
Sebelum matahari terbit Arjuno mengajak Zantisya keluar dari hotel untuk menuju suatu tempat. Selama di Bali, mereka memang harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
"Pantai apa ini mas?" tanya Zantisya.
"Pantai lovina sayang."
"Ih matahari saja belum muncul mas. Kita sudah ke pantai mau ngapain?" Heran Zantisya.
Namun lebih heran karena bukan hanya mereka berdua disana. Begitu banyak orang yang sudah meramaikan salah satu pantai yang ada di Bali ini.
Dan satu persatu sudah menaiki kendaraan laut yang ada disana. Arjuno langsung membawa Zantisya untuk menyewa perahu tradisional nelayan yang khusus disediakan untuk wisatawan. Untuk membawa keduanya ketengah-tengah laut.
"Mas itu lumba-lumba" tunjuk Zantisya. Saat banyak lumba-lumba memulai atraksinya.
"Adek suka?" tanya Arjuno. Tangannya memainkan air laut yang nampak jernih.
Zantisya mengangguk. "Terimakasih ya mas" ucap Zantisya sambil memeluk Arjuno.
"Kembali kasih, sayang" ucapnya Sambil menarik gemas pipi Zantisya.
"Masya Allah ternyata seindah ini melihat matahari terbit" ucap Zantisya menatap sang surya yang mulai nampak.
"Sudah nggak cemberut lagi kan?" goda Arjuno.
Mengingat bagaimana enggannya Zantisya tadi setelah subuh diajak keluar dari hotel.
"Kalau mas bilang dari awal mau lihat sunrise di pantai sama lihat atraksi lumba-lumba pasti aku semangat empat lima sejak awal mas."
"Namanya juga kejutan sayang."
Dan selama dua jam Arjuno dan Zantisya berada ditengah laut menikmati sunrise dan aksi lumba-lumba.
.
.
.
Siang harinya, Arjuno mengajak Zantisya menuju kesebuah daftar wisata yang sudah ia rencanakan sebelum menginjak ke pulau Dewata Bali.
Objek wisata Kintamani yang berada di Bali. Objek wisata yang sangat indah dan udaranya yang sangat sejuk pada siang hari. Perkiraan suhunya saja sekitar dua puluh satu derajat celcius.
Arjuno mengajak Zantisya masuk kesalah satu restoran yang ada disana. Arjuno langsung membawa Zantisya menuju teras bagian belakang restoran untuk menikmati makan siang disana. Dan memanjakan mata karena mereka berdua dapat langsung melihat gunung dan danau batur.
"Ya Allah mas. Ini indah banget" ucap Zantisya dengan wajah berbinar bahagia.
"Kamu cantik loh dek."
"Ih mas ini sempet aja gombalin aku" ucap Zantisya malu.
Walau sering kali mendapat pujian dari suaminya. Namun tetap saja hal itu membuat rona merah di wajah Zantisya karena tersipu.
__ADS_1
"Aku serius."
"Aku tahu mas. Tapi tetap saja aku malu."
Arjuno dan Zantisya langsung menikmati makan siang mereka. Direstoran ini menyediakan menu Buffet atau bisa disebut juga dengan menu prasmanan. Jenis perpaduan makanan antara makanan Indonesia, Cina dan Western.
Arjuno langsung menyesap minuman hangatnya. Udara sesejuk ini memang paling nikmat menyeruput air hangat di tambah camilan penutup.
"Alhamdulillah kenyang" ucap Zantisya setelah meminum air hangatnya juga.
.
.
.
Hari ini Evita dan Bima sudah bisa membawa Aurel pulang ke rumah. Keadaannya langsung membaik dengan sangat cepat saat Bima ada didekat gadis kecil itu.
Bima langsung keluar dari mobil menggendong Aurel memasuki rumah megahnya. Ia langsung menuju kamar Aurel karena bocah itu nampak terlelap.
Sejak di perjalan Aurel terus memeluk Bima sampai rasa kantuk menyerang bocah yang baru dirawat itu.
Bima langsung masuk ke kamarnya. Dan langsung menuju kamar mandi karena ingin segera membersihkan diri.
"Maaf" ucap Bima spontan saat melihat Evita sedang melepas pakaiannya.
"Kamu duluan Ev yang mandi. Aku keluar" ucap Bima canggung.
Jujur saja walau mereka sepakat memulai semua lagi dari awal. Namun tetap saja Bima merasa canggung dengan keadaan seperti ini. Apa lagi saat menyadari jika dia menyakiti dua perempuan sekaligus. Istrinya dan mantan istri.
"Kenapa nggak mandi bareng saja Bim" usul Evita.
Meski sejujurnya dia pun merasa canggung dengan Bima. Tapi tidak ada salahnya jika ia yang memulai mendekat lebih dulu. Membuat hubungan keduanya agar romantis seperti dulu lagi.
"Apa tidak apa-apa?"
Evita tersenyum menatap Bima. "Memangnya kenapa?"
Bima akhirnya menutup pintu. Melepas satu persatu pakaiannya. Mereka berdua kemudian membersihkan diri sendiri dengan saling diam.
Hanya suara air yang memenuhi ruangan kamar mandi. Kecanggungan itu masih tetap dirasakan keduanya.
Hati yang sudah terbelah, tapi pilihan untuk tempat Bima pulang tetap pada Evita. Bagaimana mungkin setelah semua pengorbanan mereka dulu, kini membuat keduanya seperti asing.
"Evi. Kenapa kita jadi aneh seperti ini?"
"Aku juga merasa seperti itu."
Bima langsung mematikan shower yang membasahi keduanya. Bima langsung menatap Evita lekat. Membuat keduanya beradu tatap dengan jantung yang semakin bekerja sangat cepat.
"Mau melakukannya sekarang?" tawar Bima.
__ADS_1
Sebagai laki-laki normal tentu saja Bima tergoda dengan umpan yang sudah siap di terjang berdiri polos dengan tubuh basah menggoda. Apalagi keduanya sama-sama sudah lama tidak merasakan sentuhan mesra.
"Boleh juga."
Bima langsung mencecap bibir Evita pelan. Menikmati benda kenyal yang sudah lama tidak ia rasakan. Evita juga membalas perlakuan Bima, tangannya meraba dada Bima yang menjadi tempat favoritnya saat Bima mendekapnya erat.
Pagutan yang awalnya lembut kini semakin lama semakin dalam dan menuntut.
Bima langsung menggendong Evita keluar dari kamar mandi. Merebahkan tubuh basah mereka diatas ranjang. Bima langsung menindih Evita dan langsung memperdalam segalanya.
"Maafkan aku Evita" batin Bima.
Bagaimana pun juga Bima sangat merasa bersalah karena pernah menggunakan Evita sebagai pelampiasannya karena mengingat mantan istri.
Tapi kini, Bima sadar akan seluruh kesalahannya. Memperbaiki apa yang bisa diperbaiki apa salahnya.
Meski kaca yang sudah pecah dapat di satukan dan meninggalkan banyak bekas. Itu tidak akan menjadi masalah selama keduanya sama-sama ikhlas untuk memperbaiki hubungan keduanya dan saling menerima.
Evita sangat menikmati semua sentuhan yang diberikan Bima. Sungguh sangat memanjakannya dengan hal yang sudah sangat Evita rindukan.
"Lebih cepat Bim… Ah…"
Bima tersenyum menatap Evita yang menatapnya dan sangat menikmatinya. Dengan senang hati Bima mepercepat pergerakkannya dan menekan agar masuk lebih dalam lagi hingga pada puncaknya.
"Ayo kita punya anak lagi Ev" pinta Bima saat sampai pada puncaknya.
Evita mengangguk lemas dengan nafasnya yang belum teratur. Bima langsung mengusap wajah Evita yang dipenuhi dengan keringat.
"Jadi kamu setuju?" tanya Bima memastikan.
"Setuju."
Bima tersenyum menatap Evita yang juga tersenyum. Keduanya sangat berharap dengan menambah buah hati di keluarga kecilnya, bisa membuat cintanya kembali utuh.
.
.
.
"Capek ya dek?" tanya Arjuno yang baru naik di atas ranjang.
"Banget mas. Tapi seru banget buat hari ini" ucap Zantisya sambil terus memijit kakinya sendiri.
"Lagian tadi udah diajak pulang buat istirahat pake acara nggak mau."
"Mumpung disini kita harus kemana pun yang masih bisa kita kunjungi mas. Sini mas aku pijitin" ucap Zantisya mendekati Arjuno dan langsung memberikan pijitan di kaki lelaki yang duduk bersandar pada ranjang.
"Nyogok ya biar besok di ajak jalan-jalan lagi" tebak Arjuno usil.
Zantisya menatap Arjuno dengan senyum khasnya yang suka malu-malu kalau ketahuan niat bulusnya.
"Mas kok tau sih."
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya 🥰