HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 37 LEBIH BERANI


__ADS_3

"Sayang, Aku nemuin Firman dulu ya" ucap Arjuno setelah sampai disalah satu cabang Restorannya.


Jangan lupakan usapan penuh sayang tangan Arjuno pada pucuk kepala Zantisya. Perempuan cantik dengan baju muslimnya berwarna hijau toska.


"Iya mas"


"Eh mau ikut atau mau disini?" baru inget Arjuno. Masak iya istrinya mau dia biarkan disini kan.


"Aku disini saja mas"


"Ya udah, sayang bisa keliling lihat-lihat. Nanti kalau bosan susul aku di atas ya" Zantisya mengangguk.


Cup


"Mas…" pekik Zantisya pelan karena mendapatkan kecupan di pipi. "Malu mas banyak orang" Zantisya melihat ke sekitar. Meskipun belum banyak pengunjung namun para karyawan berlalu lalang melakukan tugasnya.


"Berarti kalau nggak ada orang boleh dong" goda Arjuno sambil mengedipkan mata.


"Kerja mas kerja"


"Siap bos" Arjuno memberi hormat dan langsung menuju lantai atas.


"Duh pengantin baru bikin iri deh" goda Nuri yang muncul tiba-tiba dari belakang.


"Loh mbak Nuri kok disini?" tanya Zantisya kaget mendapati Nuri berada di sampingnya.


"Aku dipindahin kesini sama pak Arko"


Zantisya mengerutkan dahinya bingung. "Loh kenapa? Kok bisa mbak?"


"Aku jadi manajer disini gantiin pak Firman"


"Alhamdulillah selamat ya mbak. Terus pak Firman nya gimana?" Zantisya bertemu Firman baru satu kali saat acar syukuran pernikahan.


"Sementara pak Firman membantu di kantor pusat, nantinya pak Firman yang ngurus cabang baru"


Zantisya mengangguk paham. "Terimakasih ya Zan"


"Kenapa mbak terimakasih sama aku" heran kan jadinya Zantisya tiba-tiba mendapatkan ucapan terimakasih dari teman kerjanya dulu.


"Karena aku bertemu dengan mu dan ngajak kamu kerja di restoran, pak Arko naikin jabatan aku"


"Itu bukan karena aku mbak. Mbak emang pantas kok diposisi ini" Zantisya tersenyum menatap Nuri. "Mbak hebat sudah kerja masih bisa lanjut S2" kedua jempol tangan Zantisya mengapresiasi kerja keras Nuri.

__ADS_1


"Pokoknya aku sangat beruntung ketemu kamu Zan"


Mereka duduk di taman belakang restoran. Tak jauh Dari mereka duduk terdapat seorang karyawan yang sedang duduk seorang diri dan terlihat sedang menangis.


"Loh itu kenapa mbak?" tunjuk Zantisya hendak menghampiri, namun langkahnya dihentikan Nuri.


"Biarin dia nenangin diri dulu"


Zantisya kembali duduk di samping Nuri. "Memangnya dia kenapa mbak?"


"Dari tadi kerjanya nggak fokus sampek mecahin dua piring dan tiga gelas"


"Kok bisa? lagi sakit ya mbak?" tebak Zantisya sok tahu aja.


Nuri menggelengkan kepalanya. "Kemarin dia memergoki suaminya lagi begituan dirumah mereka"


Zantisya memasang muka bingung. Begituan adalah kode yang nggak di maksud Zantisya. "Maksudnya mbak begituan apa mbak?"


"Hih… Kamu yang udah nikah kok malah nggak paham sih Zan, Aku singel nih" makin nggak paham lagi alur Nuri bicaranya kemana. Nuri menatap wajah Zantisya yang terlihat bingung. "Kamu beneran nggak maksud?" Zantisya langsung cepat mengangguk membuat Nuri tepok jidat sendiri.


"Dia memergoki suaminya lagi berhubungan badan sama tetangganya sendiri dirumah mereka" tanda-tanda ghibah.


"Astagfirullah… kok tega sih mbak suaminya"


Nuri menggendikkan kedua bahunya. "Katanya sih karna suaminya jarang di urus" nah paham nggak ini pengantin baru saat Nuri mengedipkan salah satu matanya member kode.


Nuri gemes sendiri sama Zantisya jadinya. "Maksudnya itu hubungan ranjang mereka kurang Zan. Karena sama-sama kerja jadi pulang kerja pasti kan sama-sama capek jadi ya begitulah"


"Ya tapi kalau memang sejak awal membiarkan istrinya kerja berarti siap menanggung resiko dong mbak" sebagai orang yang pernah merasakan dan melihat seorang suami berhubungan dengan wanita di depan matanya membuat Zantisya jengkel juga. Meskipun dulu ia tidak mencintai Bima namun ia adalah seorang istri.


"Bukankah seharusnya hal seperti itu dibicarakan baik-baik"


Nuri mengangguk. "Kamu juga harus hati-hati"


"Aku. Kenapa mbak?"


"Hei Zan, pak Arko itu ganteng siapa coba yang nggak tertarik. Ya meskipun aku yakin pak Arko nggak mungkin selingkuh. Tapi dari yang aku tahu, hubungan intens suami istri terutama masalah ranjang itu bisa mengharmoniskan rumah tangga Zan. Menambah rasa cinta" Nuri menatap Zantisya. "Duuuhhh… Aku nggak bisa bayangin gimana kamu sama pak Arko, Zan. Di restoran aja sweet banget apa lagi dirumahkan" Goda Nuri. Zantisya hanya tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


"Mau nonton apa sayang kita malam ini?" tanya Arjuno sambil melihat layar televisi yang telah login ke aplikasi perkumpulan dari daftar perfilman dalam dan luar negeri.


"Terserah mas aja" jawab Zantisya sambil meletakkan dua gelas susu hangat. "Aku ambil camilan dulu mas"


Tak lama Zantisya kembali keruang keluarga sambil membawa beberapa buah dan camilan. "Jadinya nonton film apa mas?" tanya Zantisya yang langsung duduk di samping Arjuno. Sedangkan mata Arjuno sudah nampak fokus ke layar televisi.


"Bingung mau nonton apa dek, jadi ya udah kita nonton film ini aja" jawab Arjuno. Sedang di televisi sudah menampilkan film komedi yang pernah viral itu.


"Bosen ya?" tebak Zantisya.


Arjuno mengangguk sambil menatap istrinya sejenak. "Setiap malam gini-gini aja" celetuk Arjuno yang tanpa sadar seolah menyinggung istrinya. "Apa kita ganti jala-jalan aja ya dek?" usul Arjuno menatap istrinya.


"Terserah mas saja"


Keduanya sekarang saling diam menatap layar televisi. Entah benar fokus menonton atau nggak tidak ada yang tahu. Karena sejak tadi Zantisya lebih fokus menatap suaminya yang terus menonton film.


"Ganteng ya" celetuk Arjuno membuyarkan lamunan Zantisya yang terus menatap wajah suaminya. Jangan lupakan tangan usil Arjuno yang mencolek pipi istrinya.


"Eh… Sumpah deh mas kok bisa senarsis ini sih"


"Sama istri sendiri ini kan nggak apa-apa sayang" Ucap Arjuno membelai rambut panjang istrinya.


"Mas…" panggil Zantisya setelah sejak tadi ia memperhatikan Arjuno yang fokus menonton. Padahal cerita filmnya lucu kan genre komedi roman tapi sepertinya keduanya hanyut dengan pikiran masing-masing.


"Kenapa sayang?" Arjuno membalas tatapan istrinya.


Maju selangkah belajar dengan benar untuk menyerahkan diri mungkin lebih baik. Sepertinya ucapan Nuri terus mengganggu pikiran Zantisya sejak tadi.


"Boleh nggak aku cium mas?" malu-malu Zantisya meminta izin.


Wah tentu saja Arjuno langsung tersenyum senang. Hal langka seperti ini mana boleh ditolak. "Hanya ciuman atau…" ucapan Arjuno menggantung. Ia menatap istrinya. Jelas Zantisya tau kemana arah maksud Arjuno.


Zantisya mengangguk. "Nggak apa-apa kan mas kalau hanya itu? Aku kan masih…"


"Aku tahu, sini" ucap Arjuno sambil menepuk pahanya.


Zantisya langsung cepat pindah duduk diatas pangkuan suaminya. Matanya terus membalas tatapan suaminya yang sangat-sangat menenangkan untuknya. Tangan Zantisya mulai membelai wajah Arjuno seolah menyalurkan rasa yang ada pada dirinya. Arjuno memejamkan mata meresapi sentuhan yang Zantisya berikan.


Tak lama Arjuno membuka kedua matanya kala merasakan kedua tangan Zantisya mengalung dilehernya dan tanpa apapun lagi Zantisya langsung melakukan apa yang sejak tadi ingin ia lakukan bersama suaminya.


Rasa yang sangat mendebarkan seolah jantung ingin terus berlari secepat mungkin kala keduanya saling membalas cecapan. Karena terlalu sering di kerjai suaminya, kini Zantisya melakukannya sudah tidak amatiran lagi. Sudah semakin lihai bagaimana caranya mengatur nafas agar bisa semakin lama dalam hal lip to lip.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Selamat malam dan selamat istirahat 🥰


__ADS_2