HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 23 RUMAH SAKIT


__ADS_3

Zantisya duduk didepan ruang UGD menunggu Bima yang tengah mendapatkan pengobatan. Sejak tadi beberapa perawat mengajaknya untuk mengobati luka yang ada diwajahnya namun Zantisya menolak.


Zantisya langsung berdiri ketika kedua matanya mendapati sosok dokter kandungan yang biasanya memeriksa Evita. Dan sangat mengenalnya apalagi kisah ketiganya.


"Tisya" panggil dokter Ani saat menyadari perempuan yang tidak baik-baik saja itu adalah Zantisya.


Dengan langkah pelan Zantisya mendekati dokter Ani lalu menghambur ke pelukan dokter cantik yang usianya sama dengan Laras. Zantisya langsung menangis sejadi-jadinya membuat dokter itu bingung apa lagi penampilan zantisya yang terlihat membutuhkan pengobatan itu.


"Ada apa sayang? Apa yang terjadi?" tanya Dokter Ani sambil menepuk pelan punggung Zantisya.


"Tisya bukan pembunuh dokter, Tisya nggak niat bunuh kak Bima" lirih Zantisya dalam Tangisnya. Tak lama Zantisya jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Dengan cepat dokter Ani meminta pertolongan para perawat yang ada disana dan langsung memberikan perawatan pada gadis malang itu.


"Apa yang terjadi padamu nak?" lirih dokter Ani setelah Zantisya mendapatkan perawatan. Betapa terkejutnya dokter Ani tadi saat membantu merawat Zantisya. Melihat tubuh mungil itu mendapati memar hampir di seluruh tubuhnya.


.


.


.


Laras sejak tadi menggenggam tangan Zantisya erat. Ia berharap agar menantunya itu segera sadarkan diri. Bima sejak tadi duduk santai tanpa dosa disebuah sofa sambil memainkan ponselnya. Beruntung lukanya tidak terlalu parah jadi bisa melakukan rawat jalan saja. Namun saat ini Bima harus menunggu Zantisya sadar agar ia tidak mengatakan yang tidak-tidak.


Zantisya mulai menggerakkan jari-jarinya dalam genggaman Laras. Ia juga mulai membuka kelopak matanya.


"Tisya. Kamu sadar nak?" lirih Laras.


"Mama" panggil Zantisya lirih. Gadis penuh lebab dan banyak luka di sekujur tubuhnya itu memandang Laras sendu.


Bima yang mengetahui Zantisya sadar langsung beranjak dan melangkah mendekat brankar dimana Zantisya berada disana. Zantisya sedikit takut saat melihat sosok Bima. Namun ia sebisa mungkin menahan rasa takutnya agar tidak ada rasa kecurigaan.


Laras langsung menekan tombol intercom agar dokter segera datang memeriksa keadaannya.


Tak perlu waktu lama seorang dokter dan perawat datang dan langsung memeriksa keadaan vital Zantisya. Setelah menyampaikan hasil pemeriksaannya bahwa keadaan vital Zantisya normal namun luka-lukanya tetap harus mendapatkan perawatan. Setelahnya dokter dan perawat meninggalkan ruang rawat Zantisya.

__ADS_1


Laras menarik nafas dalam menatap nyalang pada anaknya. Dirinya sudah tidak dapat lagi menahan amarah terhadap anak semata wayangnya itu. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan pada istri mu Bim?" tanya Laras tenang namun suaranya terdengar sangat dingin.


"Bima nggak tahu ma… Bima pulang dalam keadaan mabuk dan tau-tau tadi pagi Bima sudah di rumah sakit dengan luka seperti ini" terang Bima bohong. Lagi pula mana mungkin ia akan mengatakan dengan jujur perihal apa yang sebenarnya terjadi.


"Tisya" Laras menatap Zantisya menuntut sebuah jawaban.


Sejujurnya Zantisya tidak ingin mengingat dan menceritakan itu semua apalagi jika harus jujur atas perlakuan yang ia dapat dari suaminya. Namun sekarang, sepertinya ia harus membuat skenario lagi.


Zantisya menatap Bima yang tengah menatapnya dengan penuh penekanan. Hanya sesaat Zantisya menatap lelaki yang hendak menggaulinya. Dengan cepat Zantisya berpaling.


"Tisya kira semalam kak Bima nggak pulang kerumah karena lembur ma. Kamar Tisya kunci makannya saat kak Bima pulang, kak Bima nggak bisa masuk" bohong Zantisya pelan. Entah masuk akal atau nggak tapi cuma itu yang Zantisya pikirkan saat ini.


"Hanya karna kunci kamu melukai Istri kamu yang sedang hamil besar" bentak Laras pada Bima. Emosinya nggak nanggung.


"Ma, kak Bima mabuk mungkin ia setres karena banyak kerjaan jadi nggak sadar melakukan itu semua” tambah Zantisya yang tak ingin Laras emosi terhadap anaknya. "Zantisya juga kan salah ma, telah melukai kak Bima"


Sejujurnya Laras belum puas dengan jawaban dan penjelasan yang diberikan Zantisya padanya. Namun karena anak menantunya yang menjelaskan ia harus mencoba percaya.


"Sudah selesai kan ma. Kalau begitu Bima ke kantor” pamit Bima tanpa rasa bersalah.


"Masih sempat kamu memikirkan pekerjaan saat istri dan calon anak kamu dalam keadaan seperti ini” bentak Laras semakin menjadi melihat sikap acuh Bima yang kurang ajar.


"BIMA" pekik Laras nggak tanggung-tanggung.


"Ma, Tisya nggak apa-apa kok. Biar kak Bima kerja" Tanpa mengucap kata lagi Bima langsung keluar dari ruang rawat Zantisya.


.


.


.


Seorang perawat mendorong kursi roda yang Zantisya duduki. Sore itu Zantisya mengajak Laras menuju taman untuk menghirup udara segar. Lift langsung berjalan turun dari lantai 7 menuju lantai dasar. Saat sampai di lantai 5 lift kembali terbuka dan menampilkan sosok lelaki yang akan ikut masuk kedalam lif. Lelaki yang menggunakan pakaian formal dan kaca mata hitam itu sejenak terpaku menatap Zantisya. Lalu ia melangkah masuk berdiri tepat di samping Zantisya.


Wangi yang sangat khas itu langsung memenuhi indra penciuman Zantisya. "Mas Arjun" panggil Zantisya hanya didalam hatinya.

__ADS_1


Lift sampai di lantai 2 dimana tadi Arjuno menekan tombol nomor 2 setelah masuk kedalam lift. Saat ia melangkah akan keluar, ujung-ujung jarinya terasa di sentuh oleh Zantisya. Seolah sentuhan itu menahannya, memintanya untuk tidak pergi.


Deg


Dengan jantung yang berdetak kencang, Arjuno dengan cepat melangkah lebar keluar lift dengan hati dan perasaan yang penuh tanya pada perlakuan Zantisya barusan. Perempuan yang sudah menyentuh hatinya, menimbulkan rindu yang tanpa izin mengusik hari-harinya. Dan kini Zantisya menyentuhnya lagi.


.


.


.


Sesampainya di taman perawat yang membantu mendorong kursi roda Zantisya pun langsung permisi meninggalkannya bersama Laras.


"Mau melihat anak-anak itu bermain" tawar Laras sambil menunjuk tempat permainan anak-anak yang tak jauh dari posisi mereka.


"Nggak usah ma, Tisya lihat dari sini saja" Zantisya menolak karena tidak inget merepotkan wanita paruh baya itu.


Laras menatap sendu anak menantunya itu yang terdiam menatap kearah anak-anak kecil yang sedang asik bermain. Laras langsung mendorong kursi roda Zantisya.


"Mama"


"Akan lebih baik kita melihat mereka dari dekat" ucap Laras yang terus mendorong kursi roda Zantisya.


Laras duduk di sebuah kursi yang ada disana dan didekatnya Zantisya terus menatap anak-anak yang asik bermain.


Zantisya melamun mengingat kejadian di lif tadi. "Kenapa aku melakukannya. Aku pasti menyakiti hatinya lagi" batin Zantisya. Tanpa Laras ketahui Zantisya sesekali mengusap air matanya yang jatuh tanpa dapat ia tahan. "Aku harus apa dengan perasaan ku sekarang" batin Zantisya


Zantisya mulai menenangkan hatinya agar tidak menangis semakin kencang saat dadanya semakin sesak mengingat dua lelaki yang kontras berbeda dalam bersikap padanya.


"Jika suatu saat nanti kamu tahu perasaan ku seperti ini, jangan pernah salahkan aku kak, ku anggap kita satu sama. Dan aku pastikan kamu menyesali semuanya" lirih Zantisya.


Matanya menangkap seorang lelaki yang tengah bermain dengan seorang anak perempuan. Gadis kecil itu nampak terus tertawa riang saat ayahnya menggendongnya di atas pundaknya dan berlari pelan seolah tengah menaiki pesawat terbang.


Zantisya tersenyum. "Maaf Bapak, Ibu Zantisya belum menjenguk rumah kalian" Batinnya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰


__ADS_2