
Aktifitas drama Zantisya dan Bima masih terus berjalan mulus. Mereka seharusnya sangat bersyukur karena di permudahkan jalan kebohongan mereka. Drama sok baik-baik saja rumah tangganya pun menjadi tampilan yang mereka tunjukan di depan Laras.
Namun sudah satu minggu ini Zantisya tidak pernah memasak dan membuat kue atau pun mengantar minuman hangat untuk Bima. Sejak malam itu Zantisya lebih banyak diam dan melamun. Dan setiap kali Zantisya di ajak Bima keluar untuk di telantarkan Bima di tengah jalan, ia lebih memilih pulang kerumahnya. Ia tidak ingin kemana pun lagi dan menjauhi tempat-tempat yang membuatnya sering bertemu dengan Arjuno dengan tidak sengaja. Ketidak sengajaan yang membuat mereka semakin akrab dan menumbuhkan cinta di hati keduanya.
"Kenapa kamu?" tanya Bima dengan suara yang sangat dingin.
"Memangnya aku kenapa kak?"
"Beberapa hari ini kamu kelihatan murung. Kenapa?" Untuk pertama kalinya Bima bertanya dan seolah memperhatikan keadaan Zantisya. Membuat hati Zantisya menghangat karena orang yang biasanya menghinanya kini menanyai keadaannya. Namun itu hanya bertahan beberapa detik saja.
"Lagi mikir harta gono gini yang akan kamu terima sebanyak apa setelah cerai dari ku?" negatif thinking terus emang si Bima ini.
Jleb
"Tuhan aku tarik kembali pujian ku beberapa detik yang lalu" batin Zantisya menatap penuh amarah pada Bima. "Kak aku malas debat dengan kakak. Lebih cepat bercerai lebih baik dan ingat kak, aku nggak minta harta gono gini dari kakak" pikir Zantisya dengan bercerai mungkin akan mempermudah menyampaikan perasaannya juga.
"Bulshit" sarkas Bima. "Atau kamu memang sudah mendapatkan dari mama ku kan?" tuduhnya asal tanpa landasan yang jelas saat menuduh.
"Terserah kakak mau ngomong apa, mau bicara apa. Apapun yang ku katakan dengan jujur pun tetap di anggap kebohongan" ucap Zantisya lalu pergi meninggalkan Bima.
Bima sendiri langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, dan langsung merebahkan diri di atas sofa. Memikirkan perubahan sikap Zantisya beberapa hari ini. Tanpa sadar ia benar-benar rindu masakan Zantisya yang memanjakan lidahnya. Dan selalu membuatkan air hangat dan camilan untuk temannya begadang.
"Ngapain aku mikirin perempuan gila harta" Bima menepis semua pikiran yang mengganggunya, saat kesadaran menggila kan isi kepalanya.
Entah sampaikan Bima akan menuduh Zantisya seperti itu. Padahal setiap saat Evita lah yang selalu meminta uang padanya hanya untuk bersenang-senang bersama geng sosialitanya. Ratusan juta tak luput setiap bulannya Bima gelontorkan untuk menyenangkan hati Evita dengan suka cita. Cinta memang buta, kata itu tepat di sematkan pada diri Bima Sanjaya.
.
__ADS_1
.
.
Pagi harinya setelah Bima berangkat ke kantor, Zantisya memilih berkebun bersama beberapa pengurus taman. Ia ingin menanam beberapa bunga yang tadi ia pesan pada salalah satu pegawai untuk membelikan bibit bunga.
Zantisya mengisi beberapa pot bunga dengan tanah. Ia pun langsung menanam satu persatu bibit bunga yang ia tanam. Lalu ia menata tanaman bunganya tak jauh dari gazebo yang ada di taman tersebut, lalu ia pun menyiram tanaman agar tanah bibit bunga tersebut menjadi lembab.
Setelah itu ia langsung mencuci tangan dan kaki lalu segera duduk di gazebo sambil menikmati semilir angin pagi. Ia memejamkan mata menikmati hembusan angin menerpa wajahnya yang ayu. Tak terasa kedua sudut matanya mengeluarkan tetesan embun. Dalam pejaman matanya, ia seolah melihat wajah Arjuno yang tengah tersenyum padanya. Orang yang begitu sangat ia rindukan, tapi kini ia harus menjauhi lelaki itu. Harus dan harus bisa. Hanya kata itu yang bisa meyakinkan dirinya sendiri.
"Mas Arjuno" lirihnya.
"Arjuno?" ulang Laras.
Zantisya langsung membuka matanya terkejut di depannya sudah ada Laras. "Ma⦠mama" gumam Zantisya.
"Siapa Arjuno nak?"
"Oh gunung. Mama kira nama orang tadi" Laras kemudian duduk di samping Zantisya. ia memperhatikan wajah menantunya yang beberapa hari ini terlihat murung bahkan lebih sering melamun. "Kamu habis nangis nak?" tanya Laras sambil mengusap ujung mata Zantisya. "Ada masalah sama Bima?"
"Eh enggak ma, Tisya sama kak Bima baik-baik aja ma"
"Terus kenapa mama perhatikan kamu sering melamun? Murung terus nggak seperti biasanya"
"Tisya rindu kenangan di gunung Arjuno ma" bohongnya. Jelas bukan gunung Arjuno yang ia rindukan, melainkan Arjuno Andrewiyoko.
"Ada kenangan disana?" tebak Laras.
__ADS_1
Zantisya menarik nafas dalam-dalam. Kini ia harus mengukir karya kebohongan lagi. Semakin besar saja rasa bersalahnya. "Dulu waktu masih sekolah, kami satu kelas pernah di ajak jalan-jalan dengan wali kelas kami ma. Ke taman Hutan Raya Raden Soerjo, dan di sanalah kita menuju gunung tertinggi ke dua di jawa timur, gunung Arjuno" suaranya terdengar bergetar ketika menyebut kata Arjuno namun tak di sadari oleh Laras.
"Banyak kenangan disana bersama teman dan sahabat Tisya ma. Tapi setelah lulus sahabat Tisya sudah pindah ke luar kota, nerusin studynya"
Laras menganggukkan kepalanya. "Mama tahu. Gunung Arjuno itu kan gunung berapi kerucut. Letaknya itu ada di antara perbatasan Kota Batu, kabupaten malang dengan kabupaten pasuruan. Gunung tertinggi nomor dua setelah gunung semeru" jelas Laras. "Nak, nanti kalau Tisya sudah melahirkan, Tisya harus melanjutkan pendidikan ya" pinta Laras. "Mama yang akan jaga cucu mama selama kamu kuliah"
Zantisya tersenyum menatap Laras. Wanita paruh baya ini wanita yang sangat baik, namun dengan sangat tidak beruntungnya harus di bohongi anak dan menantunya.
"Terimakasih ma" ucap Zantisya tulus. Hatinya semakin tercubit karena sudah membohongi wanita dihadapannya kini.
.
.
.
Arjuno terus menggeser-geser layar ponselnya. Menatap foto-foto Zantisya yang begitu nampak ayu. Foto-foto kebersamaan mereka di area bunga tulip berwana merah. Arjuno menarik kedua sudut bibirnya, bahkan jantungnya semakin berdegup kencang hanya dengan menatap foto cantik Zantisya.
"Ya Allah bodohnya aku" rutuknya tertuju untuk diri sendiri. Kini Arjuno menyadari bahwa ia dan Zantisya tidak saling bertukar nomor hape. Dan sudah satu minggu mereka tidak bertemu, padahal biasanya dimana Arjuno berada maka di sanalah ia bertemu dengan Zantisya. Arjuno harus bersabar untuk tak sengaja bertemu dengan Zantisya dan ia juga harus lebih bersabar untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Bu" lirihnya seolah ia sedang berbicara dengan ibunya. "Ternyata begini rasanya jatuh cinta dengan seseorang, rasa yang murni datang tanpa diminta" Arjuno menarik sudut bibirnya. "Tolong bantu sampaikan ke Allah bu. Dekatkan Arjun dan Kemala dengan cara yang tepat. Dalam sebuah hubungan yang baik" Gumam Arjuno sambil menatap langit yang di hiasi bintang.
Sepoi-sepoi angin malam sepertinya mulai membuat Arjuno menguap. Ini sudah tengah malam namun sejak tadi ia tetap terjaga karena sibuk memikirkan perasaannya yang begitu merindukan Zantisya. Arjuno segera bangun dan melangkah masuk kedalam kamarnya. Menutup pintu balkon dan menguncinya lalu ia segera menuju ranjang untuk merebahkan diri.
Berharap bertemu Zantisya di dalam mimpi atau ada keajaiban esok hari saat ia membuka mata dan menemukan Zantisya yang menunggunya di suatu tempat. Siapa yang tahu...
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan β€οΈ kasih like dan komennya π₯° follow akun author juga boleh nanti di follback π
Semangat pagi dan selamat beraktifitas πͺπͺπͺ