda, ayah. Adek cantiknya mana tante?"
"Itu." Tunjuk Zantisya ke arah Arjuno dan Ruby yang sedang asik kejar-kejaran sejak tadi. Heran memang Zantisya dengan gadis kecilnya itu, seperti tidak mengenal lelah kalau sudah bermain seperti ini.
"Safir ayo mas gendong yok." Ajak Zen.
Kini Zantisya dibuat terkejut karena Safir dengan cepat masuk kegendongan Zen. Baru kali ini anaknya itu mau dengan orang yang baru ia temui.
"Tante, Zen ajak Safir kesana." Ucapnya menunjuk Arjuno.
Zantisya mengangguk. "Hati-hati ya." Zen langsung beranjak setelah mendapat izin.
__ADS_1
"Hai om..." Sapa Zen sambil melambaikan tangan.
"Heh hati-hati." Pekik Arjuno terkejut. Karena melihat anaknya berada dalam gendongan bocah tengil yang sudah semakin tinggi saja.
Zen menurunkan Safir dari gendongannya. "Nggak usah khawatir om. Zen kuat gendong Safir." Ucap Zen sambil memamerkan otot lengan tangannya.
"Halah. Tangan kecil kaya gitu." Ejek Arjuno sambil menepuk pelan lengan yang Zen pamerkan.
"Gini-gini tenaganya ruso-ruso om." Bangga Zen. "Om apa kabar om."
Cetak...
"Aw..." pekik Zen setelah Arjuno menyentil keningnya.
"Sama orang tua nggak sopan. Baru datang bukannya salam malah hai hai." Kesal Arjuno.
"Assalamualaikum..." Salam Zen dengan suara dramanya dan membungkukan tubuhnya.
"Waalaikum salam." Jawab Arjuno. Ia benar-benar ingin menjitak bocah didepannya kini. Zen langsung mencium punggung tangan Arjuno.
Zen langsung duduk jongkok mensejajarkan tubuhnya dengan kedua balita disana. "Hai adek cantik, nama kamu siapa?" Tanya Zen pada Ruby.
"Luby." Jawab Ruby cadel.
"Ruby Zen." Pekik Arjuno memperjelas. Ingin kesal tapi ingin juga tertawa karena nama anaknya yang sudah cantik menjadi Uby.
Zen mengulurkan tanganya memperkenalkan diri. "Mas Zen yang paling ganteng." Ucap Zen memperkenalkan diri.
Saat Ruby mau mencium punggung tangan Zen. Dengan cepat Zen mencium punggung tangan Ruby membuat Arjuno tercengan melihatnya.
Dengan spontan Arjuno menarik kaos Zen agar bocah tengil didepannya ini berdiri. "Heh bocah kamu mau modusin anak ku ya." Tuduh Arjuno nggak tanggung-tanggung.
"Om mana mungkin aku modusin bayi cantik begini." Ucap Zen.
"Ya Allah. Tisya anak kamu manis-manis sekali." Puji Nissa. Seketika perdebatan antara Zen dan Arjuno selesai.
"Pak Yusuf." Sapa Arjuno sopan. Mereka langsung bersalaman.
Kini Arjuno dan Zantisya duduk berdua diatas hamparan pasir. Arjuno merangkul pundak Zantisya sedangkan Zantisya menyandarkan kepalanya pada bahu Arjuno.
Mereka malah seperti penonton. Menyaksikan Al yang terlihat seru bermain dengan Zen, Nissa, dan Yusuf.
Kalau Ruby mungkin Arjuno dan Zantisya wajar bisa cepat akrab dengan orang baru. Tapi Safir. Mereka berdua sangat tidak menduga kalau Safir bisa cepat akrab begitu saja dengan anak dan istri dari pimpinan DS Group itu.
__ADS_1
Arjuno langsung melepaskan rangkulannya pada Zantisya saat melihat Zen yang lari kearah mereka.
"Tante minta minum dong." Zantisya langsung mengulurkan botol air mineral yang masih belum dibuka.
Zen langsung duduk begitu saja dan langsung menenggak air minum hingga hampir tandas.
"Om ayo kita lari om." Tantang Zen tiba-tiba.
Arjuno menatap Zen penuh curiga. Bocah tengil satu ini benar-benar berpikir tanpa bisa di duga. "Pasti kamu mau yang aneh-aneh kan." Tebak Arjuno yang sudah over thinking terhadap Zen.
"Astagfirullah om." Zen mengelus dada dengan dramatis. "Nggak baik om negative thinking sama anak seganteng Zen.".
Justru sekarang Zantisya yang terkekeh melihat interaksi dua lelaki beda usia didepannya kini.
"Tapi kalau boleh itu Adik perempuannya buat Zen om. Lumayan bisa buat temen Zen main dirumah."
Mendengar ucapan Zen barusan membuat Arjuno tercengang. Masih saja sama meminta anak perempuanya sejak awal mereka bertemu dulu.
"Anak kak Rere jarang nginap dirumah om. Padahal Zen ingin sekali adek-adek Zen kumpul sama Zen." Ucap Zen curhat.
"Ya kamu minta saja adek sama Ayah bunda kamu Zen." Usul Arjuno yang menurutnya paling cemerlang.
"Ayah dan nda nggak mau kalau Zen punya Adek."
"Kenapa?" Tanya Arjuno penasaran. Sedang Zantisya fokus mendengarkan.
"Karena ayah sudah tua om."
"Hah." Arjuno dan Zantisya terkejut bersamaan.
Zen duduk berbalik menghadap kearah ayah dan nda nya yang asik bermain dengan Safir dan Ruby. Ia duduk didepan tepat diantara Arjuno dan Zantisya.
"Padahal ya om. Ayah Zen itu kan masih muda. Tuh masih cocok bawa bayi begitu." Tunjuk Zen.
"Mau kemana kamu bocah?" Tanya Arjuno saat Zen beranjak.
"Mau bawa kabur Ruby om." Jawab Zen yang langsung lari begitu saja.
Arjuno benar-benar tidak menyangka mendengar jawaban Zen barusan. Sedangkan Zantisya malah terkekeh geli melihat ekspresi wajah Arjuno sekarang.
Bersambung...
Sekuel untuk novel selanjutnya 🥰
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️