
"Jadi sudah terkumpul semua bukti-buktinya?" Tanya Arjuno sambil melihat tiap lembaran yang ada ditangannya.
"Sudah bos, dan sekarang Firman dan pengacara kita sudah menuju kantor polisi melaporkan semuanya" ucap Rudi memberitahu.
Tangan Arjuno berhenti saat melihat gambar yang ada disana. "Dia yang menyuruh orang-orang itu untuk menghancurkan kita?" tanya Arjuno dengan suara sinisnya.
"Benar sekali bos. Sejujurnya aku bingung kenapa dia melakukan hal-hal aneh sama kita. Apa ini ada kaitannya dengan Zantisya?" tanya Rudi.
Mendengar nama istrinya, Arjuno langsung melihat jam di pergelangan tangan kanannya. Sudah pukul 18.00 WIB, itu artinya sudah seharian ia tidak mengabari Zantisya. Arjuno langsung beranjak dan mengambil ponsel yang ada di tas kerjanya.
"Mari kita lihat seberapa rindunya kamu sayang" gumam Arjuno.
Beberapa hari ini, sangking sibuknya lelaki ini karena mengurusi restoran yang kebakaran membuatnya jarang menghubungi Zantisya. Dan hanya Zantisya yang iseng mengirimi kata-kata manis penyemangat.
"Bi Tami sama pak Totok kenapa sampai menelpon puluhan kali" gumam Arjuno membuat perasaannya tidak tenang. Dan saat itu juga Arjuno langsung menghubungi bi Tami.
.
.
.
Arjuno langsung meninggalkan Rudi begitu saja saat setelah mendapat kabar dari bi Tami tentang keadaan istrinya.
Arjuno Mengendarai mobil dengan kecepatan penuh saat jalanan lenggang. Dan marah tidak karuan saat macet harus ia tempuh saat sudah keluar dari jalan tol.
Arjuno langsung keluar dari mobil dan lari dengan cepat menuju ruang rawat Zantisya. Perasaannya sudah tidak karuan sejak menempuh perjalan.
Ceklek
Arjuno membuka pintu ruang rawat dan langsung masuk. Ia mendapati bi Tami yang sedang memangku kepala Amel yang sudah tertidur. Sedang pak Totok langsung terbangun karena sejak tadi tertidur di kursi.
"Alhamdulillah mas sudah datang." Ucap pak Totok. Bi Tami langsung beranjak.
Arjuno langsung menghampiri istrinya yang terpejam diatas brankar rumah sakit. Mencium pucuk kepala Zantisya lalu punggung tangan Zantisya. "Maafin aku sayang, karena terlalu sibuk sampai tidak memperhatikan mu. Kamu kenapa sayang?" tanya Arjuno pelan.
Arjuno langsung mendekati bi Tami dan pak Totok. "Ini ada apa bi pak?"
.
.
.
"Pak saya mau bertemu dengan Bima Sanjaya" ucap Arjuno setelah mobilnya berhenti di depan rumah megah itu.
Tadi setelah mendengarkan cerita bi Tami dan pak Totok Arjuno langsung menemui dokter yang memeriksa keadaan istrinya.
__ADS_1
Dan setelahnya Arjuno langsung melajukan mobilnya dengan cukup kencang. Apa lagi saat melihat CCTV rumahnya yang terhubung pada ponselnya.
Darahnya terasa mendidih panas ingin menghancurkan siapa yang dengan kurang ajar menerobos keamanan rumahnya dan melakukan hal kurang ajar pada istrinya.
"Maaf pak ini waktunya istirahat, silahkan kembali lagi besok" ucap scurity.
Wajar memang penjaga disana tidak membukakan gerbang untuk Arjuno karena kini jam sudah menunjukkan pukul 21.45 WIB.
Sudah berapa kali Arjuno melakukan negosiasi sampai menyogok agar dibukakan gerbang rumah mewah itu. Akhirnya Arjuno masuk kedalam mobilnya dan pergi dari sana membuat penjaga tenang karena lelah menolak sogokan Arjuno.
BRAK…
Baru beberapa menit scurity mendudukkan diri, kini mobil Arjuno melaju kencang dan menumbur gerbang yang menjulang tinggi hingga mobil mewah itu ringsek tak berbentuk memasuki halaman rumah.
Arjuno keluar mobil masih dengan tubuh yang utuh, dan langsung menaiki tangga menggedor pintu utama.
"Bima…" panggil Arjuno sambil menggedor pintu dengan tangannya.
Scurity lari meneriaki Arjuno agar tidak melakukan keributan. Apa lagi kini Arjuno telah menerobos masuk dengan tidak sopan.
"Pak… tolong hentikan. Jangan mengganggu waktu istirahat majikan kami."
Laras yang mendengarkan gedoran pintu seperti ingin mendobrak langsung beranjak dari kamarnya menuju pintu utama rumahnya.
"Nak Arjuno" panggil Laras saat telah membuka pintu dan mendapati suami Zantisya berada dirumahnya.
"Nyonya maafkan kami, kami tadi telah menc…"
"Bima dimana tante?"
"Bima sedang menidurkan Aurel nak, ayo masuk jika ada keperluan dengan Bima" ucap Laras tenang. Sejujurnya perempuan paruh baya itu jelas melihat kilat amarah dimata Arjuno.
"Ada tamu jam segini ma?" tanya Bima menuruni tangga.
Seharian ini Bima hanya bermain dengan Aurel. Sangking kangennya, Aurel bahkan tidak mau tidur siang dan terus bermain. Membuat Bima belum bisa berbicara dengan Laras dan Evita karena gadis kecilnya itu terus menempel padanya.
"Permisi tante" ucap Arjuno melewati Laras.
Arjuno yang melihat Bima langsung melangkah lebar. Mata yang biasanya nampak teduh bahkan kini nampak menyeramkan seperti singa kelaparan yang sedang mengejar mangsa.
Arjuno langsung memberikan bogeman saat telah menyeret Bima.
"Astagfirullah" pekik Laras terkejut dengan aksi Arjuno yang tidak ia sangka.
Apa lagi yang Laras tahu Arjuno adalah orang yang sangat lembut dan menurut Zantisya, Arjuno sama sekali belum pernah terlihat marah.
Scurity lari melewati Laras dan langsung memegang Arjuno dari belakang menghentikan aksi yang akan di lakukannya lagi. Namun dengan mudahnya Arjuno menghempaskan kedua scurity itu.
__ADS_1
"Jangan mengganggu." Sinis Arjuno menatap tajam dua Scurity yang tersungkur.
"Sabar juga ada batasnya Bima Sanjaya" Sentak Arjuno yang sudah emosi sampai di ubun-ubun.
"Ini untuk ulah mu yang telah membatalkan kontrak seluruh perusahaan yang bekerja sama dengan ku"
"Ini untuk ulah saat dengan kurang ajar kamu mengganggu istri ku di toilet."
Scurity yang ingin menghentikan ulah Arjuno langsung di instruksi laras untuk tidak mengganggu. Laras membiarkan apa yang di lakukan Arjuno. Sejujurnya Laras lebih terkejut dengan apa yang telah dilakukan Bima selama ini.
"Ini untuk ulah mu yang telah membuat kekacauan di restoran ku."
"Ini untuk ulah mu yang telah membakar restoran yang yang hampir selesai."
"Ini untuk ulah mu karena telah membuat aku gagal memberikan hadiah untuk istriku."
"Breng*sek"
"Baji*ngan"
"Berani-beraninya kau masuk ke rumah ku dan menyentuh istri ku Bang*sat." Ucap Arjuno dengan amarah power full lalu menghempaskan tubuh Bima yang babak belur tanpa melakukan perlawanan sama sekali.
"Astaghfirullah" Laras langsung menutup mulutnya karena terkejut akan semua ucapan Arjuno.
Bima bangun untuk duduk bersimpuh di hadapan Arjuno. "Aku mengakui semua perbuatan ku Arjuno, Aku mengakui semua kesalahan ku, tapi aku harus mengatakan kalau aku tidak menyentuh Zantisya sampai sejauh itu"
"Bangun" bentak Arjuno yang risih melihat lelaki yang biasanya angkuh dan sombong kini bersimpuh di hadapannya. "BANGUN BIMA SANJAYA" bentak Arjuno dengan sangat lantang.
Bima pun langsung berdiri. "Hidup lah dengan menanggung dosa mu karena telah membuat kami kehilangan calon anak kami. Anak yang sangat kami nantikan." Ucap Arjuno dengan nafas yang menyiksa dadanya. "Dan kita selesaikan masalah ini di meja hijau" ucap Arjuno.
Deg
Kata-kata Arjuno yang mengatakan bahwa Arjuno dan Zantisya kehilangan calon anak mereka membuat detak jantung Bima bekerja sangat kencang.
Terasa sakit hingga ke uluh hatinya. Bahkan perkataan Arjuno barusan lebih menyakitkan dari pada pukulan yang diberikan Arjuno. Seandainya ia tidak gelap mata mungkin rasa sakitnya tidak akan sedalam ini, penyesalan yang kini menyakiti diri sendiri.
"Maaf karena saya membuat ketenangan waktu istirahat tante terganggu. Saya akan ganti rugi perkara gerbang yang saya rusak" ucap Arjuno yang langsung berlalu meninggalkan Laras yang diam mematung menatapnya.
Arjuno lari menuju gerbang utama, membiarkan mobilnya berada dihalaman rumah Laras. Mau di kendarai pun sudah pasti tidak bisa.
Bersambung...
Maaf aku tidak bisa membuat kehamilan Zantisya selamat...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
Selamat malam dan selamat istirahat 🥰
__ADS_1