
Malam sudah semaki larut namun Evita masih saja terjaga. Sepertinya ucapan Zantisya sungguh sudah mengusik keegoisannya.
Mulai menyadarkan semua kesalahannya sendiri. di pikir ulang berapa kali pun nyatanya memang dia harus mengambil hati suaminya kembali. Entah alasan karena cinta atau harta namun yang pasti keduanya sama pentingnya.
Evita memilih masuk kedalam kamar karena sejak tadi ia tengah merenung di balkon. Evita melihat ranjang percintaannya bersama Bima, membuat ingatannya kembali saat Bima dengan lantang menyebut nama mantan istrinya itu. Malam panas menyenangkan dan menyakitkan jelas tertinggal disana.
Sebagai wanita dan sebagai seorang istri jujur, Evita sangat sakit hati kala suaminya berfantasi diatas tubuhnya. Semuanya menjadi bukti bagi Evita dengan apa yang dikatakan Zantisya tadi. Ia harus segera merebut hati Bima yang sudah bercabang.
Evita turun menuju ruang kerja suaminya, namun saat ia memasuki ruangan itu, tidak ia temukan suaminya disana. Evita akhirnya memilih keluar lagi menyusuri ruangan yang kemungkinan terdapat suaminya.
Langkah kaki Evita terhenti dipinggir kolam. Matanya menatap Bima yang tengah berjongkok didepan tanaman yang nampak lebat bunganya. Evita tahu itu adalah tanaman yang Zantisya tanam sendiri. dan kini mertuanya yang selalu merawat sehingga bunga itu nampak subur nan indah.
"Apa hati mu sudah benar-benar bercabang Bim?" gumam Evita sambil mengusap air matanya yang terus mengalir begitu saja. Perih sekali rasanya kini.
.
.
.
Siang sudah mulai sangat terik, membuat banyak orang enggan berlalu lalang kalau bukan karena sebuah kepentingan. Beruntunglah bagi orang-orang yang sudah mempunyai kendaraan roda empat. Sehingga sengatan matahari tidak langsung menusuk kulit mereka secara langsung.
"Mas ada uang recehan nggak?" tanya Zantisya saat mobil Arjuno berhenti tepat saat lampu merah.
"Buat apa sayang?"
"Itu buat ngasih pengamen sama badut" tunjuk Zantisya saat melihat dua anak kecil mengamen dan satu badut memakai kostum ayam.
"Adek nggak ada uang cast?"
"Nggak ada lah mas. Aku kan jarang belanja, eh gimana mau belanja keluar sendiri aja jarang dibolehin"
"Menyindir nih ceritanya"
"Bukan nyindir mas hanya mengingatkan sebuah F-A-K-T-A" jelas Zantisya.
Memang Zantisya jarang sekali keluar rumah, sekali keluar ya sama suaminya ini. Arjuno langsung mengambil tas kerjanya dan mengambil dompetnya.
"Nih ambil aja sayang" ucap Arjuno sambil menyerahkan dompetnya.
"Boleh nih aku buka dompet mas?" ucap Zantisya setelah menerima dompet Arjuno.
"Memangnya kenapa?" tanya Arjuno sambil mencolek dagu istrinya.
"Nggak apa-apa" Zantisya langsung membuka dompet Arjuno. Dan saat itu juga netranya mendapati foto mereka saat di tempat wisata.
"Mas simpan foto kita sejak kapan?" tanya Zantisya sambil melihat uang yang tersimpan disana.
"Sejak aku mencium mu" jawab Arjuno santai.
"Ih mas jangan ingetin aku soal itu"
"Kenapa?"
"Aku sangat merasa bersalah karena bohongi mas"
"Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku yang ada di posisimu dek. Tuh pengamennya sudah dekat" Arjuno mengingatkan topik awal karena melihat wajah mendung istrinya.
"Ini uangnya biru sama merah semua lo mas. Nggak ada recehan?"
__ADS_1
"Kalau niat sedekah kasih apa yang bisa kita sedekahkan dek. Kalau adanya itu ya udah berikan saja, jangan cari yang lain yang nggak kita punya saat ini"
"Mas ikhlas?"
"Ikhlas sayang"
Zantisya langsung mengambil tiga lembar uang bergambar presiden dan wakil presiden pertama Indonesia. Ia seolah sedang melihat dirinya saat masih kecil sudah mengerjakan pekerjaan rumah. Dan kini ia melihat anak kecil sudah mencari uang dengan cara mengamen.
Tak lama kemudian mobil Arjuno sudah sampai disebuah restoran miliknya. Arjuno langsung menggandeng Zantisya kala sudah keluar dari mobil dan langsung masuk melangkah bersama.
Karyawan Arjuno sudah biasa melihat keromantisan bos mereka pada istrinya itu. Kini banyak yang menyebut Arjuno bos bucin. Karena sikap posesif bosnya itu sangat nampak jelas terlihat.
"Mas aku nemuin mbak Nuri dulu ya" ucap Zantisya saat melihat Nuri sedang berbicara dengan bagian kasir.
"Nanti keatas ya kalau sudah selesai" ucap Arjuno sambil mengusap pucuk kepala Zantisya.
"Iya mas"
Setelah Arjuno menuju lantai atas, Zantisya langsung menghampiri Nuri yang sudah nampak selesai berbicara.
"Mbak…"
"Eh Zan, baru datang?"
"Iya mbak"
"Pak Arkonya mana?" tanya Nuri celingukan mencari bosnya.
"Mas Arjun keatas mbak"
"Keatas yuk Zan, aku ada perlu sama pak Arko"
"Ya sudah, aku laporan dulu ya Zan" Nuri langsung meninggalkan Zantisya.
Zantisya menatap ke setiap sudut, sudah nampak ramai pengunjung siang ini. Zantisya ingin melangkah menuju taman depan namun langkahnya langsung terhenti.
"Hai, Tisya" sapa Rani yang baru saja memasuki restoran bersama seorang perempuan.
"Mbak Rani" Zantisya langsung menghampiri Rani untuk bersalaman dan cium pipi kanan dan kiri. "Apa kabar mbak?"
"Aku baik, Kamu apa kabar?" tanya Rani.
Ini kali pertama Rani bertemu Zantisya setelah menjadi istri Arjuno. Ia memang tidak datang ke acara syukuran pernikahan mereka karena saat itu Rani harus keluar kota.
Arjuno sendiri sudah tidak membantu Rani dalam urusan bisnisnya semenjak akan menikah dengan Zantisya.
"Alhamdulillah aku baik mbak"
"Oh iya kenalin ini temen aku"
"Zantisya mbak" ucap Zantisya sambil mengulurkan tangan.
"Sari" ucapnya sambil menjabat tangan Zantisya.
"Ya sudah mbak silahkan, aku mau keluar dulu" pamit Zantisya takut mengganggu.
"Mau ke Uno?" tanya Rani.
"Ke taman mbak. Mas Arjun lagi diatas"
__ADS_1
"Ya sudah kita duduk bareng aja Tisya" usul Rani.
"Nggak usah mbak, nanti aku ganggu Mbak sama mbak Sari"
Akhirnya mereka bertiga mengobrol bersama sambil menikmati menu yang sudah mereka pesan. Meskipun Zantisya pendiam, tapi jika sudah di ajak mengobrol dengan orang yang terbuka maka ia akan bisa menyesuaikan lawan bicaranya.
Hingga tak terasa tiga perempuan itu berbincang sudah hampir satu jam. Zantisya sejenak melihat ponselnya melihat jam berapa sekarang.
"Mbak aku ke atas sebentar ya" pamit Zantisya.
"Iya Tisya"
Tisya langsung meninggalkan Rani dan Sari. Begitu ia akan menaiki anak tangga Zantisya baru ingat kalau ia hanya membawa ponselnya dan meninggalkan tasnya begitu saja. Zantisya langsung melangkah menuju tempat dimana ia berbincang tadi.
"Cantik kan istrinya Uno?" ucap Rani menatap Sari.
Sari mengangguk setuju. "Kamu harus lupain Arjuno Ran" ucap Sari sambil menepuk punggung Rani. Biar bagaimana pun Sari sangat kasihan dengan Rani, sahabatnya.
"Sejak awal aku memang seharusnya mundur Sar, Aku saja yang terlalu ingin terus mengambil hati Uno padahal aku sendiri sadar itu nggak mungkin. Sejak aku melihat mereka berciuman malam itu, aku sudah mulai mundur teratur"
"Kamu pasti dapatkan lelaki yang nantinya bisa cinta dan terima kamu apa adanya Ran"
Zantisya langsung berbalik arah menuju toilet. Sejak tadi ia terdiam mendengarkan pembicaraan Rani dan Sari. Selain terkejut karena tahu kenyataan Rani menyukai suaminya sejak lama ia juga terkejut kalau ternya Rani melihat mereka malam itu.
"Aku nggak boleh suudzon sama orang" Batin Zantisya menatap pantulan wajahnya pada cermin. Pikirannya jadi melayang kalau Bima mengetahui hal itu dari Rani atau Sari, namun ia langsung menepis karena bisa saja ada orang lain lagi yang melihat mereka.
"Masih sibuk Uno nya Tisya?" tanya Rani saat Zantisya baru bergabung lagi.
"Aku ke toilet tadi mbak. Nggak jadi keatas" jawab Zantisya dan Rani hanya mengangguk saja.
Arjuno yang sejak tadi masih melihat laporan bulan ini terus fokus membolak-balik kertas yang ada di hadapannya. Saat Sudah selesai ia langsung melihat jam yang ada dipergelangan tangan kanannya. Sudah dua jam berlalu dan istrinya belum juga menghampirinya.
Arjuno langsung membereskan semua kertas yang membuatnya terkunci di meja kerja. Ia langsung segera keluar ruangan dan menuju ruangan Nuri.
"Nuri, saya pulang sekarang. kalau ada apa-apa langsung kabari ya?"
"Baik pak"
Arjuno langsung menuruni tangga dan melihat ke sekeliling ruangan sambil sesekali matanya melihat ponsel untuk menelpon istrinya.
Arjuno langsung melangkah mendekati Zantisya kala netranya menemukan sosok yang membuatnya tidak bisa berjauhan.
"Kamu disini dek?" tanya Arjuno. "Eh Rani, Sari kalian disini?"
"Iya, kita tadi memang sengaja ingin kesini. Karena ketemu sama Tisya jadi sekalian ku ajak ngobrol" jawab Rani.
"Pantas saja dek aku tunggu nggak dateng-dateng" ucap Arjuno menatap Zantisya sambil merangkul kan tangannya dan mengusap lengan istrinya itu yang tengah memperhatikan interaksi keduanya.
"Ya Allah, apa-apaan aku ini sampai berfikir negatif tentang suami ku sendiri" batin Zantisya mengenyahkan pikiran buruknya.
"Anak-anak nggak diajak Ran?" tanya Arjuno.
"Enggak, Aku tadi dari kantor jadi nggak bawa anak-anak"
Arjuno mengangguk. "Dek kita pulang sekarang yuk"
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1
Selamat pagi dan selamat beraktifitas 💪